
"Bu Mulan, Anda baik-baik saja?" Cyndi menyambut kedatangan Mulan yang terlihat kesal dengan pertanyaan bernada cemas. Gadis itu menghampiri atasannya dan memperhatikan dengan seksama. "Bu Mulan, Anda dari mana saja?" desaknya lagi. Namun, bukanlah sebuah jawaban memuaskan yang ia dapat, Mulan justru menyahutinya dengan kesal.
"Bisakah kita pulang sekarang, Cyndi? Aku sudah tidak betah lagi berlama-lama di sini."
Cyndi melebarkan pupil matanya usai mendengar perkataan Mulan itu. Tiba-tiba mengajak pulang di saat mereka sedang sibuk-sibuknya? Yang benar saja.
"Tidak bisa, Bu Mulan. Kita harus bertahan di sini paling tidak sampai sore nanti. Masih ada satu peninjauan yang harus kita lakukan."
"Persetan dengan peninjauan itu, Cyndi! Pokoknya aku mau pulang sekarang. Titik!"
Cyndi menghela napas panjang berusaha sabar menghadapi sikap ngambek sang atasan. Ia pun akhirnya berusaha menenangkan dengan sikap bijaksana. "Bu Mulan, saya akan atasi jika ada sesuatu yang membuat Ibu tidak nyaman, tapi saya mohon ... bertahanlah sebentar lagi ya. Tidak perlu sampai sore nanti. Paling tidak dua jam lagi saja kita selesaikan pekerjaan ini. Bukankah tadi Bu Mulan baik-baik saja? Bahkan saya lihat Ibu datang kemari dengan penuh semangat. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba minta pulang?"
"Huh, aku ceritakan pun kau tidak akan pernah mengerti, Cyndi!" Wanita itu mendengkus lalu bersedekap.
Cyndi kehabisan kata-kata untuk membujuk lagi. Ingin rasanya ia memprotes pada Mulan. Bagaimana dia bisa mengerti jika Mulan saja tak mau bercerita? Namun, tentu saja itu hanya sebatas angan sebab ia paham betul bagaimana tabiat Mulan. Akhirnya, gadis itu memilih diam sejenak, mengernyit selagi mengamati tingkah sang atasan yang menurutnya aneh.
Tak biasanya wanita itu seperti ini. Mulan yang selalu tegas dan berwibawa tiba-tiba merajuk seperti anak kecil. Ada apa kah gerangan? Dia tidak sedang kerasukan, kan?
"Apa yang kau lihat, Cyndi?" tegur Mulan kesal lantaran merasa risih sekertarisnya perhatikan. Sementara Cyndi yang tertangkap basah pun tak lantas tersinggung oleh teguran Mulan tadi. Gadis itu justru hanya tersenyum simpul menanggapi.
"Maafkan saya, Bu. Saya hanya–"
"Ah, sudahlah," potong Mulan. "Lebih baik aku cuci mata dengan melihat-lihat sekeliling tempat ini. Barangkali saja ada hiburan yang bisa membuatku senang."
__ADS_1
"Saya temani, Bu." Cyndi tak membutuhkan izin Mulan. Gadis itu langsung berjalan mengekor di belakang sang atasan yang lebih dulu jalan.
Baru saja Mulan keluar dari tempat beristirahat ia langsung berjumpa dengan orang yang menyebalkan. Siapa lagi jika bukan Alexa. Gadis itu kini tengah menyeringai sambil bersedekap melihat Mulan yang berdiri di depannya.
"Minggir. Kau menghalangi jalanku," ujar Mulan memperingatkan. Namun, dengan nada yang terdengar datar dan wajahnya menunjukkan ketenangan.
"Kenapa buru-buru sekali, Mulan? Memangnya kau mau ke mana, heum?" Alexa bertanya diiringi sebuah senyuman. Namun, Mulan paham betul jika senyuman yang tersungging itu mengandung ejekan yang kental.
"Rupanya selain perebut milik orang kau juga terlalu ingin tahu urusan orang, ya," balas Mulan penuh sindiran.
"Tepat sekali." Alih-alih tersinggung, Alexa justru merasa bangga oleh sindiran Mulan barusan. Ia lantas mendekatkan wajah, lalu membisikkan ancaman dengan begitu percaya dirinya di telinga Mulan. "Aku sudah tau semuanya. Kau hanya istri yang tak dianggap. Akan kupastikan, semua milikmu akan benar-benar jadi milikku. Ingat, itu Mulan."
Bukan Mulan jika masih bisa ditindas. Wanita itu tentu tahu betul apa makna ancaman sepupunya. Mulan yang sekarang jelas lebih pintar menghadapi situasi seperti sekarang.
Terang saja, gadis yang semula tersenyum licik itu langsung mendelik dan tercekat seraya menggenggam tangan Mulan untuk berusaha melepaskan.
"Lepas, Mulan. Lepas! Aku bisa mati jika kau cekik seperti ini!" pekik gadis itu kepayahan.
Mulan tersenyum miring melihat Alexa kesakitan. Ia bukan berniat membunuh, melainkan memberi pelajaran. Hanya perlu sedikit waktu untuk membuat Alexa kelabakan sebelum benar-benar ia lepaskan.
Meskipun melepaskan dengan cara kasar, tapi Mulan masih memiliki rasa kasihan. Seharusnya ia menghadiahi mulut jahat Alexa itu dengan sebuah bogem mentah. Sekaligus mata dan telinga yang selalu digunakan untuk mengintip dan menguping pembicaraan orang.
Alexa yang selalu ingin tahu apa pun tentang Mulan ternyata diam-diam menguntit gerak-gerik sepupunya, termasuk tindakan nekat Mulan yang memberanikan diri menghampiri Bara.
__ADS_1
Namun, karena jarak yang terlalu jauh membuat Alexa tak bisa mendengar apa pun pembicaraan keduanya. Hanya lantaran melihat tindakan Bara terhadap Mulan ia begitu mudah menyimpulkan. Sehingga kini dirinya merasa bangga dan percaya diri suatu saat pasti bisa mendapatkan Bara.
Namun, Mulan tidak sebodoh itu lagi sekarang. Dari gerak-gerik saja ia sudah bisa membaca jalan pikiran sepupunya. Maka, dengan percaya diri dan tanpa gentar ia mendesiskan sebuah ancaman. "Ini baru pemanasan, Alexa. Kau akan benar-benar tinggal nama jika selalu mengusik hidupku."
Mulan tersenyum miring usai berucap demikian. Ditinggalkannya begitu saja Alexa yang terbatuk-batuk seraya memegangi lehernya.
Cyndi yang tak kalah geram rupanya tak lantas tinggal diam. Jika tadi hanya bisa menyaksikan dan mengagumi tindakan Mulan dalam diam, kini ia berniat turut andil memberikan pelajaran. Lebih-lebih lagi melihat tatapan penuh ancaman dari mata Alexa ke arah punggung Mulan yang sudah bergerak menjauhi mereka.
Cyndi menyimpulkan, rupanya Alexa masih menyimpan dendam pada Mulan yang Cyndi yakini suatu saat akan dibalaskan. Sebagai tangan kanan Mulan terang saja Cyndi tak terima. Saat berjalan, ia sengaja menyenggol bahu Alexa. Gerakannya agak kuat, sehingga sukses membuat gadis itu terkejut dan nyaris tersungkur.
"Sialan. Jalan pake mata dong! Lo sengaja jorokin gue, kan!" sinis Alexa dengan mata melotot pada Cyndi.
"Iya. Memangnya kenapa? Mau marah?" balas Cyndi dengan pertanyaan seperti menantang. Ia bahkan mencondongkan tubuh dan mengangkat dagu menghimpit Alexa.
"Dasar. Lo mau gue gam–"
"Apa!" sentak Cyndi saat Alexa mengangkat tangannya. Bahkan demi meyakinkan ia sampai-sampai melotot dan berkacak pinggang. "Mau gampar gue? Ayo gampar! Kalau perlu kita baku hantam! Lo pikir gue takut, hah!"
Alexa meneguk ludah. Ia menatap ngeri pada Cyndi yang tengah menyingsingkan lengan bajunya. Ia tak menyangka jika gadis itu jelmaan preman pasar. Atau mungkin dulunya memang preman?
Pada dasarnya, seorang pengecut akan selalu takut menghadapi kenyataan jika memang dirinya bersalah. Seperti halnya Alexa. Melihat Cyndi yang juga menantangnya tanpa gentar, ia memilih mundur dan cari aman. Lebih-lebih lagi saat ini dirinya tengah kesakitan dan tak memiliki kekuatan.
"Dasar pengecut!" seru Cyndi pada Alexa yang beringsut meninggalkannya.
__ADS_1