
"Apa-apaan ini, Cyndi! Kenapa tidak bilang sejak awal jika rekan bisnis kita adalah Tuan Bara Aditama!" Mulan berusaha menahan amarahnya dengan menekan nada bicara. Meeting telah usai, dan kini hanya tinggal dirinya dengan Cyndi di ruangan itu.
Sadar jika tak sepatutnya meluapkan kekesalan pada Cyndi, Mulan menghela napas kasar. Ada sejejak rasa sesal dalam hatinya. Tak seharusnya ia berlaku demikian. Toh, Mulan sendiri yang memutuskan merahasiakan pernikahan. Jadi wajar jika Cyndi tidak tahu apa-apa.
Menatap Cyndi yang memperlihatkan wajah syok itu sejenak, Mulan lantas memutar badan membelakangi sang sekretaris. Ia berdiri menghadap dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan luar dengan wajah amat gelisah.
"Maafkan saya, Bu Mulan. Saya kira Ibu tahu jika posisi Presiden Direktur EC CORPORATION dipegang sendiri oleh Tuan Bara Aditama. Di kota ini siapa yang tidak mengenali beliau, Bu. Dia penerus perusahaan kosmetik raksasa di negeri ini. Usahanya ada di mana-mana. Perusahaannya berkembang pesat sejak empat tahun lalu, ketika kepengurusan berpindah kepadanya."
Cyndi menghentikan sejenak penjelasannya demi meneliti reaksi Mulan dari belakang. Ia memiringkan kepala lalu menautkan sepasang alisnya. Agak heran. Entah mengapa, ia merasa ada yang aneh dengan sang atasan.
"Bu Mulan. Kalau boleh saya tahu, memang apa masalahnya jika rekan bisnis kita adalah Tuan Bara? Apakah dia mengancam keselamatan Anda?" tanya gadis itu pada akhirnya.
Mulan tak langsung menjawab. Bukannya berniat merahasiakan ataupun tidak suka dengan status yang disandangnya. Hanya saja, ada beberapa hal yang membuatnya ragu mengakui pernikahan mereka.
Jika ditilik dari sikap Cyndi, Mulan bisa memastikan jika gadis itu benar-benar tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Hal itu wajar menurut Mulan. Ia memang selalu memberi kabar sejak dirinya memutuskan menghilang. Namun, tidak dengan pernikahan. Dan dari banyaknya tamu undangan yang hadir saat itu nyatanya Mulan tak banyak mengenal di antaranya. Lingkup pergaulan dirinya dengan Bara berbeda. Dan mereka yang datang hanya sebatas kerabat dan kolega Bara yang paling dekat.
Bara memang membatasi tamu yang diundangnya. Ia juga melarang media meliput dan menyebarkan segala tentang pernikahan tersebut. Tentu saja karena Bara tak ingin pernikahannya menjadi konsumsi publik. Lebih-lebih lagi rumor tentang asal-usul mempelai wanita yang sudah terlanjur tersebar. Sungguh tak ada yang menyangka jika Upik abu bernama Mulan itu sesungguhnya pewaris sebuah perusahaan besar di ibu kota.
"Ayo kembali ke ruanganku, Cyndi. Kita lanjutkan pekerjaan," titah Mulan sambil beranjak dari tempatnya. Wanita itu memilih tak menjawab pertanyaan Cyndi.
__ADS_1
Cyndi sendiri mau tak mau langsung mengangguk patuh dan bergerak mengikuti Mulan, kendati di benaknya masih menyimpan begitu banyak pertanyaan.
Mulan pikir dengan selesainya meeting ia sudah terbebas dari seseorang bernama Bara. Namun, nyatanya tidak, karena setelah pintu dibuka sosok menjulang dengan wajah selalu mempesona itu langsung nampak di penglihatannya.
Sejenak, Mulan membeku tanpa bisa berkata apa-apa, sementara sorot matanya hanya terfokus pada wajah yang dengan santainya mengukir senyum begitu manis itu.
"Tuan Bara. Ada yang bisa kami bantu?" Cyndi yang akhirnya memutuskan untuk angkat bicara menyapa Bara. Rasa herannya pada Mulan pun kian bertambah usai didapatinya perubahan sikap wanita itu. Jelas sekali jika atasannya itu menyimpan rapat sesuatu hal yang dirinya tak ketahui.
"Saya ingin bicara dengan Nyonya Mulan sebentar saja. Bisa, kan?" Bara menjawab tanpa menggeser pandangannya. Cyndi yang memang gadis berpendidikan seketika paham akan maksud perkataan Bara.
"Oh, begitu." Cyndi mengalihkan pandangan Mulan untuk memastikan. Rupanya Mulan yang sudah berhasil menguasai diri terlihat memberinya isyarat melalui anggukan, sehingga ia tersenyum paham dan kemudian memutuskan berpamitan. "Jika Bu Mulan membutuhkan saya, saya ada di ruangan, ya."
"Iya," jawab Mulan pelan. Wanita itu juga membubuhkan sedikit anggukan meski matanya tak lepas dari sosok tinggi di depannya. Ia membiarkan Cyndi pergi meskipun ada sedikit kekhawatiran dengan apa yang akan Bara lakukan. Jika dirinya berani bermain api, maka harus berani terbakar juga, kan?
Firasat buruk Mulan terhadap sikap Bara itu akhirnya terbukti juga. Sepeninggalnya Cyndi dari sana, senyum yang semula terpatri di wajah Bara itu memudar seketika.
"Oh, jadi ini wajah asli pemilik perusahaan ini? Penipu yang berani memasuki rumahku dengan wajah palsu."
"A-aku bukan penipu–"
__ADS_1
"Diam." Bara memotong bantahan Mulan sembari mendorong tubuh wanita itu hingga tersudut pada tembok di belakang Mulan. Ia menaruh satu tangannya pada dinding seolah-olah tengah mengurung istrinya agar tidak pergi.
Entah apa maunya pria dengan ekspresi datar itu. Yang jelas, Mulan mulai panik tapi dirinya tak mampu berkutik.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Mulan kemudian dengan wajah ngeri. Kendati ketakutan, tetapi ia tak berniat mengalihkan pandangan dari mata Bara.
"Katakan, apa tujuanmu menyamar? Kau ingin mencari kelemahanku untuk bisa menjatuhkanku? Memangnya apa salahku padamu!"
"Tidak!" Mulan menggeleng kuat, tetapi ketidakpercayaan Bara ternyata jauh lebih kuat.
"Bohong!"
Mulan terdiam sejenak. Napasnya mulai memburu. Matanya mulai memerah, tetapi berusaha menahan air mata agar tidak tumpah ruah. Rasanya sangat sakit saat orang yang dipercaya justru meragukan kejujurannya. Ia dibentak. Namun, dirinya bisa apa? Ini memang salahnya.
"Terserah, kau mau percaya atau tidak," lirih Mulan tetapi penuh penekanan. "Yang jelas, ini semua terjadi begitu saja di luar kendaliku dan itu bukan mauku. Apa kau lupa? Kau lah yang membuatku keluar dari persembunyian dan kembali pada duniaku yang lama?"
Bara terdiam. Namun, itu justru membuat Mulan menyeringai penuh kemenangan. Ia sukses membalas intimidasi yang Bara telah lakukan.
Tak ada kata yang terucap ketika sepasang suami istri itu saling menatap dengan tajam. Hanya pertukaran napas hangat sebab jarak keduanya yang teramat dekat.
__ADS_1
"Minggir! Kau menghalangi jalanku."
Entah keberanian dari mana yang didapatkan Mulan. Selain berucap lantang, ia juga mendorong tubuh Bara hingga dua langkah mundur ke belakang. Dan akhirnya, kini ia bisa melenggang pergi tanpa sedikitpun mendapat hambatan.