
Kini Cahaya terus menatap memohon pada Jessie untuk membantunya.
"Aya, apa kamu tidak berjuang mendapatkan cintanya kembali?" ucap Jessie.
Sebelumnya saat ke dua orangtuanya Ryan pergi, Cahaya membuka matanya. Sungguh membuat Jessie langsung bahagia, tapi ketika saat dia memeluk Cahaya, Jessie sangat tersentak mendengar permintaan Cahaya. Cahaya meminta pada Jessie untuk membantunya untuk pergi dari kediaman keluarga Ryan, dia ingin kembali ke negaranya.
"Tidak. Aku sudah sangat lelah dengan semuanya ini, aku tidak ingin melihat tatapannya yang penuh kebencian terhadap ku lagi."
"Aya, apa kamu ingin tahu sesuatu?" tiba-tiba suara seseorang terdengar di balik pintu.
"Richard..."
"Sayang..." Jessie dan Cahaya sangat terkejut melihat Richard dihadapan mereka.
"Sebenarnya Ryan tidak melupakan mu sepenuhnya. Saat dia terbangun dari komanya dia selalu menceritakan semuanya pada ku, kalau di bawah alam sadarnya dia selalu memimpikan seorang wanita yang yang selalu menangis..." ucap Richard sambil menatap Cahaya dengan serius.
"Tidak ada satupun yang tahu hal itu, hanya aku saja Ryan bercerita tentang mimpinya. Setiap dia berusaha untuk melihat jelas wajah wanita yang selalu menangis itu, maka rasa sakit kepalanya semakin sakit. Maka karena itu aku mengusulkan padanya kalau dia harus melupakan wanita yang ada dalam mimpinya dan mengatakan itu hanyalah sebuah ilusinya saja. Meskipun dia sudah menikah dengan Mesya, mimpi itu selalu muncul dan karena itu dia selalu pergi berobat rutin ke dokter psikiater. Om Rudi dan Tante Andini tidak mengetahui hal itu sama sekali, termasuk Mesya. Karena dia tidak ingin menyakiti hati Mesya."
"Apa kamu tahu beberapa bulan yang lalu, dia menceritakan danau yang ada dalam mimpinya benar-benar nyata. Aku sangat cemas dengan keadaannya, karena kata dokter jika dia memaksakan dirinya untuk mengingatnya maka akan ada beberapa sarafnya yang putus dan itu berarti dia bisa saja koma." jelas Richard panjang lebar.
"Sekarang aku ingin bertanya kepada, mu. Apa keputusan mu setelah aku memberitahu semuanya?" tanya Richard dengan penuh harap Cahaya membatalkan niatnya untuk pergi meninggalkan Ryan. Dia takut kalau Ryan sudah sadar nantinya dan ingat semuanya, Ryan akan semakin terpukul karena Cahaya pergi.
Cahaya bukannya menjawab dia berusaha untuk bangkit berdiri, Jessie yang melihat hal itu langsung membantu Cahaya untuk turun dari tempat tidurnya. Setelah berdiri, Cahaya berjalan mengambil kopernya dan meletakkannya di atas tempat tidurnya.
Jessie yang melihat hal itu langsung memeluk erat lengan suaminya. Jessie langsung mengetahui kalau keputusan Cahaya tidak berubah. Begitu juga dengan Richard, dia sangat terkejut karena Cahaya tidak mengubah keputusannya.
"Baiklah kalau itu keputusan mu, tapi maaf kami tidak bisa membantu" ucap Richard dengan kesal, dia berpikir kalau dia menceritakan semuanya pada Cahaya, maka Cahaya akan mengubah keputusannya. Richard menarik istrinya untuk membiarkan Cahaya sendiri.
Setelah memastikan semuanya, Cahaya mengambil kertas, dia ingin membuat surat untuk kedua mertuanya. Barulah dia pergi meninggalkan kamarnya.
"Aya tolong jangan pergi, Ryan pasti akan mengingat mu. Tolong maafkan dia, Aya..." bujuk Jessie.
"Aku sudah memaafkannya, Jess. Hanya saja ucapnya yang sangat merendahkan ku, sungguh membuat sangat kecewa padanya. Aku, tidak siap menerima ucapan yang sangat menyakitkan lagi. Aku sudah memutuskan untuk menjalani hidup ku, sebelum aku pernah mengenalnya." ucap Cahaya dengan tersenyum pada Jessie, setelah mengatakan hal itu Cahaya menatap tajam Richard.
__ADS_1
"Aku tidak perlu bantuan dari siapapun, aku bisa melakukannya sendiri" ucapnya dingin sambil menatap tajam Richard.
-
-
Rudi yang mendengar dari Richard kalau Cahaya pergi membuat dia langsung mengajak istrinya untuk pulang dulu sementara. Dia tidak ingin menantunya pergi begitu saja, entah kenapa dia merasa saat putranya bangun, Ryan akan mencari Cahaya.
Mereka sangat bersyukur karena keadaan putranya tidak membahayakan. Hanya saja dia mengalami geger otak ringan. Rudi meminta Bisma untuk menjaga putranya untuk sementara.
"Dimana Cahaya?" tanya Andini dengan cemas pada Jessie.
"Maaf Tante kami tidak bisa menahannya. Dia sudah pergi satu jam yang lalu." ucap Jessie dengan meneteskan air matanya.
"Pa, suruh ank buah mu untuk mencari keberadaan Cahaya. Mama yakin dia belum pergi meninggalkan negara ini" ucap Andini.
Saat Rudi sibuk menghubungi seseorang, Andini berlari ke atas menuju kamar putranya. Disana dia melihat ada sepucuk surat di atas meja yang tidak jauh dari tempat tidur.
Maaf kan saya Yang pergi begitu saja tanpa bicara tentang hal ini. Seperti yang mama katakan kalau saya sudah lelah dengan semuanya, saya bisa mengatakannya pada mama dan membiarkan saya pergi. Maaf saya tidak bisa mengatakannya secara langsung. Sungguh saya sudah sangat lelah untuk semuanya, tolong ijinkan saya untuk pergi.
Terimakasih karena kalian menyayangi ku, saya juga sangat menyayangi kalian. Maaf saya sudah tidak sabar menunggu sangat menyayangi kalian. Saya berharap kalau kita bertemu kembali, Ryan sudah menemukan wanita yang sangat dicintainya dan wanita itu wanita yang baik-baik. Bukan seperti saya, wanita murahan yang seperti dikatakan Ryan.
Terimakasih untuk semuanya.
Salam Cahaya
Andini berjalan kebawah dengan langkah yang lemah, dia tidak sanggup lagi berjalan. Saat dia mau jatuh, Jessie yang melihat hal itu langsung membantu Andini untuk berjalan.
"Ma, kamu kenapa?" Rudi sangat cemas melihat keterpurukan istrinya.
"Biarkan dia pergi, pa..." tentu saja membuat Rudi dan yang lainnya terkejut mendengar ucapan Andini.
"Mama pernah berjanji kalau dia sudah lelah untuk semuanya, maka mama mengijinkannya untuk pergi" ucap Andini dengan meneteskan air matanya.
__ADS_1
Hiks hiks hiks.
Setelah mengatakan hal itu Andini langsung menangis. Tentu saja Rudi memeluk istrinya, dia sangat tahu kenapa sampai istrinya menangis.
-
-
-
Cahaya memutuskan untuk istirahat di bandara mereka pesawat yang akan dinaikinya akan berangkat pagi-pagi sekali. Cahaya yang ingin menulis dan minum obatnya membuat dia sangat kesal. Karena buku diary nya dan obatnya tertinggal. Padahal dia sudah memastikan bahwa semua barang-barangnya sudah dibawanya.
Cahaya menatap foto Ryan yang pernah diam-diam diambilnya saat Ryan bekerja dengan serius.
"Seandainya aku tidak pernah bertemu dengan Mesya, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Aku berharap kalau akan baik-baik saja, maaf aku tidak bisa menjenguk. Aku akan belajar untuk melupakan luka yang kamu torehkan dalam hatiku, aku akan selalu ingin hal-hal yang manis yang pernah kamu berikan pada ku dulu. Semoga saat kita bertemu kembali lagi, rasa sakit itu sudah hilang dan kamu menemui cinta yang baru dalam hidupmu" Gumam Cahaya sambil menatap foto Ryan yang ada dalam hp nya.
Setelah puas menatap foto Ryan, Cahaya mendapatkan panggilan dari Kevin.
"Bagaimana?" tanya Cahaya langsung.
"Kita akan bertemu di sana kak. Aku sudah menyiapkan semuanya. untuk masalah barang-barang kakak yang ada di tempat kost, aku meminta mereka jangan menyentuhnya. Aku sudah membayar uang kost untuk satu tahun ke depan. Satu lagi, aku akan ikut kak Aya, aku tidak akan membiarkan kakak sendiri nantinya" ucap Kevin.
"Barang-barang mu?"
"Aku hanya membawa yang ku perlukan saja. Sedangkan untuk yang lain aku pindahkan ke ke kamar kak Aya. Untung barang-barang ku tidak banyak."
"Baiklah. Kita jumpa disana. Jam lima pagi penerbangan ku."
"Oke kak."
Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Cahaya menghela nafasnya, dia merasa lega karena dia tidak mengalami kesulitan.
*****
__ADS_1