
Mulan mengetuk-ngetukan ujung hells-nya pada lantai marmer yang ia injak. Bukan karena bosan menunggu, tetapi ia merasa tidak tenang dengan kondisi Bara di dalam sana. Sebenarnya hanya pasir pantai, tapi kenapa dirinya bisa merasa secemas ini? Apa karena putranya lah penyebab Bara begini?
Ya, karena rasa bersalah tadi Mulan sampai rela menunggu Bara mandi di depan pintu. Andai saja hubungan mereka terjadi lantaran cinta, mungkin ia sudah masuk ke dalam untuk membantu. Mulan seperti tidak sabar. Padahal baru sepuluh menit Bara di dalam, tetapi ia sudah kelimpungan.
Setelah terkena pasir oleh Rayyan tadi Bara sengaja berenang untuk membersihkan badan. Pria itu lantas memasuki resort yang sudah disewa hanya menggunakan handuk kimono warna putih untuk menutupi badannya sementara.
Resort bintang 5 ini memberi pemandangan pantai langsung dari kolam renang maupun restoran.
Mulan bisa mendengarkan suara deburan ombak dan merasakan angin sepoi dari pantai. Bahkan, pemandangan itu juga bisa dilihat dari balik jendela kamar yang ia tempati saat ini. Benar-benar sangat romantis jika dijadikan destinasi wisata bersama pasangan.
Sesaat kemudian Mulan dibuat berjingkat oleh suara yang terdengar dari arah dalam. Sepertinya Bara memutar tuas pintu.
"Mulan? Kau masih di sana?"
__ADS_1
Benar, kan? Dia memanggil nama istrinya itu.
"Iya. Saya masih di sini!" jawab Mulan. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Ya. Saya melupakan handuk saat masuk tadi."
Itu benar. Mulan melihat handuk Bara di atas ranjang. Maka dari itu ia berada di sana sekarang, tentunya untuk siaga memberikan handuknya saat Bara membutuhkannya nanti.
"Ini Tuan. Handuknya ada pada saya." Mulan sedikit berteriak.
Mulan menatap tangan kokoh itu, lalu kemudian ia bergegas menyodorkan handuk itu ke arah sana. Namun, karena rasa malu lantaran membayangkan Bara di dalam sana yang kemungkinan tanpa berpakaian, ia pun melakukan itu sembari memalingkan wajah.
"Ini, Tuan," ujar Mulan.
__ADS_1
Bara tak menjawab. Namun, sentuhan pada tangannya membuat wanita itu membelalak. Awalnya terasa lembut, tetapi lama-kelamaan semakin menguat seperti sebuah genggaman. Mulan yang panik akhirnya menoleh untuk memastikan.
"Tuan maaf. Tapi Anda salah pegang!" Mulan spontan membungkam mulutnya setelah berucap. Sial. Ia keceplosan. Tapi ia perlu mengatakan itu untuk menghindari kesalahpahaman. Wanita itu membelalak sambil menatap tangannya yang dipegangi Bara. Sudah berusaha menarik tetapi pria itu tak melepaskannya.
Pintu kemudian terbuka agak lebar, lalu wajah basah Bara muncul dari sana dengan posisi miring. Jika memang benar-benar malu seharusnya Mulan memalingkan wajah, bukan? Atau paling tidak menutup matanya dengan cepat.
Namun, yang terjadi apa? Ia justru terpaku sambil menatap mata tegas itu tanpa berkedip. Bisa-bisanya ia terpesona. Bahkan dalam keadaan basah seperti itu, Bara tetap mengagumkan di matanya.
"Maaf." Suara Bara akhirnya memulihkan wanita itu dari kelana angan. Mulan buru-buru menarik tangannya ketika Bara sudah menyentuh handuk itu.
Mulan berdeham kecil untuk menutupi kikuk. "Saya tunggu di tempat makan bersama Rayyan. Baju Anda sudah saya siapkan di atas ranjang."
"Oke." Bara membalas santai.
__ADS_1
Meski tak menatap wajah Bara secara langsung, Mulan tetap menganggukkan kepalanya pelan, seolah-olah berpamitan sebelum pergi. Namun, wanita itu tak tahu jika ada yang sedang senyum-senyum sendiri di belakang pintu.