Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Hama kecil perusak tanaman


__ADS_3

Mulan mengatur napas yang tak beraturan. Sambil menaruh tangannya pada dinding untuk menjaga keseimbangan badan, ia menyeka keringat yang mengembun di pelipis. Ia sangat kelelahan. Seperti permainan bernama gasing, ia dibuat capek dan pusing lantaran harus bolak-balik ke sana kemari untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar.


Wanita itu mengumpat dalam hati pada suaminya. Bagaimana tidak? Ia merasa seperti dikerjai oleh pria berperawakan tegap itu. Di tengah kemacetan jalan ibu kota, Bara menuntutnya mengantarkan Rayyan tepat waktu tanpa diperbolehkan menyuruh orang lain sebagai perwakilan, sementara Mulan sendiri juga memiliki tanggung jawab besar pada perusahaan di waktu yang sama.


Baru juga wanita itu sudah setengah perjalanan meluncur ke arah kantor, Bara tiba-tiba menelpon, meminta dirinya mengantarkan obat sebab Bara tak sengaja meninggalkan beberapa pil itu di kamar mereka. Mau tak mau, Mulan membanting stir mobilnya berputar arah meski di sepanjang jalan ia tak henti-hentinya mengomel sendirian.


Dan seharusnya, sekarang Mulan bisa merasa tenang sebab sudah sampai di kantornya dan berdiri tepat di ruang meeting. Namun, pada kenyataannya ia kembali dibuat geram lantaran sang sekretaris beberapa saat lalu memberinya kabar jika meeting telah dimulai bahkan tanpa menunggu kedatangan dirinya. Siapa lagi tersangka utamanya jika bukan sang Paman yang sok-sokan berkuasa.


Mulan berusaha mengumpulkan energinya yang sempat terkuras. Ia memperbaiki penampilan lalu mulai melangkah maju setelah dirinya merasa siap.


BRAK!!


Suara pintu dibuka kasar itu menyita perhatian semua orang. Mereka tersentak, lalu memfokuskan pandangan pada seseorang yang baru datang.


Wanita yang sangat cantik. Bibir berlapis lipstik mahal itu tersenyum miring sambil melangkah dengan jumawa, lalu berhenti tepat di samping pria paruh baya yang berdiri di depan layar proyektor menyala.


Jika pria paruh baya itu mendadak terlihat tegang dengan wajah yang memucat, maka lain hal dengan wanita cantik bernama Mulan yang baru datang itu. Ia tetap terlihat tenang sekalipun dirinya menjadi pusat perhatian. Sikap percaya diri yang dimilikinya menjadikan wanita itu bersinar layaknya bulan purnama. Tak ada yang mampu membantah kekaguman jika melihat kharismanya. Bukan hanya terlihat dari penampilan yang sempurna, tetapi sikap, perilaku dan caranya menguasai situasi juga turut menjadi penunjangnya.


"Mulan. Bisakah sedikit saja kau bersikap sopan? Ini adalah ruang meeting, di mana semua yang ada di sini adalah orang-orang penting! Kau datang seperti berandalan dan mengganggu kenyamanan!" Meskipun Bima berusaha bersikap tenang, tetapi tak bisa menutupi kegugupan di dalam hatinya. Ada getaran dari nada bicara meskipun ia sudah berusaha berucap lantang. Alih-alih membuat Mulan merasa gentar, wanita itu justru bersedekap dada dan menatapnya penuh keangkuhan.

__ADS_1


"Anda berbicara tentang kesopanan, Tuan Bima?" tanya Mulan dengan senyum menyangsikan. "Lantas apa bedanya dengan perilaku Anda sekarang ini? Beginikah cara Anda bersikap pada pemilik perusahaan yang sesungguhnya? Melangkahi kekuasaannya?"


Suasana yang awalnya hening mendadak terdengar bisik-bisik beberapa orang yang ada di sana. Namun, Mulan mengabaikan itu dan tetap memfokuskan pandangan terhadap Bima.


Wajah pria itu merah padam dikuasai perasaan malu dan amarah. Rupanya Bima tidak sendirian sebab ada sosok lain yang tiba-tiba berdiri memberikan pembelaan.


"Apa yang kau katakan, Mulan! Berani-beraninya kau merendahkan papaku yang sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk membesarkan perusahaan ini!" Alexa maju penuh keberanian dan menatap sinis pada Mulan.


Apakah Mulan merasa takut? Tentu saja tidak karena baginya Alexa hanya hama kecil yang ingin merusak keindahan tanamannya. Gadis itu hanya perlu disisihkan usai terlebih dahulu diberi pelajaran. Tentu saja untuk sekarang hal itu sangat gampang dilakukannya. Alexa tidak ada apa-apanya untuk Mulan.


"Anak manis," puji Mulan pada Alexa. Namun, tentu saja bukan pujian yang sewajarnya sebab setelah itu Mulan mendesis sambil menggamit dagu runcing hasil suntikan silikon milik sepupunya. "Bela papamu itu semampumu karena kaulah penyebab papamu bersikap licik seperti itu."


"Jaga sikapmu, wanita benalu," desis Mulan memperingatkan. "Di sini, kau bukan apa-apa dibandingkan aku."


"Lepas, Mulan! Sakit!" Alexa memekik. Ia menyesal karena sempat meremehkan Mulan. Ternyata tenaga wanita itu sungguh lumayan. Yang membuatnya kian merasa kesal, Mulan bahkan memasang tampang lugu dengan pura-pura terkejut menyadari dirinya mencengkeram tangan Alexa.


"Ups, sorry. Nggak sengaja," ujar wanita itu tanpa dosa, lalu kemudian berjalan santai ke kursi utama dan kemudian dengan elegan menempatinya.


"Om Bima, Alexa, bisa kembali ke kursi kalian?" pinta Mulan setelah duduk tenang tanpa memandang wajah keduanya. "Pemilik perusahaan yang baru sudah datang dan kita akan mulai meeting sesungguhnya."

__ADS_1


Terpaksa dua ayah dan anak itu menempati kursi mereka meski dengan wajah tak bersahabat. Tentu saja Bima bukan menempati kursi bertuliskan Presiden Direktur yang semula ia tempati karena kini telah ditempati pemilik sesungguhnya. Ya. Wanita muda yang kini tengah fokus menatap layar laptopnya. Wanita itu tak lupa memohon maaf kepada seluruh anggota meeting lantaran gangguan teknis yang terjadi barusan.


Sayang, saat tatapan matanya bertemu pada sosok yang sejak tadi duduk tenang, seketika dirinya membeku dan diam seribu bahasa.


"Bu Mulan, Anda baik-baik saja?" Cyndi yang melihat perubahan mimik wajah Mulan akhirnya berdiri dan angkat bicara.


Mulan tergeragap dan langsung menoleh pada sekretarisnya.


"Kami senang sekali karena Bu Mulan akhirnya sampai dan bisa kembali memimpin meeting ini. Oh iya Bu, perkenalkan rekan-rekan bisnis kita dari dua perusahaan besar yang berbeda. Di sana adalah Tuan Bara Aditama dari EC CORPORATION beserta asistennya." Cindy mengarahkan tangannya pada Bara dengan sopan untuk mengenalkan, lalu kemudian beralih pada Reno yang berada di tempat berseberangan. "Sementara di sana adalah Tuan Reno, Direktur sekaligus pemilik perusahaan RI CORPORATION."


Kata-kata serta penjelasan Cyndi seperti tenggelam dan jauh dari jangkauan telinga Mulan. Wanita itu seperti tak bisa mendengar apa-apa. Kaget bercampur tak menyangka. Bagaimana bisa ia bekerja sama dengan suaminya sendiri di saat dirinya tak pernah menceritakan jati diri yang sebenarnya.


Jika Mulan rasanya seperti ringan dan ingin pingsan, maka pembawaan Bara justru terlihat jauh lebih tenang. Ia bahkan menyambut Mulan dengan sangat ramah seperti pada rekan bisnis yang baru dikenalnya.


"Senang bisa bekerjasama dengan Anda, Nyonya Mulan. Semoga kerjasama ini bisa menguntungkan kita semua," kata pria itu yang anehnya hanya sanggup dibalas anggukan oleh Mulan.


Sempat panik dan tak tahu harus bagaimana, tetapi akhirnya Mulan mampu menguasai diri dan situasi. Seperti jiwa melayang yang berhasil kembali masuk ke raganya, wanita itu akhirnya kembali menjadi dirinya sendiri. Mulan yang tegas, Mulan yang tangkas dan Mulan yang cerdas. Ia memimpin pertemuan kali ini dengan sangat baik meski sempat beberapa kali berusaha menghindari bersitatap saat pandangan Bara tak lepas dari dirinya.


Entah grogi atau mencemaskan dirinya sendiri saat pulang ke rumah nanti, yang jelas ia belum siap memikirkan itu semua. Satu-satunya yang ia inginkan sekarang adalah meeting segera usai dan Bara enyah dari hadapannya. Itu saja. Sebab ia perlu jeda untuk sedikit bernapas. Ia perlu mempersiapkan diri dan mengumpulkan energi lagi guna menjelaskan pada Bara yang kemungkinan besar akan berakhir pada perdebatan panjang. Atau bahkan bisa jadi akan berakhir pada pengusiran.

__ADS_1


Namun, ada sesuatu yang janggal dari sikap Reno yang dirasakan Mulan. Dari sikap pria itu sepanjang meeting berjalan. Senyum penuh misteri itu. Apa mungkin ada campur tangan dia sehingga dirinya dan Bara dipertemukan?


__ADS_2