IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Ide Cahaya


__ADS_3

Semua orang yang ada dalam ruangan tampak menunggu keputusan dari Ryan. Suasana ruangan yang tidak cukup luas itu, terasa sangat mencekam.


"Yan..." Ronaldo memanggil menantunya itu karena belum memberikan jawaban atas kerjasama sama mereka.


"Apa papa yakin? Karena desain yang ingin papa mau akan membuat hotel yang akan papa bangun, tidak sesuai dengan konsepnya" ucap Ryan.


"Sebenarnya papa juga berpikir seperti itu, tapi Naina mengatakan desainnya terlalu simpel" ucap Ronaldo sambil menatap Naina yang dari tadi terus memperhatikan Ryan.


"Bisma, coba kamu perhatikan desain ini dengan desain yang awalnya kita berikan" ucap Ryan.


Bisma langsung memeriksa hasil desain yang baru dan desain yang mereka buat. Cahaya juga ikut memperhatikan hasil kedua desain yang diberikan Ryan.


"Apa saya bisa memberikan pendapat?" ucap Cahaya tiba-tiba beberapa menit memperhatikan hasil kedua desain itu. Semuanya langsung menatap kearah Cahaya, begitu juga dengan Ryan.


"Kamu tidak perlu ikut campur. Tugas mu itu hanya mencatat hasil dari meeting ini" ucap Naina ketus.


"Naina..." Ronaldo langsung menegur putrinya yang tidak sopan. Mendapatkan teguran dari papanya, tidak membuat dia semakin kesal dengan Cahaya.


"Katakanlah..." ijin Ryan tiba-tiba saja, Ryan sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang ingin disampaikan Cahaya pada mereka. Ryan juga ingin tahu kepintaran Cahaya, karena dia sudah melihat profil biodata Cahaya. Cahaya merupakan lulusan terbaik dari salah satu universitas yang sangat terkenal, jurusan Arsitektur.


"Sebenarnya saya sangat setuju dengan desain yang pertama. Kalau hasil desainnya tampak simpel, kita bisa menambahkan di bagian ini, ini, dan ini." ucap Cahaya sambil menunjuk beberapa titik yang bisa ditambahkan desain nya.


Semuanya tampak sangat serius mendengarkan penjelasan dari Cahaya. Terutama Ryan, Ryan tidak menyangka kalau Cahaya sangat pintar dalam bidang arsitektur. Ryan juga merasa apa yang dijelaskan Cahaya, merasa tidak asing.


Tiba-tiba saja Ryan mendengar bisikan seorang wanita sedang menjelaskan apa yang dikatakan oleh Cahaya.


Prok...prok...


Renaldo tepuk tangan dengan wajah bahagia. Dia sangat senang mendengar apa yang dikatakan Cahaya.


"Ryan, papa ingin memakai hasil desain yang dikatakan istri mu..." ucap Renaldo. Tentu saja membuat Ryan langsung tersadar dari lamunannya.


"Oh, ya....Papa mau besok kamu harus memberikan desainnya." sambung Renaldo.


"Baik, pa..."


"Kalau begitu, kami permisi dulu."


"Nona Cahaya, terimakasih..." ucap Renaldo sambil mengulurkan tangannya pada Cahaya.


Tentu saja Cahaya membalas uluran tangan Renaldo. Naina yang melihat itu sangat kesal dan bertekad akan membuat Cahaya menyesal.


-


-

__ADS_1


Cahaya sangat terkejut perintah dari Ryan. Sebenarnya Cahaya menolaknya karena takut melakukan kesalahan, tapi saat Ryan mengatakan kalau hanya dia yang mengerti hasil desainnya jadi dia lah yang harus melakukannya.


Saat Cahaya mengerjakan pekerjaannya, dari ruangannya Ryan selalu memperhatikan Cahaya.


"Kenapa desainnya sangat familiar? Dan suara itu juga familiar" gumam Ryan dalam hatinya.


Ting...


Naina:


Kak, apa kamu sibuk? Mama ingin mengajak kak Ryan makan siang..."


Dengan cepat Ryan langsung membalas pesan dari Naina.


Ryan:


Oke. Kita makan siang di tempat biasanya...


Setelah membalas pesan dari Naina, Ryan kembali melanjutkan pekerjaannya.


-


-


Seperti biasa, setiap pulang kantor Cahaya selalu menunggu angkutan umum di halte busway yang ada di depan kantornya.


"Pak Gery..." Cahaya langsung bangkit berdiri dan menundukkan kepalanya.


"CK... Kamu ini masih saja terlalu formal dengan ku." ucap Gery sambil tersenyum.


"Apa kamu sibuk?"


"Tidak...."


"Kalau begitu kamu mau makan malam bersama ku?"


"Maaf, saya tidak bisa pak! Saya mau belanja kebutuhan saya ke Supermarket" Cahaya berusaha untuk menolak Gery dengan sopan.


"Ya, sudah kita begitu apa aku bisa ikut?" mendengar itu membuat matanya Cahaya membulat.


"Sudah, ayok...." Tanpa bertanya Gery menarik Cahaya untuk masuk kedalam mobilnya.


Tanpa disadari Cahaya kalau Ryan dan Bisma melihat nya masuk kedalam mobil Gery. Bisma langsung menatap kearah Ryan, dia sangat penasaran bagaimana reaksi Ryan melihat Cahaya masuk kedalam mobil pria lain.


"Apa kita harus mengikutinya?" tanya Bisma

__ADS_1


"Tidak perlu. Kita kembali ke kantor saja, apa kamu lupa kita harus memeriksa pekerjaan yang sudah dikerjakannya"


Saat Cahaya melakukan pekerjaannya, Ryan dan Bisma melakukan pertemuan dengan klien mereka di luar kantor. Ryan melarang Cahaya untuk ikut, karena Cahaya harus menyelesaikan desainnya hari itu juga.


-


-


-


Sesampainya di dalam mall, Gery menarik tangan Cahaya untuk mengikutinya. Saat mereka masuk kedalam tempat arena bermain, Cahaya menghempaskan tangan Gery.


"Tunggu dulu, pak. Tujuan saya kesini, bukan untuk bermain." ucap Cahaya dengan kesal.


"Aku tahu itu, tapi kamu itu butuh yang namanya refreshing. Semenjak aku mengenal mu, kamu tidak pernah sekalipun tersenyum. Jadi aku ingin kamu tersenyum hari ini..." ucap Gery dengan tersenyum, Cahaya dapat melihat ketulusan dari mata Gery untuknya. Tapi, Cahaya telah lupa yang namanya senyum itu bagaimana.


"Maaf, pak. Sepertinya pak Gery melewati batas bapak!" ucap Cahaya, setelah itu dia pergi meninggalkan Gery.


"Aya, ayolah. Aku tahu kamu punya masalah yang tidak bisa kamu ceritakan pada siapapun. Tapi percayalah aku hanya ingin melihat wajah mu yang tersenyum" Gery langsung menarik tangan Cahaya untuk mengikutinya.


Gery membawa Cahaya bermain basket bersama. Dengan sengaja Gery selalu menggalakkan bolanya untuk masuk kedalam. Karena melihat Gery selalu kalah, membuat Cahaya sangat kesal. Cahaya langsung menarik bolanya dari tangan Gery, dengan mudahnya Cahaya membuat bola-bola yang dia lempar masuk kedalam.


Tanpa diduga Cahaya langsung bersorak gembira karena menang. Apalagi saat melihat banyak tiket hadiah yang dia dapatkan.


"Apa kamu mau coba yang lain?" Cahaya langsung mengangguk kepalanya.


Satu persatu permasalahan didalam area permainan mereka mainkan. Sampai-sampai mereka telah mendapatkan banyak tiket hadiah. Setelah satu jam bermain, Gery mengajak Cahaya untuk menukarkan tiketnya dengan hadiah-hadiah yang telah dipersiapkan. Setelah menghitung tiket yang didapatnya, Cahaya memilih untuk menukarkannya dengan boneka Teddy bear yang bawa.


"Terimakasih...." ucap Cahaya dengan tersenyum sambil memeluk boneka yang didapatnya.


Melihat senyum manisnya Cahaya membuat Gery semakin terpesona dengan kecantikan Cahaya.


-


-


-


Setelah menemani Cahaya belanja, Gery mengajak Cahaya untuk makan malam bersamanya. Awalnya Cahaya menolak, tapi karena Gery mengatakan kalau makan malam mereka untuk merayakan hari pertemanan mereka, dengan terpaksa Cahaya mau mengikuti keinginan Gery. Mereka memilih untuk makan malam di salah satu restoran yang ada di dalam mall.


"Kamu mau pilih yang mana?" tanya Gery dengan antusias pada Cahaya.


"Emmm, aku nasi goreng spesial saja dan minumannya Teh manis dingin saja" ucap Cahaya.


"Kalau begitu saya samakan saja" ucap Gery pada pelayan yang melayani mereka.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya pak, Bu..." ucap pelayan itu dengan sopan setelah mencatat pesanan Cahaya dan Gery. Mereka hanya mengangguk kepalanya saja.


****


__ADS_2