Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Cemburu buta


__ADS_3

"Wah-wah-wah. Lihatlah Nyonya Mulan yang cantik jelita ini. Kok sendirian aja, Non. Suaminya mana?"


"Bukan urusanmu!" balas Mulan dengan ketus. Ia mendengkus sebal pertanda malas meladeni orang yang ditemui itu. Tak disangka, lepas dari wanita ular seperti Alexa ia malah berjumpa dengan pria tak tahu diri seperti Reno, sang mantan yang pernah memberinya luka teramat dalam.


Lihatlah wajah pria yang tengah menyunggingkan senyum tanpa dosa itu. Benar-benar menjijikkan. Reno bahkan begitu percaya dirinya mendekati Mulan seperti ingin berbicara. Untuk apa coba? Mau cari masalah kah?


"Tadi kulihat kalian tidak bertegur sapa. Apa hubungan kalian sedang tidak baik-baik saja? Apa kalian sedang ada masalah? Atau jangan-jangan ...."


Ternyata bukan hanya Alexa saja si ratu kepo yang selalu berusaha mengganggu ketenangan Mulan. Reno, laki-laki jahanam itu, ternyata tak kalah mau tahu juga urusan orang. Mulan pikir itu hanya tingkah iseng Reno sepintas saja selagi lewat tanpa niatan lebih apalagi sampai mengusik kenyamanan, tetapi nyatanya pria itu seperti sengaja berniat menggangunya. Parahnya lagi, kini pria itu tengah tersenyum miring sambil melirik seperti sedang mengira-ngira. Benar-benar membuat jengah.


Melihat Mulan yang tampak membuka mulut hendak menyela, buru-buru saja Reno menginterupsi dengan tebakan penuh antusias yang benar-benar membuat Mulan makin geram. "Atau jangan-jangan ... sampai sekarang kalian memang belum juga saling kenal? Statusmu hanya sebagai istri yang tak dianggap! Betulkah demikian?"


"Tutup mulutmu manusia jahanam!" sahut Mulan cepat dengan tatapan penuh amarah. Ia sudah mengepalkan tangan hendak meninju wajah pria bermulut lemes di depannya, sayangnya ia masih bisa mengendalikan diri, terlebih lagi mengingat saat ini dirinya ada di mana. Ini bukan ranahnya untuk menciptakan keributan. Coba saja sekarang mereka tidak sedang berdiri di daerah kekuasaan Bara. Mungkin sudah habis si Reno ia bantai membabi buta.


"Mulan, Mulan." Mulan yang tak berkutik justru membuat Reno tertawa geli. "Kau masih memanggilku dengan sebutan itu? Tak kusangka, ternyata kau belum move on sampai sekarang ya. Pantas saja hubunganmu dengan Bara lebih dingin dari hubungan kita sebelumnya. Ternyata kau masih menyimpan namaku di lubuk hatimu." Dengan begitu menyebalkannya Reno menggeleng sambil berdecak. Terang saja, tindakan yang sengaja Reno lakukan itu menguras habis kesabaran Mulan.


"Aku benar-benar ingin membunuhmu, Reno! Aku ingin membunuhmu!" Mulan yang hilang kendali berniat maju hendak memukul Reno. Ia sudah memperkirakan dengan matang ke mana bogem mentahnya hendak melayang. Namun, sayang sekali, yang terjadi justru di luar dugaan.


Karena dikuasai oleh amarah, Mulan melupakan perhitungan lainnya. Bisa-bisanya ia nyaris tersungkur lantaran kakinya tidak bisa diajak kerja sama. Apa lagi jika bukan karena sepatu hak tinggi yang dikenakannya?


Saat itu juga mata Mulan mendelik kaget bersamaan dengan mulutnya yang memekik. Sial. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Gagal menjaga keseimbangan badan, ia yakin pasti dirinya akan jatuh mencium lantai. Tak terbayangkan lagi bagaimana sakit dan malunya jika sampai itu terjadi.


Mulan refleks memejamkan mata. Bukan tidur, lebih tepatnya pasrah pada apa pun yang akan terjadi nanti. Akan tetapi, tepat di saat itulah ia merasakan seseorang menahan tubuhnya. Gerakannya terasa kuat tetapi tidak menyakitkan. Yang membuat Mulan terperangah adalah posisinya yang ternyata masih aman. Bukannya tersungkur di lantai, tetapi justru bertahan pada rengkuhan seseorang.


Sejenak waktu seperti berputar saat Mulan berada dalam posisinya sekarang. Saat tersadar, ia refleks menoleh dan menatap si penolongnya dengan penasaran.


Reno?


Sial. Kenapa justru pria itu yang memberinya pertolongan. Karena harus terjadi kontak fisik di antara mereka? Belum sempat dirinya melampiaskan kemarahan, suara Reno yang mengudara, sukses membuyarkan konsentrasinya.


"Anda baik-baik saja, Nyonya Mulan? Kelak berjalanlah lebih hati-hati. Tubuh Anda sangat berharga untuk menyentuh lantai ini. Untung saja saya bergerak cepat waktu sebelum hal yang tak diinginkan itu benar-benar terjadi."

__ADS_1


Kenapa suara Reno terdengar lebih sopan? Bukankah sesaat yang lalu ia berusaha mengusik ketenangan Mulan dengan kata-katanya yang menjengkelkan? Tapi lihatlah sekarang. Kenapa bahkan terkesan menasehati.


Dalam keadaan linglung Mulan hanya pasrah saat Reno mengurai rengkuhan dan membantunya berdiri tegak. Ketika Cyndi mengambil alih dan menanyakan keadaannya barulah wanita itu tersadar.


"Bu Mulan baik-baik saja?"


"A-aku baik-baik saja Cyn–" Perkataan Mulan terhenti bersama munculnya sosok Bara dan asistennya. Mulut wanita itu ternganga, dan sepersekian detik kemudian barulah ia menyadari perbedaan perangai yang ditunjukkan Reno barusan. Pantas saja.


"Apa yang terjadi?" tanya Bara datar pada semua yang ada di sana. Wajahnya menunjukkan ketidaktahuan yang nyata.


"Tidak ada, Tuan Bara. Saya hanya berusaha menolong Nyonya Mulan yang nyaris terjungkal." Reno yang angkat bicara, menjawab tanpa sesuai fakta. Padahal dia sendiri yang menjadi pemicu kejadian ini bermula.


Bara melempar lirikan pada Mulan. Karena saking datarnya sampai-sampai Mulan tak mampu membaca ekspresi pria itu. Hanya sesaat, sebab beberapa detik kemudian Bara memutuskan berlalu dari sana tanpa ingin tahu lebih jauh mengenai kejadiannya. Boro-boro menanyakan keadaan Mulan.


Mulan hanya diam tanpa kata melihat bagaimana sikap dingin suaminya. Namun, tak bisa dipungkiri jika ada sesuatu yang mengganjal di hati wanita itu.


Mungkin Mulan tak perlu merasa khawatir jika Bara tidak peduli. Namun yang menggangu pikirannya, bagaimana jika pria itu justru salah paham? Berpikiran buruk dan mengira jika dirinya dan Reno masih menyimpan rasa di belakangnya. Itu mungkin saja terjadi sebab satu-satunya orang yang mengetahui dirinya dan Bara ada hubungan hanyalah Reno seorang, dan begitu pula sebaliknya.


"Suit ... suit ...."


Siulan Reno menarik perhatian Mulan dari sosok Bara yang telah menghilang. Wanita itu baru sadar jika pria jahanam itu masih ada di sana. Mulan hampir menyemburkan amarahnya, tetapi Reno yang mampu membaca gelagat wanita itu langsung saja menghentikan dengan teguran diiringi senyum lebar.


"Tahan emosimu jika tak ingin hal seperti tadi terjadi lagi, wahai mantan istri. Kau tentunya tak ingin suamimu itu salah paham, bukan?"


Mulan mengepalkan tangan dan menghela napas berusaha sabar. Ingin tidak percaya, tapi bagaimana jika itu menjadi nyata. Lagi pula bagaimana bisa tadi Bara tiba-tiba muncul. Sejak kapan? Mungkinkah pria itu tahu persis kejadiannya sejak awal?


"Untuk kedepannya, berusahalah bersikap wajar terhadapku, Mulan. Kita akan lebih sering terlibat pertemuan. Kau tidak ingin membuat suamimu curiga, bukan?" Reno tersenyum miring usai membisikkan itu ke telinga Mulan. Pria itu lantas melenggang tanpa dosa, meninggalkan Mulan yang melotot ke arahnya.


"Cyndi!" pekik Mulan geram pada asistennya sepeninggalnya Reno dari sana.


"Iya, Bu Mulan." Gadis itu tergopoh menghampiri.

__ADS_1


"Kenapa kamu biarin Reno seperti itu tadi!"


"Maaf, Bu Mulan. Kejadiannya begitu cepat sampai-sampai saya tidak bisa berbuat apa-apa."


"Arrgh." Mulan menggeram. "Kenapa momennya harus pas banget gini sih! Kenapa juga Tuan Bara tiba-tiba lewat?"


"Bu Mulan ...." Cyndi ingin menenangkan, tetapi ia bingung harus bagaimana.


Mulan mengacak rambutnya gusar sebelum kemudian memastikan sesuatu pada Cyndi. "Kau lihat sejak kapan Tuan Bara muncul?"


"Iya, Bu Mulan. Tepatnya ketika Bu Mulan nyaris tersungkur dan Tuan Reno bergerak sigap menangkap Anda."


"Hah! Kau serius?"


"Iya." Cyndi mengangguk mantap. "Saya yakin Tuan Reno juga melihat, makanya dia langsung bersikap normal dan berbicara dengan nada formal kepada Anda."


Mulan menggaruk kepalanya gusar. "Menurutmu pandangan Tuan Bara seperti apa?" tanyanya tak tenang.


"Pandangan Tuan Bara terhadap apa?" Cyndi malah bertanya dengan polosnya.


"Pandangan Tuan Bara pada kejadian tadi lah, Cyndi! Menurut kamu apa lagi!" Mulan merasa kesal sekaligus gemas.


"Oh, itu? Emm ...." Cyndi berpikir sejenak sebelum menjelaskan. "Menurut saya, jika dilihat dari sudut pandang Tuan Bara yang baru datang, ini murni sebuah kecelakaan, Bu. Sikap Tuan Bara yang datar itu bukan berarti beliau tak peduli. Saya sempat menangkap beliau memperhatikan Bu Mulan dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sehingga beliau memilih berlalu begitu saja tanpa banyak bicara. Tuan Bara kan memang begitu. Dia tidak mau ikut campur urusan orang. Keren banget, kan Bu?"


Tanpa sadar Mulan mendelik pada Cyndi. Awalnya ia merasa takjub dengan pandangan masuk akal gadis itu. Namun, tidak perlu sampai memuji Bara juga kan? Lihatlah kerlingan mata gadis itu. Kentara sekali jika Cyndi sangat mengagumi sosok Bara. Andai gadis itu tahu jika Bara adalah suami Mulan. Mungkin Cyndi akan langsung sungkem pada sang atasan.


Untung saja Cyndi tak menyadari tatapan mata Mulan itu. Hal itu terlihat dari sikapnya yang masih menyibukkan diri dengan senyum-senyum mengangumi ketampanan suami orang.


Sementara itu di tempat lain, Bara yang awalnya diam tanpa suara tiba-tiba mengomel pada asistennya.


"Kau lihat tadi itu, Hendrik? Bisa-bisanya bajingan itu menyentuh istriku! Kurang ajar! Aku saja belum pernah seperti itu! Ini gara-gara kau yang menghambat perjalanan kita!" Telunjuk Bara menuding wajah Hendrik. "Seharusnya kita datang lebih awal dan akulah yang jadi penolong Mulan. Bukan malah bajingan bernama Reno itu!"

__ADS_1


Hendrik hanya bisa menunduk diam tanpa mampu membalas kemarahan Bara meski hanya dengan sebuah pembelaan diri. Percuma saja orang yang sedang cemburu buta diingatkan meskipun ini bukanlah murni kesalahan dia.


__ADS_2