
Ronaldo tampak sangat terkejut kedatangan Rudi, Andini dan Jessie dengan tatapan yang sangat berbeda. Apalagi sudah tengah malam, membuat Ronaldo merasakan ada hal yang mendesak.
"Rudi, Andini kalian disini? Silahkan masuk..." ucap Ronaldo dengan ramah.
"Andini..." Kiara sangat senang melihat kedatangan sahabatnya itu dengan kedatangan mereka Kiara merasa lega karena Andini tidak memutuskan hubungan mereka.
"Tidak perlu memeluk ku. Ingat dengan apa yang ku katakan. Panggil ke sini putri mu" ucap Andini dengan dingin.
"An, ada apa ini?" tanya Ronaldo dengan kebingungan.
"Kami akan jelaskan, tolong panggil putri kalian kesini"
Setelah beberapa menit akhirnya Nayla datang dengan wajah yang tampak sangat kesal karena telah mengganggu ketenangan tidurnya.
"Baiklah karena kalian berkumpul di sini, aku akan menunjukkan sesuatu untuk kalian" ucap Rudi.
Jessie yang mengerti langsung mengambil laptopnya dan menunjukkan sebuah video. Kiara sangat terkejut melihat kebenaran yang sebenarnya. Tapi karena rasa sayangnya pada putrinya membuat dia tidak menyesali perbuatanya dan putrinya. Karena dia merasa apa yang dilakukan putrinya pastinya ada alasannya.
"Ronaldo mulai saat ini aku berharap istri dan putri mu untuk tidak menunjukkan wajahnya dihadapan Keluarga ku" ucap Rudi dengan tegas. Ronaldo hanya bisa diam saja, dia sangat mengenal bagaimana sifat asli Rudi dan Andini. Apalagi perbuatan istri dan putrinya memang sangat salah.
-
-
Kini Andini dan Rudi menatap putranya yang masih tampak sangat terlelap. Mereka semakin cemas karena Bisma mengatakan kalau Ryan sering menyebut nama Cahaya.
"Pa, apa yang terjadi padanya kalau dia mengingat semuanya? Aku takut dia akan membenci ku, pa..." ucap Andini dengan wajah sendu.
"Tidak akan, ma. Berdoalah semua akan baik-baik saja..." ucap Rudi.
-
-
"Cahaya..." Disaat semuanya lagi istirahat karena kelelahan menuggu Ryan bangun, mereka sangat terkejut mendengar teriakkan Ryan.
__ADS_1
"Nak kamu sudah bangun?" tanya Andini dengan meneteskan air matanya.
Ryan langsung mendorong tubuh Andini untuk melepaskan pelukannya. Setelah itu tanpa diduga semuanya Ryan melepaskan jarum yang tertancap di tangannya.
"Ryan apa yang kamu lakukan?" Bisma langsung mengehentikan Ryan.
"Aku harus pulang, aku harus melihat keadaan Cahaya dan aku harus meminta maaf padanya" ucap Ryan sambil berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Bisma.
Melihat Ryan yang tidak mau berhenti dengan terpaksa Rudi menampar putranya itu untuk sadar.
"Papa..." teriak Andini terkejut karena ini suaminya menampar pipi Ryan dengan keras.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" Andini langsung mengelus pipi Ryan yang tampak memerah.
"Ah...." Ryan langsung menghempaskan tangan mamanya.
"Ini semua karena mama dan Mesya...." teriak Ryan dengan mengacak rambutnya. Mendengar ucapan putranya membuat Andini langsung mundur dan menangis memeluk suaminya.
"Ryan..." teriak Rudi pada putranya.
"A... aku telah menyakiti hatinya. Hiks hiks hiks hiks. Kalau saja mama tidak berbohong mengatakan kalau Mesya adalah wanita yang selama ini ku cintai, ini semua tidak akan terjadi" Mendengar ucapan Ryan Andini langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Putranya.
"Nak, kamu..."
"Ia.... Aku sudah ingat semuanya. Aku bodoh...bodoh.. Aku... aku tidak bisa mengenali wajah wanita yang selama ini selalu mengisi hati ku..." ucap Ryan dengan memukul dadanya.
Semuanya langsung tersentak mendengar ucapan Ryan, hal inilah yang mereka takutkan kalau suatu saat Ryan sudah mengingat semuanya.
Karena Ryan terus memukul dadanya membuat mereka memanggil dokter. Ryan mulai tenang saat dokter memberikannya suntikan penenang.
-
-
Sudah empat bulan Ryan terus mencari keberadaan Cahaya. Ryan tidak pernah sekalipun berhenti mencari keberadaan Cahaya, apalagi saat beberapa bulan ini perutnya selalu saja mual dan ***** makannya semakin berkurang. Saat dia memeriksa kan dirinya, dia sangat terkejut hasil dugaan dokter kalau Ryan mengambil sindrom kehamilan simpatik.
__ADS_1
Maka karena itu Ryan tidak pernah sekalipun berhenti mencari keberadaan Cahaya, dia tidak ingin Istrinya mengalami kesusahan dan menghadapi semuanya sendiri. Ryan juga tidak ingin kehilangan calon anaknya lagi, dia sangat tersentak mendengar dari mamanya kalau dulu Cahaya tengah hamil anak mereka saat mereka kecelakaan. Akibat kecelakaan itu membuat Cahaya mengalami keguguran.
Saat dokter mengijinkan Ryan pulang, Ryan memutuskan untuk langsung pulang ke Indonesia. Dia ingin mencari keberadaan Cahaya di tempat kost Cahaya dulu.
Tapi dugaannya salah, tak ada tanda-tanda Cahaya pulang ke tempat kostnya. Apalagi dia mendengar dari pemilik kost kalau Kevin tidak lagi tinggal di sana.
Awalnya semenjak Cahaya pergi meninggalkannya, Ryan sangat membenci mamanya. Tapi saat Richard dan Bisma mengatakan kalau dia juga turut adil dalam kepergian Cahaya, membuatnya langsung memaafkan kesalahan mamanya yang dulu. Apalagi mamanya telah menebus kesalahannya dengan menikahkannya dengan Cahaya dan membujuk untuk tidak lagi menyakiti hati Cahaya.
Mereka mengatakan Kalau saja Ryan membaca surat yang diberikan Mesya sejak dari dulu, mungkin saja ini tidak terjadi. Dia tidak akan mengucapkan kata-kata yang sangat merendahkan harga diri Cahaya. Barulah Ryan sadar, kalau dia juga salah. Apa yang dikatakan Cahaya pada Jessie kalau cintanya Ryan tidak terlalu besar seperti cinta Cahaya, dengan mudahnya Ryan bisa melupakan Cahaya dan tidak menyadari kalau Cahaya adalah wanita yang selalu masuk kedalam mimpinya.
Setiap malam Ryan selalu memeluk foto kebersamaannya dengan Cahaya dan buku diary Cahaya yang tertinggal di dalam kamarnya, Ryan juga selalu meletakkan baju Cahaya disampingnya. Dengan begitu dia merasa kalau saat ini Cahaya ada disampingnya dan membuatnya tenang dan bisa memejamkan matanya.
-
-
Di negara Taiwan Cahaya tampak meringis kesakitan di bagian perutnya. Dia tidak menyangka saat di pergi menjauh dari semua orang, dia tengah berisi. Ternyata malam itu membuat dia hamil. Cahaya sangat bersyukur karena ada Kevin yang selalu ada bersamanya. Karena kandungannya sangat lemah membuatnya tidak bisa terlalu capek, kalau tidak calon anaknya lah yang akan menanggung semuanya.
"Kak, apa masih sakit? Bukannya aku sudah katakan untuk tidak terlalu banyak kerja!" ucap Kevin dengan kesal sambil memasak nasi goreng untuk sarapan mereka.
Cahaya Yang sangat pintar dan berbakat, Cahaya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan apa yang diminatinya. Dia bekerja di salah satu perusahan yang terbesar di negara Taiwan. Cahaya menjadi arsitek yang sangat diandalkan dalam perusahaan, sedangkan Kevin bekerja di bagian keuangan perusahaan.
"Kamu ini cerewet sekali, sampai bosan aku mendengarnya" ucap Cahaya sambil mengelus perutnya yang sudah mulai tampak besar.
"Itu semua demi kebaikan kak Aya, dengan calon keponakan ku" ucap Kevin sambil memberikan susu untuk Cahaya.
"Oh, ya kak apa kakak tidak ingin memberitahu pada keluarga Kak Ryan kalau kakak sedang hamil?"
"Aku takut kalau mereka tidak akan mempercayai bahwa ini anaknya Ryan, Vin" ucap Cahaya dengan lemah.
"Kenapa tidak kakak coba? Ingat kak, apa kata dokter tentang kehamilan kak Aya. Kehamilan Kakak sangat lemah, dan mereka ingin bertemu dengan ayah dari anak dalam kandungan kakak" ucap Kevin.
"Apa kakak belum memaafkan suami kakak? Ingat kak, Kak Ryan tidak sepenuhnya salah. Dia memang salah karena telah merendahkan harga diri kak Aya, tapi dia tidak tahu yang sebenarnya. Menurut ku, dia melakukan hal itu, karena dia sangat cemburu dengan para pria yang menatap kak Aya" ucap Kevin panjang lebar.
"Kev, bisakah kamu diam? Perut ku semakin sakit..." ucap Cahaya dengan merintih kesakitan.
__ADS_1
****