Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Main pasir


__ADS_3

Mulan merutuki dirinya sendiri. Seharusnya ia marah lantaran Bara memperlakukan dirinya sesuka hati, tetapi yang ada, ia justru menikmati.


Bagaimana tidak? Sepanjang liburan itu berjalan, Bara memperlakukannya seperti seorang istri yang sangat dicintai. Jika orang asing yang melihat, mungkin mereka terlihat selayaknya keluarga bahagia. Ada Daddy yang tampan, Mommy yang seksi, juga anak laki-laki yang ceria. Keluarga kecil yang harmonis, bukan?


Mereka harus terlihat mesra di hadapan Rayyan. Mulan diharuskan memanggil sayang, atau paling tidak suamiku.


Bara bahkan tidak melibatkan asisten rumah tangga, bodyguard yang mengawal mereka, bahkan pengasuhan Rayyan untuk membantunya. Ia justru menyuruh mereka ikut menikmati momen liburan, seolah-olah ingin total menjalankan perannya sebagai seorang ayah. Ia mengasuh Rayyan tanpa bantuan. Juga tidak mengizinkan Mulan kelelahan karena Rayyan. Bara terlihat sangat menikmati meskipun dalam hal ini Rayyan cenderung sangat manja dan tak jarang berani merengek kepadanya.


"Rayyan!" tegur Mulan penuh isyarat saat putranya itu melakukan kenakalan lagi. Tadi saat ia sedang menyiapkan minuman, tiba-tiba Mulan mendengar Rayyan bilang ingin menimbun tubuh Bara dengan pasir pantai.


Jelas saja Mulan terkejut. Rayyan bukanlah anak kandung Bara, tetapi bocah itu sudah sangat berani pada papa tirinya. Sungguh. Mulan tak pernah mengajari anaknya itu untuk lancang terhadap orang yang lebih tua, meskipun itu adalah papa tirinya. Ia merasa perlu menasihati Rayyan agar anak itu tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Anak itu tidak boleh melebihi batasannya.


Ia meninggalkan pekerjaannya, mendekati Rayyan, lalu menekuk lutut untuk mensejajarkan tinggi mereka. Dengan tatapan lembut serta penuh sayang, ia mulai menasihati putranya untuk memberi pengertian.


"Nggak baik seperti itu, Nak. Papa lagi sakit, loh. Papa juga butuh istirahat. Tuh liat, wajah Papa kelihatan capek banget, kan. Kita pulang aja yuk. Besok-besok kita bisa main kesini lagi," bujuknya kemudian.


"Tapi ... Rayyan pengen nimbun badan papa sampai sebatas leher sebentar aja, Ma. Kayak di video-video yang Rayyan lihat itu loh." Rayyan malah berucap antusias.


Mulan menghela napas panjang, berusaha bersabar. Perlu diketahui, ini bukan kali pertamanya Rayyan mempersulit hidup Bara. Sebelumnya, anak itu sudah menyiksa papa tirinya dengan berpanas-panasan menerbangkan layangan. Meminta Bara membawanya ke laut agak dalam sembari berenang memakai pelampung. Belum lagi mainan pasir membuat kastil dan masih banyak lagi yang lain.


Sepertinya rencana mereka mengunjungi destinasi wisata lainnya di hari juga ini perlu dibatalkan saja. Sebab, tanpa terasa matahari sudah condong ke arah barat karena saking asyiknya mereka bermain.


Mereka beristirahat hanya di saat makan siang. Itu pun Rayyan masih berupaya mengerjai Bara dengan meminta pria itu menyuapinya. Mulan yang sempat beberapa kali menegur Rayyan hanya ditanggapi santai oleh Bara. Alhasil, Rayyan semakin manja dan ngelunjak pada papa tirinya. Ya, seperti sekarang ini.


"Sayang ... nggak semua yang kamu lihat itu harus ditiru, kan? Nanti kalau ada apa-apa sama Papa gimana? Dada Papa sesak terus susah napas gimana?"


Belum sempat Rayyan menjawab, suara Bara sudah lebih dulu terdengar menyela mereka.


"Kata siapa Papa capek? Enggak, kok. Rayyan mau main lagi sama Papa, ya? Mau main apa, Sayang?" Bara yang mendekat langsung membopong tubuh Rayyan dengan ringan. Ia mengabaikan tatapan mata Mulan yang heran sekaligus gemas. Ia susah payah menasihati, Bara justru mengacaukan semuanya.


Lihatlah Rayyan sekarang. Bocah itu menenggelamkan wajahnya ke leher Bara seolah-olah sedang meminta perlindungan kepada papa tirinya. Memangnya sejahat itu kah mamanya?


"Rayyan pengen nimbun badan Papa sebentar aja pakai pasir pantai, tapi Mama malah nggak bolehin," ujar Rayan dengan mimik wajah sedih yang didramatisasi.


Bara malah tertawa. "Kata siapa, Mama nggak bolehin, heum? Dibolehin, kok. Iya kan, Ma." Bara tersenyum pada Mulan demi meyakinkan Rayyan. Sementara Mulan yang kadung sebal hanya menanggapi itu dengan *******.

__ADS_1


Tanpa buang waktu lagi, akhirnya Bara memasrahkan dirinya diperlakukan apa pun oleh Rayyan. Bara berbaring di atas lubang panjang yang sengaja ia gali menyesuaikan ukuran tubuhnya. Dengan senyum yang mengembang, pria berbantal pasir dan membiarkan Rayyan menutupi tubuhnya dengan pasir sedikit demi sedikit.


Mulan memilih duduk di kursi panjang tak jauh dari dua prianya. Sejujurnya merasa ia sebal. Namun, karena ada setitik kecemasan, ia tetap mengawasi keduanya dengan sesekali melirik ke arah sana sambil pura-pura memainkan ponselnya. Rayyan itu masih kecil. Bisa saja Rayyan membuat Bara kelilipan atau mungkin menaburkan pasir pada kepala Bara.


"Ups. Maaf, Papa."


"It's oke, Sayang."


Mulan sontak menoleh. Baru saja ia memikirkan, langsung saja kejadian. Rayyan benar-benar menyiramkan pasir di kepala Bara.


"Rayyan! Apa yang kamu lakukan, Sayang?" Mulan berlari panik ke arah keduanya. Bara terlihat meringis sambil memejamkan mata sebab kedua tangannya sudah ditimbun Rayyan, sementara Rayyan sebagai tersangka pelaku utama langsung menunduk penuh rasa bersalah.


"Maaf, Mama. Rayyan nggak sengaja. Rayyan tersandung saat mau menuangkan," terang anak itu tanpa berani mengangkat pandangan.


Suara helaan napas terdengar pelan dari bibir Mulan. Wanita itu sebenarnya marah, tetapi melihat rasa bersalah Rayyan ia jadi tak tega memarahinya. Mungkin benar anak itu melakukannya tanpa disengaja.


Mulan duduk menekuk lutut di sisi Bara. Ia sempat melirik Rayyan sebentar sebelum memfokuskan perhatian pada Bara.


"Astaga, Suamiku." Ia tak bisa menutupi kecemasan. Tangannya tanpa sadar membelai wajah Bara untuk mengusap pasir yang ada di sana.


"Nggak usah cemas gitu, Sayang. Aku nggak pa-pa."


"Tapi, itu, mata kamu."


Rupanya pekikan Mulan tadi mengundang perhatian Hendrik dan lainnya yang memantau dari kejauhan. Mereka berlari mendekat secara bersamaan sebab berpikir ada sesuatu yang buruk terjadi pada tuannya.


"Tuan, Nyonya, ada apa ini?" tanya Hendrik setelah dekat untuk memastikan. Wajah pria itu sama paniknya dengan Mulan.


"Alma, tolong ambilkan tisu atau air putih," titah Mulan pada Alma sambil menunjuk arah meja. Wajahnya masih menunjukkan kepanikan. Alma langsung bergerak cekatan mengambilkan barang permintaan nyonyanya. Dan secepat mungkin menyerahnya.


Di saat semuanya dilanda cemas, Bara justru santai saja. Ia menjawab Hendrik sambil tersenyum meski matanya belum sepenuhnya mau terbuka.


"Aku baik-baik saja, Hendrik. Hanya saja, sepertinya nanti aku butuh keramas beberapa kali."


Hendrik menghela napas lega setelah melihat Bara terkekeh. Pria itu ingin membantu tuannya. Namun, melihat Mulan tengah berupaya memberikan pertolongan pada suaminya, ia memilih mundur saja. Sepertinya untuk hal ini tindakan Mulan lah yang paling Bara butuhkan.

__ADS_1


"Maaf, aku bersihkan dulu, Sayang. Jangan buka matamu dulu, ya." Bagaimana pun juga Mulan perlu meminta izin lebih dulu.


Bara bersikap patuh, memejamkan mata selagi Mulan membersihkan area wajahnya.


"Tuan Hendrik, bisa minta tolong singkirkan pasir-pasir ini dari tubuh Tuan? Kurasa sudah cukup main-main pasirnya."


"Jangan."


Hendrik yang Mulan suruh, tetapi Bara yang melarang. Di saat semua orang mencemaskan dirinya, Bara justru mencemaskan perasaan Rayyan. Bocah itu pasti belum puas bermainnya.


"Hari sudah sore, sebaiknya kita cepat-cepat membersihkan diri lalu kemudian pulang sebelum malam. Bukankah jarak rumah dengan pantai lumayan jauh?" ujar Mulan dengan nada mengingatkan.


Bara hanya diam. Namun, Mulan tak tahu jika diamnya Bara itu karena sedang menikmati lembutnya perlakuan Mulan. Wanita itu dengan telaten membuang pasir dari wajah Bara.


"Sayang, rambutmu basah oleh keringat. Pasirnya jadi lengket dan susah dihilangkan. Sepertinya baru akan bersih setelah keramas. Coba buka matamu sekarang. Apa kau kelilipan?"


Bara spontan membuka matanya. Namun, bukannya melek, ia justru mengedip-ngedipkan matanya seolah-olah kesulitan terbuka.


"Sayang kenapa? Kamu kelilipan?" tanya Mulan makin cemas setelah sebentar mengamati Bara.


"Sepertinya gitu," jawab Bara.


"Oh. Kalau aku tiup gimana? "


"Boleh."


Mulan membungkuk dengan ragu. Tapi ini harus. "Permisi, ya. Aku mau tiup mata kamu."


Mulan akhirnya meminta izin terlebih dulu. Lebih dulu ia membingkai wajah Bara dengan dua tangannya sebelum kemudian meniupnya penuh perasaan.


"Bagaimana? Sudah hilang?" tanya wanita itu memastikan.


Bara membuka matanya sambil berkedip-kedip beberapa kali. "Sepertinya masih ada," jawaban sedikit ragu.


"Benarkah? Biar aku tiup lagi ya." Mulan memberi usulan. Kali ini wanita itu langsung menarik wajah Bara lalu mendekatkan wajahnya pula ke sana. Wanita itu kembali meniup mata Bara yang sengaja ia buka kelopaknya. Ia meniupnya berkali-kali, lalu seketika berhenti saat menyadari sesuatu.

__ADS_1


Mulan terpaku saat matanya bersirobok dengan mata tegas milik Bara dengan jarak teramat dekat. Benarkah pria itu kelilipan? Atau hanya pura-pura saja? Tapi kenapa tatapan Bara terhadapnya kali ini terasa berbeda. Sangat teduh tapi seperti berkabut. Dan senyum itu. Benarkah Bara sedang menatapnya sembari tersenyum?


__ADS_2