
"Pa, jangan terlalu maju ya. Di depan itu kayaknya ada musuh deh," ujar Rayyan memperingatkan, tetapi pandangannya fokus pada layar ponsel serta ibu jari yang bergerak lincah di sana.
Bara yang tak mengerti maksud Rayyan justru melirik sekilas pada sang anak tiri. Entah apa yang ia tekan pada layar ponselnya tanpa sengaja, tiba-tiba Rayyan memekik lebih nyaring.
"Pa, mundur Pa! Jangan maju! Pa-pa!! Yah. Yah. Yah, mati kan ...!" Suara Rayyan terdengar melemah.
"Hah? Mati?" Bara yang baru sadar akhirnya gagal menyembunyikan kepanikan. Rupanya Rayyan mengeluhkan game yang saat itu tengah mereka mainkan. Hal itu ia sadari usai Rayyan memutuskan menaruh ponselnya dengan putus asa.
Ah, ia jadi tak enak hati melihat anak itu meliriknya sambil memanyunkan bibir. Hanya saja Bara sedikit bingung, memang salahnya apa sampai-sampai Rayyan begitu kesal terhadapnya?
"Papa gimana sih? Bukannya tadi udah Rayyan ajarin gimana cara mainnya? Kenapa bisa mati, coba! Papa pasti sengaja, kan! Iya, kan?" tuduh anak itu meluapkan kekesalan.
"Sengaja gimana, Sayang? Nggak ada unsur kesengajaan di sini. Beneran," jelas Bara tanpa sedikit pun kebohongan. Ia menatap sang putra intens demi untuk meyakinkan.
Sayangnya, tak semudah itu membujuk buah hati istri keduanya. Rayyan masih menatapnya dengan kesal tanpa melontarkan sepatah kata. Alhasil, Bara harus meningkatkan kesabaran ekstra demi bisa membujuk putra tirinya. Didekatinya bocah itu lalu ia elus pundaknya dengan lembut.
"Ya maaf, Sayang. Namanya juga makhluk hidup, suatu saat pasti mati, kan? Mati itu hal yang wajar." Bara malah menjawab asal yang seketika langsung disambar oleh bocah SD itu.
"Tapi ini permainan, Pa-pa! Bukan makhluk hidup!"
"Oh iya, Papa hampir lupa, hehe."
"Ih, nggak lucu." Rayyan langsung bangkit meninggalkan Bara yang tengah pasang senyum konyol. Sepertinya pria itu sengaja bertingkah bodoh demi ingin merebut hati putranya. Tapi sayang itu tidak mempan.
"Rayyan mau ke mana, Sayang?" Bara bertanya memastikan. Kali ini ia menunjukkan kepanikan. Atau mungkin tepatnya pura-pura panik saja. Sepertinya Rayyan benar-benar kesal hingga ia perlu berupaya menghentikannya.
Namun, ternyata ia salah sangka. Rupanya Rayyan tak semarah itu terhadapnya. Bocah itu berhenti sejenak lalu menoleh kepadanya.
"Mau pipis, Pa. Rayyan kebelet."
"Owh." Bara mengangguk paham. "Perlu Papa antar?" tawarnya.
Rayyan hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Oke. Hati-hati ya." Ia menatap punggung Rayyan yang bergerak menjauh hingga menghilang di balik pintu, lalu kemudian mengalihkan perhatian kepada Mulan yang sejak tadi memperhatikan dirinya dengan Rayyan dalam diam.
__ADS_1
Awalnya Bara ingin bertanya kenapa Mulan sama sekali tak berniat menengahi atau membujuk Rayyan lantaran wanita itu hanya duduk santai sembari memainkan ponselnya. Namun, saat melihat wanita itu seketika mengalihkan pandangan darinya ke arah lain, seketika itu pula Bara mengerutkan kening. Ia seperti menyadari suatu hal.
Sepertinya ada sesuatu yang janggal.
Mulan tampak menutup mulutnya dengan telapak tangan sementara bahunya ikut berguncang. Menyadari Bara masih memperhatikannya, ia justru bangkit dan pura-pura menyibukkan diri dengan barang-barang di atas nakas.
Benarkah dia tengah menahan tawa? Apa benar aku yang sedang ditertawainya?
Dan seketika itu juga, tatapan Bara berubah menjadi tatapan penuh ancaman.
"Berani-beraninya kau menertawakanku, hey."
Mulan berjingkat saat merasakan sentuhan hangat dari arah belakang. Ternyata itu berasal dari lengan kokoh seseorang yang dengan tak tahu malunya melingkar sempurna di perutnya. Memangnya siapa yang berani selancang itu kepadanya?
Mau mengelak tapi hanya ada mereka berdua di kamar itu. Namun, jika meyakini instingnya sebagai manusia, bukankah ini terlalu percaya diri?
Tak sabar ingin memastikan, ia buru-buru menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya Mulan saat mendapati wajah penuh pesona milik Bara begitu dekat dengan wajahnya. Sampai-sampai tanpa sadar ia mendelik dan refleks menjauh demi menciptakan jarak di antara mereka.
"Tuan! Apa yang Anda lakukan?" Mulan memekik tertahan karena saking paniknya. Bukan karena merasa tak suka diperlakukan demikian oleh Bara. Namun, ia khawatir jika tiba-tiba Rayyan muncul lagi di tengah-tengah mereka. Ini berbahaya. Adegan seperti ini tak seharusnya dilihat oleh anak kecil seperti dia.
"Berani sekali kau menertawakanku seperti itu. Kau pikir aku tidak tau? Dan kau tahu apa yang resikonya? Kau harus dapat hukuman atas itu."
"Hukuman apa?" Mulan tak bisa menutupi kebingungannya. Bukan hanya panik dan bingung, tetapi ia juga jadi salah tingkah. "Tidak, Tuan ... Anda salah paham."
Meski merasa ngeri dan terancam, tetapi Mulan berusaha mengelak. Ah, tapi sialnya Bara bisa membaca gerak-geriknya yang berupaya melepaskan diri. Pria itu tak tinggal diam begitu saja. Bara justru mengeratkan pelukannya.
"Tuan ... jangan begitu ...." Mulan merengek, yang tanpa ia sadari justru semakin memantik hasrat seorang Bara.
"Semakin kau ingin melepaskan diri, maka semakin kuat pula aku menahanmu."
Oh Tuhan, ingin rasanya Mulan berteriak. Ia memang mendambakan ini, tapi tidak secepat ini juga kali. Ia bahkan berpikir masih butuh banyak perjuangan untuk mendapatkan perhatian Bara. Namun, lihatlah sekarang. Semudah itukah hati Bara ia taklukkan?
"Kenapa diam? Apa yang sedang kau pikirkan?"
Bukannya menjawab, Mulan justru tertegun untuk beberapa saat ketika hidung Bara menyusuri pipi kirinya. Gerakan pria itu sangat lembut hingga menimbulkan denyar aneh yang membuat Mulan tak bisa berkutik. Pikirannya berteriak menolak, tetapi anehnya tubuh Mulan justru terkesan menyerah dan pasrah. Ada sesuatu aneh yang terasa seperti menahan hingga membuatnya betah berlama-lama diperlakukan demikian.
__ADS_1
Meski dibuat terlena oleh Bara tetapi rupanya Mulan masih bisa mengontrol emosi dan nafsunya. Wanita itu ingat putranya masih berada di ruang yang sama. Bisa saja sewaktu-waktu Rayyan muncul dan memergoki adegan tak senonoh orang tuanya.
"Tuan ... tolong lepaskan sa–"
"Aku mencintaimu."
Dunia seperti berhenti berputar bagi Mulan. Bukan karena kiamat, melainkan ungkapan cinta seorang Bara. Satu kalimat Bara itu sukses membuatnya porak poranda hingga tak bisa berkata-kata.
Melihat istrinya membeku dengan mulut sedikit ternganga, senyuman manis di bibir Bara akhirnya terkembang dengan indah. Ia tak jauh beda dengan Mulan. Jantungnya berdetak kencang, hanya saja Bara lebih lihai menguasai keadaan, tidak seperti Mulan yang kentara sekali merasa tegang.
"Aku mencintaimu, istriku ...." Bara mengatakan itu lagi. Namun, kali ini terdengar penuh perasaan.
Ia tak peduli akan reaksi Mulan bagaimana. Ia tak mau tahu Mulan merasakan yang sama atau tidak. Yang jelas Bara merasa lega bisa mengatakan itu pada istrinya. Bahkan tak ragu lagi untuk memutar tubuh Mulan dan pada akhirnya menerkam bibir istrinya itu setelah mereka berhadapan.
Awalnya, ada sedikit penolakan dari bahasa tubuh yang Mulan perlihatkan. Namun, Bara tak peduli dan terus mencumbu wanita itu. Hingga pada akhirnya ketegangan Mulan pun melemah dan dirasakan oleh Bara sentuhan lembut jemari wanita itu pada area tubuhnya. Itu artinya Mulan juga ikut menikmati cumbuannya.
"Emmhh ....
Bara melepaskan pagutannya saat mendengar Mulan tersengal. Sepertinya wanita itu kehabisan pasokan udara di dalam paru-parunya. Bara hanya tersenyum melihat wanita itu salah tingkah, bahkan wajah Mulan juga kini tampak memerah. Diusapnya dengan lembut bibir ranum istrinya yang basah menggunakan ibu jari.
"Tuan ... bukannya saya mau menolak, hanya saja waktunya tidak tepat." Mulan dengan hati-hati mengingatkan. "Ada Rayyan di antara kita, jangan sampai dia–"
"Aku tahu," potong Bara penuh pengertian, tetapi juga tegas mengucapkan. Pria itu berucap pelan, tanpa berkedip dan tetap menampilkan senyuman. "Kamu nggak perlu khawatir untuk itu. "Aku tahu kapan harus mendekat dan kapan harus menjauh dari kamu."
Saat itulah pintu toilet terbuka dan Rayyan keluar dari sana. Mulan nyaris frustasi, tetapi rupanya Bara memenuhi semua perkataannya. Pria itu menjauhi Mulan dengan langkah tenang seolah-olah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Ia mendekati Rayyan dan menyongsong anak itu penuh rasa sayang.
"Udah selesai pipisnya? Mau mabar lagi sama Papa?" tawarnya yang seketika dibalas antusias oleh Rayyan.
❣️❣️❣️
Hai guys, maaf karena aku sering Hiatus, tapi aku janji setelah ini bakal konsisten dan tamatkan novel ini.
Makasih karena kalian udah setia baca dan nunggu update nya.
Yuk, dukung aku dengan kasih like, komentar yang membangun dan juga hadiah jika memang cerita ini layak.
__ADS_1
Jangan lupa juga baca novel aku yang baru yang judulnya PESONA GADIS BURUK RUPA
kita jumpa di sana juga ya. Terima kasih