Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Dua pilihan


__ADS_3

Udara malam terasa semakin dingin usai hujan deras mengguyur ibukota. Sementara itu, waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam ketika Mulan membuka kelopak mata.


Dalam posisi miring, ia memperhatikan putranya yang berbaring di samping. Lengkung merah itu mengulas senyum hangat melihat putranya tertidur dengan lelap. Sangat manis. Rayyan sepertinya sedang mimpi indah sebab terlihat dari kedua sudut bibirnya yang terangkat bersamaan.


Saat hendak melabuhkan kecupan kecil di kening putranya, Mulan merasakan sesuatu menahan tangannya. Saat tersadar barulah wanita itu tersenyum geli usai mengingat permintaan Rayyan sebelum berangkat tidur tadi.


"Pa, boleh tidak Rayyan minta satu hal?" celetuk bocah itu ketika tadi sedang mabar bersama Bara.


"Jangankan satu, Sayang. Lima hal juga boleh. Apa itu?" sahut Bara tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.


"Malam ini Rayyan pengen bobo sama Mama dan Papa. Boleh kan?"


"Maksudnya?" Bara yang fokus pada permainan merasa kurang mengerti akan apa yang dimaksudkan putranya. Ia menghentikan permainan demi fokus menatap Rayyan.


"Bobo bertiga, Papa. Rayyan pengen bobo ditengah-tengah, diapit Mama sama Papa."


"Owh, bobo bertiga? Boleh-boleh." Bara menyahuti penuh semangat. Namun, saat dirinya menyadari suatu hal, semangat itu meredup seketika.


Tidur bertiga? Bukankah itu artinya ....


"Kok tiba-tiba Papa diam? Papa keberatan ya?"


Ah sial. Rupanya ekspresi Bara terbaca oleh Rayyan. Bocah itu langsung bertanya memastikan.


"Ah, tidak. Siapa bilang?"


"Itu, muka Papa." Dengan polosnya Rayyan menunjuk Bara.


Sejenak Bara terdiam sebelum akhirnya tersenyum lembut pada putranya. Tanpa sadar ia sudah bersikap egois terhadap Rayyan. Fokus memikirkan malam pertama dengan Mulan sampai lupa mencurahkan kasih sayang pada Rayyan. Bagaimanapun juga Rayyan lah yang harus diutamakan. Rayyan lah yang lebih membutuhkan perhatian.


Kasihan anak itu. Sejak lahir ia tak pernah mengenal sosok papanya. Bahkan belum lama ini ia juga memisahkan Rayyan dari mamanya. Sangat wajar jika Rayyan menjadi haus kasih sayang. Ia tak bisa menahan diri untuk merengkuh bocah itu dan membawanya ke dalam pangkuan.


"Rayyan, mulai sekarang Rayyan akan tinggal di sini, di rumah Rayyan sendiri, dan tidur bersama Papa dan Mama setiap hari. Gimana? Rayyan senang?"


Bocah itu tampak berpikir. Rayyan diam sejenak dengan bola mata mengarah ke samping atas. Bara sampai-sampai mengerutkan kening. Sepertinya bocah itu serius sekali saat sedang berpikir. Namun, tak lama kemudian, Rayyan bersuara menyampaikan tanggapannya.


"Enggak mau." Ia menggeleng mantap.


"Loh kok?" Jelas saja Bara merasa aneh. "Bukankah tadi Rayyan yang minta? Kenapa sekarang tiba-tiba menolak? Memangnya nggak seru kalau tiap hari kita bobonya bertiga?"


"Rayyan memang pengen bobo bertiga tapi untuk malam ini aja, Pa. Rayyan nggak mau tiap hari. Rayyan udah gede. Rayyan berani bobo sendiri. Nanti kalau Bianca tau Rayyan masih bobo sama Mama Papa bisa-bisa ngeledekin, lagi. Kan nggak lucu, Pa ...! Rayyan malu."

__ADS_1


Seketika Bara tertawa mendengar pengakuan Rayyan. Begitu juga dengan Mulan yang memilih memantau sambil duduk di sofa tunggal. Bukan tanpa alasan mereka tertawa. Alasan Rayyan sungguh meleset dari perkiraan keduanya.


"Bianca? Siapa sih dia?" Bara pura-pura penasaran dan mengorek informasi tentang nama baru itu.


"Temen sekelas Rayyan, Pa. Dia paling cantik satu kelas. Rayyan aja suka, pasti Papa juga suka kalau lihat dia."


"Emh, kata siapa? Buat Papa cewek yang paling cantik itu cuma Mama. Nggak ada yang lain." Kali ini Bara melirik ke arah Mulan dengan penuh arti. Otomatis Rayyan juga langsung memfokuskan perhatian pada sang Mama. Mulan yang tak menyangka Bara akan melontarkan rayuan maut langsung tersedak oleh ludahnya. Ia batuk-batuk kecil dan menjadi salah tingkah jadi pusat perhatian.


"Ih Papa ngomong apaan sih? Jangan ngaco deh." Hanya itu yang bisa Mulan katakan demi meminimalisir rasa malunya.


"Yang ngaco juga siapa, Mama? Papa serius kok."


"Papa bicara benar, Ma." Rayyan yang sempat memperhatikan bahasa tubuh keduanya yang seperti malu-malu itu akhirnya menyela. "Mama itu wanita paling cantik di dunia. Mama wanita paling hebat. Mama superhero Rayyan."


Orang tua mana yang tidak terenyuh mendengar ini? Mulan bahkan nyaris meneteskan air mata oleh sikap Rayyan yang lebih dewasa dari usianya. Mulan merentangkan tangan demi menyambut Rayyan yang langsung berhambur ke pelukannya.


"Rayyan sayang Mama," ucap bocah itu bergetar.


"Mama juga sayang Rayyan. Sa-ngat sayang," balas Mulan penuh perasaan.


Tiba-tiba Rayyan mengurai pelukan dan kembali menghampiri Bara.


"Papa."


"Bolehkah Papa berjanji pada Rayyan?"


"Janji apa sayang?"


"Janji sebagai laki-laki sejati dan janji pria dewasa."


Bara sempat terperangah mendengar penuturan Rayyan. Ia ingin tertawa tetapi Rayyan menunjukkan keseriusannya. Bocah itu menatapnya tegas, ekspresinya tak lagi lucu dan gemas sesuai usianya sekarang. Ia sejenak mengalihkan pandang pada Mulan. Wanita itu tak memberi kode apa-apa dan justru hanya membalas tatapannya.


"Oke. Papa janji. Janji sebagai laki-laki sejati. Dan Janji sebagai pria dewasa. Apa itu?" Akhirnya Bara pasrah kendati merasa sedikit ngeri oleh permintaan Rayyan. Semoga saja anaknya itu tidak meminta yang aneh-aneh untuk diwujudkan.


"Papa harus lindungi Mama, sayangi Mama, dan cintai Mama. Papa jangan pernah sakiti. Kasihan Mama, Pa. Selama ini Mama sudah sengsara. Papa mau kan mengabulkan permintaan Rayyan?"


Bukan menjawab dengan kata, Bara justru refleks menggendong Rayyan lalu memeluknya. Ia tersenyum bahagia sekaligus lega sebab permintaan Rayyan adalah keinginannya juga. Gayung bersambut, bukan?


"Rayyan sayang ... maaf Papa nggak bisa janji untuk ini. Tapi Papa akan berusaha keras melindungi Mama, menyayangi Mama, dan mencintai Mama sepenuh hati Papa meski tanpa Rayyan minta. Papa nggak mau tebar janji. Tapi papa hanya ingin memberikan bukti."


Di sana, tepatnya di sofa tunggal, ada wanita yang hatinya meleleh dan menghangat oleh penuturan Bara barusan. Sekalipun itu hanya janji pria dewasa terhadap anak kecil, sekalipun itu tak ditujukan langsung kepadanya, tetapi bagi Mulan itu sudah mewakili segalanya. Salahkan jika ia berbunga-bunga setelah sekian lama tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang pria?

__ADS_1


"Oh iya. Bukankah Rayyan juga pria sejati seperti Papa? Yuk, kita sama-sama jagain Mama." Bara yang melihat mata Rayyan berkaca-kaca berniat menghibur bocah itu dengan leluconnya. Namun, sayangnya Rayyan justru menggeleng.


"Rayyan nggak bisa, Pa. Makanya Rayyan titip Mama ke Papa."


"Loh, kok nggak bisa? Memangnya Rayyan mau ke mana?"


"Nggak ke mana-mana. Rayyan cuma mau fokus belajar dan sekolah. Biar pinter kayak Papa. Papa tau, saat besar nanti Rayyan ingin sukses seperti Papa. Dan Rayyan ... mau mengejar cinta Bianca."


Seketika itu juga tawa Bara meledak tanpa bisa ditahan. Ia merasa lucu jika anak sekecil Rayyan sudah memiliki tekad kuat. Ia jadi mengingat-ingat dirinya dulu. Ah sepertinya tak separah itu. Tak sebucin itu. Sedangkan Rayyan, bucin akut.


"Jangan ketawa!" Lazimnya bocah kecil yang ditertawakan, Rayyan tiba-tiba menunjukkan raut kesal. Nah, kalau sedang begini ia seperti kembali pada dirinya sendiri. Rayyan yang kadang ngambek dan kadang suka manja.


"Nggak, Sayang. Papa nggak ngetawain Rayyan."


"Bohong! Itu tadi apa?"


Mulan hanya menggeleng melihat perdebatan keduanya. Semudah itu mood anaknya berubah. Syukurnya Bara orangnya pandai mengendalikan situasi hingga Rayyan merasa tenang dan bahagia lagi.


Tiba saatnya Rayyan mengantuk dan menagih janji untuk tidur bertiga. Bara memang tak tanggung-tanggung menyambut kehadiran Rayyan. Ia menyiapkan kamar Rayyan sebegitu mewah dan sangat sepesial. Bukanlah ranjang sempit dan meja belajar kecil, ia menyiapkan ranjang berukuran luas dengan berbagai permainan di dalam kamar. Dipakai tidur bertiga pun mereka tidak merasakan sempit, jus merasa hangat sebab ketiganya tidur berpelukan.


Mulan tak menyangka, hingga ia terjaga Bara masih memegang erat dan menyatukan jari jemari mereka. Alhasil, Mulan dilema saat hendak melepaskan diri. Ia harus beranjak dari sana, tetapi khawatir mengusik Bara.


Ah, benar saja. Tautan pada jemarinya mengerat, sementara tangan kokoh yang ada di puncak kepalanya bergerak mengusap. Suara serak khas bangun tidur pun kemudian menyusul terdengar.


"Kamu mau ke mana?"


"A-aku ...." Mulan bingung harus menjawab apa. Mengaku jika dia kebelet pipis dan ingin lari ke toilet sepertinya sangat memalukan.


Tiba-tiba Bara mengangkat kepalanya dan menggunakan kepalan tangan kiri sebagai penyangga. Ia menatap Rayyan dengan mata teduhnya. Senyum hangat kemudian terulas.


"Rayyan sudah tidur. Sepertinya kita bisa kembali ke kamar."


Sungguh, bisikan Bara kali ini terdengar semakin ngeri. Pria itu menatap Mulan dan menunjukkan senyum penuh arti.


Tanpa sadar Mulan tersenyum kecut seraya menggigit bibir bawah. Ia merasa terancam, tetapi tanpa ia sadari tingkahnya justru membuat Bara semakin berhasrat.


Pria itu bangkit perlahan dan turun dari ranjang. Ia berdiri tepat di hadapan Mulan lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.


Demi apa pun dada Mulan dibuat berdebar-debar oleh tingkah Bara sekarang. Bisa-bisanya pria itu merapatkan tubuhnya sangat dekat hingga Mulan refleks menjaga jarak. Rupanya Bara melakukan itu hanya untuk bisa membisikkan sesuatu ke telinga Mulan.


"Hanya ada dua pilihan untuk malam pertama kita. Melakukan di sini di hadapan Rayyan ... atau pergi ke kamar dan berbagi kenikmatan di sana."

__ADS_1


Ketika mata Mulan mendelik sempurna, Bara Aditama justru menunjukkan seringai liciknya. Melihat Mulan tak berdaya menentukan pilihan ia justru tersenyum miring sambil mengedikkan dagunya ke arah pintu, seolah-olah memberi kode jika wanita itu harus keluar dari sana. Dan sekarang, ketika Mulan berusaha menetralkan perasaannya, Bara justru melenggang pergi dengan begitu santainya. Jelas dia sangat percaya diri jika Mulan akan datang menghampiri.


__ADS_2