
Dini hari itu juga mereka kembali ke ibu kota. Tiga jam perjalanan yang harus ditempuh. Sepertinya tidak terlalu buru-buru jika perjalanan dilakukan sepagi itu. Kemungkinan terjebak macet juga bisa dihindarkan.
Tak butuh perintah lagi, Bara bahkan berinisiatif menggendong Rayyan tanpa berniat mengusiknya. Bocah itu tetap anteng dalam gendongan Bara selama berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan Hendrik. Bara menempatkan Rayyan di jok belakang dengan berbantal pangkuan Mulan.
"Tidurlah jika kau masih mengantuk," titah Bara pada Mulan yang terlihat masih lesu. Ia bahkan tak memberi kesempatan pada wanita itu untuk membasuh wajah.
"Memangnya siapa yang mengantuk?" ketus Mulan sambil menatap luar melalui kaca jendela. Namun, ternyata wanita itu pada akhirnya benar-benar tidur juga.
Bara yang duduk di samping Hendrik sebagai pengemudi hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
"Mulan. Bangun."
Lagi, Mulan merasakan tepukan pelan di pipi, tetapi kali ini ditambah sentuhan lembut sebuah ibu jari. Ia membuka mata, dan kembali mendapati wajah tampan penuh pesona tengah itu tersenyum lembut ke arahnya.
Manis sekali. Apa ini mimpi?
Tidak. Ini nyata. Bara benar-benar tersenyum lembut ke arahnya. Mudah sekali mood pria ini berubah-ubah? Kadang manis dan seringkali dingin. Apa perlakuan manisnya kali ini karena ...?
Rayyan? Di mana dia?
Panik, pandangan Mulan mencari sosok Rayyan yang sudah lagi tak berada di pangkuan. Ternyata anak itu sudah berada di gendongan pengasuhnya.
Bukan hanya sampai di situ saja perlakuan manis Bara terhadap Mulan. Pria itu membantu Mulan yang masih mengantuk untuk turun dari mobil. Tangannya juga dengan cekatan melindungi kepala Mulan agar tidak terbentur oleh bingkai pintu mobil.
Sayangnya Mulan yang masih berusaha mengumpulkan nyawa tak menyadari perhatian kecil itu. Ia justru berlalu begitu saja untuk pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Bagaimana pun juga ia memiliki tanggung jawab menyiapkan makanan lezat untuk anak dan suaminya. Menu sarapan yang simpel tetapi tetap enak selalu menjadi pilihannya.
__ADS_1
Bara menyantap hidangan sarapannya agak terburu-buru pagi itu. Ia harus secepatnya sampai di kantor untuk pekerjaannya seperti biasa. Sementara Mulan tampak begitu santai menyuapi Rayyan. Satu porsi omelet keju dan sayur nyaris tandas masuk ke perut kecil bocah itu. Rayyan susah sekali makan nasi, maka dari itu Mulan mencampurkan beberapa macam sayuran yang diiris tipis untuk mencukupi kebutuhan gizi putranya.
"Rayyan, Papa kerja dulu, ya. Ingat kata Papa. Rayyan yang pintar, nggak cengeng, dan nurut apa kata Mama."
Selayaknya papa kandung yang sangat sayang pada putranya, Bara berpamitan pada Rayyan sembari mencium kening bocah pintar itu.
"Oke, Pa. Papa hati-hati di jalan ya. Janji, lain kali bawa Rayyan sama Mama jalan-jalan lagi?" ujar bocah itu seperti menuntut.
"Oke. Siapa takut. Tos dulu dong." Bara mengangkat tangannya, dan langsung disambut tepukan oleh Rayyan.
Mulan yang bisa membaca bahasa isyarat Bara langsung beranjak mengantar pria itu sampai di teras depan.
"Rayyan lanjut makan dulu, ya. Mama mau antar Papa ke depan sebentar," pamit Mulan.
"Oke, Ma." Suara kecil itu membalasnya.
Meski sedikit grogi oleh tatapan Bara yang dalam, tetapi Mulan masih bisa berkonsentrasi untuk menyerahkan koper berisi berkas penting milik Bara.
"Hati-hati, Tuan," ujar Mulan pelan.
Bara tak langsung menjawab ataupun pergi berlalu begitu saja. Pria itu masih pada posisinya seperti ingin mengatakan sesuatu pada istrinya.
Mulan sepertinya menyadari itu. Ia menatap Bara lekat sembari mengangkat alisnya sebagai ganti kata tanya.
"Apa rencanamu hari ini?" tanya pria itu kemudian.
__ADS_1
Mulan berpikir sejenak sebelum kemudian menggeleng pelan. "Tidak ada. Memangnya kenapa?" dustanya. Padahal Mulan berharap sekali Bara cepat berangkat dan dirinya bisa ke kantor setelah itu. Tidak lama, kok. Hanya ketika meeting penting itu dilaksanakan, dan setelahnya ia akan pulang untuk bermain lagi dengan Rayyan.
"Pastikan Rayyan sudah sampai di rumah Mama sebelum pukul sepuluh pagi. Hari ini Rayyan ada les bahasa Inggris."
"Hah?" Mulan ternganga tak menyangka. "Memangnya Rayyan harus dikembalikan hari ini juga? Kami baru sehari semalam bersama, Tuan ... memangnya tidak bisakah besok pagi saja Rayyan dikembalikan?" rengeknya tidak rela.
"Nggak bisa," tegas Bara cepat. "Kegiatan Rayyan itu sangat padat. Karena kepindahan kalian ke kota ini ia jadi ketinggalan pelajaran di sekolah. Mama sedang mencarikan sekolah yang cocok untuk Rayyan. Yang berkualitas dan aman untuk dia. Tadinya kami ingin memberikan pendidikan pada Rayyan melalui home schooling saja. Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya sekolah umum lebih cocok untuk Rayyan. Dia perlu belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar."
"Kenapa harus pusing-pusing mencari sekolah baru yang bergengsi untuk Rayyan?" sahut Mulan sambil menyipitkan mata. "Kenapa tidak sekolah umum yang biasa saja. Rayyan itu anaknya sangat cerdas. Di mana pun sekolahnya, Rayyan pasti bisa menyerap ilmu pengetahuan yang diberikan gurunya dengan baik. Lagipula, di rumah juga dia masih ada les bahasa asing dan lain-lain, bukan? Maaf, bukannya saya tidak bisa menghargai usaha Anda. Tapi terus terang, saya tidak suka dengan cara Tuan mendidik Rayyan."
"Tidak suka? Bisa dijelaskan alasannya karena apa?" tanya Bara datar dengan mata sedikit memicing. Dengan sikap tenang ia memindahkan koper dari tangan kanan ke tangan kiri, lalu menelusupkan jemari tangan kanan itu ke dalam saku celana.
Demi apa pun, tatapan lekat pria itu mampu membuat jantung Mulan bertalu-talu. Namun, wanita itu berusaha bersikap tenang dan tak ingin terkalahkan jika itu menyangkut putranya.
"Rayyan itu masih kecil, tetapi Anda sudah mendidiknya dengan keras!" tegas Mulan tanpa berkedip saat menatap Bara. "Di usia Rayyan yang masih belia, seharusnya dia bisa menikmati masa kanak-kanak dengan bahagia dan bermain bersama teman sebayanya. Tapi melihat kasus Rayyan sekarang, kenapa saya jadi berpikir jika anak saya jadi korban eksploitasi Anda ya?"
"Eksploitasi?" Bara mengulang kata itu dengan ekspresi tak mengerti. Jelas Bara tak mengerti, sebab sepanjang yang ia tahu, Rayyan begitu menikmati setiap momen belajarnya. Anak itu juga terlihat enjoy dan bahagia. Lantas letak eksploitasinya di mana? "Eksploitasi macam apa yang kamu maksud? Apa memberikan pendidikan yang terbaik pada anak, itu disebut eksploitasi?"
"Iya." Mulan menyahuti tegas. "Tuan tau kan, arti dari eksploitasi itu apa? Eksploitasi pada anak adalah perbuatan yang memanfaatkan anak sesuai kehendak untuk kepentingan dirinya sendiri. Bisa dilakukan oleh keluarga atau orang lain. Ada unsur pemaksaan di sini. Dan jelas, perbuatan tersebut mengganggu tumbuh kembang fisik dan mental anak itu sendiri. Tidaklah Anda sadari, karena hal ini Rayyan jadi kehilangan hak-haknya sebagai anak kecil. Dia tidak bisa bermain dengan teman sebayanya karena yang kalian tuntut hanya belajar, belajar, dan belajar!"
"Tunggu dulu." Bara menyela. Namun, kali ini ekspresinya terlihat beda. Ada gurat tak terima di wajah tegasnya.
"Apa!" balas Mulan seperti menantang.
"Oke, jika kamu melarang Rayyan melakukan apa yang dia suka. Tapi ingat satu hal." Bara mengacungkan telunjuknya. "Rayyan itu laki-laki. Dia pasti akan menjadi pemimpin di masa depan. Bukan hanya pemimpin keluarga karena setiap manusia memiliki peluang untuk memimpin negara. Jangan menyesal jika Rayyan kelak memiliki mental lemah dan mudah ditindas seperti ibunya karena sekarang kau membatasi ruang belajarnya!"
__ADS_1
Dagu Mulan merosot tanpa sadar. Kenapa Bara membandingkan Rayyan dengan dirinya? Belum sempat ia membalas, tetapi pria itu sudah lebih dulu meninggalkannya.
Kesal, akhirnya Mulan mengumpat meski Bara tak mempedulikan. "Heh Tuan! Memangnya siapa yang mudah ditindas? Kelak akan saya tunjukkan jika saya tidak mudah ditindas!"