
Cahaya tampak sangat merindukan suasana kamarnya dimana kamarnya dipenuhi foto-fotonya bersama Ryan dulu.
Cahaya berjalan menuju meja yang ada didekat tempat tidurnya. Lalu dia mengambil buku album. Satu persatu Cahaya mengelus foto-foto yang ada dalam album. Tanpa sadar air matanya mulai menetes, Cahaya selalu bertanya-tanya kenapa Tuhan tidak pernah memberikan dia kebahagiaan. Disaat kebahagiaan mulai menghampirinya, dalam sekejap kebahagiaan itu langsung sirna.
-
-
Sudah dua bulan Cahaya tidak pulang, selama itu juga Ryan tidak mengetahui kalau Cahaya tidak pernah pulang ke rumahnya. Karena mereka memang tidak pernah sekalipun bertegur sapa.
"Ya, kamu mau kemana? Aku antar ya..." ucap salah satu pegawai yang bernama Gery, salah satu karyawan pria yang selalu berusaha mendekati Cahaya. Cahaya mengetahui hal itu, makanya Cahaya tidak pernah sekalipun menggubris apa yang dilakukan Gery padanya. Karena Cahaya sudah menutup hatinya untuk pria lain, didalam hatinya hanya ada tunangannya dulu. Yang dikenalnya dengan nama Ryan Adi, bukan Ryan Aditama. Padahal Ryan Adi dan Ryan Aditama orang yang sama. Pria yang kini sudah menjadi suaminya. Meskipun saat ini suaminya tidak mengingatnya dan telah menipunya selama mereka berpacaran, cintanya tidak pernah hilang. Rasa kecewanya, tidak membuat cintanya pada Ryan hilang begitu saja.
Sungguh miris memang dengan perjalanan kehidupan percintaan Cahaya. Saat dia menemukan cintanya dan menikah dengan pria yang sangat dicintainya, tapi mereka seperti orang asing.
Cahaya tidak ingin memberikan harapan palsu pada Gery maka karena itu dia tidak pernah menggubris Gery dan dia juga ingin menjaga nama baik keluarga mertuanya.
"Maaf saya bisa pulang sendiri!" ucap Cahaya.
Ryan dan Bisma yang baru saja keluar dari dalam lift melihat bagaimana Gery mendekati Cahaya. Tapi, Ryan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia cemburu melihat hal itu.
-
-
Karena hari libur nasional membuat Ryan di rumah. Sebenarnya walaupun hari libur dan hari Minggu Ryan tidak pernah sekalipun didalam rumah, dia selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya. Supaya tidak melihat Cahaya, tapi untuk hari ini Ryan memutuskan untuk tetap dirumah. Karena tidak ada lagi pekerjaan yang harus dikerjakannya.
"Bi... Tolong buatkan kopi untuk saya dan antar ke depan" ucap Ryan saat melihat pembantunya sedang bersih-bersih.
"Baik tuan..." jawab bi Surti.
Sudah satu jam Ryan membaca koran sambil menikmati kopinya. Ryan merasa tampak sangat bingung karena selama satu jam, Cahaya tidak menampakkan wajahnya.
"Apa wanita itu selalu seperti ini setiap hari libur?" gumam Ryan dalam hatinya.
Tut...Tut...
Ryan langsung mengangkat teleponnya saat melihat mamanya yang menghubunginya.
"Halo sayang..." sapa mamanya dari seberang.
"Halo ma... Tumben mama telepon..."
"Kau ini... Apa salah mama hubungi putra mama?"
__ADS_1
"Tidak. Hanya aneh saja, sudah dua Minggu ini mama tidak ada hubungi ku"
"Hahaha. Maaf sayang, mama sangat sibuk membantu papa mu untuk mengurus perusahaan kita yang disini."
"Jadi kapan mama pulang?"
"Nanti siang kami akan sampai di kota J. Jadi mama dan papa ingin kamu dan menantu kami datang untuk makan malam bersama kami dirumah"
"Baiklah."
"Ya, sudah. Mama hanya ingin bilang itu saja. Titip salam untuk istrimu"
"Ia, ma"
Setelah sambungan teleponnya putus, Ryan masuk kedalam rumahnya. Saat melihat bi Surti yang lagi masak, Ryan menghampirinya.
"Bi..."
"Ya, tuan..." Bi Surti langsung mengehentikan kegiatannya dan mendekati Ryan yang berdiri di dekat meja makan.
"Bi, apa selama ini Cahaya selalu bangun kesiangan kalau hari libur?" Tentu saja membuat Bi Surti bingung untuk menjawabnya.
"Bi..." Ryan memanggil Bi Surti lagi karena melihat bi Surti tampak gugup.
"Begini tuan. Sebenarnya sudah dua bulan ini non Cahaya tidak pulang..." ucap Bi Surti gugup.
"Apa?" Ryan sangat terkejut mendengarnya.
"Kenapa tidak bilang sama saya bi...." teriak Ryan pada bi Surti.
"Saya sudah berusaha untuk memberitahu pada tuan. Tapi setiap saya menyebutnya nama non Cahaya, tuan selalu mengatakan kalau tuan tidak ingin mendengar apapun tentang non Cahaya" Sebenarnya Bi, Surti selalu berusaha untuk memberitahu tentang Cahaya pada Ryan. Tapi Ryan selalu saja melarang bi Surti untuk berbicara tentang Cahaya.
"Ah...Sial..." teriak Ryan emosi sambil memukul meja dengan keras sehingga membuat bi Surti takut.
"Sekarang katakan apa dia pernah cerita pada bibi alamat rumahnya dulu?" Bi Surti mengangguk kepalanya.
Setelah mendapat alamat Cahaya yang dulu, Ryan mengambil kunci mobilnya. Dengan kecepatan tinggi Ryan melajukan mobilnya ke tempat kostnya Cahaya.
Setelah menempuh perjalanan satu jam, kini Ryan berhenti di depan tempat kostnya Cahaya. Ryan tampak bingung letak kamar Cahaya, karena bi Surti pun tidak tahu. Melihat seorang pria muda keluar dari satu kamar kost, Ryan langsung keluar dari dalam mobilnya.
"Maaf, saya ingin bertanya. Apa disini ada yang kost yang bernama Cahaya?" tanya Ryan dengan sopan.
"Maaf bapak siapanya kak Cahaya?" tanya pria itu dengan menatap tajam Ryan.
__ADS_1
"Begini saya teman satu kantornya Cahaya. Saya ada yang perlu dengan Cahaya. Apa Cahaya ada?"
"Owh. Saya kira bapak salah satu orang yang ingin menyakiti Kak Cahaya belakangan ini" mendengar itu membuat Ryan mengernyitkan dahinya.
"Menyakiti? Maksudnya?"
"Begini sejak kak Cahaya pulang selama dua bulan ini, ada beberapa pria yang selalu saja datang meneror kak Cahaya." ucap pria muda itu.
"Kalau begitu Cahayanya ada dimana?"
"Biasanya kalau weekend begini kak Cahaya selalu pergi ke danau yang dijalan X. Karena tempat itu, tempat kesukaan kak Cahaya"
"Apa kamu adiknya?" pria muda itu langsung menggeleng kepalanya.
"Sebenarnya saya dan kak Cahaya dari panti asuhan yang sama. Kak Cahaya sudah seperti kakak kandung saya sendiri. Saat saya tamat SMA Lima tahun yang lalu, kak Cahaya membawa saya ke kota. Karena bantuan kak Cahaya saya dapat bekerja di perusahaan tempat kak Cahaya dulu bekerja dan kak Cahaya lah saya dapat melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan." ucap pria itu dengan bangga. Ryan tampak sangat terkejut karena mendengar tentang Cahaya.
"Baiklah kalau begitu. Saya ingin cari Cahaya dulu"
"Ia, pak. Saya juga ada urusan penting"
Ryan langsung pergi masuk ke dalam mobilnya. Pria muda tadi terus memperhatikan Ryan sampai masuk kedalam mobil.
"Sepertinya aku pernah melihatnya.... Tapi dimana ya?" Pria itu merasa familiar dengan wajah Ryan.
-
-
Sesampainya di danau yang dikatakan pria itu, Ryan merasa sangat familiar dengan suasana danau itu. Dan dia merasa kepalanya mulai berdenyut, dengan memegang kepalanya Ryan terus berjalan mencari keberadaan Cahaya.
Semakin lama rasa sakit kepalanya menjadi, untuk menopang tubuhnya supaya tidak jatuh, Ryan memegang pohon yang ada didekatnya
"Astaga kenapa ini kepala saki?" gumam Ryan dengan memijat kepalanya.
Saat menutup matanya, bayang-bayang wanita sedang duduk di pantai terlintas.
"Ah...." teriak Ryan.
Karena rasa sakit kepalanya semakin sakit membuat Ryan pingsan. Cahaya yang tidak jauh dari tempat Ryan langsung bangkit berdiri untuk mencari sumber suara. Saat dia berlari ke sumber suara, dari jauh Cahaya melihat seseorang pingsan. Cahaya langsung berlari untuk menolong Ryan. Cahaya belum menyadari bahwa Ryan lah yang pingsan karena wajahnya Ryan tidak menghadapnya.
"Ryan..." Cahaya tampak terkejut saat mau melihat Ryan lah yan pingsan.
"Astaga, Ryan kamu kenapa?" Cahaya melihat sekelilingnya untuk mencari seseorang yang dapat membantunya untuk mengangkat Ryan. Saat dia mengedarkan pandangannya Cahaya melihat tidak ada satupun orang yang lewat, dengan terpaksa Cahaya melakukannya sendiri. Cahaya mengambil kunci mobil Ryan yang ada digenggaman tangan Ryan.
__ADS_1
****