
Sosok yang tengah bergelung di bawah selimut itu mulai menunjukkan pergerakan. Mulan menggeliat untuk melenturkan otot-otot yang tegang. Dengan mata masih terpejam, ia memijat tengkuknya yang terasa pegal. Sepertinya saat tidur ia salah posisi sehingga lehernya terasa kaku seperti ini.
Mulan hanya butuh waktu sebentar untuk berleha-leha. Bagaimanapun juga ia harus bangun pagi seperti biasanya. Menyiapkan makanan untuk Tuan Bara, lalu kemudian berangkat ke kantor untuk bekerja.
Oh iya. Mengingat Tuan Bara, bukankah pria itu sedang sakit, ya? Semalam Dokter Irawan bahkan sampai datang kemari untuk memeriksanya. Kesehatan lambung pria itu sedang terganggu, sehingga diharuskan beristirahat untuk beberapa waktu, dan bisa dipastikan Bara akan berada di rumah ini sepanjang hari.
Jika seperti ini, mungkinkah ia bisa menyelinap keluar tanpa sepengetahuan suaminya? Lebih-lebih lagi ia mendapat amanah dari dokter Irawan untuk memastikan obat Bara diminum tepat waktu.
Tiba-tiba Mulan merasa ragu. Sebagai istri yang baik, bukankah ia harus berada di rumah untuk menjaga suaminya? Jangan sampai ia dicap buruk oleh Bara dan berakibat fatal pula terhadap Rayyan. Ia sudah sangat merindukan Rayyan. Jangan sampai membuat kesalahan hingga memperpanjang waktu hukuman.
Sepertinya sudah cukup bagi Mulan merelaksasi otot tubuhnya. Wanita itu menyibak selimut yang menutupinya lalu kemudian bangkit dan duduk dengan kaki menapak lantai. Urusan kabur bisa ia pikirkan nanti. Yang terpenting sekarang adalah bangun dulu lalu membersihkan diri agar badan lebih segar.
Mulan berusaha membuka mata meskipun masih terasa berat. Namun, di saat yang sama, mata itu seketika membelalak.
Panik bercampur bingung, ia melihat ke sekeliling. Wanita itu mengucek matanya untuk menajamkan penglihatan.
Ternyata benar. Ini bukanlah kamar yang biasa ia tempati, melainkan kamar tamu yang semalam Bara tiduri. Lantas di manakah pria itu sekarang? Kenapa justru dirinya yang tertidur pulas di atas ranjang? Memakai selimut tebal pula.
Mulan memijat pelipis karena otaknya semakin bingung. Ia berusaha mengingat-ingat lagi kejadian tadi malam. Bukankah semalam Bara tertidur dengan kondisi demam tinggi. Saat mengetahui itu ia jadi setengah panik, lalu bergegas mencari alat kompres agar suhu panas tubuh Bara mau sedikit turun.
Semalam ia benar-benar ingin terjaga demi memastikan keadaan Bara. Mulan memutuskan ambil wudhu dan bersujud di sepertiga malam. Saat itu ia salat dengan khusyuk, berdoa dengan penuh kesungguhan agar segera dipersatukan dengan Rayyan.
Setelah menyimpan kembali mukenanya, ia memutuskan duduk di sofa panjang sambil memainkan ponsel pintarnya. Nah, di situlah Mulan mulai tak ingat apa-apa.
Mungkinkah ia tertidur di sofa panjang dan bermimpi sambil jalan? Makanya bangun-bangun bukannya di sofa, tetapi justru di kasur empuk yang ditempati Bara? Atau jangan-jangan, dirinya yang tak tahu diri? Tanpa sadar merebut kamar Bara dan mengusir pria itu dari sana?
Arrgght! Masa iya sih? Memikirkan itu kepala Mulan bertambah pening. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah bertanya pada yang bersangkutan.
Rupanya jam sudah menunjukkan angka tujuh. Mulan masuk ke kamarnya tapi tidak menemukan Bara di sana. Saat turun ke lantai dasar ia juga tak menemukan suaminya di mana-mana. Saat ke ruang makan barulah Mulan mendapati asistennya. Alma yang saat itu tengah sarapan langsung beranjak melihat kehadiran Mulan.
"Nyonya Mulan, Anda sudah bangun?" sapa gadis itu dengan ekspresi yang tak biasa. Sepertinya sang Nyonya langsung kemari setelah terbangun dari tidurnya. Penampilan Mulan masih agak berantakan dengan balutan gaun yang dikenakan semalam. Riasannya juga agak kacau dengan raut muram dan wajah bantal.
"Alma, kau melihat Tuan Bara?" tanya Mulan sambil menempati salah satu kursi di meja makan.
"Tuan Bara sudah keluar sejak tadi, Nyonya."
"Sejak tadi?" Mulan tengah merapikan rambut langsung mengerutkan kening mendengar jawaban Alma. "Apa dia sudah sehat? Apa tadi dia sarapan? Kenapa dia nggak bangunin aku?" Bibir Mulan mengerucut lalu ia bertopang dagu dengan lemas.
"Nyonya Mulan mau sarapan sekarang?" Alih-alih menanggapi berondongan pertanyaan Mulan, Alma justru menawari wanita itu untuk sarapan. Ia tahu Mulan tak membutuhkan jawaban itu. Dari itulah ia lebih baik fokus melayani sang Nyonya seperti pesan Bara sebelum pergi tadi.
"Nanti saja, Alma. Kalau begitu aku mau ke kamar dulu untuk mandi dan bersiap diri."
"Mari saya temani," ajak Alma yang seketika ditolak oleh Mulan.
"Tidak perlu, Alma. Lanjutkan sarapanmu. Aku bisa ke kamar sendiri, kok."
Alma mengangguk hormat sambil tersenyum tipis. Masih dalam posisi berdiri ia membiarkan sang Nyonya pergi.
Tiga puluh menit kemudian Mulan kembali ke ruang makan dengan penampilan rapi seperti hendak keluar rumah. Alma yang mengetahui itu segera bertanya pada nyonyanya sekadar untuk memastikan.
"Apa Nyonya ingin keluar seperti biasa?"
"Iya, Alma. Ada sesuatu yang akan dikerjakan hari ini. Tuan Bara juga pergi ke kantor, kan? Sepertinya tidak ada masalah kalau aku juga keluar. Tenang saja, saat Tuan Bara waktunya minum obat, aku akan mengirimnya agar Tuan Hendrik membantunya minum. Sepertinya Tuan Bara meninggalkan obatnya di atas nakas. Ini, sudah aku bawa," ucap Mulan sambil menepuk tas jinjingnya.
"Tapi Nyonya–"
Mulan yang tengah mengunyah sarapannya langsung menatap Alma ketika gadis itu menggantung kata-katanya.
"Apa?"
"Tuan Bara berpesan agar Nyonya tidak keluar rumah hari ini," lanjut Alma yang seketika membuat Mulan menghentikan kunyahannya.
"Tuan Bara bilang begitu?" tanyanya tak percaya.
"Benar." Alma meyakinkan.
Seketika itu juga Mulan menelan makanannya dengan payah. Wanita itu mendesah pelan. Ia jadi malas melanjutkan makan.
__ADS_1
"Bukankah yang sakit Tuan Bara? Lalu kenapa yang dikurung justru saya?" celetuknya kesal lalu beranjak meninggalkan ruang makan.
***
"Bagaimana? Rasanya enak tidak?"
"Enak, Oma. Enak banget."
"Bagus. Makan yang banyak Sayang."
"Oke." Rayyan kembali mengunyah potongan lasagna yang dimasak sendiri oleh Ester. Ia menikmati makanan itu dengan suka cita. Bocah itu terlihat ceria dan menggemaskan. Bahkan makan dengan baik dan anteng.
Bukannya Rayyan tidak pintar saat masih tinggal di pinggiran kota bersama Mulan. Namun, selama tinggal bersama Ester, Rayyan memang langsung diajari table maner. Tidak heran jika cara makannya sudah terlihat elegan meski masih anak-anak. Semua itu terjadi bukan hanya karena Ester yang mendidiknya dengan baik, tetapi juga karena Rayyan sangat mudah menyerap ilmu yang gurunya berikan.
Ester memperhatikan Rayyan dengan senyum bahagia. Anak itu sangat pintar dan mudah diatur. Sosok cucu yang selama ini ia idamkan benar-benar ia dapat dari diri Rayyan. Bocah itu tak pernah merepotkan.
Suara langkah kaki berbalut sepatu pantofel mahal sukses menyita perhatian keduanya. Bara muncul dengan menenteng kantong belanjaan besar membuat Rayyan kegirangan.
"Papa?"
"Halo, Rayyan." Pria itu menyapanya sambil tersenyum.
"Yeyy, Papa datang!" seru Rayyan bahagia. Ia bangkit dari duduk, meninggalkan makanannya demi untuk berhambur memeluk Bara.
"Anak pintar. Kau sedang apa, heum?" tanyanya sambil mengacak rambut Rayyan.
"Sarapan. Apa Papa sudah sarapan?"
"Belum." Bara menggeleng.
"Serius?" Rayyan bertanya tak percaya.
"Ya. Mamamu bangun kesiangan. Dia tidak sempat menyiapkan sarapan untuk Papa." Bara mencolek hidung Rayyan.
"Papa kasihan sekali. Seharusnya Mama tidak bangun terlambat agar tetap bisa masak." Wajah Rayyan terlihat menyesal.
"Oke." Rayyan tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang rapi dan putih. "Papa tenang saja. Meskipun Mama tidak masak, tapi Papa tidak akan kelaparan. Lihatlah di meja makan. Oma sudah membuat lasagna paling lezat di dunia. Papa mau coba?" Rayyan menunjuk makanan di atas meja. Bara langsung mengarahkan pandangannya ke sana.
"Benarkah?" tanyanya antusias.
"Tentu."
"Mari kita serbu ...!" Bara berlari kecil ke arah meja makan tanpa menurunkan Rayyan dari gendongan. Bocah tertawa kegirangan hingga Bara menurunkannya di kursi yang tadi ia tempati. "Duduk, dan makan yang banyak. Kau boleh membuka hadiahnya jika makananmu sudah habis."
"Hadiah?" Mata Rayyan berbinar.
"Ya. Lihatlah." Bara menunjukkan tas besarnya. Di dalamnya terdapat kotak mainan mahal.
"Itu buat Rayyan?"
Bara mengangguk.
"Hore! Terima kasih, Papa." Tanpa segan, Rayyan kembali merangkul leher Bara dengan penuh bahagia. Bara sendiri tak bisa menutupi rasa harunya. Ia balas merangkul bocah itu. Bocah yang belum lama ini mengisi tempat kosong di hatinya.
Ester yang melihat kedekatan keduanya hanya tersenyum tanpa suara. Ketika Rayyan pamit pergi ke kamar karena makanannya telah dihabiskan, barulah ia mengobrol bersama Bara. Ia membiarkan Rayyan main bersama pengasuhnya barang sebentar.
"Kau jadi membawa Rayyan ikut pulang?" tanya wanita itu sambil mengambilkan lasagna putranya. Lasagna adalah makanan khas Italia berupa hidangan pasta yang dimasak dengan menggunakan oven. Terdiri dari beberapa lapis pasta ukuran lebar dan tiap lapisnya diisi dengan daging, sayuran, keju, dan saus. Hidangan ini mempunyai rasa yang lezat dengan kombinasi asin, gurih, dan sedikit asam.
Ini adalah makanan kesukaan Bara saat kecil. Dan ternyata disukai pula oleh Rayyan. Hal ini tentu saja menjadi obat kerinduan Ester pada sosok Bara kecil.
"Jadi. Tapi petang nanti aku akan mengembalikan Rayyan kemari lagi." Bara menjawab setelah menekan makanannya.
"Kau tidak ingin anak itu menginap barang semalam?"
Bara langsung menatap Ester saat mamanya itu bertanya demikian. Ia tak langsung menjawab. Malah kembali menatap makanannya lalu menyuapkan sesendok ke mulutnya.
"Memangnya Mama mengizinkan?"
__ADS_1
"Tentu saja. Mama tidak ada hak untuk melarang seorang anak bertemu dengan mamanya."
Bara kembali terdiam. Pria itu menikmati makanannya.
"Kenapa? Kau belum sepenuhnya mempercayai Mulan?" tanya Ester lagi penuh selidik.
"Bukan begitu. Aku hanya akan menuruti permintaan Rayyan. Jika Rayyan yang menginginkan, maka aku tidak bisa menolaknya."
Ester tak berucap apa-apa. Ia hanya tersenyum sambil menyodorkan minum ke arah putranya.
***
Mulan menyalakan laptopnya di taman belakang. Wanita itu tetap bekerja dari rumah untuk meredam kekesalan. Ternyata begini juga ada enaknya. Ia tetap bisa menghasilkan uang sekalipun tanpa datang ke kantor.
Untuk hari ini memang ia masih aman. Namun, untuk besok, jangan sampai ia tak datang dan mangkir dari pertemuan besar. Besok akan jadi momen berharga di mana perusahaannya akan berkembang lebih besar. Ya, meskipun ia harus bertemu dengan sang mantan.
Mengingat sosok Reno, Mulan refleks menghentikan kegiatannya. Ia menghela napas lalu menyadarkan tubuhnya ke belakang. Ketakutan itu muncul lagi. Benarkah kerja sama dengan perusahaan Reno ini hanya kebetulan atau justru pria itu yang merancang? Maksudnya apa? Mungkinkah Reno sengaja ingin mengusik ketenangannya?
Ya. Tentu saja. Pria itu hanya ingin mengusiknya saja. Mungkin Reno mengira kehidupan rumah tangganya kali ini sangat indah, maka dari itu Reno tak terima dirinya bahagia.
Sebegitunya kah pria itu? Tak bisa membuatnya tenang sedikit saja. Bahkan sejak dulu tak pernah ada cinta di hati pria itu untuk dirinya, tak pernah membuatnya nyaman. Haruskah ketika sudah berpisah pun Reno masih menerornya?
Jujur, selama dalam persembunyian, Mulan sudah terlatih untuk hidup mandiri. Namun, jika menghadapi ketakutan seperti ini, salahkah jika ia membutuhkan sosok pelindung untuk merangkulnya mempertahankan Rayyan? Memang sebuah kesalahan besar jika ia menggantungkan harapan besar kepada Bara. Namun, hanya pria itu lah yang menjadi satu-satunya keluarga. Lebih tak mungkin lagi sebab Mulan hingga kini masih menyembunyikan jati dirinya. Entah apa reaksi Bara andai pria itu tahu jati dirinya nanti.
"Nyonya Mulan."
Kedatangan Alma sukses membuat Mulan terkejut. Wanita itu sampai berjingkat lalu buru-buru menutup layar laptopnya dengan gugup. Ia sempat khawatir gadis itu melihat tampilan layarnya. Namun, melihat sikap Alma yang tampak seperti biasanya, Mulan akhirnya bernapas lega.
"Iya Alma. Ada apa?" tanya Mulan pelan dengan senyuman tipis terulas di bibir.
"Nyonya Mulan sedang sibuk?"
"Ah tidak. Hanya main-main game saja untuk membunuh rasa sepi. Maklum, aku lagi gabut, hehe."
"Owh." Alma mengangguk paham. "Maaf Nyonya, ada yang datang mencari Nyonya."
"Nyari aku?" ulang Mulan seperti tak percaya.
"Benar."
"Serius?" Mulan semakin tak percaya. Memangnya siapa orang kurang kerjaan yang tiba-tiba mencarinya di rumah Bara?
"Sungguh, Nyonya. Mereka sedang menunggu di ruang tengah."
Mulan tak bicara apa-apa lagi. Meskipun merasa ragu, tetapi rasa penasarannya lebih kuat untuk mengetahui orang itu, sehingga Mulan segera bangkit dan beranjak menuju tempat yang dikatakan Alma barusan.
Membutuhkan waktu beberapa menit bagi Mulan untuk sampai ke ruang tengah. Rumah Bara sangat besar. Tadi ia berada di taman paling belakang untuk menghindari keramaian. Meskipun Bara adalah pemilik tunggal kediaman mewah ini, tetapi banyak penghuni lain yang turut berada di sana di jam-jam kerja, yaitu para asisten rumah tangga dan para pengawal yang bertugas.
Sampai di ruang tengah, Mulan dibuat kebingungan lantaran tak menemukan siapa-siapa di sana. Hening. Tidak ada tanda-tanda keberadaan seseorang. Jangan-jangan Alma bohong mengenai orang yang mencarinya. Tapi untuk apa gadis itu melakukannya?
"Alma. Alma!" panggil Mulan pada asistennya. Yang dipanggil seketika datang dengan langkah tergopoh-gopoh.
"Serius ada yang nyariin aku? Orangnya mana?"
"Ada, kok."
"Iya tapi mana?"
"Tadi ada, Nyonya. Duduk di sini nungguin Nyonya. Apa mungkin Nyonya yang udah usir dia."
"Jangan bercanda kamu, Alma. Dari tadi saya nggak lihat siapa-siapa!" Untuk pertama kalinya Mulan merasa kesal pada Alma. Bisa-bisanya gadis itu memancing kemarahannya.
"Tapi tadi memang ada, Nyonya."
"Udah ya, Alma! Jangan coba-coba ngerjain saya! Saya lebih baik kembali ke belakang dan melanjutkan pekerjaan. Kamu udah buang-buang waktu saya." Mulan menatap sebal pada Alma lalu kemudian berbalik badan. Namun, ketika kakinya sudah mengayun beberapa langkah, sebuah suara imut yang sudah sangat ia rindukan tiba-tiba menggema di indera pendengaran. Membuat langkah wanita itu tercekat dan matanya membelalak.
"Mama ...!"
__ADS_1