
"Bu Mulan. Anda baik-baik saja?" Cyndi bertanya cemas pada Mulan. Wajahnya terlihat panik. Ia memang bergegas masuk ke ruangan sang atasan setelah melihat Alexa keluar dalam keadaan kacau.
Terang saja ia cemas. Melihat kondisi Alexa seperti itu membuat beragam prasangka tentang keduanya muncul di benak gadis itu. Mungkinkah sempat terjadi keributan hingga membuat keduanya baku hantam? Jika memang demikian, maka bisa dipastikan Mulan lah yang mengalami luka lebih parah.
Cyndi benar-benar merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia membiarkan Mulan menemui wanita itu sendirian. Seharusnya ia tetap berada di sisi Mulan, mendampingi wanita itu dan memberikan perlindungan.
Cyndi tahu, Mulan adalah wanita sangat lemah dan mudah ditindas. Jika kondisi Alexa saja seperti itu, lantas bagaimana dengan Mulan? Cyndi bahkan tak mampu membayangkan seperti apa keadaan wanita itu tadi. Namun, fakta yang tersaji di depannya justru membuat Cyndi membelalak.
Ternyata Mulan baik-baik saja. Wanita itu sedang duduk di kursi kebesarannya sambil mempelajari berkas yang ia letakkan sejak tadi. Melihat kedatangannya, Mulan langsung mengangkat pandangan dan bertanya dengan santainya.
"Cyndi? Ada apa?"
"Ibu tidak apa-apa? Lalu Alexa tadi–" Cyndi menggantung ucapannya sambil menunjuk bingung ke arah pintu.
Awalnya Mulan memasang tampang tak mengerti. Namun, sesaat kemudian, ia tersenyum tipis seolah-olah memahami.
__ADS_1
"Owh, Alexa tadi? Dia kelihatannya kenapa?" ujarnya bertanya seolah-olah ingin menguji pendapat Cyndi.
"Penampilannya sangat kacau. Berbanding terbalik dengan pada saat datang tadi. Wajahnya juga memar. Memangnya apa yang sudah terjadi, Bu? Ada dia sudah berbuat nekat? Apa dia melukai Ibu?" Cyndi memberondong Mulan dengan beberapa pertanyaan sekaligus. Sejujurnya gadis itu merasa cemas, tetapi melihat keadaan Mulan itu ia malah jadi bingung. Walaupun tidak bisa dipungkiri dirinya sangat merasa lega.
"Kau lihat sendiri bagaimana keadaanku, bukan?" tanya Mulan sambil menunjukkan dirinya dengan sikap santai. "Aku baik-baik saja, Cyndi. Lihatlah."
"Lalu Alexa tadi?"
"Aku yang melakukannya," tegas Mulan memotong perkataan Cyndi. Kontan saja pengakuannya itu membuat Cyndi terperanyak. Namun, Mulan hanya tersenyum tipis melihat reaksi Cyndi, lalu menyandarkan punggungnya dengan pelan. "Kau tahu Cyndi. Sebenarnya aku tidak ingin bersikap kasar. Tapi Alexa sendiri yang memancingku melakukan itu. Apa menurutmu aku keterlaluan?"
Mulan tertawa kecil mendengar celoteh Cyndi. "Seharusnya aku mematahkan tangannya begitu?"
Cyndi mengangguk sambil tertawa.
"Itu hampir kulakukan, Cyndi. Tapi kuurungkan lantaran nggak tega."
__ADS_1
"Yah, sayang sekali, Bu. Kenapa tidak tega?" celetuk Cyndi menyesalkan. "Menghadapi wanita seperti dia seharusnya tidak perlu pakai hati dan perasaan. Harus ditega-tegain."
Mulan menghela napas. "Aku masih menganggapnya sepupuku, Cyndi. Aku nggak bisa setega itu. Dan lagi pula, kami juga tak seimbang."
"Oh ya?" Mata Cyndi melebar.
"Ya. Adegan tadi menurutku tidak seru. Ternyata Alexa tidak sehebat yang kupikirkan. Dia itu payah. Baru diplintir sedikit saja dia sudah tak bisa berkutik dan menangis. Lucunya lagi, aku nyaris terperdaya oleh tipu muslihatnya. Beruntung tadi aku masih bersikap waspada sehingga bisa menangkis serangannya. Jika tidak, mungkin wajahku sudah jadi sasaran empuk cutter tajamnya."
"Hah?" Cyndi terperangah. Cutter? Niat sekali Alexa itu.
"Sudahlah. Memikirkan Alexa membuatku naik darah saja. Lebih baik kita memikirkan meeting penting hari ini. Bagaimana dengan persiapan kita, Cyndi? Apa kau melakukan semuanya dengan baik?" tanya Mulan mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja, Bu Mulan. Saya sudah menyiapkan presentasi kita." Cyndi menjawab penuh percaya diri. Ia lantas menyerahkan berkas penting yang dibawanya sejak tadi ke depan Mulan.
Mulan menerimanya, membuka berkas itu lalu kemudian tersenyum puas. "Terima kasih, Cyndi. Kau melakukan tugasmu dengan baik."
__ADS_1