Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Waktu yang tidak tepat


__ADS_3

"Jujur sama saya. Anda cemburu, kan?"


Entah keberanian dari mana yang didapat Mulan. Wanita itu dengan percaya dirinya menggoda Bara Aditama. Bibir dengan polesan lipstik warna nude itu membentuk senyuman nakal, sementara alis hitam seperti barisan semut itu bergerak naik turun.


Jujur. Mulan sempat merasa bangga ketika didapatinya Bara hanya diam seperti kehabisan kata-kata. Mata tajam itu mendadak sayu, bahkan menatapnya tanpa berkedip beberapa saat itu.


Namun, rupanya kemenangan Mulan itu ternyata tak berlangsung lama. Sebab, sesaat kemudian Bara berhasil mengubah keadaan.


"Ya! Aku cemburu! Cemburu sama Reno. Memangnya kenapa? Nggak boleh?"


"Tu-tuan–" Mulan tak berani melanjutkan kata. Ia justru menggigit bibir sambil menatap Bara dengan pupil mata yang melebar. Keterkejutannya itu menimbulkan ekspresi panik yang tak bisa disembunyikan.


Bagaimana tidak? Pria itu tiba-tiba bangkit dan merapat. Membuat Mulan refleks mundur hingga tubuhnya nyaris terbaring dengan tengkuk berbantal sisi sofa sebelah kanan.


Sialnya lagi, Bara justru menaruh tangannya pada sisi kepala Mulan, mengunci posisi istrinya hingga wanita itu hanya bisa membeku pada posisinya. Kini keduanya tengah saling pandang dalam kebisuan, dengan jarak teramat dekat.


Rupanya keberanian Mulan hanya sebatas ujung lidah saja. Buktinya ketika Bara mendominasinya, wanita itu bukannya melawan tetapi justru merasa ketakutan. Napasnya seperti putus-putus dan jantungnya berdetak tak karuan.


Mulan buru-buru membuang muka demi memutus kontak mata yang membuatnya hampir tak berdaya. Namun, ia gagal lantaran di detik itu juga Bara menahannya dengan menggamit dagu dan memaksa untuk terus saling pandang.


"Tu-tuan ... Anda mau apa ...?" lirih Mulan ketakutan. Terbata-bata. Namun, Bara justru mengabaikan perasaan istrinya. Bibir kemerahan itu justru menarik salah satu sudutnya hingga membentuk sebuah seringai.


"Menurutmu bagaimana?" bisik Bara dengan suara nakal. "Kita sudah sama-sama dewasa, bukan? Jika sepasang suami isteri hanya berduaan dalam satu ruangan, kira-kira apa yang semestinya dilakukan, heum?"


Suara lirih Bara membuat bulu kuduk Mulan meremang. Ia bukanlah wanita bodoh yang bahkan tak mampu memaknai kata-kata Bara barusan. Namun, yang jadi kendala Mulan, ini bukanlah tempat yang semestinya untuk melakukan. Ini bukanlah rumah dan kamar mereka. Bahkan masih di jam kerja. Dan lagi pula, permintaan Bara terlalu mendadak bagi Mulan. Wanita itu merasa belum siap.


"Anda bercanda, kan?" Meski demikian Mulan tak ingin berbangga hati dengan menganggap serius kata-kata Bara. Bisa saja pria itu hanya mengujinya lantaran tak terima. Demi menghindari kesalahpahaman sepertinya ia merasa perlu untuk memastikan.


"Lihat mata aku. Apa aku terlihat seperti sedang melawak?"


Mulan terdiam dengan pandangan terkunci pada manik sayu Bara. Ada kilatan hasrat yang jelas-jelas ditunjukkan oleh Bara. Dan keraguan Mulan berhasil dipatahkan dengan perlakuan lembut Bara. Tangan kanan pria itu bergerak membelai wajah Mulan. Gerakannya seringan kapas hingga membuat Mulan terbang melayang. Lalu kemudian tanpa canggung Bara mereguk lengkung merah Mulan untuk yang pertama kalinya.

__ADS_1


Mulan merasakannya dengan kesadaran penuh. Namun, sensor motorik Mulan seperti melemah hingga dirinya hanya bisa pasrah tanpa mampu lagi menolak. Entah karena tak berdaya atau justru ikut menikmatinya.


Namun, saat gerakan lembut penuh cinta itu berlangsung panas tiba-tiba terdengar suara ketukan pada pintu yang tertutup rapat. Awalnya suara itu masih terdengar pelan hingga Bara berniat mengabaikan. Namun, karena tak mendapat tanggapan lama kelamaan suara ketukan itu berubah seperti gedoran.


Bukan hanya Mulan yang terusik, tetapi Bara yang lebih merasa terusik. Pria itu mengakhiri ciumannya setelah merasakan dorongan di bagian dada. Siapa lagi pelakunya jika bukan Mulan Jenica?


"Hendrik mencarimu." Wanita itu menuturkan. Nadanya terdengar cemas sebab ekspresi Bara tampak menunjukkan amarahnya.


"Brengsek!" Bara mengumpat sambil beranjak. Rasanya ia ingin menendang orang yang merusak kenikmatannya itu.


Jika Bara merasa jengkel maka beda cerita dengan Mulan. Wanita itu justru merasa lega sebab ada seseorang yang menyelamatkannya. Sebelum pintu terbuka dan yang di luar melihat keadaannya lalu menerka-nerka yang terjadi, ia buru-buru duduk dan merapikan posisinya.


Benar saja, sosok Hendri tampak begitu pintu Bara buka. Hanya saja, kali ini asistennya itu berdiri berdua bersama Cyndi. Wajah mereka sama-sama terlihat panik. Namun, setelah melihat Bara tak apa-apa kepanikan itu seketika musnah tak tersisa.


"Ada apa Hendrik?" Alih-alih mempersilahkan masuk, Bara justru menaruh satu tangannya pada bingkai pintu seakan-akan menghalangi siapa saja masuk ke sana.


Terang saja Hendrik curiga. Pria itu malah melongok ke dalam seperti sedang mencari-cari keberadaan Mulan.


"Ah, tidak ada, Tuan. Apa Anda baik-baik saja?" Hendrik tersenyum tipis berusaha menyembunyikan kecurigaan.


"Seperti yang kau lihat."


Tangan diperban, lengan kemeja digulung dan jas mahalnya entah ke mana. Hendrik kian ilfil ketika melihat kancing baju Bara terbuka hingga urutan ketiga.


Hanya mengobati luka, harus ya buka-buka kancing baju segala? batin Hendrik bertanya-tanya.


"Pak Bara Bu Mulan di mana?" Kali ini Cyndi yang bertanya. Melihat kepanikan Cyndi, Bara hanya menjawab dengan kedikan di dagu. Cyndi memahami maksud Bara dan seketika menunjukkan binarnya. "Izinkan saya masuk."


Bara tak bisa menolak saat Cyndi memaksa lewat menerobos masuk. Ia hanya menatap kesal pada Hendrik sebelum kemudian ikut masuk mengikuti Cyndi. Hendrik yang tak paham akan kekesalan yang Bara tunjukkan hanya bisa mengedikan bahunya tak peduli, lalu kemudian pria itu ikut masuk menyusul Bara dan Cyndi.


"Bu Mulan, Anda baik-baik saja?" Selalu itu yang Cyndi tanyakan setiap kali jumpa dengan Mulan. Jangan lupa juga ekspresi cemas yang tersemat di wajahnya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Cyndi. Kau lihat sendiri, kan?" jawab Mulan sambil menyambut sekretarisnya. Dan itu membuat Cyndi menghela napas lega. Sementara itu di sisi lain Bara juga mengobrol dengan Hendrik.


"Apa yang terjadi sebenarnya, Tuan? Kenapa bisa seperti ini?" Hendrik melirik punggung tangan Bara yang tertutup perban. Ia merasa tak habis pikir bagaimana bisa sang atasan menghajar rekan bisnisnya habis-habisan. Hendrik sendiri tak tahu pasti penyebabnya apa. Sebab ketika dirinya datang Reno sudah dalam keadaan tak berdaya. Pria itu sepertinya sengaja tidak melakukan perlawanan.


"Bagaimana dengan baj*ngan itu. Apa dia menuntutku?" Alih-alih menjawab pertanyaan, Bara justru balik mengajukan pertanyaan.


"Berdoa saja agar dia tidak melanjutkan kasus ini ke polisi. Anda bisa dipenjara, Tuan."


"Aku tidak peduli, Hendrik. Akan kuhadapi karena aku juga punya bukti," tegas Bara tanpa gentar, membuat sang asisten tak bisa lagi berkata-kata menghadapi tingkah absurd atasannya. Bara diam sejenak lantas mengalihkan arah pandang pada Mulan di sofa sana.


Usai membukakan pintu untuk Hendrik dan Cyndi tadi Bara memang menghampiri meja kerjanya diikuti oleh Hendrik. Kini dirinya tengah duduk menempati kursi kerja itu dan menyandarkan punggungnya dengan santai di sana.


Mulan sepertinya menyadari dirinya menjadi pusat perhatian Bara. Wanita itu melirik aneh ke arah Bara lalu terdiam, dan secara otomatis mengakhiri obrolannya dengan sang sekretaris.


Sejenak keduanya hanya saling pandang dalam diam. Tentunya masing-masing dari mereka tengah bergelut dengan pikirannya.


Dua orang lain yang turut berada di sana tentunya bisa merekam kejadian itu dengan jelas. Jika Hendrik terlihat biasa saja, maka beda lagi dengan Cyndi. Gadis itu menatap Mulan dan Bara bergantian dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


"Sepertinya kita harus segera gabung dengan yang lainnya, Cyndi. Masih ada pekerjaan kita yang belum selesai, bukan?" Mulan berucap usai memutus kontak mata dirinya dengan Bara. Tak mempedulikan reaksi ketiganya, ia buru-buru bangkit dan meraih tas jinjingnya. Ini adalah kesempatan bagus untuk kabur. Jangan sampai disia-siakan.


"Baik." Cyndi mengangguk patuh meskipun konsentrasinya masih terbelah. Di satu sisi ia ingin mencari tahu jawaban dari pertanyaan yang bercokol di otaknya, sementara di sisi lain ia harus mematuhi apa pun perintah sang atasan. Tak lupa ia mewakili Mulan berpamitan sebab wanita itu sudah mendahului tanpa sepatah kata. "Tuan Bara, Tuan Hendrik, kami pamit undur diri."


Bara hanya menjawab dengan anggukan.


Dari ekor mata, Mulan bisa melihat reaksi Bara. Sangat kentara jika pria itu sangat tidak rela, tetapi Mulan berpura-pura tak melihatnya. Namun, pria itu bisa apa? Ini adalah tempat kerja dan bukan waktu yang tepat untuk menuntaskan hasratnya.


Bahkan kekesalan Bara kian bertambah dengan tingkah jahil Mulan. Wanita itu dengan sengaja menampilkan senyuman nakal sebelum pintu tertutup rapat.


"Sial." Bara mengumpat. Ini semua karena asistennya. Jika saja Hendrik tidak sok khawatir dan datang di saat tidak tepat, mungkin hal indah itu sekarang sedang terjadi. Tapi lihatlah sekarang, ia hanya bisa menelan ludah membiarkan istrinya pergi begitu saja.


Meski demikian ia tak patah arang dan menjadikan halangan ini adalah sebuah tantangan. Toh seperti Mulan tadi merasa belum siap. Wanita itu tampaknya ketakutan oleh serangannya yang tiba-tiba.

__ADS_1


Sambil menatap pintu tertutup rapat itu, ia bergumam diiringi seringai mengancam. "Tunggu nanti malam, Sayang."


__ADS_2