
Mulan langsung mengatupkan bibirnya kala mendengar ancaman Bara. Selanjutnya ia hanya bisa pasrah ketika pria itu membawanya masuk ke dalam rumah. Bahkan dengan patuhnya mengalungkan tangan ke leher Bara untuk berpegang setelah pria itu menatapnya penuh isyarat. Entah, lantaran terpaksa atau justru merasa suka.
Mulan merasa tubuhnya seperti melayang. Sesekali wanita itu mendongakkan kepala, diam-diam memperhatikan wajah Bara yang terlihat begitu ringan menyangga tubuhnya. Ekspresi pria itu selalu datar. Sama sekali tak ada senyuman. Pandangannya juga lurus menusuk ke arah depan.
Perlahan, pandangan Mulan bergerak turun ke arah dada Bara. Seketika ia merasakan daya pikat lain selain wajah tampan pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Dada berotot yang tersimpan di balik kemeja slim fit yang Bara kenakan.
Tiba-tiba dada Mulan terasa berdesir. Sejenak otaknya berpikir menyimpang dari yang seharusnya. Walaupun terlihat marah, tetapi Bara menunjukkan sikap perhatian sebagai seorang pria. Rengkuhannya terasa hangat dan menenangkan. Lalu dadanya? Seketika Mulan membayangkan tanpa sadar. Bagaimana rasanya menyandarkan kepalanya di dada bidang itu? Bagaimana rasanya menyembunyikan wajah di sana?
Oh, astaga. Mulan buru-buru membuang jauh-jauh pikiran liarnya. Ini adalah kesalahan. Ini tak bisa dibiarkan. Namun, wajah Bara terlalu sempurna untuk disia-siakan begitu saja. Tiba-tiba Mulan merasa penasaran dengan perasaan pria itu sebenarnya. Tentang motivasi yang membuat pria itu mau menikahi wanita seperti dia.
Namun, tiba-tiba Bara menundukkan kepala ke arah kiri hingga iris tegas pria itu bertemu langsung dengan matanya.
Seketika itu juga Mulan membuang pandangan dengan wajah yang memerah. Dalam hati ia tak henti-henti merutuki diri sendiri. Bisa-bisanya ia terpesona hingga kedapatan oleh Bara sedang memperhatikan wajahnya. Entahlah. Saat ini apa yang tengah pria itu pikirkan.
__ADS_1
Ini adalah kali pertama Mulan disentuh pria setelah berpisah dari mantannya. Ada rasa tersendiri yang meledak-ledak di dalam hatinya. Malu. Cemas. Jantungnya berdebar-debar tak menentu. Lebih-lebih lagi ancaman Bara tadi juga membuatnya merasa takut.
Diam, atau kulemparkan kau ke jurang.
Seketika mata Mulan membeliak. Buru-buru ia menurunkan pandangan dan matanya langsung membulat karena syok bercampur takut. Tanpa ia sadari kini Bara sudah membawanya menaiki anak tangga. Beberapa pria lain termasuk Hendrik berdiri di lantai dasar dengan posisi berjajar.
Bara belum pernah mengenal dirinya sebelum menikah. Sudah barang pasti pria itu menikahinya juga hanya karena terpaksa. Lalu bagaimana jika ancamannya tadi bukan isapan jempol belaka?
"Tu–tutunkan aku!" Seketika Mulan berteriak histeris sambil meronta hingga membuat Bara mengerutkan kening kebingungan. "Kumohon turunkan aku! Kakiku masih berfungsi. Aku bisa berjalan sendiri. Sungguh!" lanjutnya dengan ekspresi tidak tenang dan mata menatap Bara penuh permohonan.
"Kenapa tiba-tiba minta diturunkan? Hem, kau ingin kabur rupanya?" Bara menangkap lain ketakutan yang terpancar di wajah Mulan. Ia berpikir Mulan minta turun karena ingin segera kabur, bukan lantaran takut ia lemparkan.
Pria itu menyeringai sinis. Alih-alih mengikuti keinginan Mulan, ia malah dengan santainya membawa Mulan ke balkon atas.
__ADS_1
"Kau ingin turun, bukan? Oke. Turunlah. Aku tidak akan melarang."
Menatap ke bawah, Mulan meneguk ludahnya kasar. Alih-alih turun seperti yang dia inginkan, Mulan justru kian mengeratkan pegangannya pada Bara. Wanita itu menatap Bara ngeri lalu menggeleng kuat-kuat.
"Tidak. Jangan," ucapnya dengan suara bergetar. Mulan bahkan dengan lancang menyembunyikan wajahnya yang ingin menangis itu di dada Bara karena saking takutnya.
"Ayo. Lakukan. Aku tidak akan melarang," tantang Bara lagi yang semakin membuat wanita itu merasa ngeri.
Mulan menggeleng lagi dengan ekspresi ketakutan yang tak bisa disembunyikan. Ia bahkan rela menjatuhkan harga diri dan memelas pada Bara. "Saya mohon ... jangan lemparkan saya ke bawah. Saya belum siap mati. Saya mau menikahi Anda itu hanya karena Rayyan. Sedikitpun tak ada niatan buruk pada Anda."
"Bodoh!" celetuk Bara sambil menatap tajam pada Mulan. "Memangnya siapa yang sudi mengotori tanganku untuk membunuhmu?"
Mulan duduk meringkuk dengan tangan mendekap lutut. Ia hanya sendirian di kamar sebesar itu sebab Bara langsung pergi usai melemparnya ke tengah ranjang. Wanita itu mendesah lemas setelah berhasil lepas dari satu beban. Lalu, air mata itu kembali datang setelah otaknya kembali mengingat Rayyan.
__ADS_1