
Mulan membuka mata saat diyakininya pagi hari sudah tiba. Sebuah lengan yang melingkar di perutnya membuat wanita itu tersadar jika dirinya masih berada di bawah kungkungan Bara Aditama. Pria itu masih terpejam dengan wajah menyuruk di tengkuk Mulan. Mulan bahkan bisa merasakan embusan napas pria itu dan mendengarkan jelas suara dengkuran halus Bara.
Mulan mengangkat hati-hati lengan Bara untuk ia pindahkan dari perutnya. Ia harus bergegas bangun dan beraktivitas seperti biasanya. Namun, rupanya pergerakan kecil wanita itu sukses mengusik Bara dari tidurnya. Pria itu melenguh pelan sembari mengeratkan pelukannya.
"Sayang lepas ...," lirih Mulan usai mengembuskan napas pelan. Padahal ia sudah berusaha sepelan mungkin tapi ternyata masih bisa dirasakan oleh suaminya.
"Mau ke mana sih?" Suara Bara terdengar serak. Ia berbicara tanpa membuka mata. Pria itu justru makin menempelkan wajahnya pada tengkuk Mulan seolah sedang mencari tempat nyaman.
"Ini udah pagi, Sayang. Aku harus masak dan siap-siap seperti biasa."
"Emang jam berapa?"
"Jam lima," jawab Mulan membuat Bara menautkan alisnya meski matanya tetap terpejam.
"Baru jam lima, Sayang. Itu masih kepagian. Ngapain masih repot-repot masak kalau udah ada koki yang aku bayar. Bobo lagi bentar yuk .... Aku masih pengen tidur peluk kamu."
Mulan hanya bisa menghela napas sabar menghadapi tingkah manja Bara akhir-akhir ini. Semenjak kejadian malam pertama mereka, Bara berubah menjadi sosok yang berbeda. Pria itu seperti tak bisa jauh dari dirinya. Bahkan tak lagi peduli pada hal lain seolah-olah dunianya hanyalah Mulan saja.
Mulan benar-benar tak habis pikir. Benarkah Bara secinta itu pada dirinya? Ataukah Bara hanya menggilainya sesaat saja sebab sedang merasakan manisnya madu pernikahan.
__ADS_1
Entahlah. Mulan tak ingin berpikir terlalu jauh. Ia memang merasa sangat bahagia. Namun, di samping itu terselip juga sedikit kekhawatiran. Lebih tepatnya kekhawatiran sebagai seorang istri terhadap suami yang menjadi incaran banyak wanita.
Tapi sepertinya kekhawatiran Mulan itu tidak beralasan. Bukan hanya sebulan dua bulan ia hidup bersama Bara. Dan selama itu ia sudah memahami bagaimana watak dan kepribadian suaminya. Pria itu memang setia dan tidak gampang tergoda pada wanita. Jadi apa yang mesti ia takutkan? Sudah banyak bukti yang membuat Mulan yakin akan hal ini.
Membuang jauh-jauh pikiran buruknya, Mulan kembali mendengarkan dengkuran halus Bara. Wanita itu berpikir mungkin inilah kesempatannya untuk bangun. Setelah melirik sebentar ia memutuskan mengangkat lengan berotot itu agar bisa menciptakan jarak dari tubuh polos yang memeluknya dengan posesif.
Asal tau saja, Bara memang tak mengenakan apa-apa lagi usai percintaan mereka malam tadi, sementara Mulan mengenakan kembali pakaian tidurnya demi bisa tidur dengan nyenyak. Maklum, Bara benar-benar tak bisa menahan diri setiap melihatnya tampil dalam keadaan polosan.
Ah, sialnya kembali terjadi hal yang sama. Bara lagi-lagi terusik dan membawa Mulan kembali ke pelukan.
"Jangan coba-coba kabur, Sayang." Kali ini suara Bara terdengar tegas. Mulan hanya bisa memutar bola matanya.
Bara sontak melonggarkan pelukannya lantaran mendengar perkataan istrinya. Pria itu membiarkan Mulan beranjak.
"Jangan lama-lama. Janji balik ke sini lagi."
"Iya, iya."
Mulan bohong dengan janjinya untuk tidak lama-lama. Pasalnya wanita itu memutuskan mandi sekaligus keramas. Ia sudah terbiasa melakukan itu sehingga merasa ada yang kurang jika hanya mencuci wajahnya saja. Terlebih lagi tak ada suara Bara yang memanggil atau mendesak membuat Mulan merasa yakin jika pria itu kembali terlelap.
__ADS_1
"Sayang? Kamu nggak tidak lagi?" Mulan sedikit kaget melihat Bara yang menatapnya dengan posisi tidur terlentang. Ia sendiri baru keluar kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk kimono saja.
Alih-alih menjawab, Bara justru mengisyaratkan dengan tangan agar istrinya itu berjalan mendekat.
"Kok udah keramas aja sih? Padahal jatah hari ini masih kurang satu ronde."
"Heh!" Mulan mendelik pada Bara yang saat ini merengek sambil merangkul perutnya.
"Lagi yuk. Junior bangun nih."
"Aku udah keramas, Sayang. Kamu tega suruh aku keramas dua kali?"
"Kan pakai air anget, Sayang. Nanti kita keramasnya barengan biar kamu gak kedinginan."
Bara tertawa melihat Mulan tersenyum masam.
"Yuk Sayang. Kali ini aku janji nggak akan lama, deh. Aku bakal keluarin cepet-cepet setelah bawa kamu ke puncak kenik–"
"Ish apaan sih, ahh ...." Mulan yang ingin menegur Bara justru berakhir melenguh saat pria itu melakukan sesuatu kepadanya. Sial. Pria itu tahu persis di mana letak titik sensitif Mulan. Dan sekarang ranjang itu kembali berderit oleh dua orang yang sedang memburu kenikmatan.
__ADS_1