
"Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan nya. Aku tidak ingin mereka akan melukai hati mu lagi..." ucap Ryan saat merasakan kehadiran istrinya dibelakangnya. Tadi Ryan memilih untuk masuk kedalam kamar dan berdiri di balkon kamar mereka.
"Aku tahu itu, aku adalah wanita yang paling sangat beruntung di dunia ini mendapat suami yang begitu sangat mencintai ku, menjaga ku dengan sepenuh hati." ucap Cahaya sambil menarik Ryan untuk menghadapnya.
"Tapi aku ingin kita menjadi orang tua yang baik untuk putra kita" sambung Kiara lagi.
"Apa maksudmu? Apa selama ini kita belum menjadi orang tua yang baik?" tanya Ryan kesal. Cahaya yang tahu kalau saat ini suaminya kesal karena ucapannya, langsung memeluk erat suaminya.
"Kita memang sudah menjadi orang tua yang baik untuk putra kita, tapi kita belum bisa menjadi contoh yang baik untuk putra kita. Apa kamu mau putra kita menjadi orang yang pendendam? Bagaimana kalau kita tanpa sadar suatu saat kita menyakiti hati putra kita, apa kamu dia menyimpan dendam pada kita? Apa kamu mau dia terus membenci kita?" ucap Cahaya dengan lembut dalam pelukan Ryan. Ryan tampak mencerna apa yang dikatakan oleh Cahaya. Cahaya yang ingin melihat reaksi dari Ryan langsung melepaskan pelukannya.
"Memang apa yang dilakukan mama Kiara salah besar, tapi bukankah kita sebagai anaknya aku harus mau memaafkannya? Meskipun aku belum bisa menerima kalau dia adalah mama kandung ku, tapi setidaknya aku harus memaafkannya. Kesalahan yang dilakukannya terhadap ku tidak sebanding dengan begitu besar pengorbanannya untuk melahirkan ku. Ya, walaupun dia meninggalkan ku disaat aku masih membutuhkannya." Ryan menatap istrinya dengan lembut, Ryan tidak menyangka kalau istrinya masih mau memaafkan orang yang berniat untuk menghancurkan rumah tangganya, dan orang itu tidak lain adalah mama kandung dari istrinya.
"Aku hanya takut kalau kau akan kecewa lagi dengan apa yang mereka lakukan padamu" ucap Ryan sambil mengelus pipi Cahaya. Cahaya menahan tangan Ryan yang menyentuh pipinya.
"Aku sudah siap untuk semua itu. Tapi aku sangat yakin melihat Nayla yang seperti itu, mereka tidak akan mengulanginya lagi." ucap Cahaya.
"Baiklah, tapi aku ikut bersama mu..." Cahaya mengangguk kepalanya dengan tersenyum. Cahaya yang merasa gemas dengan suaminya, langsung mengecup bibir suaminya.
Cup...
"Terimakasih..." ucap Cahaya dengan tulus pada Ryan.
-
-
-
Dengan langkah lunglai Nayla masuk kedalam rumahnya dan saat mencari keberadaan papanya, Nayla melihat papanya duduk di pintu kamar dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Pa..."Gumam Nayla dengan pelan.
Renaldo langsung menegakkan kepalanya dan melihat putrinya yang kelihatan tampak sangat kacau. Melihat tatapan mata Nayla, Renaldo tahu kalau putrinya gagal membawa Cahaya ke rumah mereka. Renaldo langsung bangkit berdiri sambil merentangkan kedua tangannya.
Hiks hiks hiks....
__ADS_1
Nayla langsung berlari memeluk papanya. Nayla terus menangis dalam pelukan papanya.
"Tidak apa-apa sayang, yang penting Kamu sudah berusaha. Sekarang kita coba bujuk mama mu lagi untuk membuka pintu kamar!" ucap Renaldo, Nayla mengangguk kepalanya.
Sudah hampir lima belas menit mereka mencoba Kiara tidak juga mencoba pintu kamarnya.
"Ijinkan saya saja yang mencobanya...." Renaldo dan Nayla langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Mereka sangat terkejut melihat kedatangan Cahaya dan Ryan.
Renaldo langsung mengangguk kepalanya dan menarik putrinya untuk memberikan Cahaya mencobanya.
"Ma, ini Cahaya tolong buka pintunya..." ucap Cahaya dengan lembut.
Renaldo dan Nayla langsung saling pandang dengan terharu karena mereka mendengar Cahaya memanggil Kiara dengan sebutan mama.
-
-
-
Kiara terus menerus meneteskan air mata Tanpa suara sambil memeluk foto Cahaya. Dalam hatinya dia selalu mengatakan kata maaf. Kiara sungguh sangat merindukan putrinya, dan rasa bersalahnya sangat besar. Dia merutuki dirinya sendiri kalau dia bukanlah seorang ibu yang baik, ibu yang jahat. Sampai keesokan paginya Kiara terus menerus memeluk erat foto Cahaya. Dia tidak memperdulikan panggilan suami dan putrinya.
"Ma, ini Cahaya tolong buka pintunya..."
"Cahaya..." gumam Kiara saat mendengar suara Cahaya.
Dengan cepat Kiara turun dari tempat tidurnya dan berlari membuka pintunya, Kiara takut kalau dia tidak membuka pintunya langsung, Cahaya akan pergi.
Saat dia membuka pintu kamarnya mata nya Kiara langsung berkaca-kaca melihat putrinya ada dihadapannya. Kiara yang sangat merindukan putrinya langsung memeluk erat Cahaya.
Nayla yang melihat mamanya langsung keluar dari dalam kamar langsung memeluk papanya. Nayla merasa lega karena mamanya langsung membuka pintu saat Cahaya yang memanggil. Begitu juga dengan Renaldo, melihat istrinya baik-baik saja membuat perasaannya sangat lega.
Baru saja mereka merasa lega, tapi rasa cemas itu kembali lagi karena tiba-tiba Kiara pingsan dalam pelukan Cahaya. Untung saja ada Ryan dekat dengan Cahaya, Ryan langsung membantu Cahaya menopang tubuh Kiara.
Mereka langsung membawa Kiara kedalam kamar dan dibaringkan di atas tempat tidur. Dengan cepat Ryan langsung menghubungi dokter pribadi Keluarganya untuk memeriksa keadaan mertuanya.
__ADS_1
-
-
-
"Bagaimana dokter apa yang terjadi pada istri saya?" tanya Renaldo dengan cemas.
Cahaya hanya diam sambil memeluk Ryan dari samping untuk mendengarkan apa yang akan dijelaskan dokter pada Renaldo. Sedangkan Nayla duduk di samping Kiara sambil menangis.
"Nyonya Kiara hanya dehidrasi saja dan lemah, mungkin karena belum ada masuk air dan makanan dalam tubuh nyonya Kiara." mendengar penjelasan dokter membuat mereka langsung lega.
"Saya akan memberikan vitamin dan obat untuk nyonya Kiara, setelah makan nanti tolong berikan pada nyonya Kiara"
"Terimakasih dokter." ucap Renaldo.
"Sama-sama, pak!"
"Mari dokter, saya antar ke depan" ucap Renaldo.
Saat Renaldo dan dokter keluar, Cahaya menarik suaminya ikut bersamanya keluar.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Ryan saat melihat istrinya tampak mencari sesuatu.
"Aku mau ke dapur, mau masak bubur untuk mama Kiara. Karena perutnya mama Kiara kosong tidak baik untuk memakan yang keras-keras" ucap Cahaya.
"Mari om, tunjukkan nak!" ucap Renaldo yang kini ada dibelakang mereka.
"Terimakasih om..." ucap Cahaya dengan sopan.
Sesampainya di dapur Renaldo meminta pembantunya untuk menunjukkan tempat dimana Cahaya membutuhkan bahan yang akan digunakannya.
"Terimakasih, nak kamu mengijinkan istrimu untuk datang ke sini" ucap Renaldo sambil menepuk pundak Ryan yang berdiri di sampingnya. Ryan masih saja diam sambil menatap istrinya yang tampak sangat sibuk memasak.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Awalnya aku sangat berat untuk mengijinkannya untuk kesini karena apa yang dilakukan mama Kiara dan Nayla bisa membuat pernikahan ku hancur." ucap Ryan setelah beberapa menit diam.
__ADS_1
*****