
Tidur dengan perasaan kecewa rupanya Mulan masih bisa terjaga di pagi buta. Ia buru-buru bangkit dari baringnya, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Bara tak ada di sana, sama seperti malam-malam sebelumnya.
Mulan mendesah pelan. Rupanya pria itu benar-benar tak punya perasaan. Apa mungkin dia tak punya hati sehingga tak memiliki rasa bersalah sama sekali? Kenapa pria berpendidikan seperti Bara tak bisa menghargai jerih payah seseorang? Seharusnya Bara bisa mencicipi makanan itu sedikit saja jika memang sudah kenyang, bukan?
"Ya sudah lah. Menyimpan dendam hanya akan menambah sakit di hati saja." Mulan bergumam sambil menyibak selimutnya. Wanita itu memilih menyibukkan diri dengan aktivitas pagi sebagai pelipur lara. Bohong jika ia bisa melupakan sakit hati itu begitu saja.
Tidak ada hari santai. Segudang pekerjaan telah menantinya setelah ini. Sebagai istri yang baik ia tetap akan memasak untuk Bara, tetapi tidak dengan bicara. Bagaimanapun juga ia masih punya harga diri. Pantang mengemis pada orang yang tidak sudi memberi.
Untuk menu sarapan, Mulan sengaja membuat makanan yang tidak terlalu berat, tetapi tetap kenyang dan sehat. Entah nanti Bara akan memakannya atau tidak, yang penting Tuhan sudah mencatat niat baiknya. Ia yakin, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Ester pasti bisa dipegang kata-katanya dan Rayyan pasti akan kembali padanya. Untuk saat ini ia harus fokus pada pemulihan perusahaan. Rayyan pasti baik-baik saja di bawah asuhan nenek barunya.
"Nyonya, tampilannya sangat cantik. Saya yakin rasanya juga sangat enak. Tuan Bara pasti suka." Alma memuji menu sarapan yang pagi itu Mulan hidangkan. Ia tak membantu sama sekali. Hanya siaga berada di sana mendampingi sang Nyonya.
"Aku tidak berani berharap banyak, Alma. Aku takut nanti kecewa." Sambil melepas appronnya, Mulan memberi pengakuan yang membuat Alma melebarkan mata. "Tadi malam saja dia tidak menyentuh sama sekali makanan itu. Padahal kau tahu sendiri, bukan? Aku memasaknya dengan sepenuh hati."
"Tuan Bara seperti itu, Nyonya?" balas Alma seperti tak percaya.
"Kenapa terkejut begitu, Alma? Sudah biasa pria itu tak menghargai perasaan orang," timpal Mulan kesal. Ia membetulkan pakaiannya yang sebenarnya tidak berantakan. Sepertinya ia sedang bersiap-siap untuk sesuatu hal.
"Nyonya mau ke mana?" Alma bertanya penasaran setengah panik. Terlihat dari sorot matanya yang memperhatikan sang Nyonya dengan seksama.
"Sebelum Tuan Bara turun aku harus lebih dulu keluar, Alma. Aku malas bertemu dan berdebat dengan dia."
"Nyonya ...." Alma memanggil Mulan dengan prihatin. "Anda sengaja menghindari Tuan? Anda mau pergi ke mana?"
__ADS_1
Mulan tersenyum lembut lalu mengusap pelan bahu Alma. "Aku akan mengunjungi satu tempat, Alma. Kau tidak perlu cemas, ya. Aku akan baik-baik saja. Aku punya perjanjian khusus dengan Tuan Bara. Pria itu memberi kebebasan padaku untuk melakukan apa saja asal aku tidak mengusiknya. Juga tidak coba-coba kabur dengan membawa Rayyan. Sebelum sore aku akan kembali untuk masak. Tenang saja, ya." Ia meyakinkan.
Alma mengangguk paham setelah beberapa saat terdiam. Bagaimanapun juga ia akan mendukung Mulan. Wanita itu sangat baik kepadanya.
"Sudah, ya. Aku harus pergi." Mulan pamit.
Alma hanya bisa mengangguk tanda mengerti. Ia tak lupa berpesan pada Mulan untuk tetap berhati-hati. Wanita itu pergi dengan terburu-buru sambil meraih tas jinjing yang sudah disiapkan sejak tadi. Sepertinya Mulan tahu jika tak lama lagi Bara akan muncul. Dan itu terbukti. Bara tiba di ruang makan dengan penampilan yang segar dan rapi seperti biasa.
Alma segera kembali ke posisinya. Berdiri di barisan pelayan lalu memberi hormat pada Tuan mereka. Meski menunduk, tetapi gadis itu diam-diam memperhatikan gerak-gerik Bara. Kentara sekali jika pria itu berusaha bersikap biasa dengan menyantap makanannya dengan tenang. Namun, matanya yang sesekali celingukan itu tak bisa membohongi jika dirinya mencari-cari keberadaan Mulan.
***
"Tuan, sepertinya pagi ini saya tidak melihat Nyonya Mulan," ujar Hendrik sesaat setelah melajukan mobilnya ke arah kantor. Jelas ia bertanya. Sang Nyonya tidak keluar melepas suaminya pergi bekerja seperti biasanya.
"Tidak. Hanya saja Nyonya Mulan tidak terlihat seperti biasanya."
"Kau merindukannya?"
Alih-alih menjawab, Hendrik justru berusaha menahan tawa. Jelas sekali jika pertanyaan terakhir Bara itu mengandung kecurigaan. Mungkinkah itu adalah bentuk dari kecemburuan?
Jika benar, berarti telah tumbuh benih-benih cinta di hati tuannya. Hendrik tahu, pria ini selalu dingin pada setiap wanita setelah kegagalan rumah tangganya. Namun, ia menangkap ada sinyal berbeda dari perlakuan Bara terhadap Mulan. Ada sebentuk perhatian tapi Bara masih enggan mengakuinya.
"Sepertinya pertanyaan itu seharusnya tertuju untuk Anda," jawab Hendrik dengan nada sindiran. "Mungkin yang terlihat dari luar Anda sekarang baik-baik saja. Tetapi sepertinya ada sesuatu yang hilang dari Anda. Nyonya Mulan pergi keluar pagi-pagi sekali, bukan? Dia sengaja menghindari Anda. Saya tahu, Tuan diam-diam sudah menerima keberadaan Nyonya. Tapi kenapa masih bersikap dingin terhadapnya? Apa karena Nyonya Aileen penyebabnya?"
__ADS_1
"Kenapa jadi sebut-sebut nama wanita itu? Kau terlalu berlebihan memberikan penilaian, Hendrik. Semua ini tak ada sangkut-pautnya dengan dia!" sahut Bara dengan sanggahan. Ia melirik asistennya dengan tak suka lalu membuang pandangan ke luar jendela. Pria itu menghela napas berat sebelum akhirnya berucap, "Mungkin lebih baik seperti ini, Hendrik. Aku tak ingin Mulan berharap lebih kepadaku."
Tak bisa berkata apa-apa, Hendrik hanya bisa menghela napas dalam. Bagaimanapun juga ia merasa prihatin pada sang atasan lantaran terjebak dalam ikatan rumit seperti ini.
***
Mulan menghela napas lega setelah mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan kantor. Ia buru-buru menyodorkan uang lalu turun dari sana.
Ia mengabaikan tatapan aneh karyawannya. Mulan terus berjalan masuk sambil mengangkat dagunya, mempertahankan sikap wibawa dan elegan sebagai CEO perusahaan. Membalas sapaan seraya mengembangkan senyum yang rupawan.
Cyndi yang sudah melihatnya dari kejauhan langsung bergegas menghampiri. Memberi sambutan pada wanita yang beberapa tahun ini menyerahkan kepercayaan penuh kepadanya. Mulan yang melihat itu tampak menyunggingkan senyum tipis yang terlihat sangat manis.
"Selamat pagi, Bu Mulan," sapa Cyndi dengan ceria tetapi tetap sopan.
"Pagi juga, Cyndi," balas Mulan sambil terus berlalu. Sang sekretaris membiarkannya jalan lebih dulu, lalu turut berjalan selangkah di belakang Mulan.
"Apa saja schedule hari ini?" tanya Mulan kemudian pada wanita berusia 27 tahun itu.
"Hari ini kita ada beberapa meeting penting dengan utusan EC CORPORATION, Bu. Tapi–" Cyndi menggantung ucapannya hingga menarik perhatian Mulan.
"Tapi apa, Cyndi?" tanya wanita itu penasaran.
"Ada tamu tidak penting yang harus Bu Mulan temui pagi ini," jawab Cyndi.
__ADS_1
"Oh ya? Dia siapa?"