
"Rayyan, Oma ada sesuatu buat Rayyan."
"Apa itu Oma?"
Ester menekuk lutut hingga tingginya sejajar dengan Rayyan yang berdiri. Ia tersenyum lembut pada Rayyan yang antusias, kemudian menunjukkan sesuatu yang sejak tadi ia bawa.
"Alat lukis baru!" ucapnya antusias, yang seketika membuat wajah Rayyan berbinar senang.
"Yeyy! Itu beneran buat Rayyan, Oma?"
"Tentu. Bukankah Rayyan suka menggambar?"
"Iyah. Rayyan suka."
"Kalau begitu, Rayyan bisa melukis sekarang. Oma dan Mama akan mengobrol sebentar. Jangan lupa tunjukkan hasil lukisan terbaik Rayyan pada Oma dan Mama. Oke, Boy."
"Oke."
Ester mengangkat tangan kanannya, sementara Rayyan langsung menepuknya, tos. Seorang wanita berseragam warna putih seperti baby sitter dengan cepat dan tanggap mengambil alih alat lukis Rayyan dan membimbing anak itu untuk dibawa entah ke mana. Mungkin sengaja memberi ruang dan waktu pada Mulan dan Ester untuk bicara berdua saja.
"Dia adalah Nana. Governess yang sengaja aku pekerjakan untuk mengasuh Rayyan." Seolah-olah tahu apa yang dipikirkan Mulan, Ester berinisiatif menjelaskan.
Mulan yang semula hanya terpaku melihat pemandangan di depannya, kini beralih menatap Ester. Agak kikuk. Jujur, ia tak menyangka jika wanita itu begitu antusias merawat Rayyan. Sampai-sampai rela merogoh kocek dalam hanya untuk membayar governess, pengasuh berpengalaman anak usia 5-14 tahun seperti Rayyan.
Ester sendiri hanya menanggapinya dengan datar sambil menatap punggung mungil Rayyan yang kemudian menghilang di balik pintu. Selanjutnya ia berjalan menuju sofa, duduk dengan tenang di sana, lalu kemudian memberi titah pada menantunya.
"Duduklah."
Mulan mengangguk patuh. Ia berjalan menghampiri sofa lalu duduk dengan hati-hati di sana.
Sesaat suasana terasa hening dan agak canggung. Di mana dua wanita yang berstatus mertua dan menantu duduk berseberangan dan belum memulai pembicaraan.
"Apa kabar, Mulan?" Suara Ester seperti jarum runcing yang memecah gelembung kesunyian. Mulan yang menunduk, seketika terhenyak. Lalu kemudian menjawab pelan.
"Baik, Nyonya."
"Sepertinya kau terlihat kurus. Apa kau tidak makan dengan baik selama di sini? Apa masakan chief di rumah ini tidak sesuai dengan lidahmu? Kau bisa meminta mereka memasak sesuatu jika memang makanan yang mereka olah tidak membuatmu berselera. Atau aku perlu mengganti chief yang ada dengan chief yang baru?"
"Tidak, Nyonya. Bukan begitu," sanggah Mulan tak enak hati.
"Lalu?"
"Saya hanya orang miskin yang hanya mengenal tahu dan tempe sebagai makanan sehari-hari. Mungkin karena lidah saya saja yang belum terbiasa dengan makanan mahal di rumah ini, jadinya saya kurus begini."
"Benarkah?" tanya Ester menyangsikan sambil menyipitkan mata. "Bukan karena putraku yang tidak memberimu makan dengan baik?"
"Bukan." Mulan tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Baguslah. Lama-lama kau akan terbiasa dengan ini semua."
Mulan mengangguk dengan sisa senyum di bibirnya. Baru mengobrol semenit saja ia sudah bisa melihat ketulusan Ester. Melihat pula bagaimana putranya diperlukan sangat baik oleh wanita itu. Bukan dari cara bicaranya yang ramah meski datar, tetapi tatapan mata teduh yang berusaha ditutupi itu. Seketika itu pula muncullah rasa haru bercampur trenyuh yang membuatnya jadi tersentuh.
"Nyonya, terima kasih sudah mengembalikan Rayyan pada saya," ucapnya kemudian dengan nada dan tatapan mata yang tulus.
Namun, alih-alih jawaban memuaskan yang Mulan dapat, Ester justru meralat ucapan Mulan dengan nada menjengkelkan.
"Mengembalikan?" Ester menyipitkan mata kala melontarkan satu kata itu yang terang saja membuat kening Mulan berkerut bingung. Masih dengan nada datarnya, Ester kemudian melanjutkan lagi. "Sepertinya kau salah memahami kedatanganku, Mulan."
"Maksud Nyonya?" Mulan akhirnya menuntut penjelasan. Aura kemarahan langsung menguar dari wajahnya.
"Aku memang membawa Rayyan kemari untuk bertemu denganmu. Tapi, hanya sekadar mengobati rindu, bukan berarti membiarkan Rayyan tinggal di sini bersamamu."
"Nyonya!" Tanpa sadar Mulan menaikkan intonasi suaranya. Wanita itu mengepalkan tangan dan nyaris berdiri andai tak bisa menahan diri. "Nyonya sadar dengan apa yang Nyonya katakan?"
"Tentu saja. Justru karena aku sangat sadar, makanya aku berpikir harus kembali membawa Rayyan bersamaku untuk beberapa waktu," jawab Ester tegas.
Mulan menggemertakkan giginya, lalu menggeleng tak habis pikir. Bagaimana bisa ia bertemu dengan keluarga gila ini. Keluarga yang gemar menindas orang. Bahkan kesalahan kecil Rayyan harus ditebus dengan perpisahan dirinya dan sang putra sampai batas waktu yang tidak jelas. Bagaimana mungkin dirinya bisa terima!
"Saya tak menyangka wanita kaya dan berkelas seperti Anda ternyata sangat jahat dan tak punya hati. Anda seorang ibu, bukan! Tentunya sangat paham perasaan saya! Bagaimana bisa Anda memisahkan seorang anak dari ibunya sendiri. Apa Anda ini tidak waras!"
Hilang sudah sikap sopan yang sejak tadi Mulan tampilkan. Rasa hormatnya pada wanita yang telah menjadi mertua itu juga sirna begitu saja. Sepertinya Mulan perlu menarik kembali pandangan positif tentang wanita itu beberapa menit lalu.
Di saat Mulan meluapkan emosinya yang membuncah, Ester justru tertawa ringan dan menanggapi kemarahan Mulan dengan santai. Wanita itu tetap terlihat berwibawa di usianya yang tidak lagi muda.
Mulan terperanyak mendengar satu kalimat itu.
"Kenapa diam?" tanya Ester sinis. "Yang kukatakan itu benar, bukan? Kau merencanakan sesuatu rahasia di belakang putraku. Kau berencana membawa kabur setelah Rayyan kembali bersamamu. Benar, kan?"
Tudingan Ester membuat Mulan merasa tertampar. Bagaimana wanita itu tahu rencananya?
"Kukatakan sekali lagi, Mulan," ujar Ester mengingatkan. "Kau sudah masuk kemari oleh karena campur tanganku. Maka, tanpa kebaikanku juga kau tidak akan bisa keluar masuk dengan gampang lagi di rumah ini."
"Anda benar-benar jahat." Mulan menggeram penuh penekanan. "Anda ingin memaksa anak saya?"
"Tidak." Ester menjawab yakin. "Aku akan mengajaknya dengan nada yang biasa, seperti umumnya nenek pada cucunya. Kalau kau ingin mencoba membujuk Rayyan, silahkan. Aku tidak akan memaksa Rayyan jika anak itu sudah mengambil keputusan."
Mulan seperti mendapatkan angin segar mendengar penuturan Ester. Mata bening itu seketika menunjukkan binar. Ia akan memanfaatkan kali ini untuk mendapatkan hati Rayyan juga membawa bocah itu kembali kepadanya.
Ester bisa menangkap binar bahagia menantunya itu. Ia buru-buru member peringatan sebelum Mulan berbangga hati dan salah memilih cara untuk membujuk putranya kembali.
"Ingat, Mulan. Jangan pernah menggunakan kekerasan. Jangan memaksa Rayyan jika bocah itu tidak berkenan. Dia anak laki-laki. Dia perlu dididik keras agar kuat. Beri dia kepercayaan untuk mempertanggung jawabkan keputusan yang diambilnya.
Tenggorokan Mulan seperti tercekat. Ternyata wanita itu bukan hanya semata-mata ingin menguasai Rayyan, tetapi juga memikirkan kesehatan psikologi sang putra. Andai saja kata-kata wanita itu bisa dipercaya ....
Obrolan panas itu akhirnya terjeda saat Rayyan muncul sambil membawa hasil lukisannya.
__ADS_1
"Oma, Mama! Lihatlah lukisan Rayyan." Bocah itu berlari kecil sambil membawa kertas kanvas di tangannya. Mulan dan Ester serempak menoleh ke Rayyan dan tersenyum bersamaan saat bocah itu menunjukkan hasil lukisannya dengan bangga.
"Lukisan yang indah," puji Ester pada Rayyan sambil memperhatikan gambar sawah itu. Memang tidak terlihat sempurna seperti hasil coretan pelukis ternama, tetapi itu sudah terlihat sangat bagus di tangan anak berusia tujuh tahun seperti Rayyan.
"Terima kasih, Oma," balas Rayyan antusias.
"Kemari, Sayang. Duduk di pangkuan Mama." Mulan merentangkan tangannya, berharap Rayyan menyambut lalu mengikuti perintahnya.
Rayyan tersenyum manis lalu dengan patuh duduk di pangkuan sang Mama. Wanita itu mendekapnya penuh cinta dan menciumi puncak kepala Rayyan dengan penuh sayang.
"Mama sangat merindukan Rayyan. Mama ingin melewati hari-hari bersama Rayyan lagi," ujar Mulan yang mulai melancarkan jurus bujukannya.
"Rayyan juga rindu Mama. Tapi untuk sementara ini belum bisa."
"Kenapa, Sayang?" Mulan bertanya tak percaya.
"Karena Rayyan anak laki-laki, Mama. Rayyan harus belajar tangguh untuk mempersiapkan masa depan. Biar Rayyan keren seperti Papa."
Di saat Mulan terhenyak, Ester justru tersenyum bangga. Ia tidak salah memilih cucu ternyata. Rayyan anak yang baik, cerdas, tidak rewel dan mudah diatur. Sangat cocok dijadikan penerus keluarga mereka.
"Mama ...." Rayyan membingkai wajah Mulan dengan kedua tangannya ketika melihat kesedihan di wajah cantik itu. "Mama jangan sedih. Rayyan janji, setiap hari Rayyan akan datang berkunjung kemari."
Mulan tersenyum, menggenggam tangan mungil putranya lalu menghadiahi kecupan lembut yang agak lama di sana.
"Mama nggak sedih, Sayang. Mama cuma kagum sama Rayyan. Rayyan jauh lebih dewasa, sekarang."
"Itu semua berkat Oma." Rayyan menunjuk Ester, tetapi itu seperti menusuk hati Mulan. Ia merasa iri karena sang putra lebih dekat dengan wanita asing yang sama sekali tak memiliki ikatan darah. Ia takut. Sangat takut. Bagaimana jika Ester meracuni pikiran Rayyan hingga melupakan dirinya ibu kandung Rayyan.
Namun, jika dirinya tetap bersikap egois dan memaksa Rayyan bukan tidak mungkin akan membuat Rayyan benci dan mengubah keputusan dengan terpaksa. Bukankah tadi Rayyan mengatakan ini hanya sementara? Ya, dia yakin Rayyan akan menepati janjinya. Mulan sangat percaya pada putranya.
"Peluk Mama, lalu masuk ke mobil bersama Mbak Nana, ya," titah Ester dengan nada lembutnya, seolah-olah tak ingin membiarkan Rayyan berlama-lama bersama dengan Mulan.
"Oke, Oma. Mama ...." Rayyan melingkarkan tangan mungilnya ke leher Mulan lalu memeluk wanita itu dengan erat. Mulan yang tak ingin melewatkan kesempatan itu membalas pelukan Rayyan tak kalah hangat. Bahkan tak kunjung melepaskannya hingga beberapa lama.
"Sudah, Mama. Napas Rayyan sesak." Bocah itu mengeluh, yang seketika membuat Mulan panik hingga buru-buru mengurai pelukan.
Rayyan tersenyum lembut lalu mengusap wajah basah sang Mama. "I love you, Ma."
"Love you too," balas Mulan sambil menahan tangis.
Sangat berat bagi Mulan melepaskan Rayyan. Membiarkan putranya itu bergerak menjauh di bawah bimbingan Nana. Namun, ia tak kuasa untuk melawan keinginan mertuanya. Mungkin ia perlu sedikit berkorban demi kebaikan Rayyan.
"Mulan, kita sama-sama wanita. Kita sama-sama ibu dari seorang putra," kata Ester setelah Rayyan menghilang dari pandangan. "Aku sangat mengerti perasaanmu karena aku juga menginginkan yang terbaik untuk putraku."
Mulan hanya diam dengan kening berkerut sebab tak mengerti dengan maksud perkataan Ester. Lebih-lebih lagi dengan kalimat terakhir yang Ester utarakan sebelum meninggalkan dirinya.
"Perlakuan putraku dengan baik jika kau ingin aku memperlakukan putramu dengan baik. Pertukaran yang adil, bukan?"
__ADS_1