Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Kunjungan Dadakan


__ADS_3

"Tuan, tunggu!" Mulan tergopoh-gopoh mengejar Bara yang sudah berjalan keluar dari rumah. Pria itu sudah selesai dengan sarapannya, dan kini bersiap ke kantor untuk bekerja seperti biasa.


Rupanya mobil Bara sudah siap sejak tadi, dengan Hendrik sang asisten yang sudah menunggu untuk membukakan pintu. Pria bertubuh tegap itu hanya bergeming di tempatnya melihat Bara berhenti lalu menoleh pada Mulan.


Bara tidak berkata apa-apa. Hanya alisnya yang bergerak sebagai ganti kata tanya.


"Maaf saya mengganggu waktunya sebentar, tapi saya harus bicara pada Anda sekarang," ucap Mulan sungkan.


"Dua menit." Bara menegaskan setelah melihat arloji mahal yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Datar. Tanpa ekspresi. Hal itu membuat Mulan menjadi gugup. Wanita itu harus memanfaatkan waktu singkat itu dengan sebaik mungkin. Jangan sampai dirinya belum selesai bicara tetapi Bara sudah pergi meninggalkannya.


"Tuan, apa Anda mengizinkan saya keluar rumah untuk sekadar jalan-jalan?"


Bara menautkan alisnya saat menatap Mulan dengan tatapan aneh. Bahkan mata tegas itu menyipit beberapa saat.


"Saya berada di sini karena sudah Anda nikahi. Saya ini istri Anda, bukan seorang tawanan. Tolong, jangan terlalu menyiksa saya dengan sebuah kekangan. Saya sudah cukup tersiksa dengan berpisah dengan Rayyan. Saya janji, Tuan," ucap Mulan meyakinkan. "Saya tidak akan membuat ulah. Saya tidak akan diam-diam menemui Rayyan."


Lagi, Bara tak bicara apa-apa. Namun, pria itu merogoh dompet dari sakunya kemudian mengambil sebuah kartu dari sana.


"Gunakan ini untuk berbelanja," katanya sambil menyodorkan itu ke arah Mulan. Wanita itu refleks menerima dan memperhatikan kartu itu dengan kening berkerut. Belum sempat Mulan menjawab, Bara sudah lebih dulu meninggalkan dia di sana.


Mulan hanya bisa tertegun sambil menggenggam kartu tanpa limit tersebut. Sambil menatap mobil Bara yang bergerak menjauh, ia pun berucap lirih.


"Hati-hati, Tuan."


***


Seorang wanita berkacamata hitam, turun dari mobil mewah yang dikemudikannya. Beberapa security yang menatapnya seperti tercengang hanya ia tanggapi dengan senyuman.

__ADS_1


Wanita berparas cantik itu terus berjalan masuk. Sepasang heels yang dikenakan beradu dengan lantai lobi kantor, hingga suaranya menarik perhatian resepsionis yang berjaga di sana.


"Nyonya Mulan?" tanya wanita muda itu seperti tak percaya. Tujuh tahun berlalu, tetapi wanita yang dianggap hilang itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan. Tetap cantik dan mempesona.


"Pagi, Sarah," sapa Mulan sambil mengangkat kacamatanya. Ia tersenyum pada Sarah yang masih membulatkan mata.


"Ini benar-benar Nyonya Mulan?"


"Tentu saja, Sarah? Apa aku terlihat banyak berubah?" balas Mulan sambil tertawa.


"Maaf, bukan begitu maksud saya. Saya hanya tak menyangka Nyonya akan kembali setelah sekian lama–" Sarah menggantung ucapnya lalu menggigit bibir bawah.


"Kenapa? Kalian pikir aku sudah mati?" tanya Mulan dengan nada yang biasa. Ada senyum di wajahnya. Sama sekali tak menunjukkan kemarahan.


"Anda menghilang begitu saja. Kami tak tahu Nyonya di mana. Tapi yang jelas, saya sangat senang Nyonya kembali lagi ke kantor ini," tutur Sarah penuh kesungguhan. Wajahnya yang semula syok itu kini berubah senang.


"Selamat datang kembali di kantor ini, Nyonya. Semoga di tangan Nyonya perusahaan ini kembali jaya."


Mulan hanya menanggapi kalimat penyemangat Sarah dengan senyuman. Ia kemudian memutuskan pergi ke ruang meeting yang berada di lantai lima.


Mulan berjalan anggun dengan dagu yang terangkat. Sesekali ia membalas sapaan pegawai lama yang pernah mengenal dirinya. Dan untuk pegawai baru sudah bisa dipastikan jika tidak mengenal Mulan.


Mulan tahu, selama ini Bima yang hanya berstatus sebagai CEO pengganti sementara dirinya saja justru memperkenalkan diri sebagai penerus perusahaan ini. Pria itu berulang kali berusaha mengambil alih perusahaan, tetapi selalu gagal lantaran jasad Mulan yang menghilang belum juga ditemukan.


Dari itulah Mulan tak pernah cemas perusahaan itu akan berpindah tangan sementara dirinya menghilang dari peradaban. Manusia-manusia licik seperti Bima dan keluarganya tak akan semudah itu menguasai harta peninggalan orang tuanya.


Membuka pintu dengan kasar, aksi Mulan mengagetkan semua orang yang berada di dalam ruangan. Mereka tersentak. Seorang pria paruh baya yang semula sedang memimpin jalannya meeting seketika terdiam melihat keponakannya datang.

__ADS_1


"Mulan?" ucap Bima seperti tak percaya.


"Kenapa diam? Ayo lanjutkan. Aku ingin mendengarkan." Mulan duduk dengan santai dan tanpa dosa di sebuah kursi kosong di antara kepala divisi perusahaan papanya. Raut penuh keterkejutan tak bisa ditutupi dari wajah mereka. Namun, mereka berusaha tetap tenang lantaran menghargai keberadaan Mulan. Tentunya ada rasa bahagia tersendiri melihat pemilik sebenarnya perusahaan itu telah kembali.


Bima yang sempat menghentikan rapat akhirnya melanjutkan penjelasannya. Gestur yang ditampakkan pria itu agak berbeda dengan sebelum Mulan datang. Ia tampak kikuk dan tidak fokus menjawab pertanyaan bawahannya.


Setelah beberapa lama akhirnya meeting itu selesai. Mulan hanya memposisikan diri sebagai pendengar dan pengamat. Sedangkan pemegang keputusan masih berada di tangan Bima. Dari situlah Mulan tahu jika perusahaan papanya akan menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan besar bernama ESTER COSMETIC CORPORATION (ECC), Bima juga menegaskan jika kerja sama ini bisa dipastikan akan sangat menguntungkan mereka sebab ESTER COSMETIC CORPORATION sendiri memanglah perusahaan yang sangat besar dan mendirikan cabang hingga ke mancanegara.


"Boleh minta perhatiannya sebentar?" kata Mulan sesaat setelah meeting selesai. Ia berdiri dari duduknya dan menatap wajah bawahannya satu persatu.


Di antara beberapa orang yang berada di sana, tampaknya hanya Bima yang wajahnya terlihat tegang. Kehadiran sang keponakan yang tiba-tiba itu menebarkan aura tidak sedap seperti yang selama ini ia takutkan.


"Kebetulan sekali, seluruh kepala divisi yang saya hormati sedang ada di sini dengan keadaan sehat tanpa kurang suatu apa pun. Dengan ini," tegas Mulan. "Dengan kesadaran penuh, saya, Mulan Shabila Daud menyatakan akan mengambil alih kembali perusahaan ANDARA DAUD COMPANY ini, mulai detik ini."


"Tidak bisa!" Tiba-tiba Bima menyahut dengan nada tinggi hingga menarik perhatian semua yang ada di sana tak terkecuali Mulan. Ya. Wanita itu langsung mengarahkan pandangannya pada Bima lalu tersenyum miring.


"Kenapa tidak bisa, Om? Apa masalahnya?" tanya wanita itu dengan mata menyipit.


"Kau baru saja datang, Mulan. Tentunya kau butuh istirahat."


"Aku tidak merasa lelah, Om Bima. Aku tidak perlu istirahat," tutur wanita itu masih dengan ekspresi yang sama. "Saya akan mengambil alih semuanya, termasuk kerjasama dengan EC CORPORATION!" Mulan mengalihkan perhatian pada semua orang. "Semua laporan serta penarikan dana perusahaan harus menggunakan tanda tangan saya! Jika ada yang merasa keberatan, kalian bisa keluar! Cyndi, bagaimana dengan ruangan kerjaku yang dulu? Apa ada yang mengusik tempat itu selama aku tidak ada?" tanya Mulan pada sekretarisnya.


"Tidak ada, Nyonya. Ruangan Anda masih aman terkendali." Cyndi menjawab tegas.


"Bagus. Antar aku ke sana."


Mulan berjalan keluar ruangan lebih dulu, sementara Cyndi mengikuti Mulan di belakangnya setelah mengangguk patuh.

__ADS_1


__ADS_2