
Bugh!!
Sebuah pukulan keras mendarat tepat di pipi kiri Bara. Pria itu baru pulang dari kantor, tetapi sudah disambut bogem mentah oleh istrinya di depan pintu kamar ketika ia membukanya. Sepertinya wanita itu memang sudah menantikan saat-saat ini sejak tadi.
Di saat Mulan terbakar amarah dan menatapnya dengan nyalang dan kuda-kuda pertahanan, Bara justru hanya menyikapi dengan santai perilaku bar-bar istrinya itu. Padahal Mulan sudah menghadiahi pukulan sangat keras dan bertenaga, tetapi bukannya tersungkur, Bara justru hanya memalingkan muka oleh pukulan Mulan tadi. Mulan sampai bingung oleh reaksi yang Bara tunjukkan. Rupanya pria itu lebih kuat dari apa yang dia perkirakan. Dan sudah bisa dipastikan jika dirinya bukanlah tandingan seorang Bara. Atau bahkan jauh di bawahnya.
Memutar leher sambil mengusap pelan pipi kiri bekas pukulan Mulan, Bara menunjukkan seringainya. Agak ngeri, sehingga membuat Mulan sontak bergidik. Namun, wanita itu berusaha menyembunyikan ketakutan dengan tetap bersikap tenang. Setidaknya itulah pertahanan agar dirinya tak mudah ditindas orang.
"Cuma segitu?" ucap Bara dengan nada meremehkan. Seringai menakutkan itu masih tetap terbit sekalipun sudut bibirnya mengeluarkan noda merah pekat dan pipinya mulai terlihat memar. Itu pertanda jika pukulan Mulan memang tidak bisa diremehkan.
"Ayo, tunjukkan lagi kekuatanmu. Bunuh aku jika kau mampu," tambah Bara lagi dengan sikap tenang tetapi menyiratkan sebuah tantangan yang sangat kental. Dengan santainya ia berjalan maju, tetapi Mulan yang tak bisa menyembunyikan ketakutan, refleks bergerak mundur seiring langkah maju Bara itu.
"Apa yang kau katakan pada mamamu!" hardik Mulan dengan nada tinggi yang seketika membuat kening Bara mengerut bingung. Pria sontak menghentikan langkah dan membuat Mulan berhenti pula.
"Mama?" tanyanya tak mengerti.
"Ya!" sahut Mulan penuh emosi. "Dia tadi datang kemari bersama Rayyan. Tetapi bukan berniat mengembalikan putraku itu kepadaku, melainkan membawanya kembali untuk ikut bersamanya. Sebenarnya salahku ini apa, Tuan Bara! Kenapa keluargamu suka sekali menyiksaku! Kenapa!" Kini runtuh sudah pertahanan Mulan. Wanita itu tergugu pilu sambil meremas baju bagian dadanya penuh kesedihan.
Sejenak Bara terhenyak melihat perubahan sikap istrinya itu. Beberapa detik lalu Mulan dikuasai kobaran amarah, tetapi kali ini langsung diliputi kesedihan, bahkan sampai menangis sejadi-jadinya. Rupanya semudah itu emosi wanita berubah-ubah. Sebentar marah, sebentar sedih. Bahkan mungkin bisa tertawa di sela air mata.
"Lalu apa hubungannya denganku?" Bara masih berusaha mencari tahu. Jujur, semua yang mamanya lakukan mengenai Rayyan, tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Ia tak tahu apa-apa.
"Kau masih bertanya? Jangan pura-pura bodoh, Tuan Bara!" geram Mulan setelah sempat tertawa hampa dengan wajah bersimbah air mata.
Bara melangkah hendak mendekati, tetapi ia buru-buru menahannya dengan gerakan tangan dan sebuah bentakan.
"Berhenti! Jangan dekati aku!"
Bara mendengkus lirih. Ia berniat menenangkan tetapi wanita itu tak mengizinkan. Ya sudah lah.
"Lalu apa yang kau inginkan?" Bara memutuskan bertanya pada intinya sebab ia tidak suka bertele-tele.
"Tentu saja aku menginginkan anakku!" Mulan menyahuti cepat. Wanita itu diam sejenak, lalu kemudian kembali terisak. "Kau jahat. Kau sudah membuat mamamu menahan anakku! Kau mengadukan rencanaku yang berniat kabur membawa Rayyan!"
Bara tertawa sumbang. Mulan yang menangis penuh kesedihan tanpa sadar mengutarakan rencana terselubungnya. Dasar bodoh. Untung saja Mulan tak menyadari kebodohannya. Andai dia tahu Bara menertawakannya atas hal itu, mungkin wanita itu akan sangat merasa malu.
"Ternyata benar, kau berniat kabur dari sini?" ucap Bara dengan nada santainya. Seketika Mulan tergemap hingga tangisan itu terhenti. Mulan terperangah dengan wajah bodohnya.
__ADS_1
"Tentu saja." Mulan yang terlanjur malu akhirnya mengakui hal itu. "Memangnya siapa yang mau hidup dengan pria dingin sepertimu? Tak punya perasaan. Pria yang gemar melakukan kekerasan!"
Alih-alih tersinggung, Bara hanya tertawa geli menanggapi hal itu.
"Kalian bahkan suka menindas orang lemah. Dan mamamu itu–" Mulan menjeda ucapannya sambil mengacungkan telunjuk ke arah tembok. "Dia suka menahan anak orang! Dia berusaha merebut anakku!" tuduhnya penuh emosi bercampur takut pada ekspresi penuh misteri Bara. Tangannya yang sudah terangkat bahkan sampai bergetar karena saking takutnya.
"Bisa dijelaskan lebih detail lagi semua tuduhan yang kamu layangkan itu?" Bara bertanya dengan santainya sambil melangkah mendekati Mulan.
Ia melepas jas dari badannya, lalu melemparkannya ke atas ranjang. Ia juga melepas dasi, dua kancing teratas kemejanya, lalu menyingsing lengan hingga batas bawah siku.
"Oh ya? Kalau begitu tunjukkan bukti jika mamaku berusaha merebut anakmu," pintanya kemudian.
"Masih kurang bukti apa lagi, Tuan Bara! Mamamu menahan putraku di rumahnya hingga berhari-hari! Dia mengancam akan melukai Rayyan jika aku menolak menikah denganmu. Dan tadi! Dia membawa Rayyanku kembali!"
"Apakah ada unsur paksaan saat Mama membawa Rayyan? Apa saat itu Rayyan terlihat merasa tertekan?" tanya Bara yang membuat Mulan ciut nyali. Wanita itu tertunduk dalam tak memberi jawaban.
Memang benar, tak ada unsur paksaan di saat Ester membawa Rayyan pergi tadi. Bahkan Rayyan yang berjalan masuk ke mobil atas keinginan sendiri. Putranya juga tidak terlihat di bawah tekanan. Rayyan bahkan jauh lebih baik dari segi kepribadian dan juga penampilan. Terlihat lebih tenang. Tak lagi menuntut dirinya mengenai papa yang selama ini ia sembunyikan.
Namun, cara Ester memisahkan dirinya dan Rayyan seperti itu tetap saja tidak dibenarkan. Kendati dirinya sudah menikah dengan Bara! Walaupun Rayyan sudah menjadi cucu dari Ester! Mulan tetap merasa berat.
"Mulan, Mulan. Yang benar saja kau ini. Mana ada anak yang berada di bawah tekanan bisa terlihat bahagia seperti Rayyan. Bocah itu bahkan jauh lebih ceria dari sebelumnya."
Mulan merasa tertohok atas sanggahan Bara. Rayyan bahkan tak mau ikut dengannya meski Mulan sudah memohon. Salahkah jika dirinya ketakutan jika dirinya benar-benar Rayyan lupakan?
"Dan untuk tuduhanmu tentang kegemaranku melakukan kekerasan. Bisa tunjukkan satu saja bukti nyata yang mengarah ke sana?"
Bara menunjukkan seringainya setelah bertanya. Pria itu bergerak maju secara perlahan. Mengikis jarak dengan Mulan yang sudah tersudut membentur tembok. Seringai di bibirnya kian melebar melihat Mulan yang gelagapan.
"K–kau mau apa!" tanya Mulan terbata sebab dilanda kepanikan.
"Tidak. Aku hanya ingin memeriksa bagian tubuhmu yang mengalami kekerasan saja."
"Jangan sentuh aku!" Hardik Mulan saat Bara mulai menggerakkan tangan hendak memberi sentuhan.
"Jangan takut. Aku bukalah harimau lapar yang sedang menghadapi mangsa lezat. Aku tidak segarang itu," tutur Bara seolah-olah ingin menenangkan. Namun, entah mengapa justru terdengar sangat mengerikan di telinga Mulan.
Wanita itu semakin cemas saat membayangkan bentuk kekerasan yang kemungkinan akan Bara lakukan. Entah sebuah tamparan atau dirinya akan ditendang.
__ADS_1
Mulan seperti kehilangan daya hanya dengan memikirkannya saja. Ia hanya bisa berdoa supaya dirinya masih berumur panjang sehingga bisa kabur dari sana bersama Rayyan.
"Mana? Bisa tunjukkan bukti itu kepada saya? Boleh dari bagian tubuhmu yang memar, atau foto yang menunjukkan bagian tubuhmu yang terluka. Ada?" tanya Bara lagi. Namun, kali ini dengan nada setengah berbisik.
Mulan tertunduk dalam dengan wajah kikuk tak karuan. Kali ini dirinya benar-benar merasa terancam. Ia bahkan tak bisa melakukan apa-apa. Tak bisa berkutik sebab sepasang tangan kokoh itu telah mengurungnya dengan bertumpu pada tembok.
Dan mengenai bukti kekerasan yang diminta Bara, ia benar-benar tak memiliknya sebab Bara memang tidak melakukan kekerasan. Atau bisa jadi belum melakukan karena pria itu belum menunjukkan belangnya. Dan ini mungkin akan menjadi permulaan.
Oke. Tidak masalah jika dirinya harus ditampar. Yang penting Mulan sudah mendapatkan bukti nyata.
"Ya. Kau boleh bangga karena tidak melakukan kekerasan fisik, tetapi kau harus ingat jika kau telah melakukan kekerasan psikis! Secara verbal! Kau melakukan intimidasi!"
"Oke. Laporkan saja pada polisi. Dan laporanmu hanya akan dianggap angin lalu sebab tidak terbukti. Sedangkan dengan ini–" Bara menunjukkan wajah memarnya dengan telunjuk kiri.
Seketika Mulan membeliak menyadarinya.
"Kau tentunya tahu, kekerasan dalam rumah tangga bukan hanya dilakukan pria terhadap wanita, tapi juga wanita terhadap pria. Dan aku sudah memiliki bukti-bukti nyata."
"Mm–maksudnya?" Mulan tercekat. Suasana kamar terasa kian mencekam oleh ancaman yang Bara lontarkan. Di sini posisinya yang menjadi korban. Dirinya yang tertindas. Tapi kenapa semuanya jadi terbalik dan justru Bara yang menyerangnya?
"Tunjukkan itikad baikmu agar aku tidak menindaklanjuti ini ke kantor polisi."
"Aa-apa? Kau mau memenjarakanku?" tanya Mulan tak percaya. Tapi justru hanya dibalas acuh tak acuh oleh Bara.
"Bisa jadi. Itu tergantung bagaimana sikapmu terhadapku."
"Tidak bisa! Itu bukan salahku! Kau yang membuatku melakukan hal ini!" protes Mulan dengan teriakan yang bergetar. Wanita itu tak bisa menyembunyikan ketakutan.
"Tidak bisa bagaimana? Kau yang melakukannya. Aku bahkan mempunyai rekaman videonya. Apa kau mau lihat?" ucap Bara dengan nada menakut-nakuti. Ekspresi datarnya benar-benar meyakinkan Mulan.
"Kau harus tahu, semua gerak-gerikmu di sini terpantau oleh Mama dari kejauhan sana. Bukan aku yang mengadukan rencana rahasiamu yang ingin kabur itu. Aku bahkan masa bodoh dengan keberadaanmu di sini. Tapi dengan pukulanmu padaku tadi, kira-kira apa yang seharusnya kulakukan sebagai pembalasan ya? Apa kau ada saran?"
Yang benar saja. Mana ada orang yang minta pendapat tentang pembalasan pada orang yang ingin dibalas jika bukan si gila Bara. Tentu saja Mulan diam seribu bahasa menahan ketakutan yang begitu menyiksa.
Bara bergerak mundur tanpa kata, sementara Mulan menekan ludahnya susah payah. Mulan akhirnya terduduk lemas di lantai yang dipijaknya setelah Bara keluar dari kamar. Kepalanya mendadak pusing. Pandangannya berkunang-kunang. Andai tak bisa menguasai diri mungkin dirinya sudah pingsan. Membayangkan dirinya di dalam jeruji besi itu sangat mengerikan. Apa kata Rayyan nanti. Yang ada anaknya itu akan benar-benar membenci dia. Maka dengan begitu Ester akan dengan mudah menguasai Rayyan.
Tidak bisa! Tidak bisa! batin Mulan berteriak.
__ADS_1