
Sore itu, Mulan menyiapkan makan malam untuk Bara seperti biasanya. Namun, untuk menu kali ini ia memasak menu serba berkuah dan hangat atas permintaan Bara sendiri. Sesuai dengan cuaca yang gerimis manja yang mengguyur ibu kota sejak tadi.
Wanita itu bisa bernapas lega sekarang. Bara tidak mempermasalahkan lagi kebohongannya yang terkuak. Bahkan tidak membicarakan apa-apa lagi setelah tadi memintanya mengupaskan kulit buah.
Entah karena Bara terlalu lapang dada atau memang Mulan yang tidak bersalah. Yang jelas, sikap diam Bara tadi seolah menegaskan ingin menutup rapat masalah itu secara sepihak agar selanjutnya tidak menjadi pembahasan lagi.
Jujur, Mulan merasa kurang puas. Bara tiba-tiba bungkam begitu saja tentang masalah itu. Alih-alih meminta maaf atas sikapnya dan mengajak Mulan berbaikan dengan kata-kata sopan, ia malah kembali bergelut dengan laptopnya tanpa membiarkan Mulan beranjak dari sana.
Tentu saja keberadaan Mulan bukan sebagai pendamping untuk berdiskusi, melainkan dimanfaatkan untuk kepentingan Bara sendiri. Apa lagi jika bukan untuk mengisi perut dan mencukupi asupan nutrisi Bara.
Meski dalam hati Mulan merasa tak habis pikir, tetapi ia tetap telaten menyuapi Bara hingga pria itu merasa kenyang. Paling tidak dengan begitu dirinya merasa dibutuhkan.
Usai melewati makan malam lengang berdua dengan Bara, Mulan lanjut membersihkan meja makan dibantu asisten rumah tangga, sementara Bara sendiri memilih beranjak pergi dari sana. Entah hendak ke mana, Mulan malas mengurusinya. Ia masih sebal dengan sikap angkuh pria itu. Jangankan berkata lembut, tersenyum sedikit padanya saja tak mau.
Urusan dapur sudah selesai, Mulan memutuskan ke kamarnya berniat untuk istirahat. Saat membuka pintu ia tak menemukan siapa pun di sana. Baguslah. Sepertinya Bara tidur di kamar lain. Dengan begini ia tak perlu menatap wajah pria tampan tapi menyebalkan itu sebagai pengantar tidurnya.
Aktifitas di dapur tadi sedikit membuatnya gerah. Mulan memutuskan membersikan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur berbahan sutra yang sudah tersedia di dalam salah satu lemari pakaian. Rasanya sangat lembut dan nyaman. Tak lupa ia menyemprotkan sedikit parfum ke area leher untuk relaksasi. Ia memang suka melakukan ini.
Baru saja membuka pintu walkin closed, Mulan di buat terkejut oleh seseorang yang duduk di sofa panjang. Mulan mengucek mata demi memastikan penglihatannya. Ternyata benar. Ada orang di sana. Ia bahkan sampai memperhatikan sekeliling ruangan demi memastikan ia tak salah kamar.
Dia? Sejak kapan dia di sana? Bukannya tadi tidak ada? batinnya.
Mulan dalam dilema. Ia harus keluar atau tetap berdiri di sana? Lantas, jika Bara tak kunjung beranjak, ia nanti tidur di mana?
Mulan mendesah pelan. Nasib, menikah karena paksaan. Meski sudah berjalan dua bulan, nyatanya kehidupan rumah tangganya tetap hambar tanpa adanya bumbu cinta. Ia terlalu sungkan, sementara Bara tak berperasaan. Benar-benar perpaduan yang sempurna.
Meskipun menikah tanpa dasar cinta, tetapi Mulan tak pernah menganggap pernikahan ini sebuah permainan. Ia sungguh-sungguh ingin mengabdikan diri pada suami dan memberikan segalanya untuk suami. Namun, jika pasangannya justru dingin seperti es batu, mana mungkin dirinya sanggup memeluk? Ah, lebih-lebih lagi Mulan bukanlah tipe wanita yang agresif.
Mulan memang bukan tipe wanita yang agresif, tetapi dia sangat menyukai sebuah tantangan. Melihat sikap dingin Bara terhadapnya, ia jadi tertantang untuk bisa menaklukkan. Bukankah itu tugas istri untuk merebut hati suaminya? Lebih-lebih lagi kata-kata Bara tadi siang sudah sukses mencabik hatinya.
"Kau adalah wanita bermuka dua. Apa kau pikir dengan pura-pura menjadi istri yang baik itu bisa membuatku terpikat padamu? Jangan bermimpi, Mulan Jenica."
Tiba-tiba semangat Mulan kembali berkobar. Ia tersenyum mantap seperti siap untuk berperang. Paling tidak ia sudah punya amunisinya. Cantik. Menarik. Dia juga punya harta yang melimpah. Salahkah jika dia merasa percaya diri? Mana mungkin ada pria yang menolak bidadari di bumi ini. Meskipun Bara sangat tangguh di matanya, tetapi Mulan bertekad berjuang sampai titik penghabisan.
Sebelum melangkah dengan anggun, Mulan lebih dulu memastikan penampilannya. Seksi, meskipun baju tidur yang ia kenakan terkesan tertutup dan panjang. Rambutnya juga rapi. Tubuhnya juga wangi. Ia berdeham kecil untuk menunjukkan keberadaannya pada Bara.
__ADS_1
Sial. Saat Mulan melenggang menuju ranjang, Bara sedikit pun tak menoleh kepadanya. Pria itu begitu serius pada laptopnya sampai-sampai tak menyadari ada orang cantik lewat di depannya. Percuma saja tebar pesona kalau sasaran tidak melihatnya.
Dalam hati Mulan hanya bisa berdecak sebal. Ia merebahkan tubuhnya dengan kesal ke ranjang, lalu menutupi dengan selimut hingga sebatas dada. Sepertinya tidur lebih cepat adalah cara ampuh untuk melupakan semuanya.
Buggh!
Baru juga memejamkan mata, sebuah bantal sofa sudah menghantam kepala Mulan. Wanita itu langsung terjaga. Tangannya bergerak sigap meraih benda yang mengusik ketenangannya.
Ia mendengkus kesal. Siapa lagi tersangkanya jika bukan Bara? Buru-buru bangkit berniat untuk melemparkan balik sebagai bentuk luapan kemarahan, seketika Mulan dibuat bungkam oleh tatapan mata elang itu.
"Kenapa melempar ini?" Akhirnya Mulan menurunkan bantalnya dan melampiaskan kekesalan dengan sebuah kalimat protes.
"Siapa yang menyuruhmu tidur?" ketus Bara.
"Hah?" Mulan tak percaya. "Suka-suka aku lah. Masa iya mau tidur harus nunggu disuruh dulu."
"Kau lupa kau sudah berbuat salah? Seharusnya kau dapat hukuman karena ulahmu itu."
Hukuman? Mulan mengerutkan keningnya. Ia menyadari sesuatu hal. Rupanya ia terkecoh oleh sikap diam Bara. Pria itu bukanlah lapang dada, melainkan menyimpan niatan buruk di belakangnya.
Mulan memutuskan mengalah. Sambil cemberut, ia menaruh bantal itu lalu bertanya. "Jadi saya harus apa? Apa Anda akan menuntut saya? Apa Anda akan memenjarakan saya?"
"Cih. Keenakan kamu kalau saya penjarain."
Mata Mulan membeliak. Jika hukuman penjara saja Bara bilang keenakan, lantas seberat apa hukuman yang akan pria itu berikan?
"Kenapa? Nggak terima?" Bara menyeringai sebelum kemudian melanjutkan perkataan. "Asal kamu tahu, protes padaku hanya akan memperberat hukumanmu."
"Ah tidak." Mulan buru-buru menyahuti sambil menyingkap selimutnya. Ia turun dari ranjang lalu mendekat ke arah Bara. "Saya akan terima apa saja hukumannya. De-ngan se-nang ha-ti." Mulan menekan kata-kata terakhirnya. Tentunya dengan senyum manis yang dipaksakan. "Jadi, hukuman apa yang harus saya lakukan?"
Bara mengangkat pandangannya, menatap sang istri yang berdiri di depannya itu dengan wajah datar. Entah apa yang ada di benak Mulan sekarang. Wanita itu malah menatapnya begitu antusias, seolah-olah sangat bersemangat menanti hukuman yang akan ia berikan.
"Tuan?" Mulan menjentikkan jarinya di depan wajah Bara hingga pria itu berkedip. "Jangan bengong gitu. Ini saya lagi nunggu loh. Kaki saya pegal lama-lama berdiri, hehe."
Bara sontak mengalihkan pandangannya dari Mulan dengan ekspresi sulit dibaca. Ia tak menyangka reaksi Mulan akan seperti ini. Sejujurnya ia ingin membuat wanita itu ketakutan, tapi ternyata sebaliknya.
__ADS_1
Bara berdeham kecil sebelum mengajukan tanya. "Kau siap aku hukum?"
"Siap." Mulan mengangguk mantap.
"Menurutmu hukuman apa yang pantas kuberikan?"
"Ya mana saya tau. Itu kan terserah Tuan," jawab Mulan sambil mengedikan bahunya. "Saya sih siap dihukum apa saja, yang penting bukan memetik bintang, mengeruk gunung, atau menguras air laut. Jujur, saya nggak sanggup."
Bara hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar jawaban polos Mulan yang tak di sangka-sangka. Wanita itu lucu juga. Malah membuatnya bingung ingin memberikan hukuman apa. Bara terjebak pada permainan yang ia buat sendiri.
"Tuan? Ayo buruan. Mumpung saya masih fit, loh." Kali ini Mulan mendesak lantaran Bara hanya diam saja. Sepertinya pria itu sedang sibuk dengan pikirannya. "Kenapa? Anda bingung menentukan hukuman saya?"
Jujur, Bara kesal melihat senyum meremehkan yang tersungging di bibir Mulan itu. Dari bahasa tubuh yang diperlihatkan, sepertinya Mulan merasa menang. Dan sekarang Bara justru pusing. Ini semua terjadi spontanitas saja. Seharusnya tidak begini ceritanya. Ia bahkan belum memikirkan hukuman apa. Namun, bukan Bara namanya jika tidak bisa mengatasi masalah.
"Siapa yang bingung, Mulan? Aku justru senang melihat sikap antusiasmu menanti hukumanmu. Tentunya kau ingin cepat dimulai supaya nantinya cepat selesai juga, kan? Tapi sayang. Tidak seperti itu konsepnya. Hukumanmu akan kuberikan secara berkala. Dan itu juga menyesuaikan dengan situasi juga. Ada saatnya kau mendapatkan hukuman. Dan ada saatnya juga kau kebebasan. Tugasmu, hanya mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu hukuman itu tiba. Kau mengerti?"
Mulan tak langsung menjawab. Ia malah mengerutkan keningnya tak mengerti. "Eh, tunggu-tunggu. Ini maksudnya gimana ya? Kok kedengarannya seperti suka-suka Anda. Kan sayanya jadi bingung dong. Kenapa tidak begini saja?" Mulan menjeda ucapannya selagi beringsut mendekat. "Karena kita berasal dari kalangan bisnis, kenapa tidak dibuat peraturan tertulis saja? Hitam di atas putih gitu maksudnya. Misalnya, nomor satu, saya dilarang ini itu dan bla bla bla. Nomor dua, saya harus begini dan begitu. Gimana usul saya, Tuan? Oke nggak?"
"Ti-dak," tegas Bara. Seketika senyuman penuh percaya diri di bibir Mulan itu lenyap entah ke mana.
"Kenapa tidak? Apa alasannya? Apa Tuan tahu, dengan begitu saya tidak akan berani melanggar peraturan Tuan. Saya nggak akan mangkir dari hukuman! Bagaimana kalau ternyata saya lari dari tanggung jawab?"
"Lari saja kalau bisa! Tapi dalam sekejap anak buah saya akan seret kamu kembali ke hadapan saya."
Mulan terdiam. Ia tertunduk sambil cemberut. Ia merasa tak terima. Kiranya hukuman apa yang sedang direncanakan Bara? Bisa dipastikan seenak jidatnya dan itu menyengsarakan Mulan.
"Oh iya. Tadi kamu bilang mumpung tubuhmu masih fit, kan? Ayo, sekarang pijat kaki aku. Aku capek dari tadi debat sama kamu. Anggap aja ini pemanasan." Bara menaikkan kakinya ke atas meja, sementara Mulan menatapnya dengan mata membola.
"Cuma mijat kaki Tuan?"
"Iya," ketus Bara. Ia kesal lantaran Mulan terkesan menganggap enteng hukumannya. "Ini baru permulaan. Besok-besok aku kasih yang lebih berat."
"Oke." Mulan menyanggupi mantap. Ia tersenyum simpul, lalu buru-buru berjongkok di lantai untuk memijat. "Halah, cuma mijitin doang. Gampang buat saya."
"Tapi–" lanjut Bara yang membuat Mulan menatapnya penasaran. Ternyata kata-kata pria itu belum selesai. "Mijitnya sampai besok pagiii. Kamu sanggup?"
__ADS_1
"Hah?" Seketika Mulan mendelik.