IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Hanya masa lalu


__ADS_3

Tok...tok...


"Masuk..." Cahaya langsung membuka pintu ruangan Ryan saat mendengar Ryan mempersilahkannya masuk.


"Pak, ini data-data yang bapak minta tadi..." ucap Cahaya dengan lembut.


"Terimakasih. Kemana Bisma?"


"Pak Bisma tadi ada di ruangannya" Ryan mengambil telepon yang ada di mejanya.


"Ke ruangan ku sekarang!" ucap Ryan dengan cepat.


"Kamu bisa keluar sekarang! Oh, ya kalau kamu mau pergi untuk makan siang silahkan..." ucap Ryan tampa menatap Cahaya.


"Terimakasih pak..." ucap Cahaya sebelum keluar dari ruangan Ryan.


"Nona, apa kamu tidak makan siang?" saat Cahaya ingin duduk di kursinya, Richard langsung menghampirinya.


"Emmm... Saya tidak tahu restoran mana yang enak disini em..pak..." Cahaya tampak sangat bingung memanggil Richard apa.


"Hahaha. Tidak perlu memanggil saya bapak. Panggil nama saja, sepertinya umur kita sama. Kalau kamu mau kita bisa makan bersama" ucap Richard. Cahaya tampak bingung dengan apa yang harus dijawabnya, dia tidak ingin kalau Jessie istrinya Richard salah paham.


"Tidak perlu takut, sebenarnya Jessie yang meminta saya untuk mengajak kamu makan siang bersama kami. Kamu mau, kan?"


"Terimakasih..."


Mereka pun langsung pergi menuju restoran dimana Jessie sudah menunggu kedatangan mereka. Hanya butuh sepuluh menit mereka sampai di restoran.


"Aya...." Jessie langsung bangkit berdiri dengan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan Cahaya.


Keduanya pun saling berpelukan, mereka seperti yang sudah sangat dekat. Jessie duduk bersama dengan Richard sedangkan Cahaya duduk sendiri di hadapan mereka berdua.


"Aku senang kamu ikut makan bersama kami... Awalnya sih, mas Richard tidak yakin kalau kamu mau. Karena kami sudah sangat tahu bagaimana tentang mu..." ucap Jessie.


"Maksudnya?" cahaya mengernyitkan dahinya karena ucapan Jessie yang tidak dia mengerti.


"Tante Andini sudah menceritakan semuanya tentang mu, yang sangat tertutup...." mendengar penjelasan Jessie, Cahaya hanya tersenyum tipis saja.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Jessie dan Richard menatap kearah Cahaya yang tampak fokus dengan HP-nya.


"Apa kamu memikirkan sesuatu?" tanya Jessie dengan lembut.

__ADS_1


"Tidak. Aku hanya membaca artikel yang ada di negara ini saja, aku ingin mencari hotel yang cocok untuk ulang tahun perusahaan kita."


"Hahaha. Apa kamu belum tahu, kalau om Rudi memiliki hotel yang besar di negara ini?" ucap Richard sambil menahan dirinya untuk tidak tertawa.


"Aya, keluarga mertuamu juga memiliki hotel yang terbesar di negara ini. Jadi setiap perusahaan membuat acara, maka acaranya akan diadakan di hotel milik om Rudi" jelas Jessie.


"Oh. Bisa tolong kirim nama hotelnya untuk ku?" Jessie mengangguk kepalanya.


"Ya, maaf saya ingin bertanya sesuatu..." Ucap Richard dengan ragu.


"Tanya saja..." ucap Cahaya, yang pandangannya ke arah luar jendela.


"Apa kamu tidak berniat untuk memberi tahu pada Ryan siapa kamu sebenarnya?" Cahaya mengkerutkan keningnya karena mendengar pertanyaan Richard.


"Apa maksud mu? Jangan katakan kalau kamu sudah mengetahuinya dari mama Andini?"


"Ya, kami yang memaksanya kenapa kalian bisa menikah. Sebenarnya kami sudah mengenal mu lebih lama. Makanya sewaktu aku melihat mu di bandara bersama mereka, membuat ku sangat terkejut." ucap Richard.


"Mengenal ku?"


"Ya... Aku, Ryan dan Mesya bersahabat sejak kecil, karena papa kami bersahabat. Kami bertiga lulus di universitas yang sama di Inggris. Setelah aku tamat, aku membantu papa ku untuk mengurus perusahaan keluarga om Rudi. Papa ku, salah satu orang kepercayaannya om Rudi. Sedangkan Ryan memilih untuk pulang ke Indonesia, sedangkan Mesya ke Singapura membantu orangtuanya."


"Ryan banyak menceritakan tentang mu, pada ku. Setiap hari dia pasti akan menceritakan apa saja yang kalian lakukan setelah kalian meresmikan hubungan kalian. Ryan tampak sangat bahagia, dan aku dapat melihat jelas kalau Ryan begitu sangat mencintai mu..." ucap Richard. Cahaya tampak diam saja mendengar apa yang dikatakan Richard padanya.


"Itu masa lalu, saat ini dalam hatinya hanya ada nama Mesya. Jika dia benar mencintai ku, pastinya dia tidak akan semudah itu melupakan ku..." ucap Cahaya dengan dingin.


"Kalian perlu ingat, Ryan ku bukanlah Dia. Ryan pria yang selalu memperlakukan dengan istimewa. Ryan yang bersama ku saat ini adalah Ryan Aditama. Yang ku inginkan saat ini adalah lepas darinya."


"Tapi..."


"Ku mohon, tolong jangan kita berbicara tentangnya saat ini..." Cahaya langsung memotong ucapan Jessie.


"Baiklah kalau itu mau mu... Sekarang ceritakan pada ku, apa yang ingin kamu lakukan besok..."


"Aku tidak tahu, lagian aku kurang tahu tempat ini..." ucap Cahaya.


"Kami akan jalan-jalan, kamu harus ikut bersama kami... Sayang tidak apa-apa kan?"


"Ia sayang ku...." Richard menarik hidung Jessie dengan gemas. Cahaya yang melihat itu hanya tersenyum saja melihat keromantisan Richard dan Jessie.


Sehabis ngobrol dengan tentang Ryan, Mereka mengobrol dengan Senda gurau. Ini kedua kalinya Cahaya dapat bebas santai mengobrol dengan orang lain selain Gery. Cahaya mulai tampak berubah seperti yang dulu, sudah mulai ada senyum terbit di wajahnya sejak enam tahun yang lalu.

__ADS_1


-


-


-


Ryan dan Bisma berada di restoran yang sama dengan Cahaya, Richard dan Jessie. Ryan tampak sangat kesal karena melihat Cahaya tampak santai dan tersenyum bersama kalau mengobrol bersama dengan orang lain. Sedangkan bersamanya, Cahaya membuat mereka ada jarak yang jauh.


"Kenapa? Apa kamu sangat kesal?" tanya Bisma yang melihat reaksi Ryan yang tampak sangat kesal saat mereka masuk kedalam restoran.


"Tidak" sanggah Ryan dengan ketus.


"Ayolah, aku sudah sangat mengenal mu. Lagian seharusnya kamu sudah bisa membuka hati mu untuknya. Aku sangat yakin Mesya akan sangat sedih, karena kamu belum menerima istri yang dipilihnya untuk mu." ucap Bisma.


"Itu tidak akan terjadi, lagian kenapa dia menyuruh ku untuk menikah dengan wanita yang sama sekali tidak ku kenal."


"Karena dia ingin mengembalikan kamu ke pemilik yang sebenarnya..." gumam Bisma dengan pelan.


"Apa yang kamu katakan?" Ryan tampak bingung dengan apa yang dikatakan Bisma.


"Tidak apa-apa. Makanlah..." ucap Bisma saat melihat pesanan mereka datang.


-


-


-


Nayla tampak sangat bahagia karena papanya setuju untuk liburan di Negara N. Papanya meminta Nayla untuk menyiapkan segala keperluan mereka nantinya disana.


"Pa, aku sudah pesan tiket untuk kita berangkat besok pagi dan semuanya sudah aku persiapkan."


"Baiklah, sekalian kita akan merayakan ulang tahun mu disana" tentu saja Nyala langsung memeluk papanya.


"Terimakasih pa..."


"Sama-sama sayang, Cup" Kiara yang melihat itu tampak sangat bahagia.


"Mas, apa pencarian anak buah mu sudah ada perkembangan?" tanya Kiara sambil menikmati makan siang mereka.


"Belum, ma... Sabar lah, pasti kita akan menemukannya..."

__ADS_1


"Sebenarnya aku sangat takut kalau dia tidak akan mau bertemu dengan ku... Aku sangat berdosa, mas...Hiks hiks hiks." Nayla yang duduk di samping mamanya langsung memeluk erat mamanya.


*****


__ADS_2