Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Samsak


__ADS_3

"Ya Tuhan. Ke mana perginya dia! Jika sampai tuan tau, aku bisa habis karena membiarkan wanita itu kabur."


Pria berpakaian jas serba hitam itu mengacak rambutnya frustasi. Ia sudah lelah mencari sosok wanita jelek berambut keriting yang tadi diantarnya tadi.


Menyesal pun percuma. Seharusnya ia membuntuti ke mana pun calon nyonyanya itu pergi. Bukan malah membiarkan wanita kampungan itu masuk sendirian ke dalam mall besar ini.


Merogoh ponsel dari saku celana, ia berniat menghubungi sang atasan guna mencari bantuan. Kali ini ia menyerah. Sudah lebih dari dua jam dirinya mengelilingi setiap sudut mall tetapi wanita itu tidak berhasil ditemukan juga.


"Pak!" panggil seseorang dari arah belakang, dibarengi tepukan di pundak kanan. Terang saja itu membuat si pria yang masih tegang itu terkejut hingga nyaris menjatuhkan ponselnya.


Sopir itu menoleh, lalu menghela napas lega begitu melihat siapa di belakangnya.


"Nyonya? Anda dari mana saja?" paniknya sambil menyimpan ponselnya kembali.


"Hehehe. Saya tersesat, Pak," dusta Mulan sambil nyengir. Wanita itu menggaruk tengkuknya. Berpura-pura malu dihadapan sang sopir.


"Astaga. Saya nyariin Nyonya dari tadi lo. Tapi Nyonya nggak pa-pa, kan?" tanyanya penuh kecemasan.


"Aman kok, Pak. Saya baik-baik saja." Mulan mengangguk meyakinkan.


"Ya sudah. Kalau begitu sekarang saja kita berangkat. Tapi saya harap Nyonya Mulan jangan lama-lama di tempat keluarganya. Waktu kita hanya tersisa satu jam lagi dari sekarang," ujarnya sambil menunjukkan arloji di pergelangan tangan.


"Satu jam?" Mulan melebarkan mata. Bersikap seolah-olah dirinya sangat terkejut mendengarkannya.


"Iya, Nyonya. Waktu kita sudah terbuang banyak di mall ini."


Mulan mengembuskan napas berat sambil memasang wajah sedih. Terang saja hal itu menarik perhatian pria di depannya hingga tertarik untuk bertanya.


"Kenapa, Nyonya? Ada masalah?"


Bukannya langsung menjawab, Mulan justru memasang mimik kian sedih yang pada akhirnya membuat sang sopir tak sabaran dan memilih mendesak.


"Nyonya?"


"Lebih baik batalkan saja rencana kita menemui keluarga saya, Pak. Percuma, karena waktu kita tidak cukup juga."


"Maksudnya?"


"Untuk sampai ke rumah paman saya saja kita perlu waktu dua jam. Belum lagi waktu untuk berbincang-bincang. Belum lagi perjalanan pulang."


"Ya Tuhan ...," desah sang sopir sambil memukul pelan kepalanya. "Terus bagaimana, Nyonya?"

__ADS_1


"Tenang, Pak. Nggak usah panik. Saya bisa menghubungi mereka melalui telepon, kok," ujar Mulan meyakinkan.


"Nyonya yakin ingin menelepon mereka saja?"


"Yakin, Pak." Mulan meyakinkan lagi. "Saya pastikan mereka akan datang di hari pernikahan."


"Baiklah kalau begitu. Mari kita kembali sekarang."


Mulan mengangguk patuh. Ia kemudian masuk ke mobil setelah sang sopir membukakan pintu untuk dirinya. Diam-diam dirinya menghela napas lega. Sopir berperawakan sedang ini ternyata mudah dikelabuinya.


Sampai di rumah calon suaminya, Mulan langsung disambut pelayan sekaligus dua orang berpakaian mewah dan berparas cantik. Mereka memperkenalkan diri sebagai pemilik butik yang ditunjuk menyiapkan gaun pengantin untuk dirinya.


Mulan tak banyak bertingkah. Wanita sederhana dengan tampilan polos tanpa riasan itu hanya manut mengikuti instruksi.


Hanya bertiga, mereka memasuki kamar yang semalam dipergunakan Mulan untuk tidur. Rupanya di dalam sana sudah dipersiapkan beberapa gaun pengantin warna putih yang sangat indah dan mewah.


Mulan terperangah. Hanya melihat dari gaunnya saja, ia meyakini jika pernikahannya kelak akan dihelat secara besar-besaran.


"Kau harus mencobanya dulu sebelum memilih satu yang paling cocok," ujar salah satu dari dua orang itu yang tadi sempat mengenalkan dirinya bernama Rebecca. Wanita bertutur lembut itu membantu Mulan dengan sepenuh hati, berbanding terbalik dengan rekannya bernama Jessie yang menatap Mulan dengan pandangan meremehkan.


"Kau lihat wajah dia? Ish, sangat jelek dan kampungan. Bagaimana bisa Tuan Bara memilihnya untuk jadi seorang istri. Cih. Benar-benar tak sepadan."


"Sstt. Jangan menggunjingnya. Dia bisa dengar," bisik Rebecca mengingatkan.


Mulan yang tengah mematut diri di depan cermin langsung mengepalkan tangan mendengar dirinya jadi bahan pembicaraan. Terang saja dia mendengar. Mereka berada dalam satu ruangan. Hanya saja dirinya tengah berada di dalam ruangan khusus pakaian.


Tanpa pikir panjang, ia langsung keluar untuk menghampiri Jessie dan Rebecca. Tak seperti Jessie yang terlihat biasa saja, Rebecca tampak terkejut melihat kemunculan Mulan.


"Bagaimana? Kau menyukainya?" tanya Rebecca untuk mengusir keterkejutan.


"Aku ingin mencoba yang lain." Mulan menjawab datar.


"Tentu saja," balas Rebecca penuh kesiapan. "Kau ingin yang mana dulu?" tanyanya sambil menunjuk beberapa buah gaun.


"Aku ingin yang itu." Mulan menunjuk satu gaun.


"Baiklah." Rebecca tanpa ragu ingin membantu Mulan. Namun, Mulan justru menolaknya hanya dengan gerakan tangan.


"Aku ingin dia yang membantuku," tunjuknya pada Jessie, yang spontan membuat gadis itu berdecak tak percaya.


"Aku?" tanyanya sambil menunjuk diri sendiri dengan gaya meremehkan.

__ADS_1


"Tentu saja. Memangnya ada orang lain lagi selain dirimu?" jawab Mulan sambil bersedekap dada.


Nyaris saja Jessie menolak andai Rebecca tidak memberi isyarat untuk bersedia. Akhirnya gadis itu mengikuti keinginan Mulan meski dengan keterpaksaan.


"Aoww! Sakit!" pekik Mulan ketika Jessie membantunya melepas pakaian. Jessi yang terkejut hanya membelalakkan mata memperhatikan Mulan yang meringis memegang tangan. Terang saja ia kebingungan. Ia bahkan tidak melakukan apa-apa.


"Jessi! Apa yang kau lakukan?" tegur Rebecca panik.


"Apa? Aku bahkan tidak melakukan apa-apa!"


"Bohong!" sahut Mulan tak terima. "Kau sengaja memelintir tanganku, kan? Memangnya salahku apa?" tuduhnya dengan pasang wajah sedih.


Di saat Jessie hanya bisa terperangah, Mulan kembali melayangkan sebuah ancaman. "Bisa tidak, kerja itu yang bagus? Kau ingin kecerobohanmu ini kuadukan pada pemilik butik?"


Jessie membeliak. Begitu juga dengan Rebecca. Keduanya tak menyangka jika wanita jelek ini bahkan berani mengancam Jessie.


"Nyonya, mohon maafkan kesalahan Jessie. Dia tidak sengaja melakukan itu." Alih-alih Jessie yang meminta maaf, Rebecca malah merendahkan diri mewakili gadis itu.


"Kenapa malah kau yang minta maaf? Seharusnya biarkan saja temanmu itu mendapatkan ganjarannya!"


"Ini salah saya. Saya seniornya. Seharusnya saya yang memberi arahan baik kepadanya."


Mendengkus lirih, Mulan menghempaskan bobot tubuhnya ke sebuah sofa. Matanya melirik penuh ancaman pada Jessie. Bagaimanapun juga gadis angkuh itu harus mendapatkan pelajaran.


Tepat ketika itu ponsel di saku Rebecca berdering tanda adanya panggilan masuk. Wanita itu meminta izin sebentar untuk mengangkat telepon di luar. Mulan mengangguk samar tanda memberi persetujuan. Wanita itu langsung menyeringai melihat Jessi yang sendirian.


"Bisa bantu bukakan sepatuku?" pintanya dengan nada lembut setelah beberapa saat suasana terasa hening.


Tak ingin terjadi masalah pada pekerjaannya, Jessie mengangguk menyanggupi. Ia menghampiri Mulan lalu berjongkok untuk bisa membukakan sepatu Mulan. Tanpa gadis itu sangka, kaki jenjang Mulan yang semula menyilang tiba-tiba bergerak mendorongnya. Terang saja ia terjungkang sebab sebelumnya tak ada kesiapan.


Jessie merasa marah, tetapi Mulan justru tertawa kencang. Demi apa pun Jessie ingin menjambak rambut Mulan. Namun, ia teringat jika masih membutuhkan pekerjaan. Sehingga ia pun sekuat tenaga menahan diri dan meredam amarahnya.


"Kenapa?" tegur Mulan yang bisa membaca isi kepala Jessie. "Mau pukul? Mau jambak? Ayo lakukan!"


Jessie hanya diam. Tak berkutik, pun tak menjawab. Sikap pasrah gadis itu membuat Mulan kembali tertawa. Dan tawa itu terdengar ngeri di telinga Jessie.


Melepas kaca mata dan menaruh di atas sofa, Mulan mencondongkan tubuhnya ke arah Jessie yang duduk di lantai. Telunjuknya mengangkat dagu Jessie, sementara bola mata coklat yang indah itu memperhatikan si gadis dengan seksama.


"Kau cantik juga." Mulan berkomentar sambil mengangkat satu alisnya. "Tapi sayang ... a-ro-gan!" tegasnya penuh penekanan yang membuat Jessie spontan berjingkat.


"Beginikah sikap baik seorang karyawan? Menggunjing pelanggan secara terang-terangan! Merendahkan martabat orang tanpa perasaan! Tak kusangka–" Mulan berdecak sambil geleng kepala. "Karyawan yang dipercaya sepertimu hanya akan melayani dengan baik pelanggan yang cantik. Sangat-sangat tidak profesional! Kau tadi mengatakan diriku apa? Aku hanya akan jadi samsak?"

__ADS_1


Jessie langsung menggeleng kuat-kuat sebagai bentuk penyangkalan. "Tidak, Nyonya. Saya tidak mengatakan demikian," sangkalnya ketakutan. Bahkan ia hampir menangis lantaran kesakitan. Mulan mencengkeram dengan kuat pergelangan tangannya. Bahkan kuku panjang wanita itu sampai menancap di permukaan kulitnya.


"Kita lihat saja, siapa yang akan jadi samsak," bisik Mulan tepat di telinga Jessie. Membuat gadis itu membelalak takut bercampur ngeri.


__ADS_2