IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Honeymoon


__ADS_3

Kalau dilihat dari umurnya Ezra, Ezra termasuk anak yang sangat jenius. Diumur yang sudah satu tahun dua bulan, Ezla sudah pandai bicara meskipun masih agak cadal. Ezra sangat gampang langsung mengerti apa yang diajarkan kedua orangtuanya. Contohnya setiap Cahaya mengajarkan Ezra berbagai bahasa, Ezra dapat langsung mengingatnya dan setiap diajari hitungan Ezra juga langsung bisa menjawabnya.


Kedua kakek dan neneknya tampak sangat memanjakan Ezra, mereka selalu memberikan Ezra barang-barang yang sangat mahal. Cahaya yang melihat hal itu membuat hatinya sangat resah. Dia tidak ingin membuat putranya menjadi sosok yang manja dengan harta.


"Sayang apa yang diberikan papa dan mama itu bentuk kasih sayang mereka pada cucunya" ucap Ryan sambil memeluk pinggang istrinya dari belakang. Cahaya dan Ryan selalu berdiskusi tentang rumah tangga mereka di balkon kamar mereka.


"Tapi aku takut dia terlalu manja dengan barang-barang mewah. Di luar sana masih banyak anak-anak yang sangat membutuhkan bantuan" ucap Cahaya dengan sendu.


"Kalau kamu mau, kita bisa mengajarkan putra kita untuk saling berbagi. Contohnya kita bisa membawa dia ke panti asuhan dimana kamu dibesarkan. Kita akan memberikan donasi tapi atas nama putra kita dan dia sendiri yang akan memberikan pada anak-anak panti" Dengan penuh semangat Cahaya memutarkan tubuhnya menghadap suaminya.


Cup.


"Aku setuju! Aku tidak menyangka kalau suami ku sangat pintar" ucap Cahaya dengan manja.


Cup...Cup...Cup..Cup..


Dengan gemas Ryan mengecup seluruh wajah istrinya. Ryan tidak akan pernah tahan melihat senyum manis istrinya. Setiap istrinya tersenyum, kecantikan istrinya pasti akan bertambah kali lipat. Makanya Ryan tidak pernah membiarkan istrinya keluar sendiri.


"Sayang dari dulu suami mu ini sangat pintar. Makanya putra kita juga pintar" ucap Ryan dengan membanggakan dirinya sendiri.


"Kamu ini, putra kita pintar karena mengikuti ku. Dari dulu aku selalu juara dan lulusan cumlaude" Cahaya tidak mau kalah dari suaminya.


"Ia...Ia... Putra kita pintar karena mengikuti kepintaran kita"


"Benar sekali. Hahaha" Keduanya langsung ketawa setelah berdebat.


"Sayang apa kamu yakin kalau Ezra kita titip pada mama?"


Sesuai dengan janjinya Ryan, Ryan mengajak Cahaya untuk honeymoon. Ryan yang sudah mempersiapkan acara honeymoon mereka nantinya di Swiss, semuanya sia-sia karena Cahaya ingin honeymoon ke Bali. Cahaya mengancam Ryan tidak akan mau honeymoon kalau tidak ke Bali. Tentu saja membuat Ryan panik, Ryan yang sudah lama sangat menantikan acara honeymoon mereka langsung mengikuti apa yang dikatakan Cahaya.


"Tentu saja, sayang... Lagian mama tidak keberatan malah dia sangat senang karena akan puas bermain dengan cucunya. Mama juga sangat mengerti kalau kita sangat membutuhkan waktu berdua"


"Baiklah.... Tapi kita tidak akan lama di sana kan?"

__ADS_1


"Tidak sayang...." Cahaya langsung memeluk erat suaminya dengan erat.


-


-


Kini Cahaya dan Ryan berada di Bali, mereka dijemput dengan pihak hotel dimana mereka akan menginap selama di Kota Bali. Hotel yang mereka tempati adalah milik Renaldo dan Rudi. Mereka berdua memiliki saham yang sama besar.


"Apa kamu suka?" Ryan memeluk pinggang istrinya dari belakang. Cahaya sangat terkejut melihat kamar mereka dihiasi seperti orang yang baru menikah.


"Sayang apa tidak terlalu berlebihan? Seperti kita pengantin baru saja...." ucap Cahaya.


"Tidak. Aku ingin membuat honeymoon kita berkesan."


"Terimakasih...."


"Sekarang katakan kamu mau kemana?"


"Aku mau jalan-jalan ke pantai..." ucap Cahaya dengan semangat.


"Aku setuju!"


Saat mereka dipantai, Ryan terus menggenggam tangan Cahaya. Ryan tidak terlalu suka dengan pandangan pria-pria bule menatap istrinya. Ingin sekali Ryan mencongkel kedua mata mereka. Karena tidak ingin ada yang menatap istrinya, Ryan membawa Cahaya ke tempat yang sepi.


"Ah....." Cahaya menjerit sambil merentangkan kedua tangannya dan berdiri di tepi pantai saat mereka sampai di tempat agak sepi. Ryan lebih memilih untuk memperhatikan istrinya yang tampak sangat bahagia.


"Ah... Sayang...." Tiba-tiba Cahaya melemparkan air pantai padanya.


"Makanya jangan bengong disana sayang.... Ayo kejar aku...." Cahaya melemparkan air lagi pada Ryan.


Kini yang ada aksi kejar-kejaran antara Cahaya dan Ryan. Setiap orang yang melihat mereka tampak sangat cemburu melihat kebahagiaan mereka. Mereka dapat melihat jelas kalau Ryan dan Cahaya saling mencintai.


Saat mereka capek untuk berlari, Cahaya langsung duduk di pinggir pantai. Ryan juga mengikuti apa yang dilakukan istrinya.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kalau saat ini aku dapat merasakan kebahagiaan, kebahagiaan yang selalu ku impikan....." ucap Cahaya sambil menatap lurus ke depan. Mendengar ucapan istrinya Ryan menolehkan kepalanya ke samping menatap istrinya yang tengah tersenyum.


"Sayang apa kamu tahu kadang kala aku sangat takut, takut kalau kebahagiaan kita ini hanya lah mimpi" ucap Cahaya sambil menoleh pandangannya ke arah Ryan. Kini keduanya saling menatap.


Cup.


Ryan mengecup bibir istrinya.


"Apa kamu tahu ternyata pemikiran kita sama, sayang... Sebenarnya setiap aku bangun melihat mu tidak ada disamping ku membuat aku sangat takut kalau kamu pergi meninggalkan ku. Aku takut tanpa sengaja aku telah menyakiti mu, sehingga membuat mu pergi meninggalkan ku" Cahaya sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Ryan padanya.


"Kenapa seperti itu?"


"Aku tidak tahu, mungkin karena kepergian mu dulu membuat jadi terbayang-bayang dalam hidup ku"


"Maaf kan aku...." Ryan langsung memeluk erat istrinya kedalam pelukannya, Ryan tidak berniat membuat istrinya menjadi rasa bersalah.


"Tidak perlu meminta maaf sayang. Coba kamu bayangkan kalau kamu tidak pergi, mungkin saja sampai saat ini aku masih menyakiti hati mu."


Entah siapa yang duluan kedua insan tersebut sudah saling menukar slavina mereka. Mereka tidak memperdulikan keadaan sekeliling mereka. Mereka hanya ingin menyalurkan hasrat mereka saja.


Ryan mengajak Cahaya untuk pulang ke hotel, acara makan malam mereka harus ditunda karena Ryan tidak tahan lagi menahan gejolak dalam dirinya.


Padahal masih jam tujuh, tapi mereka sudah berolahraga di kamar. Ryan tidak memberikan jeda pada Cahaya. Setelah Empat jam barulah Ryan melepaskan istrinya. Ryan melihat istrinya tampak sangat lelah langsung berinisiatif untuk menggendong istrinya ke kamar mandi.


Cahaya tidak pernah sekalipun protes, kalau Ryan berlama-lama melakukannya karena dia tidak ingin suaminya merasa diabaikan, ya selain itu dia juga sangat menyukai sentuhan suaminya.


"Sayang kita makan dikamar saja bagaimana?" tanya Ryan sambil memeluk istrinya yang baru saja selesai berpakaian.


"Tidak mau, aku ingin kita tetep makan di luar..."


"Baiklah, aku akan mengikuti kemauan ratu ku..."


Kini Cahaya dan Ryan berada di salah satu restoran yang tidak jauh dari hotel mereka. Saat mereka masuk kedalam, restoran itu tampak penuh dengan pengunjung.

__ADS_1


*****


__ADS_2