
"Bara, Mulan! Kalian serasi sekali. Selamat untuk pernikahan kalian, ya. Semoga langgeng, sakinah mawadah warohmah, dan cepat-cepat dapat momongan biar Nyonya Ester nggak kesepian."
"Terima kasih, Tante." Hanya itu balasan yang bisa Bara lontarkan pada seorang wanita yang ia tahu adalah teman sosialita mamanya. Di saat dirinya tengah berjalan bersama Mulan, ada saja orang yang menyempatkan diri menyapa serta memberikan doa tulus mereka.
Lantas, ia bisa apa? Berbaur dengan banyak orang sambil memamerkan kemesraan palsu benar-benar membuatnya merasa muak. Ia ingin pesta ini segera berakhir dan semua kembali seperti semula. Ia benci keramaian. Ia lebih suka menyendiri dan menyibukkan diri dengan pekerjaan. Dengan begitu otaknya tidak akan terkontaminasi dengan pikiran buruk serta hal-hal menyebalkan yang menyangkut wanita. Ia bahkan tak tahu akan menjadikan Mulan seperti apa setelah kini jadi istrinya.
Sampai di sebuah sofa, Bara membantu Mulan duduk di sana sebab kebaya yang dikenakan wanita itu juga perlu ditata lantaran bagian belakang yang panjang. Mulan yang merasa tersentuh oleh sikap manis Bara, menatap wajah pria yang sama sekali tak menatapnya itu sembari berucap tulus.
"Terima kasih."
Alih-alih mengatakan sama-sama atau sekadar menyunggingkan senyuman tipis saja, Bara justru bertanya sambil menautkan alis tebalnya. "Terima kasih untuk?"
"Pembelaan Anda di depan Reno tadi," jawab Mulan jujur. "Berkat kedatangan Anda, saya merasa terselamatkan dari rasa malu."
"Terselamatkan?" Menelaah maksud ungkapan Mulan sebentar, Bara kemudian tertawa sumbang. Pria itu hendak mengatakan sesuatu pada Mulan. Namun, mengingat keadaan sekitar yang masih sangat ramai dan bukan tidak mungkin dirinya masih menjadi pusat perhatian, Bara memutuskan mendekatkan wajahnya ke telinga Mulan lalu kemudian berbisik di sana.
"Sepertinya kau sudah salah menafsirkan sikap baikku tadi. Biar kujelaskan sedikit saja Nyonya Mulan. Aku berbuat seperti itu tadi bukan semata-mata untuk menyelamatkanmu dari rasa malu, melainkan untuk menjaga reputasiku. Pernahkah kau memikirkan bagaimana pandangan orang jika sampai melihatmu sedang berduaan dengan pria lain di hari pernikahan kita?"
Mulan tercekat mendengar penuturan panjang lebar Bara. Wanita itu sontak menatap penuh amarah ke arah wajah Bara, tetapi pria itu justru hanya tersenyum dengan santainya.
Mungkin di mata orang lain, adegan yang dilakukan sepasang suami istri itu terlihat sangat romantis. Wajah mereka saling berdekatan, sementara sepasang mata mereka sangat intens saling pandang. Terlebih lagi Bara menatap Mulan dengan penuh puja dan cinta.
"Lalu menurut Anda," balas Mulan tak kalah sinis. "Apa bedanya dengan seorang pria yang tiba-tiba pergi begitu saja dengan seorang wanita? Di hari pernikahannya! Meninggalkan istrinya sendirian di pelaminan. Menurut Anda, mana yang lebih parah?"
__ADS_1
Sejenak Bara terdiam. Pria itu mengerutkan keningnya heran. Bagaimana Mulan bisa tahu dirinya tadi meninggalkan ballroom hotel itu sebentar bersama Aylen?
"Kenapa diam? Anda terkejut?" sindir Mulan penuh kemenangan. Namun, sepertinya Mulan tak bisa berlama-lama berbangga diri, sebab rupanya Bara bisa mengatasi itu dengan sangat mudah.
"Ya. Aku sangat terkejut. Ternyata wanita yang sudah sah menjadi istriku ini memiliki hobi menjadi mata-mata dan gemar mencampuri urusan orang lain. Kau lupa, dirimu berada di bawah kekuasaan siapa? Tidak ingat, putramu sedang ada di mana?"
Mulan menelan ludah dengan kasar. Rupanya pria di depannya ini bukan hanya dingin dan pandai menekan mental seseorang, tetapi juga tak mudah dikalahkan di setiap perdebatan.
Melihat Mulan hanya diam dengan mata berkaca-kaca, Bara lantas melanjutkan intimidasinya diiringi senyuman. "Bersikap baiklah terhadapku jika masih menginginkan putramu kembali dengan utuh. Kau mengerti?"
Mulan tak menjawab dengan kata. Hanya rahang wanita itu yang terlihat mengetat dengan bola mata yang berkilat penuh Amarah.
Namun, Bara sepertinya tak mau ambil pusing. Ia justru menyapukan pandangannya ke setiap inci wajah Mulan, membelai pipi wanita itu dengan lembut, lalu mengarahkan satu kecupan hangat di pipi kiri Mulan yang masih mematung.
***
Acara akad nikah yang dilanjutkan dengan resepsi itu akhirnya usai. Bara memutuskan membawa pulang istrinya sebab enggan menginap di kamar hotel yang sudah disediakan.
Ester, Damar dan beberapa kerabat dekat mengantar sepasang suami istri itu sampai ke lobi. Tak lupa Ester memberikan selamat pada keduanya lalu memeluk mereka penuh sayang secara bergantian.
Mulan yang tak ingin menganggap pernikahan hanya sebuah permainan saja, menyambut hangat pelukan Ester itu selayaknya pada ibu kandungnya. Terlepas dari baik atau buruknya perilaku keluarga barunya itu terhadap dia selanjutnya, yang namanya pernikahan tetaplah pernikahan.
Meski belum mengenal satu sama lainnya, tetapi Mulan bisa melihat ketulusan di mata Ester, begitu pula dengan Damar. Bagaimanapun juga ia sudah tidak lagi memiliki orang tua. Hanya ada paman bibi serta sepupu parasit yang selama ini menikmati harta kekayaan orang tuanya. Sehingga ia merasa perlu berbakti pada mertuanya sebagai bentuk bakti pula pada almarhum orang tuanya.
__ADS_1
Saat berpamitan dengan Bima dan Meylisa, mau tak mau Mulan harus pura-pura bersikap ramah. Menunjukkan keharmonisan keluarga pada mertuanya itu penting, sebab itu bisa berpengaruh terhadap pandangan mereka pada kepribadian Mulan sendiri. Ia hanya memiliki sedikit kerabat. Lantas apa jadinya jika antara sedikit kerabat itu dirinya tidak mampu menjaga hubungan dengan baik?
Tiba gilirannya Mulan berpamitan pada Alexa, Mulan hanya pasrah saat gadis itu memeluknya. Namun, di balik sikap cerianya lajang berusia 26 tahun dengan rambut dicat warna coklat itu, ternyata Alexa memiliki sebuah rencana untuk menjatuhkan mental Mulan. Wanita itu lantas berbisik pelan di telinga sepupunya.
"Jaga suamimu dengan benar jika tidak ingin direbut orang."
"Maksudnya?" Mulan bertanya bingung. Namun, buru-buru Alexa menjelaskan tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
"Aku tahu kalian menikah bukan atas dasar cinta. Sepertinya masih ada celah untuk gadis sepertiku mendapatkan suami seorang Bara."
Seketika tangan Mulan terkepal kuat. Setelah berhasil merusak rumah tangganya dengan Reno tujuh tahun silam, bagaimana mungkin Alexa ingin mengulangi lagi kejahatan yang sama! Jika dulu dirinya begitu lemah dan mudah pasrah, maka akan berbeda dengan sekarang. Ia bukan lagi Mulan yang dulu. Jikapun kelak dirinya harus berpisah dengan Bara, maka ia pastikan pemicunya bukanlah berasal dari wanita ****** bernama Alexa.
Melirik Alexa dengan seringai di bibirnya, Mulan pun berucap santai dengan nada menantang. "Lakukan saja kalau kau memang bisa."
Alexa menggemertakkan giginya. Ia membiarkan Mulan mengurai pelukan lalu menjauh dari dirinya. Entah mengapa, keberanian dan sikap menantang yang Mulan tunjukkan itu membuat dirinya meradang. Ia tak bisa terima begitu saja.
Melihat Bara berpamitan pada semua, Alexa seperti mendapatkan angin segar. Jika Mulan tak bisa dijatuhkan oleh sebuah ancaman, kenapa dia tidak langsung eksekusi saja?
Alexa tak ingin membuang kesempatan yang ada. Saat posisi Bara berada tak jauh dari dirinya, Alexa menirukan adegan drama romantis yang pernah ia tonton yaitu pura-pura hendak terjatuh di depan Bara.
Terang saja, Bara yang cekatan langsung menahan tubuh Alexa dengan sigap. Adegan berpelukan diiringi tatapan mata pun tak terelakkan.
Melihat Mulan ternganga sambil mematung di tempatnya, Alexa diam-diam tersenyum puas lantaran merasa berhasil membakar amarah sepupunya.
__ADS_1