Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Terima kasih


__ADS_3

Sikap Bara yang agak berbeda membuat Mulan bersemangat pula menyuapkan makanan untuknya. Sambil mengobrol santai, akhirnya makanan itu tandas dalam waktu beberapa menit saja.


Ketika menyuapi, diam-diam Mulan memperhatikan wajah Bara. Bagaimana bisa wajah dingin itu terlihat mempesona. Meski dalam keadaan pucat, tetapi garis tampannya tetap terlihat dan matanya begitu tegas. Mulan benar-benar terkesima. Saking terpesonanya, Mulan sampai-sampai berangan hingga tak sadar ternyata pria itu juga menatapnya dengan kening berkerut heran.


Mulan yang tersadar langsung terkesiap dan buru-buru menyuapkan sendoknya dengan kikuk. Ia langsung tertunduk malu demi menghindari tatapan heran seorang Bara.


Dalam hati Mulan menggerutu kesal. Sudah bisa dipastikan wajahnya kini semerah cangkang kepiting rebus. Untung saja Hendrik dan Dokter Irawan tak menyadari hal itu hingga membuatnya bertambah malu.


Bara sendiri sepertinya tipikal pria yang bisa melindungi marwah istrinya. Ia sebenarnya tahu Mulan terkesima melihatnya tetapi memilih bersikap biasa saja agar istrinya tetap nyaman.


Dokter Irawan yang melihat piring makan Bara kosong langsung memberikan tiga macam obat kepada Mulan.


"Munumkan ini kepada Bara." Ia menyodorkan itu ke arah Mulan, lalu mengingatkan dengan tegas. "Ingat, kau harus rajin-rajin mengingatkannya untuk rutin mengonsumsi obat. Dia itu gila kerja. Dia pasti lupa jika tidak ada seseorang yang mengingatkannya, termasuk perihal makan. Makanya lambungnya ikut diserang."


Mulan refleks melirik Bara lalu buru-buru menatap obat di tangannya. Sepertinya kata-kata Dokter Irawan itu memang benar. Hal itu terbukti dari sikap diam Bara yang tidak menunjukkan sedikit pun bantahan.


"Baik, Dok. Saya pasti ingat-ingat," balas Mulan.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Bara, aku pamit ya. Jangan lupa habiskan obatnya dan istirahat di rumah selama beberapa hari," pesannya ketika bersitatap dengan Bara. Pria itu tersenyum kepadanya seolah-olah mengiyakan.


Dokter Irawan memilih diam walau ia sendiri tak yakin jika Bara benar-benar mematuhi perintahnya. Pria itu gila kerja. Jika hari ini sakit, bisa saja esok pagi sudah terbang ke luar negeri untuk mengurus pekerjaannya.


"Mari Dok, saya antar sampai ke depan." Hendrik dengan cekatan membuka pintu kamar, lalu mempersilahkan pria itu untuk keluar lebih dulu.


Mulan memperhatikan punggung dokter itu pergi dengan senyuman tipis. Namun, pada saat menoleh, senyum tipis itu memudar berganti wajah tegang saat matanya bersirobok dengan mata tegas Bara. Ternyata pria itu tengah memandangnya. Mulan semakin deg-degan saat menyadari hanya tinggal mereka berdua saja di kamar itu. Bahkan masih duduk di ranjang yang sama meski tanpa bersentuhan.


Tiba-tiba Mulan merasa gerah. Dadanya seperti sesak karena jantungnya terus berdebar-debar. Reaksi tubuhnya berbanding terbalik dengan Bara yang terlihat tetap tenang. Bahkan matanya sama sekali tak beralih dari Mulan yang terlihat salah tingkah.


"A–apa?" Mulan nyeletuk dengan polosnya. Ia memberanikan diri membalas tatapan Bara tak mengerti. Bukankah lebih baik bertanya untuk menghindari kesalahpahaman meski dirinya terlihat bodoh.

__ADS_1


"Belum semenit Dokter Irawan memberi tahu, masa udah lupa gitu aja?" kata Bara yang justru membuat Mulan semakin bingung.


"Hah?" Wanita itu mengernyitkan keningnya lalu berpikir dengan keras. Buntu. Otaknya langsung buntu. Ia tidak ingat apa-apa selain ingin segera enyah dari sana.


"Itu." Bara mengedikkan dagunya ke arah bawah seperti memberi isyarat. Mata Mulan refleks mengarah ke sana lalu seketika membelalak saat menyadari suatu hal.


Obat. Iya, obat. Astaga. Obat itu bahkan masih dipegangnya, tetapi bisa-bisanya Mulan lupa harus meminumkan itu kepada Bara. Wanita itu lagi-lagi tertunduk kaku dengan gigi menggigit bibirnya miris sambil merutuki kebodohan sendiri.


"Hehe maaf. Saya bukannya lupa, tapi memang belum saja ...," ujar Mulan beralasan sambil nyengir. Ngeles. Namun, melihat seringai meremehkan tersungging dari bibir Bara membuatnya langsung bungkam seribu bahasa. Pria itu orang berpendidikan tinggi dan sudah merambahi dunia bisnis sejak lama, tentunya bisa melihat kepribadian seseorang hanya dari bahasa tubuh dan tatapan mata. Termasuk aksi konyol Mulan barusan tadi.


Mulan memilih diam sambil menetralkan perasaan. Ia mengupas satu per satu bungkus obat milik Bara. Setelah selesai, ia mengambil gelas air dan beringsut mendekati Bara.


"Silahkan, Tuan," ujarnya sambil menyodorkan dua tangannya.


Alih-alih menerima lalu meminumnya, Bara justru hanya menatap obat itu tanpa bergerak. Mata Mulan mengerjap heran melihatnya. Apa lagi maunya pria itu. Memangnya apa yang salah dengan air minum serta obatnya?


"Bisa tolong munumkan padaku? Tanganku sedang sibuk sekarang."


"Jadi saya yang harus meminumkan?" Mulan pilih bertanya pada intinya. Bara pun mengangguk mengiyakan. Masih dengan wajah datar.


Apa begitukah cara pria minta tolong? Tidak ada ramah-ramahnya?


"Kenapa? Kamu keberatan?" Bara bertanya lantaran Mulan hanya diam.


"Ah tidak. Tentu saja saya akan melakukannya dengan senang hati." Senyum ceria Mulan terkembang sempurna saat mengatakannya.


Dasar manja. Atau mungkin dia hanya mengerjaiku saja?


Akhirnya Mulan beringsut maju agar posisi mereka lebih dekat. Seumur-umur, ia belum pernah meminumkan obat kepada pria lain selain Rayyan. Apalagi orangnya adalah Bara. Terlebih lagi debaran jantungnya saat ini sedang tidak aman.

__ADS_1


Sekuat tenaga ia menjaga kewarasan agar tanyanya tidak tremor mendadak dan menumpahkan air yang ia bawa. Beruntung, tangannya bisa dikendalikan dan tiga macam obat itu sudah berhasil Bara telan.


"Maaf." Mulan meminta izin pada Bara untuk mengusap bibir pria itu menggunakan sapu tangan. Ada sisa air minum yang tertinggal di sana. Bara mengangguk, ia pun segera mengusapkan dengan pelan.


Ini bukan upayanya menarik perhatian. Hanya saja, jika memang sudah mengemban amanah, Mulan merasa harus total melakukannya.


Mulan akhirnya turun dari ranjang setelah menyelesaikan tugasnya. Sejenak ia bingung harus bicara apa. Namun, melihat perkakas kotor bekas makan Bara, ia jadi terpikirkan ide brilian untuk keluar dari sana


"Lebih baik Tuan Bara istirahat saja. Saya minta izin turun sebentar untuk mengembalikan piring kotor ini. Saya akan kembali lagi dan akan selalu ada kapan pun Tuan membutuhkan saya."


Serius Mulan mengatakan ini? Ia akan kembali dan mendedikasikan dirinya untuk melayani Bara. Berarti malam ini ia akan satu kamar bersama suaminya?


Ah, itu kan hanya basa-basi Mulan saja. Supaya lebih enak saja kedengarannya. Itu pun kalau Bara setuju. Jika tidak pun ia akan merasa lega sekaligus tidak ada rasa bersalah, bukan?


Sejenak batin Mulan seperti tengah berperang. Ia memang sempat menyesal telah mengatakan itu, tetapi sisi lain di hatinya mengatakan tidak yakin Bara akan menyetujuinya. Apa lagi sikap diam yang ditunjukkan Bara saat itu, membuatnya merasa lega karena ia akan tidur di kamarnya sendiri seperti biasanya.


Namun, rasa lega itu ternyata tak berlangsung lama, sebab sesaat kemudian, Bara mengiyakan kata-kata Mulan. Sepertinya sikap diam Bara tadi sedang mempertimbangkan usulan Mulan.


"Oke. Jika kamu tak keberatan," kata pria itu yang sukses membuat sepasang mata istrinya melebar.


Sejenak Mulan terpaku. Namun, setelah berhasil menguasai diri, ia segera menyunggingkan senyum palsu sambil mengutarakan kalimat tidak keberatannya. "Tentu saja, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Lebih cepat pergi sepertinya lebih baik.


Bara membiarkan istrinya berlalu dari hadapannya. Wanita itu tak menoleh lagi ke arahnya. Mulan membuka pintu dengan hati-hati sambil membawa nampan di tangan lainnya. Saat hendak keluar, panggilan Bara sukses menghentikan langkahnya hingga kepalanya refleks menoleh.


"Ya, Tuan?" tanyanya dengan wajah polos.


"Terima kasih."


Blush. Wajah Mulan merona malu hanya ucapan sederhana, tetapi tak semua orang bisa melakukan. Ia seperti tak percaya Bara benar-benar mengucapkan itu. Ternyata pria dingin itu bisa menghargai hal kecil yang dilakukannya. Ah, mimpi apa dia semalam?

__ADS_1


"Sama-sama," balas Mulan pelan sambil tanpa sadar mengembangkan senyum bahagia.


__ADS_2