
Menjadi seorang istri dan tinggal di rumah megah milik Bara, Mulan diperlakukan layaknya ratu oleh semua pelayan dan penjaga di sana. Ia dituntut tampil sempurna. Merias diri secantik mungkin dan mengenakan pakaian mahal yang Bara sediakan. Mulan bahkan tak pernah melakukan aktivitas apa-apa selama beberapa hari di sana. Ada orang-orang ahli yang ditunjuk khusus untuk melayaninya.
Meski dirinya dimuliakan, Mulan tak lantas merasa bahagia berada di sana. Hidupnya terasa hampa. Ia tak lebih dari seekor burung yang terkurung di dalam sangkar emas milik Bara.
Kebebasannya dikekang. Di mana pun dirinya berada selalu di bawah pengawasan. Bahkan yang lebih menyakitkan, hingga sekarang ia belum pernah dipertemukan dengan Rayyan.
Hal itu tak pelak membuat Mulan kian membenci Bara Aditama, pria yang telah resmi menjadi suaminya dan bahkan belum pernah lagi ia jumpai setelah mengancam akan melemparkannya ke jurang waktu itu.
Entah ke mana perginya dia. Tak ada kata pamit atau sekadar basa-basi kepada Mulan sebelum dirinya pergi. Penjaga dan pelayan hanya mengatakan pria itu sedang berada di luar negeri setiap kali Mulan pertanyakan keberadaannya.
"Yang benar saja. Bisa-bisanya pengantin baru lebih mementingkan pekerjaan daripada bulan madu." Mulan tertawa hampa dalam kesendirian untuk meluapkan emosinya. Setelah itu ia mengusap kasar bulir bening yang membasahi sudut mata.
Kata bulan madu yang disebut Mulan hanyalah sebuah perumpamaan. Ia tak benar-benar menginginkan itu. Ia hanya tak habis pikir pada Bara yang dengan tanpa perasaan telah meninggalkan dirinya begitu saja di malam pertama. Padahal ia ingin menagih satu janji. Yaitu menuntut haknya dipertemuan dengan Rayyan.
Angan hanyalah tinggal angan. Keinginan tak semudah itu ia genggam. Nyatanya kesabaran manusia pastilah memiliki batasan. Terlebih lagi wanita biasa seperti Mulan.
Wanita itu mulai tak tahan. Cukup sudah dirinya diam. Cukup sudah ia memberikan Bara kesempatan. Rayyan adalah hidupnya. Tak ada yang bisa Mulan andalkan untuk menyelamatkan Rayyan selain dirinya sendiri. Bukanlah Bara, atau pun siapa-siapa. Terlebih lagi Bara tak ada di sana.
Percuma saja dirinya mengancam para penjaga dan pelayan! Dirinya terus menerus menangis hingga keluar air mata darah pun percuma jika Bara tak ada di sana. Pria itu adalah tuannya di rumah ini. Pria itulah pemegang kendali. Tanpa adanya keputusan Bara, seluruh aktivitas di rumah itu dipastikan lumpuh total.
PRANG!!!
Suara pecahan kaca terdengar di area ruang makan. Mulan yang duduk sendirian di meja besar itu sengaja menyentak peralatan makan hingga menjadi berantakan.
"Nyonya, apa yang Anda lakukan?" ujar seorang pelayan sambil menatap nanar pada pecahan piring dan gelas mahal yang berhamburan di lantai.
"Kalau aku tidak mau makan, ya tidak mau makan! Jangan memaksa!" Mulan menatap sinis ke arah kamera pengawas usai membentak salah satu pelayan. Ia tahu suaminya melihat kelakuannya barusan. Ia bahkan sengaja menciptakan keributan demi menarik pria itu untuk pulang.
Persetan jika Bara kelak akan memberinya sebuah hukuman. Toh selama ini batinnya sudah merasakan siksaan.
Dua pelayan yang memiliki tugas khusus membersihkan lantai langsung bergerak cekatan untuk membersihkan lantai.
__ADS_1
Mulan memijat pelipisnya, lalu bangkit dan beranjak pergi dari sana. Wanita itu setengah berlari sambil mengangkat gaunnya tinggi-tinggi. Di antara beberapa pelayan yang ada di sana hanya satu orang yang bergerak sigap mengikuti Mulan. Dia adalah gadis muda bernama Alma yang ditugaskan khusus menjadi asisten pribadi Mulan.
"Nyonya, Anda mau ke mana?" tanya gadis itu ketika tergopoh-gopoh mengejarnya. Sementara Mulan yang sibuk membuka satu persatu pintu untuk memeriksa ruangan, mengabaikan Alma begitu saja.
Sepertinya Mulan ingin menuntaskannya malam ini. Wanita itu ingin mencari sendiri keberadaan Rayyan ada di mana.
"Nyonya, Nyonya baik-baik saja?" Alma mengusap punggung Mulan yang terlihat kelelahan. Wanita itu kini tengah membungkuk sambil menetralkan pernapasan.
"Aku harus mencari Rayyan, Alma. Aku harus membawa Rayyan pergi sebelum pria itu kembali ke rumah ini," lirih Mulan penuh tekad.
Alma membelalakkan mata. Gadis itu kemudian menggelengkan kepalanya. "Jangan, Nyonya! Itu percuma!"
Mulan menatap Alma kemudian mendecih pelan. "Kenapa? Kau meragukanku?"
"Bukan begitu," sahut Alma penuh sesal. "Setahu saya, sekeliling rumah ini sudah diberi ranjau yang tak terlihat. Semua orang yang masuk tidak bisa keluar lagi jika tidak melalui gerbang. Sedangkan para penjaga gerbang pasti tak akan mengizinkan Nyonya keluar tanpa seizin Tuan Bara. Bagaimanapun Nyonya berusaha, saya yakin itu hanya sia-sia. Nyonya tidak akan bisa keluar dari sini. Bahkan rencana kabur Nyonya Mulan itu hanya akan membuat Tuan Bara semakin murka."
"Lantas, menurutmu aku harus bagaimana? Diam dan pasrah begitu saja? Membiarkan anakku sendirian di sana?"
Mendengar rintihan seorang ibu, Alma tak bisa berkata apa-apa. Meski dirinya belum pernah merasakan jadi ibu, tetap saja ia bisa merasakan kesedihan Mulan. Wanita itu bahkan sering menangis dan uring-uringan. Mulan juga kehilangan selera makan. Mulan seperti wanita yang banyak tekanan sekalipun di sini dimuliakan.
"Nyonya! Anda mau ke mana?" Alma terkejut saat Mulan kembali bergerak melangkahkan kakinya. Sehingga ia pun mau tak mau mengikuti ke mana pun majikannya pergi.
"Jangan banyak tanya, Alma. Lebih baik kau bantu aku mencari Rayyan saja!" tegas Mulan tanpa menoleh ke belakang.
Alma mendesah lirih. Bukan karena benci, melainkan ia tahu itu hanya sia-sia. Namun, meski begitu dirinya tak mampu melawan titah Mulan. Keduanya kembali beraksi dengan memeriksa ruangan perruangan lagi untuk mencari Rayyan.
Sebenarnya Mulan sempat curiga sebab tak ada yang menghalanginya kali ini. Penjaga yang biasanya memberi larangan tegas kini seolah membiarkannya bertingkah sesuka hati. Benarkah karena mereka mendapatkan perintah dari Bara? Atau karena Rayyan memang sebenarnya tidak ada di rumah itu?
Mulan mengerang putus asa lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Tak lama kemudian air mata meluncur deras dari tangisnya yang sesenggukan. Terang saja ia sesedih itu, sudah seluruh ruangan ia periksa, tetapi Rayyan tidak ada di mana-mana.
"Nyonya ...," lirih Alma penuh iba sambil mengusap lembut punggung Mulan.
__ADS_1
"Mereka menipuku, Alma. Mereka membohongiku!" keluh Mulan di sela tangisnya. "Rayyan tidak ada di mana-mana. Rayyanku tidak ada!"
"Nyonya yang sabar. Saya yakin Tuan kecil Rayyan pasti baik-baik di sana. Hanya saja, Tuan Bara belum bisa mempertemukan kalian sekarang."
"Kenapa belum bisa!" sentak Mulan hingga Alma seketika berjingkat saking terkejutnya. Mulan yang menyadari telah menumpahkan kemarahan pada orang yang salah kemudian kembali bicara dengan nada yang direndahkan.
"Kenapa belum bisa? Bukankah di surat perjanjian itu mereka jelas-jelas akan mempertemukanku dengan Rayyan setelah pernikahan digelar? Tapi nyatanya apa, Alma. Mereka menundanya hingga sekarang!"
"Nyonya yang sabar ya. Nyonya harus percaya Tuan kecil Rayyan pasti baik-baik saja. Justru Tuan kecil Rayyan akan merasa sangat sedih jika melihat Nyonya seperti ini."
Mulan tergeragap mendengar penuturan Alma. Ya, apa yang dikatakan gadis itu memang benar. Selama ini ia selalu menyembunyikan air mata dari Rayyan. Bocah itu akan ikut menangis bila melihatnya sedang menangis. Lantas bagaimana jika Rayyan melihatnya kacau seperti sekarang ini?
"Nyonya, mari saya antar ke kamar. Nyonya kelihatan sangat lelah. Nyonya harus beristirahat. Nyonya tak boleh sakit. Nyonya harus menjaga kesehatan demi Tuan kecil Rayyan."
Mulan menghela napas dalam. Yang dikatakan Alma sepertinya memang benar. Ia harus menjaga kesehatan demi Rayyan. Disadari oleh Mulan jika tubuhnya memang kelelahan akhir-akhir ini. Hanya memikirkan Rayyan ternyata mampu menguras energinya. Tak ada salahnya ia berbaik sangka dan menunggu dengan tenang sampai Bara pulang.
***
"Nyonya."
Mulan yang tengah duduk di sofa langsung menoleh mendengar suara Alma. Gadis itu muncul dengan tangan membawa nampan. Di atasnya terdapat piring berisi makanan juga segelas jus jeruk yang kelihatan segar.
Tak sampai berapa detik, Mulan langsung mengembalikan pandangannya ke posisi semula. Menatap kosong pada pemandangan luar dari jendela kamarnya dan Bara.
"Nyonya Mulan makan, ya. Saya sudah bawakan ke kamar. Kalau perlu saya suapi sekalian." Alma berbicara sembari menaruh nampan di atas nakas. Ia membawa piring itu untuk duduk di lantai, lalu dengan cekatan mengisi sendok dengan nasi, sayur dan lauk.
Namun, saat ia menyodorkan ke arah Mulan, wanita itu tetap mengunci rapat mulutnya sambil menggeleng pelan. Sehingga, mimik wajah penuh antusias gadis itu langsung berubah sedih karena melihat kesedihan Nyonya barunya.
"Nyonya harus makan. Sejak pagi tadi perut Nyonya belum terisi apa-apa, bahkan sama sekali tidak keluar dari kamar."
"Aku tidak lapar, Alma. Aku tidak mau makan," lirih Mulan sambil menyandarkan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi Nyonya harus makan. Nyonya bisa sakit kal–"
Alma tak melanjutkan kata-katanya saat menyadari ada yang datang. Wanita itu justru membelalakkan mata lalu menunduk dengan hormat. "Tuan," ucapnya pelan hingga membuat Mulan menoleh ke arah pintu dengan terkejut.