Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
I love you, Mama


__ADS_3

"Mau ke mana?"


Bara bertanya cemas ketika melihat Mulan bangkit sambil mengusap air mata.


"Mau ke mana!" ulangnya sambil menarik tangan Mulan sebab wanita itu hanya diam. Tarikan Bara itu sontak membuat langkah Mulan terhenti lalu memutar tubuhnya menghadap Bara.


"Lepas!" teriak Mulan. Wanita itu menyentak tangan Bara dengan kasar, tetapi rupanya tak mampu membuat Bara melepaskannya. Persetan dengan dosa menolak keinginan suami. Persetan dengan kebiasaan Bara yang suka melakukan kekerasan. Dirinya mungkin rapuh, tetapi bukan berarti ia lemah. Jika Bara melakukan kekerasan, ia pun akan melawan. Tak ada ketakutan di wajah Mulan sekalipun Bara terlihat mengetatkan rahang dan menatapnya dengan nyalang.


Mulan menggeram. Ia balas menatap tajam mata Bara. "Lepas! Biarkan aku mencari Rayyan!"


Sejenak Bara terperangah, lalu kemudian pria itu menggeleng tak percaya. "Kau masih berpikir akulah yang menyembunyikan Rayyan?"


"Memangnya siapa lagi!" sahut Mulan dengan sinisnya.


"Kembali ke ranjang," titah Bara sambil mengedikkan dagunya. Tampaknya Bara memang tipe manusia yang tak banyak bicara. Berusaha untuk tenang meski meski amarahnya ingin meledak. Nada bicaranya juga melemah meski tatapan Mulan seperti menantang.


"Enggak!" tolak Mulan seketika. Entah untuk apa Bara menyuruhnya kembali ke ranjang, tetapi yang jelas mampu membuat bulu kuduknya meremang. Dengan alasan apa pun, ia belum siap untuk melakukan malam pertama mereka. Mulan meyakini Bara tidak menaruh rasa cinta terhadapnya. Bukan tidak mungkin jika pria itu hanya akan menjadikannya sebagai pelampiasan.


Bara tak bersuara. Namun, tatapan tajam mata elang itu sukses membuat Mulan merasa terintimidasi hingga menarik kakinya bergerak mundur dua langkah dari tempatnya.


Entah lesap ke mana keangkuhan Mulan beberapa saat lalu. Melihat Bara tiba-tiba melangkah maju tanpa gentar, wanita itu tersedu pilu lalu memohon dengan iba sambil menangkubkan kedua tangannya. "Biarkan aku pergi. Kumohon ...."


Bara tak menggubris permohonan Mulan. Sebaliknya, pria itu justru mengangkat tubuh Mulan tanpa beban lalu melemparnya kembali ke tengah ranjang.


Mulan kembali menangis putus asa. Sepertinya malam ini dirinya benar-benar akan dimakan Bara.


Namun, ketakutan Mulan itu terpatahkan dengan perintah Bara yang tak ingin mendapat bantahan.


"Tidur sekarang! Selangkah saja kau pergi dari sana, maka kau tidak akan bisa bertemu dengan Rayyan!"


Bara melangkah keluar dengan tergesa setelah melontarkan ancaman itu. Ia bahkan menutup pintu setengah dibanting.


Tinggallah Mulan seorang diri. Wanita itu terisak kecil sambil duduk memeluk lutut. Seandainya saja ia bisa melihat Rayyan walau hanya sedetik saja, mungkin dirinya akan merasa lebih tenang.


"Rayyan ... kamu di mana, Sayang."

__ADS_1


***


Mulan tak menemukan Bara di sisinya setelah terjaga dari tidur pagi harinya. Sepertinya pria itu tak kembali ke kamar setelah meninggalnya malam tadi. Wanita itu akhirnya menghela napas panjang lalu memiringkan tubuhnya ke arah kiri. Menarik kembali selimut tebal yang tersingkap hingga menutupi tubuhnya hingga leher.


Apa yang bisa dilakukannya selain tiduran lagi. Bagaimanapun juga Bara adalah suaminya. Ancaman pria itu harus diindahkan jika masih ingin bertemu Rayyan. Bukankah semalam Bara melarangnya beranjak dari sana? Semoga saja pria itu tidak melupakan kewajibannya untuk mencabut ancaman serius itu.


Tak lama kemudian Mulan mendengar suara pintu kamar dibuka. Entah siapa yang datang. Mulan malas meladeninya. Wanita itu justru tak bergerak dan memejamkan mata seolah-olah masih tidur.


Hening. Tak ada suara setelahnya. Hanya gerakan kasur yang memantul dengan pelan. Sepertinya ada seseorang yang naik ke atas ranjang. Sosok itu kemudian duduk menempel pada punggungnya. Mungkinkah itu Bara? Entahlah. Yang jelas ia enggan membuka mata.


Tiba-tiba Mulan merasakan sentuhan lembut di rambutnya. Benarkah ini Bara? Tetapi rasanya seperti bukan usapan tangan orang dewasa. Rasanya lebih seperti sentuhan lembut tangan anak-anak. Ia sudah biasa merasakan usapan itu dari Rayyan sebelum anak itu pergi sampai sekarang, tentunya hal itu membuat Mulan sangat paham.


Eh tunggu. Rayyan? Rayyan??Jangan-jangan ....


Mulan seketika membuka matanya lebar-lebar tanpa memutar kepala. Ia berusaha menelaah apa yang dipikirkan dengan apa yang baru saja dirasa. Belum sempat ia menoleh, tiba-tiba kecupan lembut mendarat tepat di pipi kanannya.


"Mama. I love you."


Suara itu? Suara yang berbisik di telinganya itu persis seperti Rayyan. Mata Mulan seketika membelalak. Ia seperti tak percaya. "Rayyan?" lirihnya bergetar. Napasnya seperti tersengal.


Mulan tak ingin percaya begitu saja. Ini masih pagi, jangan-jangan ia hanya bermimpi. Ia terlalu takut menerima kenyataan jika ternyata ini hanya halusinasinya saja.


"Mama. I love you." Suara Rayyan kembali terdengar, memaksa Mulan bergerak menoleh ke arah kanan, dan ....


"Mama ...." Wajah menggemaskan Rayyan yang tersenyum itu langsung menyambutnya. Sangat tampan. Bahkan lebih tampan dari sebelum-sebelumnya.


"Rayyan?" lirih Mulan. Wanita itu kemudian bergerak memutar tubuhnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Napasnya memburu. Matanya berkaca-kaca. Tangannya terulur membelai pipi Rayyan dengan pandangan tak percaya. Mungkinkah ini mimpi? Tetapi wajah Rayyan bisa disentuhnya. Bahkan tersenyum manis kepadanya.


"Mama .... Apa Mama sakit?" Pertanyaan itu akhirnya menyadarkan Mulan jika ini nyata, sehingga wanita itu buru-buru memeluk Rayyan dan menangis sejadi-jadinya.


"Rayyan ...!" panggilnya sedu sedan. "Rayyan ke mana saja? Mama rindu Rayyan," ucapnya tanpa melepaskan pelukan.


"Mama ...." Tangan mungil Rayyan mengusap punggung Mulan penuh kasih sayang. Dia memang masih anak-anak, tetapi Rayyan memiliki tekad untuk melindungi mamanya dan memberikan kenyamanan. "Jangan nangis lagi, Mama. Rayyan ada di sini. Maaf, karena selama ini Rayyan sibuk jalan-jalan sampai tidak sempat menemui Mama."


"Jalan-jalan?" Mulan mengurai pelukan lalu menatap Rayyan penuh tanda tanya. Bocah itu mengangguk, membenarkan pertanyaan Mulan.

__ADS_1


"Iya, Ma."


"Dengan siapa?"


"Oma."


"Oma?"


"Hu'um." Rayyan meyakinkan. "Oma ngajak Rayyan jalan-jalan ke banyak tempat, Ma. Indah-indah. Rayyan naik pesawat sangat jauh. Rayyan sampai bobo di dalam pesawat."


Tak bisa berkata-kata, Mulan terduduk lemas melepaskan Rayyan. Mata wanita itu berkaca-kaca, lalu tangannya tanpa sadar meremas sprei putih pembungkus ranjang.


Inikah alasan Bara tak kunjung mempertemukan dirinya dengan Rayyan? Selama ini Rayyan justru disibukkan dengan kegiatan liburan, berbanding terbalik dengan apa yang selama ini ia pikirkan.


Lihatlah putranya sekarang. Rayyan terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Ini merupakan pertanda jika keluarga Bara memperlakukan Rayyan dengan sangat baik meski tanpa dirinya. Sedangkan dirinya apa? Hanya bisa curiga dan membangkang terhadap Bara.


Seketika rasa berdosa itu bersarang di lubuk hati terdalam Mulan. Malu bercampur menyesal. Andai saja ia tak terlalu berpikiran buruk terhadap Bara ....


"Sayang, Rayyan kemari bersama siapa?" tanya Mulan kemudian.


"Bersama Oma. Tadi Rayyan juga sudah ketemu Papa."


"Ketemu Papa?"


"Iya."


Mata Mulan seketika menunjukkan binar. Wanita itu terpikirkan suatu hal.


"Rayyan, tunggu di sini sebentar, ya. Sebentar lagi Mama kembali kemari." Mulan mewanti-wanti sebelum kemudian bangkit.


"Mama mau ke mana?" tanya Rayyan dengan polosnya.


"Mama harus menemui Papa, Sayang. Ada sesuatu yang ingin Mama bicarakan."


"Tt–tapi, Ma!"

__ADS_1


Mulan tak menggubris perkataan Rayyan. Wanita itu justru berlari keluar kamar sambil mengangkat gaun malamnya.


__ADS_2