
Hari ini Mulan seperti melihat pribadi lain dari diri Bara. Pria itu tak seperti biasanya. Sikapnya sangat hangat dan tatapannya begitu teduh menenangkan.
Apa karena itu Rayyan jadi manja kepada Bara? Bocah itu selalu menempel dan berusaha mencari perhatian jika sedikit saja Bara berpaling darinya. Entah itu menerima telepon atau sekadar ngobrol ringan dengan asistennya. Bahkan saat makan pun selalu maunya disuapi meski dia sudah pintar makan sendiri.
"Rayyan, makan sendiri ya Sayang. Rayyan kan udah besar, udah bisa makan sendiri. Gimana kalau Rayyan Mama aja yang suapi?" tegurnya pelan sekaligus menawarkan opsi lain. Bagaimanapun juga Mulan perlu menjaga perasaan Rayyan ketika dirinya memberi pengertian. Itu penting agar anaknya itu mau mengerti dan bukan malah kesal. Apalagi jika memperingatkan dengan bentakan, tidak menutup kemungkinan bocah itu akan marah atau justru kena mental.
"Nggak mau, Mama. Rayyan maunya disuapin Papa." Alih-alih mengiyakan, Rayyan justru menjawab tak mau tau. Bocah itu justru semakin ngelunjak lantaran Bara malah membelanya.
"Turuti saja apa keinginan anak kita. Toh dia hanya minta kusuapi, kan?"
Mulan mendesah pelan. Ia semakin tak enak hati pada Bara meski pria itu terlihat enjoy-enjoy saja. Bara justru benar-benar mencurahkan seluruh perhatian hanya pada Rayyan. Ia dengan telaten menyuapi Rayyan.
Rayyan yang biasanya mandiri kini tiba-tiba jadi manja, tetapi anehnya hanya pada Bara. Mendadak jadi usil. Tidak mau duduk diam di kursi. Malahan sambil memainkan mobil-mobilan remote yang belum lama Bara belikan. Alhasil, pria itu sesuap pun belum mengisi perutnya hingga sekarang.
"Kalau memang mengkhawatirkan aku, kenapa tidak aku saja yang kau suapi? Adil, kan? Rayyan kenyang, aku juga kenyang. Kau juga tak perlu capek-capek mengomeli Rayyan karena menggangu waktu makanku." Bara berucap dengan senyuman miring di bibirnya. Sedikit berbisik, sehingga hanya Mulan saja yang bisa mendengarnya. Rayyan sedang asyik dengan mainannya sembari mengunyah makanan yang disuapkan Bara, sementara yang lain juga sibuk makan sembari mengobrol dengan teman di sampingnya.
Mulan tersenyum kecut sambil mengangguk kikuk. Jujur, ia sama sekali tak terpikirkan akan hal itu. Menyuapi Bara? Ia kalau pria itu mau. Bagaimana bila dia menolak? Mending kalau caranya halus. Kalau dengan cara kasar semisal ditepis? Bukankah ia sendiri yang akan malu?
"Kau mau makan apa?" Akhirnya Mulan menyerah dan menyetujui usulan Bara. Ia berdiri lalu bersiap mengambil nasi.
"Apa aja." Bara menjawab pelan. Pria itu tersenyum pada Rayyan lalu menyuapi lagi bocah itu.
Mulan memperhatikan sebentar seluruh makanan yang ada di sana. Semuanya hanya makanan laut. Tidak ada salmon, apalagi daging. Namun, tatapannya tertuju pada kepiting saus barbeque berukuran jumbo yang belum tersentuh. Ia menatap Bara lalu kemudian menanyakannya.
"Mau kepiting tidak?"
"Boleh." Bara menjawab tanpa menunggu lama.
"Hanya kepiting? Atau mau apa lagi?"
"Kepiting saja. Sudah lama aku tidak memakannya."
"Oke."
Tindakan Bara itu sungguh memberi kemudahan pada Mulan. Ia tak perlu pusing memikirkan apa kesukaan Bara. Jika pria itu mengiyakan, itu tandanya suka, kan?
__ADS_1
Mulan menarik piring tempat kepiting untuk ia dekatkan dengan piring nasi Bara. Alma yang melihat itu dengan cekatan menawarkan diri memberinya bantuan.
"Perlu saya bantu, Nyonya?"
Bukan tanpa alasan Alma menawarkan bantuan seperti itu. Ia melihat Mulan mengambil kepiting berukuran besar dengan cangkang tebal yang sulit dibuka jika bukan oleh ahlinya. Alma khawatir jika Mulan gagal membuka dan malah bertarung dengan kepiting matang yang kini melotot ke arahnya. Sangat tidak elegan, bukan?
Alma mengira Mulan lah yang ingin memakannya, bukanlah Bara. Sehingga ia merasa bertanggung jawab atas semua yang dilakukan nyonyanya. Ia akan merasa bersalah jika tidak mampu melayani wanita itu dengan baik.
"Terima kasih, Alma. Aku bisa melakukannya sendiri." Mulan menolak halus sambil tersenyum. Ia sedikit mendekati Alma lalu berbisik pelan kepadanya. "Bukan aku yang mau makan, tetapi Tuan."
"Oh." Alma pun tersenyum. Ia kemudian mengangguk tanda paham. Tak banyak bicara lagi, gadis itu akhirnya melanjutkan acara makannya yang sempat terjeda.
Mulan mengambil sebuah gunting yang memang disediakan di sana. Pertama-tama ia memotong kaki kepiting berjenis raja Alaska yang terkenal enak dan mahal itu, lalu kemudian menggunting cangkangnya posisi memanjang untuk mendapatkan dagingnya yang tebal.
Berhasil. Daging yang penuh mampu ia keluarkan dari cangkang itu untuk ia taruh pada piring nasi Bara.
Bara memang terlihat tak peduli pada apa yang Mulan lakukan. Namun, nyatanya diam-diam pria itu memperhatikan cara istrinya menaklukkan kepiting itu, dan hasilnya ia terkesima. Mulan ternyata lebih pandai dari apa yang ia pikirkan.
"Tuan," panggil Mulan pada Bara. Pria itu menoleh. Pemandangan Mulan yang tengah tersenyum sembari mengacungkan daging kepiting yang menancap pada ujung garpu langsung menyapa indera penglihatan.
"Bagaimana? Enak?" Mulan meminta pendapat sembari menusuk lagi daging kepiting lain ke garpunya.
"Enak," jawab Bara. "Tapi menurut saya makan kepiting itu lebih nikmat jika dari tangan langsung. Bukan memakai garpu."
Mulan mengerutkan keningnya tanda tak yakin. Apa mungkin maksud Bara menginginkan ia menyuap langsung dengan tangannya? Tanpa perantara sendok?
Sebenarnya Mulan ingin bertanya memastikan, tetapi Bara sudah lebih dulu mengalihkan perhatian sebab saat itu Rayyan memanggilnya untuk meminta makan.
Mulan menghela napas. Sepertinya ia memang harus menyuapi suaminya dengan tangannya langsung. Awalnya memang ragu, tetapi respon Bara yang tak keberatan membuatnya yakin jika langkah yang ia ambil adalah benar.
Diam-diam Mulan memperhatikan Bara dengan seksama. Kenapa pria itu terlihat sangat menikmati suapan tangannya? Pria itu juga sama sekali tidak risih, seolah-olah sudah terbiasa makan dari suapan tangan seseorang. Apa mungkin sampai dewasa ini Bara masih saja makan minta disuapi oleh mamanya? Atau mungkin mantan istrinya?
"Kenapa hanya aku yang makan? Kau juga harus makan, Mulan." Kalimat perintah itu terlontar sopan dari Bibir Bara. Wajah Mulan menunjuk rona saat sejejak perhatian itu ia dapatkan dari suaminya.
"Saya juga pasti makan, kok," jawabnya meyakinkan.
__ADS_1
Namun, itu ternyata hanya omong doang sebab Mulan tak kunjung menyuapkan apa-apa ke mulutnya. Sehingga membuat Bara yang diam-diam memperhatikan langsung ambil tindakan lantaran tak sabaran.
Ia mengambil sepotong daging kepiting dari piring, lalu menyodorkan itu ke arah mulut Mulan sehingga membuat wanita yang sempat melamun itu langsung membeliak sambil menatapnya bingung.
"Cobalah. Ini rasanya sangat enak," kata Bara.
Mulan tak langsung mengikuti perintah Bara. Wanita itu justru tertawa ringan sembari mengatakan, "Saya tau, Tuan. Ini sangat enak. Tapi kepiting ini untuk Anda saja ya."
Mulan bukannya tidak mau. Ia hanya merasa segan saja pada Bara.
"Buka mulutmu," titah Bara lagi.
Mau tak mau, Mulan akhirnya membuka mulut. Tangan Bara langsung bergerak menyuapinya. Sambil tersipu wanita itu mengunyahnya.
"Terima kasih," ucap Mulan.
Bara hanya mengangguk. Ia kembali memperhatikan Rayyan yang sepertinya sudah kenyang. Anak itu kini menolak saat dirinya hendak menyuapi.
"Sudah, Pa. Rayyan kenyang."
"Oke. Kalau gitu habis ini Rayyan pergi ke kamar bersama Mbak Nana. Cuci tangan, cuci kaki, ganti baju, habis itu ... bobo," ujar Bara menasihati sambil mengangkat Rayyan untuk ditempatkan di pangkuannya. Penuh kasih sayang, sehingga membuat Mulan yang diam-diam memperhatikannya jadi terharu oleh sikap Bara.
Mulan tak mau akting Bara itu membuatnya bawa perasaan. Ia memilih acuh sambil menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri dan menikmati dalam diam.
"Papa, Rayyan boleh minta lagi satu hal pada Papa?" Tiba-tiba bocah itu mengajukan pertanyaan.
"Tentu saja boleh, Sayang. Apa itu?" Bara menyambutnya dengan antusias.
"Malam ini Rayyan ingin tidur bersama Papa dan Mama. Boleh kan?"
"Uhuk!"
Bara dan Rayyan langsung menoleh ke arah Mulan lalu mengernyit bersamaan. Wanita itu tersedak makanan yang dikunyahnya. Bara yang panik langsung bergerak sigap mengambil segelas air putih untuk ia sodorkan pada istrinya. Dengan wajah cemas ia pun bertanya.
"Kau baik-baik saja?"
__ADS_1