
Cahaya tampak sangat kesal karena banyak para wanita yang dengan terang-terangan menggoda Ryan. Apalagi para wanita itu memakai baju yang sangat seksi, meskipun kecantikan mereka masih kalah dengannya Cahaya takut kalau Ryan tergoda.
"Kenapa manyun? Abaikan saja mereka, yang terpenting aku tidak akan tergoda dengan mereka." ucap Ryan sambil menangkup pipi Cahaya dengan gemas. Setelah mendengar Ryan barulah Cahaya kembali menikmati makanannya.
Setelah mereka makan, Cahaya mengajak Ryan untuk menikmati suasana malam kota Bali dengan berjalan kaki. Setelah merasa puas dengan acara mereka berdua barulah mereka kembali ke hotel. Bukannya langsung Istirahat, Ryan kembali mengajak Cahaya untuk olahraga lagi.
Tidak terasa Ryan dan Cahaya menghabiskan waktu bersama mereka seminggu di Bali. Tidak ada satu hari pun Ryan absen untuk berolahraga dengan Cahaya.
Sebenarnya Cahaya sangat kesal tapi dia tidak bisa menolak apa yang dilakukan Ryan, karena dirinya juga sangat menikmatinya.
"Sayang bagaimana kalau kita disini tiga hari lagi" ucap Ryan sambil menatap Cahaya yang lagi sibuk menyusun barang-barang mereka
"Tidak! Apa kamu lupa putra kita sudah merindukan putra kita. Lagian besok adalah peringatannya" ucap Cahaya dengan wajah sendu. Mendengar itu Ryan langsung bangun dan memeluk erat Cahaya dari belakang.
"Kalau saja aku hati-hati membawa mobil mungkin saat ini dia sudah besar...." ucap Ryan dengan sendu.
"Tidak perlu menyalakan diri sendiri, semuanya sudah takdir. Kita hanya perlu mengenangnya...." ucap Cahaya sambil menggenggam tangan Ryan yang melingkar di pinggangnya.
-
-
Lima tahun kemudian.
Ezra putra dari Ryan dan Cahaya menjadi pusat perhatian semua orang. Bukan karena dia ahli waris dari Aditama, tapi karena ketampanannya dan kepintarannya. Ezra lebih menyukai belajar dari pada bermain seperti anak-anak yang lainnya. Setiap sepupunya datang dan putra dari Bisma dan Jeje, Ezra tetap saja fokus dengan buku bacaannya.
"Mom, apa mommy baik-baik saja?" tanya Ezra dengan cemas karena melihat Cahaya datang menjemputnya dengan wajah yang pucat.
"Mommy baik-baik saja, sayang."
"Tapi kenapa mama kelihatan pucat?"
"Mungkin karena mama lapar."
"Ya, sudah kita makan siang dulu"
"Baiklah, bagaimana kalau kita ajak papa juga ikut makan siang bersama kita?"
"Baik." Ezra langsung cepat menjawab Cahaya.
Saat mereka masuk kedalam mobil, Cahaya menghubungi Ryan. Sudah lima kali dia mencoba, Ryan tidak juga mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Kirim pesan saja, mom" ucap Ezra sambil fokus pada bukunya.
"Benar juga" Cahaya langsung mengikuti saran yang di katakan Ezra.
Hanya butuh waktu lima belas menit mereka sampai di restoran milik mereka. Hampir satu jam Ryan tidak juga kunjung datang, setiap Cahaya menghubungi Ryan pasti tidak mengangkat teleponnya. Bisma dan Kevin juga begitu, mereka sangat susah dihubungi.
"Mom, ayolah kita makan saja lebih dulu. Mommy semakin pucat. Mungkin Daddy dan uncle sedang rapat penting"
"Kamu saja yang lebih dulu makan sayang, mommy tidak selera. Mommy kangen dengan Daddy" ucap Cahaya dengan lemah.
"Begini saja, kalau mommy makan kita ke kantor Daddy."
"Kalau kita kesana, yang memperhatikan restoran siapa?"
"Bukannya ada uncle Ricky? Dia asisten mommy dan pastinya dia bisa menggantikan mommy untuk sementara"
"Baiklah..."
-
-
Kini Cahaya dan Ezra menuju ke perusahaan, sepanjang perjalanan menuju perusahaan Cahaya meminta supirnya untuk menghentikan mobilnya. Cahaya merasa sangat mual, makanan yang dimakannya tadi semuanya dimuntahkan.
Cahaya yang ingin bangkit berdiri tiba-tiba langsung pingsan. Ezra yang melihat mommy nya pingsan, meminta supir mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Ezra juga langsung mengabari kakeknya yang saat ini sedang ada di luar kota liburan bersama kakek dan neneknya dari mommy nya, kalau mommy nya berada di rumah sakit karena pingsan, Ezra juga mengatakan kalau Daddy nya susah dihubungi.
"Dokter apa yang terjadi pada mommy?" tanya Ezra dengan tenang pada dokter yang selama ini menjadi dokter keluarga Daddy nya.
"Kamu sudah menghubungi Daddy mu?" tanya dokter itu dengan lembut.
"Daddy sangat susah untuk dihubungi. Dokter apa mommy baik-baik saja?"
"Mommy mu baik-baik saja"
"Kalau begitu kenapa mommy bisa pingsan?" Mommy tadi juga muntah?"
"Itu hal yang biasa dialami semua wanita disaat usia kandungannya masih muda."
"Kandungan? Apa maksud dokter dalam perut mommy dedek bayi?"
__ADS_1
"Ya. Sekarang kamu jaga mommy mu baik-baik. Kalau Daddy mu sudah datang, panggil dokter"
"Baik, dok"
Setelah dokter pergi Keluar ruangan Cahaya, Ezra duduk di samping mommy nya sambil menggenggam tangan mommy nya.
-
-
Ryan yang baru saja selesai rapat penting pada seluruh pegawainya langsung merebahkan tubuhnya di sofa yang ada dalam ruangannya. Bisma langsung meminta sekretaris Cherry untuk menyediakan membawa makan siang Ryan.
Rapat kali ini membuat tenaga Ryan terkuras abis. Karena banyak para pegawainya yang sangat lalai dalam menjalankan tugasnya. Sehingga membuat beberapa proyek yang sedang mereka kerjakan di luar kota diberhentikan sementara.
"Bis, apa kamu melihat handphone ku?" tanya Ryan sambil merogoh kantongnya.
"Tunggu sebentar, mungkin anda tidak membawanya tadi" ucap Bisma. Bisma berjalan kearah meja Ryan dan melihat handphone Ryan ada di atas meja.
Saat dia mengambil handphone milik Ryan, Handphone Ryan berdering dan melihat siapa yang meneleponnya.
"Pak, Papa anda menelepon". Ryan langsung mengambilnya dan mengangkatnya.
"Akhirnya kamu juga angkat telepon juga. Kemana saja kamu?" Rudi langsung marah pada Ryan saat Ryan mengangkat teleponnya.
"Aku tadi ada tadi ada rapat, pa!"
"Sekarang kamu ke rumah sakit. Papa dan mama sedang dalam perjalanan pulang menuju ke sana"
"Rumah sakit? Siapa yang sakit pa?" Ryan mulai merasa cemas.
"Istri mu. Tadi Ezra mengatakan kalau kamu susah dihubungi...." Rudi tampak sangat kesal karena dia belum selesai bicara, Ryan langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Astaga ini anak kebiasaan langsung mematikan sambungan teleponnya" omel Rudi dengan kesal.
"Kamu ini, mungkin saja Ryan mematikan sambungan teleponnya karena ingin langsung pergi ke rumah Sakit melihat istrinya" ucap Andini sambil geleng-geleng kepala.
Apa yang dikatakan Andini sangat benar, saat Ryan mendengar istri masuk rumah Sakit membuat Ryan langsung mematikan sambungan teleponnya dan mengambil jasnya dan meminta Bisma ikut bersamanya.
Ryan merutuki dirinya karena tidak membawa handphone nya saat rapat tadi. Apalagi dia melihat banyak panggilan tidak terjawab dari istrinya. Ryan sangat takut terjadi hal yang buruk terjadi pada istrinya.
Sesampainya di rumah sakit, Ryan langsung berlari masuk kedalam dan menanyakan ruangan istrinya. Setelah mendapat dimana istrinya dirawat, Ryan langsung pergi lari.
__ADS_1
"Daddy..." gumam Ezra saat melihat kedatangan Ryan.
*****