
Ryan yang terlihat gagah dan dingin menghilang dalam sekejap saat melihat wanita yang dicintainya dan calon anaknya yang masih dalam kandungan tidak baik-baik saja. Tak sedikit pun Ryan mau bangkit dari tempat duduknya, sejak dia sampai Ryan terus menggenggam tangan istrinya. Ucapan dokter yang menjelaskan tentang keadaan istrinya saat ini terus-menerus terngiang dalam ingatannya.
"Hasil dari pemeriksaan saya, akibat istri anda sering minum obat penenang membuat kandungannya sangat lemah. Kalau pun bisa bertahan kemungkinan janinnya lahir secara prematur dan kalaupun anak dalam kandungannya lahir dengan tepat waktu ada kemungkinan akan mengalami gangguan pernafasan. Maka karena itu tolong hindari yang namanya obat tidur dan saya minta untuk sementara ibu Cahaya harus bad rest"
"Apakah obat yang selalu di minumannya itu adalah obat penenang? Kenapa dia harus meminumnya?" gumam Ryan sambil menggenggam tangan Cahaya.
"Aku baru tahu kalau kak Aya selalu mengkonsumsi obat tidur setelah kami sampai di negara ini. Setiap hari kak Aya meminum obat itu, kalau dia tidak meminumnya maka mimpi dimana kak Aya dan kak Ryan akan selalu membuatnya tidak bisa tidur."
"Kak Aya baru mengetahui kalau dia hamil setelah usia kandungannya memasuki delapan Minggu. Saat itu kak Aya meringis kesakitan bagian perutnya dan ternyata hasilnya kak Aya tengah hamil. Dokter mengatakan kalau kandungan kak Aya memiliki masalah, karena obat tidur yang selalu dia konsumsi. Sejak saat itu kak Aya menghentikan obatnya, tapi membuat dia semakin gelisah dan tidak selalu bermimpi buruk. Setiap malam akan ada jeritan dan tangisan dalam tidurnya, semuanya untuk kesehatan janin dalam tidurnya. Hanya saja kak Aya tidak bisa berhenti bekerja karena dia ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya katanya" jelas Kevin panjang lebar.
Mendengar ucapan Kevin membuat air matanya Ryan terus keluar, sesekali Ryan mengecup tangan Cahaya yang ada digenggamannya.
-
-
Setelah dua jam lebih mereka sampai di rumah Sakit, Cahaya juga belum membuka matanya. Ryan yang melihat kedua orangtuanya untuk istirahat menyuruh Bisma untuk membawa kedua orangtuanya untuk istirahat di hotel. Kevin yang mendengar hal itu menawarkan untuk tinggal di apartemen mereka. Apartemen mereka sangat dekat dengan rumah sakit dimana Cahaya dirawat. Karena mereka setuju Kevin mengantarkan kedua orangtuanya Ryan untuk istirahat.
Cahaya membuka matanya dan dia merasakan tangan sebelah kanannya terasa sangat berat. Cahaya sangat terkejut melihat seorang pria menggenggam tangannya sambil menundukkan kepalanya kebawah. Saat dia ingin bicara, dia mendengar suara tangisan.
"Si..apa kamu?" tanya Cahaya dengan gugup. Karena dia merasakan debaran jantungnya sangat kencang.
Ryan yang mendengar suara yang dirindukannya beberapa bulan ini langsung menegakkan kepalanya.
"Aya sayang kamu bangun?" ucap Ryan dengan perasaan bahagia. Karena bahagia Ryan mengecup tangan Cahaya yang dari tadi terus digenggamnya.
__ADS_1
"Terimakasih kamu akhirnya bangun." ucap Ryan dengan meneteskan air matanya.
Cahaya sangat terkejut ternyata pria yang dari tadi menangis sambil menggenggam tangannya adalah Ryan. Yang paling mengejutkan adalah panggilan Ryan untuknya. Panggilan yang dulu selalu dia rindukan beberapa tahun yang lalu. Dia bingung kenapa Ryan memanggilnya begitu, panggilan sayang Ryan untuknya saat mereka pacaran.
"Ryan..." gumam Cahaya dengan terkejut.
"Ya, ini aku sayang, aku sudah ingat semuanya" ucap Ryan dengan meneteskan air matanya.
"Hiks hiks hiks... Maaf kan aku.... Aku sudah menyakiti mu, aku tahu kalau kesalahan ku terlalu besar. Tapi ku, mohon tolong maafkan aku... Hiks hiks hiks.... Aku janji aku menebus kesalahanku yang dengan mudahnya melupakan mu dan menyakiti hati mu...." Ryan tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menangis, dia tidak memperdulikan Cahaya akan berpikir apa tentangnya.
Ingin rasanya Cahaya memeluk Ryan, tapi dia kembali teringat bagaimana Ryan menghinanya dan terpukulnya Ryan saat kepergian Mesya membuatnya mengurungkan niatnya. Rasa kecewanya pada Ryan belum sepenuhnya hilang. Karena itu dia menarik tangannya dari genggaman tangan Ryan.
Karena Cahaya menarik tangannya, membuat Ryan langsung menggenggam tangan Cahaya dengan erat.
"Ku mohon pergilah...." ucap Cahaya dengan menahan dirinya untuk menangis.
"Ku mohon tolong pergi lah. Aku ingin sendiri!"
"Apa kamu tidak bisa memaafkan ku? A.. aku tahu aku melakukan kesalahan yang besar. Tapi ku mohon tolong maafkan aku, tolong berikan aku kesempatan. Aku tidak ingin membuat mu menjalani semuanya sendiri seperti yang ku lakukan dulu." ucap Ryan.
Karena Ryan tidak juga ingin pergi, Cahaya memilih untuk memejamkan matanya kembali. Dia berusaha tidak memperdulikan Ryan yang terus memohon untuk dimaafkan olehnya.
Sudah setengah jam Ryan terus menangis sambil menggenggam tangannya, Cahaya tetap saja dia dan menutup matanya. Ryan yang awalnya tidak sehat membuat kepalanya semakin berdenyut dan tenaganya semakin terkuras. Ryan yang merasakan kalau saat ini tidak memiliki tenaga dan membutuhkan yang namanya obat Ryan memilih untuk keluar dari ruangan Cahaya. Dia tidak ingin Cahaya mengetahui kalau saat ini dia sakit.
Cahaya langsung membuka matanya saat dia merasakan tangannya tidak lagi digenggam oleh Ryan. Dia menatap Ryan yang ingin pergi meninggalkannya. Sebenarnya dirinya tidak rela Ryan pergi meninggalkannya, tapi rasa sakit hatinya masih mendominasi dirinya.
__ADS_1
"Ryan..."
"Kak Ryan...."
Cahaya langsung bangkit berdiri ketika mendengar suara teriakan dari depan pintu kamarnya. Dengan cepat Cahaya mencabut jarum yang ditangannya.
"Ryan..." Cahaya sangat terkejut melihat Ryan sudah terkapar di lantai dengan wajah yang pucat.
-
-
-
Cahaya sangat kesal dengan Kevin karena dilarang keluar dari dalam kamarnya. Padahal dia ingin melihat keadaan Ryan, dia sangat cemas melihat keadaan Ryan yang seperti itu. Apalagi dia baru menyadari kalau saat ini Ryan semakin kurus.
"Baiklah kalau kamu tidak mengijinkan ku untuk melihat keadaan Ryan. Tapi tolong katakan apa yang padanya?" ucap Cahaya kesal.
"Kenapa aku harus kasih tahu dengan kak Aya? Bukannya kakak tadi mengusirnya?" Sebenarnya Bisma dan Kevin mendengar apa saja perbincangan Cahaya dan Ryan. Saat Cahaya ingin terus mengusir Ryan, Kevin ingin masuk kedalam tapi dihentikan Bisma. Bisma mengatakan kalau Kevin tidak boleh ikut campur.
"Hei... Aku mengusirnya bukan berarti aku tidak peduli padanya. Aku hanya belum siap untuk bertemu dengannya" ucap Cahaya.
"Lucu sekali! Kakak mengusirnya tapi masih mau memperdulikannya? Seharusnya kalau kak Aya mengusirnya itu berarti kakak tidak memperdulikannya"
"Jangan pernah mengajari ku, Kevin. Cepat katakan apa yang terjadi padanya? Dan kenapa dia bisa sangat kurus seperti itu!"
__ADS_1
"Apa kamu ingin tahu?" Cahaya dan Kevin langsung menoleh ke arah Bisma yang Sudah berdiri di hadapan mereka.
****