Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Kau mau apa?


__ADS_3

Berbeda dengan Alma yang langsung menunduk hormat, Mulan justru mendengkus lirih melihat siapa yang datang. Ia hanya melirik pria itu sebentar lalu kembali menatap jendela dengan wajah ketusnya.


Sebenarnya kekesalan Mulan pada Bara sudah mencapai ubun-ubun. Namun, wanita itu berusaha menahan diri sebentar untuk melihat bagaimana sikap Bara terhadapnya. Ia bahkan hanya bisa diam saat Alma mohon pamit undur diri setelah mendapatkan isyarat dari Bara yang berjalan memasuki kamar.


Hening menjerat kamar itu untuk beberapa saat. Bara dengan tatapan dinginnya masih mengamati Mulan yang duduk sambil merengut. Tak jauh dari tempat istrinya, Bara melihat sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauk yang masih utuh belum disentuh. Ia langsung bisa membaca situasi sebelum kepulangannya hari ini.


Kaki panjang Bara kemudian melangkah pelan mendekati sofa. Ia meraih piring itu, lalu duduk di samping kaki istrinya yang selonjoran di atas sofa.


"Makan," titah Bara sambil menyodorkan sesendok makanan ke bibir Mulan.


"Tidak mau." Alih-alih menyantapnya, Mulan justru membuang muka dan menutup rapat mulutnya untuk menunjukkan penolakan.


"Makan!" tegas Bara yang sepertinya mulai marah.


"Tidak mau!" balas Mulan tak kalah sinisnya.


Terjadi perang pandang untuk sejenak sebelum akhirnya Bara menaruh kembali piring itu ke atas meja dengan kasar, lalu memutuskan bangkit untuk pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


"Sialan," dengkus Mulan penuh kebencian. Ia terpaksa menunda kemarahannya hingga Bara keluar dari sana.


Setelah beberapa menit ditunggu, akhirnya Bara keluar dari sana dengan balutan handuk kimono warna putih menutupi tubuh berototnya. Rambut setengah basah serta harum aroma sabun yang menguar kian menguatkan sisi sensual seorang Bara.


Dari tempatnya duduk, Mulan hanya melirik sebentar lalu menelan ludahnya dengan kasar. Ia mulai mengatur napasnya. Menyiapkan diri untuk melancarkan serangan pada pria itu. Ia tak akan tinggal diam kali ini. Ia hanya perlu menunggu Bara berpakaian lalu memulai penyerangan.


Namun, hingga beberapa saat Mulan menunggu, Bara tak kunjung menukar kimono itu dengan pakaiannya. Pria itu justru duduk santai sambil memainkan ponsel. Pria itu terlihat asyik sendiri seolah-olah tidak ada orang lain di kamar itu selain dirinya.


Mulan yang merasa tak tahan lagi akhirnya bangkit dengan geram. Ia mendekat ke arah Bara lalu bertanya dengan penuh emosi.


"Di mana kau sembunyikan Rayyan!"


"Heh! Apa kau sudah tuli! Atau telingamu hilang entah ke mana! Aku tanya di mana Rayyanku kau sembunyikan! Kenapa kau hanya diam!" geram Mulan berusaha sabar. Setidaknya itu hanya kasar dari segi kata-kata. Ia masih menahan diri untuk tidak bersikap bar-bar seperti keinginannya.


"Bukankah sudah kukatakan, aku tidak menyembunyikan Rayyan."


Mulan mendengkus melihat sikap tenang Bara. Bisa-bisanya pria itu menampakkan diri tanpa dosa setelah beberapa hari ini membuatnya tidak tenang.

__ADS_1


"Lalu Rayyan di mana jika tidak ada padamu! Di mana!" desak Mulan lagi, tetapi kali ini dengan nada bergetar seperti menahan tangis.


Dan kali ini Bara bukan hanya diam tak menjawab, tetapi pria itu justru beranjak hendak pergi meninggalkan Mulan.


"Hey!" Mulan yang sudah membaca gerak-gerik Bara, bergerak cepat menahan suaminya. Ia mengulurkan tangan secepat kilat untuk meraih lengan pria itu.


Namun, yang terjadi justru di luar dugaan Mulan. Tangannya justru meraih handuk kimono Bara hingga nyaris terlepas dari tubuh suaminya. Mulan yang panik oleh tatapan tajam Bara langsung melepaskan apa yang dipegang, tetapi sialnya ia harus berakhir terjerembab ke atas sofa dengan posisi terduduk sebab tubuhnya hilang keseimbangan.


Tubuh Mulan mematung dengan jantung bertalu-talu. Lebih-lebih lagi saat Bara mencondongkan tubuh ke arahnya dengan kedua tangan bertumpu pada sofa. Pria itu mengikis jarak di antara mereka dan mengurung Mulan dengan kedua tangan kokohnya.


"Ka–kau mau apa?" tanya Mulan terbata. Wanita itu gugup seketika. Ia ingin bergerak mundur, tetapi sandaran sofa memblokir ruang pergerakannya.


Dengan jarak yang hanya beberapa sentimeter saja, wajah tampan Bara bahkan terlihat semakin jelas di mata Mulan. Mulan nyaris tak bisa menguasai diri. Napasnya terasa sesak. Tubuhnya gemetaran. Lidahnya mendadak kelu. Kata-kata kasar yang sudah dipersiapkan beberapa hari ini untuk memaki Bara mendadak hilang tanpa jejak. Lenyap entah ke mana. Otaknya mendadak tumpul.


Mulan gagal menguasai situasi. Sehingga ia hanya bisa membuang muka demi menghindari tatapan tajam Bara yang sudah seperti pedang, menghunus tepat di jantungnya.


"Kenapa diam? Ayo, hajar aku."

__ADS_1


Mungkin Mulan bisa sedikit lebih tenang andai Bara mengatakan itu dengan nada tinggi dan penuh kemarahan sekalian. Namun, apa kabar dengan deguban jantungnya jika Bara justru membisikkan itu tepat di telinganya dengan nada yang sensual?


__ADS_2