Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Pandai menjaga rahasia


__ADS_3

Kelopak mata yang semula tertutup rapat itu kini perlahan mulai terbuka. Rayyan menggeliat, lalu menatap langit-langit kamar yang masih asing di matanya.


"Hallo Boy?"


Bocah itu berjingkat mendengar suara seorang wanita. Kemudian bangkit dan duduk dengan tegak.


Boy? Siapa yang dia panggil? batinnya sambil menatap seorang wanita paruh baya yang duduk di tepian ranjang. Wanita itu menatap dirinya sambil tersenyum, mungkinkah memang dirinya yang dia panggil boy itu?


"Nenek siapa? Namaku Rayyan, bukan Boy," ucapnya polos dengan nada tak terima.


Melihat tingkah menggemaskan Rayyan membuat Ester jadi tertawa. Wanita itu buru-buru meralat panggilannya demi menghindari kemarahan Rayyan.


"Hai Rayyan. Apa tidurmu nyaman? Kenalkan, aku Oma Ester," ucapnya sambil mengulurkan tangan demi mendapat salim Rayyan. Bocah itu menatap tangannya sebentar, lalu menyambutnya dengan sedikit keraguan.


"Oma? Apa itu berarti kau adalah mamanya papaku?" tanya Rayyan sambil menyipitkan mata. Sedangkan Ester langsung menjawabnya dengan nada antusias.


"Seratus persen betul!"


"Lalu papaku di mana?" tanya bocah itu lagi penuh rasa ingin tahu. Matanya kemudian celingukan mengamati kamar berukuran lima kali lebih besar dari kamarnya di kontrakan itu seperti sedang mencari seseorang.


"Papamu sedang bekerja, Sayang. Tapi nanti dia akan pulang untuk menemui Rayyan lagi."


"Benarkah?"


"Tentu saja."


"Kapan dia pulang? Jam berapa?" desaknya tak sabaran.


"Tidak tentu, Sayang. Dia pasti akan pulang setelah urusannya selesai," balas Ester meyakinkan. Alih-alih merasa senang, wajah Rayyan justru mendadak muram.


"Yah ... padahal Rayyan belum puas bertemu Papa. Rayyan masih rindu Papa, Oma," rengeknya penuh kesedihan.


Ester yang melihat mimik Rayyan itu buru-buru merangkulnya dengan sayang untuk menenangkan. "Rayyan yang sabar, ya. Nanti Papa pasti pulang. Oh iya, apa Rayyan lapar?"

__ADS_1


Bocah itu berpikir sejenak lalu mengangguk pelan.


"Oke. Yuk kita turun. Di lantai bawah, Bibi sudah menyiapkan banyak makanan untuk Rayyan. Rayyan boleh makan sepuasnya," ujar Ester bersemangat, sedangkan Rayyan langsung menanggapinya dengan antusias.


"Benarkah?"


"Tentu."


"Terima kasih, Oma."


"Anak ganteng." Ester mengusap puncak kepala Rayyan dengan gemas. Selanjutnya, ia membimbing Rayyan untuk diajak ke meja makan.


Bocah berseragam sekolah dasar itu menatap takjub pada kemewahan rumah Ester. Seumur hidupnya ini adalah kali pertama dirinya memasuki rumah semegah ini. Beberapa kali ia berhenti demi menyentuh dan meraba sesuatu yang menarik di matanya.


"Rayyan suka?" tanya Ester yang sejak tadi memperhatikan. Wanita itu berjongkok demi mensejajarkan tinggi mereka lalu menatap Rayyan sambil tersenyum.


"Suka, Oma. Rumah Oma sangat bagus juga besar. Apa Oma tau? Kontrakan tempat tinggal Rayyan selama ini sangat kecil. Sempit. Malah kalau hujan deras kadang-kadang bocor. Rayyan kasihan sama Mama. Pulang kerja harus manjat-manjat tangga buat naik ke atap benerin genteng," keluh bocah polos itu dengan wajah sedihnya.


"Kasihan," ucap Ester prihatin sambil mengusap-usap bahu Rayyan. "Memang papa Rayyan ke mana sampai-sampai Mama yang harus turun tangan buat benerin genteng segala?"


"Ah iya benar. Oma sampai lupa." Tawa Ester meledak saat sadar jika yang dimaksud papa oleh Rayyan adalah Bara, putranya sendiri. Entah bagaimana ceritanya sampai-sampai Rayyan menganggap Bara adalah papanya.


Namun, yang jelas hal ini tak boleh disia-siakan begitu saja. Ia memerintahkan seseorang untuk mencari informasi tentang Rayyan dan keluarganya. Ester sudah jatuh cinta kepada Rayyan. Bagaimanapun caranya, ia harus mendapatkan Rayyan.


"Rayyan juga baru pertama kali ini ketemu Papa, Oma. Bahkan Mama belum tau hal ini," ujar bocah itu lagi.


"Kalau nanti Mama tau bagimana? Apa Mama akan marah-marah dan memaksa Rayyan untuk pulang?" tanya Ester setengah menyelidik. Ia ingin mengetahui karakter mama Rayyan dari kaca mata putra kandungnya.


"Sepertinya enggak, Oma. Harusnya Mama senang karena Rayyan udah berhasil nemuin Papa. Rayyan tau, Mama Rayyan itu sangat miskin. Tapi Rayyan juga tau, mama Rayyan itu mama yang paling baik di dunia. Dia rela kerja banting tulang demi menghidupi Rayyan."


Diam-diam bibir Ester menyunggingkan senyum penuh kepuasan. Rayyan bocah yang sangat polos. mustahil jika Rayyan mengarang cerita mengenai keluarganya. Jika benar Rayyan terlahir dari keluarga miskin dan tanpa ayah, sepertinya itu akan memuluskan jalannya untuk mengadopsi Rayyan. Mungkin dengan iming-iming uang banyak, mamanya Rayyan pasti mau menyerahkan Rayyan dengan suka rela. Begitulah awal mula pemikiran Ester.


"Ceritanya sambil makan yuk. Rayyan pasti udah lapar, kan?" Ester berdiri setelah Rayyan menganggukkan kepala. Wanita itu lantas menggandeng Rayyan menuju meja makan.

__ADS_1


Hari itu ia sengaja meminta koki di rumah mereka memasak makanan yang disukai anak-anak khusus untuk Rayyan. Sejak Bara membawa Rayyan kemudian meninggalkan dalam keadaan lelap, ia sengaja menjaganya hingga terjaga. Sama sekali tak ingin melewatkan momen menggemaskan ketika Rayyan bangun tidur. Kali ini ia harus mengorek informasi sebanyak-banyaknya dari Rayyan.


Memandangi satu persatu hidangan yang tersaji di meja makan, tiba-tiba Rayyan kehilangan selera. Ia teringat pada mamanya yang sekarang entah sedang apa.


Ester yang menangkap perubahan ekspresi Rayyan seketika mengerutkan keningnya. Aneh. Padahal semua menu makanan itu tampilannya menarik dan dijamin rasanya lezat. Tetapi kenapa Rayyan seperti tak berselera?


"Loh, kok malah bengong? Ayo dong, dimakan. Katanya Rayyan lapar."


"Rayyan tiba-tiba kenyang, Oma. Rayyan ingat Mama," lirih bocah itu.


"Rayyan rindu Mama?"


"Hem." Rayyan mengangguk sedih. "Mama Rayyan kerja di restoran, Oma. Jadinya pinter masak. Semua makanan ini pernah Mama bikinkan untuk Rayyan. Karena lihat makanan ini lah Rayyan jadi ingat Mama."


Ester tersenyum lembut lalu menggeser duduknya untuk bisa merangkul Rayyan. Wanita yang suka menyanggul rambutnya itu mencium Rayyan penuh sayang. Ia sempat mengira Rayyan akan melupakan mamanya sejenak ketika melihat sesuatu yang disukainya. Tetapi ternyata yang ia pikirkan itu salah. Rayyan ternyata bukanlah tipe anak yang mudah terbuai oleh iming-iming.


Sifat penuh kasih Rayyan terhadap mamanya itu membuat Ester merasa tersentuh. Ia semakin jatuh cinta dan bersemangat untuk mengadopsi Rayyan. Meskipun kelak harus membawa serta mama kandungnya juga, ia tak masalah. Mungkin kelak ia bisa memperkerjakan wanita itu di rumahnya.


Andai saja Bara bisa memberinya cucu, mungkin Ester tak akan menggebu-gebu seperti ini untuk memiliki Rayyan.


"Tapi bagaimanapun juga Rayyan harus makan, Sayang," bujuk Ester setelahnya. "Memangnya Rayyan mau bikin Mama jadi cemas?"


Bocah itu mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Rayyan bisa sakit kalau nggak mau makan," lanjut Ester karena melihat Rayyan kebingungan. "Memangnya Rayyan pengen sakit? Rayyan mau mama Rayyan jadi sedih?"


"Enggak mau!" bantah Rayyan sambil menggeleng kuat-kuat. "Mama nggak boleh sedih! Mama pahlawan Rayyan!"


"Kalau begitu Rayyan makan, ya."


Rayyan mengangguk setuju. Bocah itu lantas melahap apa pun yang Ester taruh di piring makannya.


"Oma, apa Oma pintar menjaga rahasia?" tanya Rayyan setelah menelan makanannya. Membuat Ester yang sejak tadi diam memperhatikannya makan langsung melebarkan mata penuh antusias.

__ADS_1


"Rayyan bertemu dengan orang yang tepat. Oma pandai menjaga rahasia. Katakan, Sayang. Apa rahasianya?" Ester begitu bersemangat sambil mencondongkan tubuhnya.


Rayyan diam sejenak, lalu kemudian mulai berbicara. "Sebenarnya ...."


__ADS_2