Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Dasar bawel


__ADS_3

"Nyonya, bagaimana keadaan Tuan Bara? Apa sakitnya sangat parah?" Alma mewakili yang lainnya menyambut Mulan dengan berondongan pertanyaan. Mereka sepertinya ikut khawatir dengan keadaan sang Tuan. Meskipun sangat aktif, tetapi selama ini pria itu jarang sakit. Kedatangan Dokter Irawan tentu saja membuat mereka merasa cemas.


"Tidak ada yang perlu dicemaskan, Alma. Keadaan Tuan Bara baik-baik saja. Dia hanya kelelahan bercampur gangguan lambung. Mungkin itu efek dari terlalu banyak kerja tapi tak memperhatikan makanannya," terang Mulan sambil menaruh nampan di atas meja. Wanita itu memandang Alma yang mengikutinya kemudian mendesah pelan.


"Mungkin ini salahku, Alma. Sebagai istri aku kurang memperhatikan asupan gizi dan jadwal makan Tuan Bara," sesalnya kemudian.


"Nyonya Mulan tidak boleh menyalahkan diri sendiri," sahut Alma mengingatkan. "Untuk kesehatan lambung Tuan Bara memang sudah berlangsung lama, kok. Meski jarang ke dokter, tetapi sepertinya Tuan Bara selalu mengonsumsi obatnya dengan rutin."


Mata Mulan membeliak. Ia spontan mengubah posisi berdirinya lalu menatap Alma dengan kening bertaut heran. "Kamu serius, Alma?" tanyanya memastikan.


"Dari yang saya dengar sih seperti itu, Nyonya. Makanya saya bilang itu bukan salah Nyonya. Jadi Nyonya tidak perlu merasa bersalah. Toh, selama menjadi istri Tuan Bara, Nyonya selalu memastikan Tuan menyantap makanannya kok. Bahkan Nyonya sendiri yang masak. Saya sendiri saksinya."


Mulan tersenyum haru mendengar kesungguhan Alma lalu dengan pelan mengusap bahu gadis itu. "Terima kasih, Alma. Padahal aku bukan siapa-siapamu, tapi kamu selalu tulus bantu dan belain aku. Aku cuma nggak ngerti mau ngomong apa kalau sampai orang tua Tuan Bara menyalahkan aku atas sakitnya Tuan Bara. Aku takut membalaskan hal yang sama ke Rayyan, Alma."


"Nyonya jangan berpikir berlebihan. Nyonya Besar Ester tidak sejahat itu kok," ujar Alma meyakinkan.


"Terima kasih, Alma. Semoga saja benar seperti itu." Mulan menyandarkan tubuhnya pada meja makan. Wajahnya mendadak muram sambil menatap ke depan seperti menerawang.


Perubahan raut wajah sang Nyonya itu terang saja membuat Alma merasa heran, sehingga ia pun tak tahan untuk segera menanyakan.


"Nyonya Mulan baik-baik saja? Kenapa kelihatan sedih begitu? Apa yang sedang Nyonya pikirkan?"


Mulan menatap Alma kemudian memaksakan senyumnya. "Aku baik-baik saja, Alma. Aku hanya sangat merindukan Rayyan."


Alma langsung trenyuh mendengar pengakuan Mulan. Terlebih lagi mata wanita itu berkaca-kaca dan sebentar lagi sepertinya air mata itu akan meluber membasahi pipi mulusnya. Buru-buru ia meraih tangan lemas wanita itu untuk kemudian ia remas dengan sayang untuk memberikan kekuatan.


"Nyonya, saya yakin Tuan kecil Rayyan pasti baik-baik saja. Perasaan rindu ibu kandung pada putranya itu hal wajar. Apalagi sudah beberapa hari ini kalian tidak jumpa. Nyonya berdoa saja supaya Tuan Bara terbuka hatinya agar segera mempertemukan Nyonya dengan Tuan kecil. Kalau perlu berkumpul lagi seperti dulu, selamanya!"


Kalimat dukungan penuh antusias Alma membuat Mulan benar-benar menangis. Ia belum mengenal lama dengan Alma, tetapi gadis itu mampu menghiburnya dan merasa tak sendirian lagi. Ada teman berbagi suka dan duka selama di sini.


Ia tahu, Alma melakukan itu atas perintah Bara dan juga dibayar mahal. Tetapi ia juga tahu gadis itu melakukannya dengan tulus dan penuh kesungguhan. Alma bukan hanya pelayan dalam hidupnya, tetapi juga teman sekaligus sahabat. Ia sangat berterima kasih kepada gadis itu.


"Terima kasih atas nasihatmu, Alma. Keberadaanmu benar-benar menjadi pengobat kesepianku."


Alma yang hendak menjawab langsung tercengang saat Mulan memeluknya. Ia tak menyangka, ketulusannya saat melayani sang Nyonya berbuah manis dengan mendapatkan kepercayaan. Ia hanya seorang pelayan, tetapi Mulan memperlakukannya seperti seorang teman. Seolah-olah di antara mereka tidak ada dinding pembatas.


Berusaha menguasai diri dari keterkejutan, Alma akhirnya mengucapkan kata meskipun sedikit terbata.


"Sa–sama-sama, Nyonya."


***


Bara tengah berkutat dengan layar laptop ketika Mulan kembali. Pria itu masih duduk di atas ranjang. Menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, dan memangku benda canggih itu pada pahanya yang selonjoran berlapis selimut tebal.


Melihatnya, Mulan hanya bisa mendesah pelan. Pria itu sedang sakit sekarang. Seharusnya Bara beristirahat, bukannya kembali membuat pusing kepala dengan bekerja. Ingin menasehati tapi siapalah dia. Paling-paling hanya dianggap angin lalu oleh Bara. Eh, dianggap angin lalu masih mending, sih. Dari pada dibentak sampai dirinya terpental keluar kamar.


Dari itu Mulan memilih diam. Meletakkan botol air putih dan jus kemasan di atas nakas, lalu mundur beberapa langkah dan menatap Bara dengan posisi berdiri siaga.


Ia masih diam hingga beberapa saat, sampai akhirnya Bara yang menyadari itu langsung bertanya sambil menatapnya heran.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di situ?"


"Tidak." Mulan menggeleng. "Hanya berusaha ada saat Tuan membutuhkan saya."


Bara tersenyum miring mendengar pengakuan Mulan. Ia menarik kesimpulan berbeda dari maksud Mulan yang sebenarnya.


"Jadi kau berada di sini karena terpaksa rupanya."


Meski Bara berucap dengan acuh sambil mengembalikan pandangan ke layar laptopnya, tetapi bagi Mulan itu terdengar seperti sindiran. Pria itu mengatainya terpaksa, padahal sebenarnya tidak. Kesalahpahaman ini jelas tidak bisa dibiarkan.


"Anda salah paham, Tuan. Saya nggak terpaksa, kok. Sungguh!" Mulan berusaha meyakinkan.


"Tapi dari kalimat yang kamu utarakan tadi kamu di kesini karena terpaksa." Bara menatap Mulan dengan lekat. "Udah deh, saya nggak mau membuat orang melakukan sesuatu karena keterpaksaan. Lebih baik kamu kembali ke kamar. Tidur nyenyak, dan jangan pikirkan saya."


"Tidak mau!" bantah Mulan yang membuat Bara menautkan alisnya. Mendapatkan reaksi seperti itu Mulan justru menatap Bara tanpa gentar, lalu dengan tegas ia pun berkata, "Itu adalah kamar pribadi milik Tuan. Mana mungkin saya bisa enak-enakan tidur di sana sendirian sedangkan pemiliknya justru terusir di kamar tamu seperti ini."


Tahu, apa reaksi Bara? Pria itu malah tertawa aneh mendengar pengakuan Mulan. Terang saja wanita itu mengernyit heran. Apa yang lucu dari perkataannya barusan?


"Ayolah, Mulan. Alasanmu itu terlalu mengada-ada," ujar Bara santai setelah dirinya sempat tertawa. "Kamar kosong di rumah ini sangat banyak. Saya bisa tidur di mana aja kalau saya suka. Ini mau saya, saya nggak pernah merasa terusir kok, dari kamar itu."


"Tapi kan saya merasa nggak enak hati," sahut Mulan sambil menyebik.


"Nggak enaknya karena apa, saya tanya."


Mata Mulan mengerjap-ngerjap. Tenggorokannya seperti tercekat. Tatapan intens Bara itu membuat jantungnya berdebar-debar. Dan kenapa matanya kini justru fokus pada bibir merah Bara?


"Hey, kok malah melamun?" tegur Bara yang membuat Mulan terkesiap.


"Engg, anu–" Mulan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sementara Bara masih menatapnya seperti tadi, menunggu wanita itu menjawab dengan sabar.


"Ya?"


Mulan menelan ludahnya susah payah. Astaga, dia grogi. Entah ke mana perginya rasa percaya diri yang selalu membuatnya tampak berwibawa saat di kantor?


Mulan berdeham kecil untuk menetralkan perasaan sebelum kemudian menjelaskan. "Biasanya kamar tidur itu adalah tempat pribadi. Dimana anda akan menghabiskan sebagian besar waktu Anda. Tempat ini sangatlah pribadi dan berhubungan langsung dengan kenyamanan penghuninya. Rasanya sangat janggal jika Anda tiba-tiba menyerahkannya pada saya tanpa alasan."


"Tanpa alasan?" Bara mengulang kata terakhir Mulan dengan kening bertaut heran sebelum kemudian melontarkan pertanyaan. "Sekarang saya tanya, sebenarnya kamu itu siapa saya?"


"Sa–saya?" Mulan menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi tak mengerti. "Saya ... saya ...." Mulan menggaruk tengkuknya sekali lagi. Entah mengapa tiba-tiba dia jadi bodoh seperti ini.


"Saya hanya wanita yang kebetulan Tuan Bara nikahi saja. Tidak ada dasar cinta di antara kita. Hanya sebuah perjanjian hitam di atas putih yang sama sekali tidak menguntungkan bagi Anda. Maaf, jika keberadaan saya membuat Anda tidak nyaman."


Mulan, Mulan. Sebenarnya di sini siapa yang terluka? Siapa yang dipisahkan dari anaknya? Kok kamu yang minta maaf?


Bara tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak mengurai senyum walau hanya tipis. Wanita yang sedang berdiri menunduk di depannya ini ternyata sangat unik. Dia bisa berbuat nekat dan mencelakai orang. Namun, di satu waktu juga bisa bersikap lembut dan mencurahkan kasih sayang. Mulan adalah wanita normal yang memiliki kepekaan dan welas asih. Dia juga istri yang baik. Meski tak ada dasar cinta, tetapi Mulan tetap mengurusnya dengan baik.


"Jika kamu saja merasa kamu ini istri saya lalu kenapa masih merasa nggak enak? Bukankah lebih baik kalau saya yang keluar dari kamar? Kalau mama saya sampai tau saya suruh kamu keluar dari kamar saya atau mungkin tidur di sofa, menurut kamu apa yang akan mereka katakan? Kamu mau saya dipukul pakai sapu lidi?"


Mulan membelalak lalu refleks menutup mulutnya untuk menahan tawa. Ada-ada saja pria itu. Mana pernah terpikirkan olehnya jika yang ada di benak Bara adalah pemikiran seperti itu.

__ADS_1


"Kamu nahan tawa? Kamu pikir ini lucu?"


Jika bukan Bara yang bertanya seperti itu, mungkin Mulan akan membalas dengan kata-kata jargon milik Dilan Cepmek yang belakangan ini viral di sosial media. "Kamu nanyeea? Kamu sedang bertanya-tanya?" Namun, dia takut laptop dipangkuan Bara itu akan berpindah ke wajahnya dalam sekejap mata. Akhirnya ia hanya bisa beralasan untuk tidak memancing kemarahan suaminya.


"Tidak. Siapa juga yang sedang menahan tawa?"


Bara mendengkus lirih.


"Saya tadi ingin menguap, Tuan. Sepertinya saya mengantuk. Masa iya saya membiarkan mulut mungil saya ini menguap lebar-lebar di depan Anda. Sangat tidak sopan, bukan? Apakah salah jika saya refleks menutup?"


Bara tidak ingin berdebat lagi. Kepalanya sudah cukup pusing dengan pekerjaan dan sakit yang diderita. Lebih baik ia menyuruh wanita itu tidur dan ia bisa melanjutkan kerja.


"Tidurlah. Kembali ke kamarmu."


"Tidak mau, Tuan .... Saya tetap pada keputusan saya," sahut Mulan keras kepala. Namun, ternyata Bara juga sama keras kepalanya.


"Ya sudah. Berdiri saja di situ sampai kamu pingsan."


Mulan terkesiap. Sepertinya ancaman Bara tidak main-main. Besok ia masih banyak urusan. Ia tidak mau berdiri semalaman, apalagi sampai pingsan. Masa iya Bara tidak mau memberinya kesempatan tidur barang sebentar?


"Tuan jangan begitu ...." Kali ini Mulan memberanikan diri untuk merengek. Siapa tahu pria itu mau mengerti. "Saya hanya akan berdiri di sini untuk menjaga Tuan saat terjaga. Saya juga akan tidur setelah Tuan Bara tidur. Tapi jika Tuan menyuruh saya berdiri sampai pingsan, apa itu berarti Tuan juga tidak akan tidur semalaman? Tuan ingat, kan? Tuan ini sedang sakit. Tuan harus menjaga kesehatan. Lalu jika Tuan mau terjaga semalaman, bukankah itu artinya Tuan justru cari penyakit bukannya malah ingin mencari kesembuhan?"


"Dasar bawel."


Mulan membelalak. Ia capek-capek memberi nasihat panjang lebar tapi ternyata balasannya justru dikatai bawel oleh Bara. Ini orang, sialan gak sih? Apa perlu diingatkan menggunakan sapu lidi?


Mulan yang merasa kesal nyaris menyemburkan kalimat umpatan. Namun, Bara yang menyadari itu buru-buru mengulas senyum lalu berucap dengan pelan.


"Iya, iya. Aku bakalan tidur sekarang."


Wajah kesal Mulan seketika berganti senyuman. Wanita itu tersenyum lega karena akhirnya Bara mau mengikuti nasihatnya.


Saat itu Bara memang merasa ngantuk. Ia sempat menguap tetapi berusaha ditutupi. Mungkin ini adalah efek dari obat yang diminumnya tadi. Jujur, ia merasa sangat pusing. Namun, ia tidak mungkin mengatakan pada Mulan dan membuat wanita itu mencemaskan. Ia segera berbaring setelah menaruh laptop yang sudah mati ke atas nakas sebelah kiri. Tak butuh waktu lama bagi Bara untuk benar-benar menyelami mimpi.


Mulan masih berdiri di tempatnya semula tanpa bersuara. Matanya mengawasi Bara mulai dari menaruh laptopnya hingga berbaring dan memejamkan mata. Perasaan, belum lama pria itu merebahkan tubuhnya, tetapi dengkuran halus sudah terdengar dari bibirnya.


Serius dia sudah tidur? Cepet amat. Mulan membatin. Ia lantas menggeleng samar. Yang begitu mau terjaga sampai semalaman? Huh, mimpi kali. Dasar *****. Nempel bantal langsung molor.


Mulan masih berdiri di sana hingga beberapa saat. Memberi kesempatan pada Bara untuk tidur lebih pulas. Selanjutnya ia berjalan pelan mengitari ranjang, mengarah pada nakas untuk menghidupkan lampu tidur di sisi Bara. Lampu kristal yang menyala sekarang sangat terang, sepertinya tidak nyaman jika digunakan sebagai penerangan untuk beristirahat.


Namun, saat menoleh tak sengaja pada wajah Bara ia spontan menghentikan niatannya. Ada bulir-bulir keringat yang muncul di kening pria itu? Bara kegerahan kah? Sepertinya suhu AC di sini sudah sangat dingin, bagaimana bisa pria itu berkeringat?


Kenapa Mulan merasa tidak yakin. Dari pada menjadi pertanyaan, lebih baik ia memastikannya sendiri.


Mulan akhirnya nekat menyentuh dahi suaminya dengan pelan. Tidak dosa, kan? Toh mereka suami istri. Suhu panas yang diperolehnya dari dahi Bara membuat wanita itu refleks berjingkat. Suaminya sedang demam. Jadi ini keringat dingin yang bercucuran?


Mulan merasa perlu melakukan sesuatu untuk memberi pertolongan. Ia harus secepatnya mengompres Bara agar suhu panasnya segera turun. Sepertinya obat yang diminumnya tadi belum bekerja dengan baik.


Akhirnya, Mulan bergegas keluar kamar untuk turun mengambil handuk kecil dan wadah berisi air hangat. Saat ia kembali, Bara masih terlelap dengan keringat dingin masih bercucuran. Semoga saja pria itu tidak marah saat tahu seseorang menyentuh dahinya tanpa izin seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2