Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Berkepribadian ganda?


__ADS_3

Mulan membuka matanya, melirik ke arah kiri tepat pada Rayyan yang sudah memejamkan mata. Napas bocah itu berembus teratur. Ada dengkuran halus yang terdengar dari bibirnya. Anak itu sudah tertidur rupanya.


Mulan sedikit mengangkat kepalanya, lalu melongok ke ujung ranjang. Rupanya Bara juga memejamkan mata. Apa iya dia tertidur juga?


Biarlah. Mulan tak ingin mengusik mereka. Ia memilih bangun perlahan untuk kemudian duduk dengan hati-hati.


Melihat Rayyan dan Bara tidur sambil berpelukan, ia merasakan ada sesuatu yang menghangat di dalam hatinya.


Mereka manis, sekali. Tidak ada ikatan darah, tapi kedekatan mereka begitu kental. Wanita itu diam-diam menitikkan air mata. Bukan kesedihan, melainkan rasa syukur pada Tuhan. Apa yang selama ini menjadi beban berat di pundaknya kini berangsur musnah berkat pertemuan Rayyan dengan Bara.


Tak apa seandainya Bara hanya memanfaatkannya untuk mendapatkan Rayyan, asalkan putranya itu menemukan kebahagiaan. Lagipula, sepertinya Bara bisa diandalkan untuk dijadikan tempat perlindungan. Walaupun ia tahu, mendapatkan cinta Bara hanyalah mimpi yang tak mungkin jadi nyata.


"Mau ke mana?"


Mulan tersentak mendengar suara itu. Ia menarik tangannya dari gagang pintu, lalu berbalik badan dan mendapati Bara sudah berdiri di belakangnya. Pria itu menatapnya dengan tajam sambil mengernyitkan kening. Gestur yang ditunjukkan saat pria itu ketika sedang merasa curiga.


"Oh, rupanya Tuan terbangun? Atau mungkin sebenarnya tadi belum tidur? Maaf, kalau tindakan saya sudah mengusik tidur Anda," ucap Mulan penuh rasa bersalah.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau ini mau ke mana?" Dengan nada yang sama Bara mengulangi pertanyaannya.


Ekspresi itu, Mulan membencinya. Ia hanya ingin keluar ke balkon untuk cari udara segar. Kenapa harus dicurigai seolah-olah dirinya seorang tawanan yang berusaha kabur dari tempatnya dikurung.


"Kenapa Anda mencurigai saya, Tuan? Tidak adakah sedikit pun rasa percaya Anda terhadap saya? Apakah kepatuhan saya masih belum cukup membuat Anda yakin atas semuanya?" Mulan terlihat sedih. Bahkan matanya berkaca-kaca. Ia pikir, kelembutan Bara bukan hanya terjadi di depan Rayyan saja, tetapi nyatanya pria itu kembali dingin meski Rayyan ada dan hanya tertidur lelap.


"Kau pergi dengan mengendap-endap. Memangnya manusia mana yang tidak akan berpikir jika kau ini berencana pergi."

__ADS_1


"Astaga ...." Mulan menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Kenapa pikiran Bara tak pernah jauh dari kata pergi? Tidak bisakah pria itu memberi kepercayaan padanya sedikit saja?


Memang, di awal pernikahan ia sempat berpikir untuk pergi membawa Rayyan. Namun, itu dulu! Saat dirinya tahu bersama Bara Rayyan mendapatkan bahagia, saat itu juga ia memutuskan untuk bertahan walaupun Bara tak mungkin mencintainya.


Wanita itu menghela napas panjang, lalu kemudian berusaha menjelaskan. "Saya berjalan mengendap-endap hanya karena tak ingin mengusik tidur kalian, Tuan. Saya hanya ingin ke balkon untuk mencari udara segar."


"Alasan. Kau tidak lihat ini jam berapa?" Pria itu tak mau terima. Ia menunjuk jam di pergelangan tangannya.


Mulan terdiam. Ia tahu, berdebat dengan Bara hanya akan menambah besar kecurigaannya. Yang jelas ia tidak salah. Lebih baik menurut agar tidak menjadi masalah.


"Maaf. Saya akan kembali tidur sekarang juga. Jangan lupa minum obat Anda. Saya sudah menyiapkannya di atas nakas." Mulan berlalu dengan wajah tertunduk lesu menatap lantai. Bahkan di saat seperti itu ia masih memperhatikan Bara. Mengingat kebutuhannya.


Ia bukannya sedih lantaran gagal menikmati keindahan malam melalui balkon kamar. Hanya saja, ada sedikit kekecewaan dari perlakuan Bara terhadapnya. Ia naik kembali ke atas ranjang, masuk ke dalam selimut tebal lalu kemudian memeluk Rayyan.


Andai Bara mau mengerti sedikit saja, mungkin malam ini mereka sedang asyik menikmati suasana pantai malam dari balkon kamar sambil menikmati secangkir kopi dan bercengkrama. Seharusnya malam ini jadi momen untuk saling mendekatkan diri dan saling mengenal satu sama lain, bukannya mengedepankan ego untuk saling mencurigai.


Ada sejejak sesal hinggap di hatinya. Seharusnya ia tidak menuduh macam-macam pada istrinya sebelum memastikan kebenarannya. Yang benar saja. Untuk apa wanita itu kabur melalui balkon jika pintu kamar Mulan sendiri yang pegang kartunya.


Entah sejak kapan ia jadi pria pencuriga. Apa karena informasi yang sempat ia dapatkan dari kaki tangan Hendrik tentang Mulan yang belakangan ini gemar keluar tanpa tujuan jelas?


***


"Mulan. Bangun."


Mata Mulan mengerjap saat merasakan tepukan pelan di pipinya. Ia berusaha membuka mata yang masih terasa berat dan mendapati wajah Bara tengah menatap serius kepadanya. Jangan-jangan ini mimpi? Mulan sampai mengucek matanya berulang kali. Rupanya ini nyata. Bara benar-benar sedang membangunkannya.

__ADS_1


"Ada apa?" Ia bertanya panik sambil melihat ke sekitar.


Apa ini emergency? Memangnya telah terjadi kebakaran? Rayyan! Mulan refleks menatap ke samping. Ternyata Rayyan masih terlelap di sisinya.


"Kita harus kembali ke kota sekarang juga. Aku ada meeting penting."


Meeting penting? Seketika Mulan tersentak. Ia teringat, dirinya juga ada meeting penting hari ini. Baguslah. Jika begini, berarti ia tak perlu susah-susah berbohong demi bisa keluar rumah.


"Jam berapa sekarang?" tanya Wanita itu parau khas suara bangun tidur. Mulan ingin menguap, tetapi buru-buru ditahan dengan telapak tangan kanannya.


"Jam empat," jawab Bara yang seketika membuat Mulan terkejut.


"Hah? Pagi buta begini?" Wanita itu seperti tak percaya. Namun, sikap diam serta tatapan Bara menjadi jawaban atas pertanyaannya. "Oke. Aku boleh mandi sebentar?" pamitnya sambil menyibak selimut dan menurunkan kaki. Ia hendak beranjak, tetapi Bara buru-buru mengingatkannya.


"Tidak usah mandi. Kau bisa mandi di rumah saat sudah sampai nanti."


"Bagaimana kalau ganti pakaian?" tawar Mulan.


"Tidak," tegas Bara. "Kalau aku bilang buru-buru ya buru-buru."


Mulan merasa kesal, tetapi ia berusaha sabar. Sekarang ia malah baru sadar jika ternyata Bara sudah terlihat segar dan wangi. Dia memakai hoodie warna hitam dipadukan celana warna senada. Rupanya pria itu sudah mandi.


"Jangan iri kepadaku," ujar Bara, seolah-olah tahu akan apa yang sedang istrinya pikirkan. "Aku terbangun jam tiga pagi. Aku mempunyai waktu satu jam untuk mandi."


"Dan tidak ada sedikit pun waktu untuk diriku, bukan?" sinis Mulan tak suka. Namun, tanpa ia duga, jawaban Bara selanjutnya berhasil membuat wajahnya merona.

__ADS_1


"Mandi ataupun tidak mandi, kau tetaplah cantik, Mulan. Jadi, kau tak usah cemas pada penilaian orang lain. Oke?"


Aneh. Ada apa dengan dia? Di satu waktu dia dingin dan tegas. Tapi di waktu lain bisa lembut dan perhatian. Apakah dia berkepribadian ganda?


__ADS_2