Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Cerita Rayyan


__ADS_3

Salah satu sudut bibir Ester terangkat hingga membentuk sebuah seringai. Orang suruhannya mengirimkan foto wanita berambut keriting mengenakan kaca mata dengan bentuk gigi yang tidak rata. Edo mengatakan itu adalah foto Mulan, wanita yang diyakini adalah ibu kandung Rayyan.


Beruntung, beberapa saat lalu Rayyan telah mengatakan sebuah rahasia besar yang hanya diketahui oleh Rayyan mengenai Mulan. Wanita itu sengaja mengubah penampilan demi sesuatu hal yang masih menjadi pertanyaan. Sebab itulah Ester tak bisa terkecoh begitu saja oleh penampilan Mulan karena dirinya lebih percaya pada Rayyan.


"Apa Oma tau? Mamaku sebenarnya sangat cantik. Tapi dia sengaja memakai rambut palsu dan kaca mata tebal supaya terlihat jelek."


"Oh ya?" Ester ternganga mendengar pengakuan Rayyan tadi.


"Sungguh. Mama bahkan menambahkan gigi palsu agar bibirnya terlihat monyong." Rayyan menambahkan sambil serius menikmati makanannya.


"Kenapa begitu?


"Entahlah Oma. Mama selalu bilang untuk tidak menceritakan semua ini pada orang lain," jawab Rayyan.


"Lalu kenapa malah Rayyan ceritakan pada Oma?"


"Karena Oma adalah mama kandungnya papa," jawab bocah itu tegas tetapi tetap terlihat polos. Hal itu benar-benar membuat Ester semakin cinta pada Rayyan sebab bocah itu memberinya kepercayaan.


Seketika hidup Ester terasa indah dan berwarna. Bertahun-tahun hidup dalam kehampaan lantaran keinginan untuk memiliki cucu yang tidak bisa Bara kabulkan, kini seperti jadi nyata berkat kehadiran Rayyan.


Wanita itu kembali tersenyum haru, lalu mencium puncak kepala Rayyan. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah memberi Oma kepercayaan," ujarnya dengan nada bergetar menahan tangisan.


"Semua ini Rayyan lakukan demi Mama, Oma. Rayyan hanya ingin Mama lepas dari penderitaan. Rayyan ingin Mama bahagia. Selama ini Mama selalu berkorban untuk Papa. Mama rela hidup susah. Mama bahkan rela hidup dibawah tekanan dan hinaan orang-orang. Semua ini karena Papa, Oma! Setiap Rayyan tanya kenapa Mama menyamar seperti itu, jawaban Mama selalu sama setiap harinya. Kata Mama itu semua demi kebaikan kami. Wanita yang tanpa suami itu sangat tidak aman jika memiliki wajah cantik. Itu sebabnya Mama menyimpan kecantikannya hanya untuk Papa saja."

__ADS_1


Ester tertegun mendengar penuturan Rayyan. Entah benar atau tidak yang bocah itu katakan, tetapi tetap saja Mulan memiliki cara yang baik untuk menyampaikan alasan. Sementara untuk kebenarannya sendiri, sepertinya itu menjadi tugasnya untuk menyelidiki.


"Oma," rengek Rayyan kemudian.


Ester yang semula melamun kini langsung memfokuskan perhatian pada Rayyan. "Iya Sayang. Ada apa?"


"Bisakah Oma suruh Papa untuk menjemput Mama?"


Ester masih belum bisa berkata-kata, sehingga Rayyan kembali menyampaikan alasannya.


"Oma .... Karena terlalu lama kami berpisah, Papa sampai-sampai tidak mengenali siapa Rayyan. Papa benci Rayyan, Oma. Papa tidak mau diikuti Rayyan," rengek bocah itu khas umumnya anak-anak kecil. "Rayyan hanya takut jika Papa melupakan Mama juga. Rayyan takut kalau Papa membenci Mama karena lupa. Rayyan tidak mau pengorbanan Mama selama ini berakhir sia-sia. Rayyan tidak mau Papa berkhianat, Oma."


Bagaimana Ester tega jika bocah menggemaskan itu bicara sambil meneteskan air mata?


***


"Menikah?" Bara mengulangi satu kata yang terucap dari bibir mamanya seperti tak percaya. Pria itu merasa bingung sekaligus terkejut. Saat dirinya baru tiba di rumah sang mama, wanita itu langsung menodongkan dengan perintah yang tidak masuk akal.


"Iya. Menikah." Ester membenarkan pertanyaan Bara.


"Dengan siapa, Mama! Untuk apa!" geram Bara tanpa bisa menyembunyikan kekalutannya.


"Tentu saja untuk membangun rumah tangga! Bersama Mulan, mamanya Rayyan."

__ADS_1


Seketika Bara membelalak. Pria itu menatap Ester dengan seksama, lalu kemudian tertawa pedar.


"Mama, Mama. Yang benar saja!" seru Bara di sela tawanya. "Mama boleh berambisi! Mama boleh menginginkan sesuatu! Tapi jangan pernah menyiksa orang lain, apa lagi orang itu adalah aku!"


"Mama bukannya mau menyiksa kamu, Bara! Mama ingin kebahagiaan kamu!"


"Kebahagiaan?" Bara mengulangi kata itu dengan nada meremehkan. "Kebahagiaan mana yang Mama maksud? Apa dengan cara menjadikanku sebagai wadal?"


Ester menghela napas panjang. Ia berusaha sabar menghadapi kerasnya hati Bara.


"Kenapa Mama diam? Yang kukatakan itu benar, bukan?"


"Baik, kalau kau tidak mau menikahi Mulan. Tapi kau harus menikahi wanita lain dan memberikan Mama cucu. Apa kau sanggup?"


Kini gantian Bara yang terdiam. Hal itu membuat Ester menyeringai menang karenanya.


"Kenapa diam? Apa itu artinya kau setuju? Jadi kau bisa memberikan Mama cucu?" Ester tersenyum lembut lalu berjalan mendekati putranya. Tangannya lantas bergerak mengusap bahu kokoh Bara penuh sayang. "Mama janji. Mama tidak akan memaksamu menikahi Mulan jika kau bisa memberikan Mama keturunan. Bagaimana?"


Tak menjawab dengan kata, Bara hanya menatap Ester dengan rahang yang mengetat. Pria itu perlahan menepis tangan Ester dari bahunya, lalu tanpa berpamitan ia pun enyah dari hadapan Ester.


Ester yang ditinggalkan Bara, tak lantas tersinggung begitu saja. Ia justru tersenyum puas sambil menatap punggung anaknya yang bergerak menjauh dengan tangan terlipat di dada.


Bara yang sadar akan kelemahannya langsung sensitif jika membicarakan hal menyangkut anak. Namun, Ester tetap merasa tenang. Ia paham betul bagaimana watak putranya. Cepat atau lambat ia pasti akan mendengar kabar baik itu.

__ADS_1


__ADS_2