
Nayla langsung mengambil sapu tangan yang diberikan pria itu. Pria itu hanya memperhatikan Nayla yang masih fokus untuk membersihkan wajahnya.
"Nona, lebih baik memikirkan sesuatu yang membuat hati kita bahagia, dari pada memikirkan sesuatu yang membuat hati kita semakin terluka. Jika dia memang jodoh anda, pasti Tuhan akan memberikan jalannya. Tapi jika dia bukan jodoh anda, lebih baik anda ikhlaskan." setelah mengatakan itu, pria itu langsung pergi.
Nayla tampak tertegun mendengar apa yang dikatakan pria yang tidak dia kenal sama sekali. Nayla baru sadar kalau sapu tangan pria itu masih ada bersamanya.
"Hei, sapu tangan nya..." teriak Nayla, tapi pria itu tetap pergi begitu saja.
"Lapar..." gumam Nayla sambil mengelus perutnya yang sudah keroncongan.
Karena perutnya yang tidak bisa lagi dibawa kompromi, Nayla memutuskan untuk mencari makanan yang ada di daerah taman. Nayla sangat bersyukur karena masih ada duit dalam kantong celananya.
-
-
Dikediaman keluarga Renaldo Renaldo tampak sangat sepi, Renaldo memutuskan untuk kembali ke perusahaannya karena masih sangat kesal dengan istrinya. Kiara tahu itu, tapi dia lebih memilih untuk berdiam di kamarnya.
Kiara sangat menyesal karena telah menyakiti putrinya yang sudah lama dia rindukan. Disaat putrinya mau mendekatinya lagi, dia telah membuat putrinya kembali menjauh darinya.
-
-
Sudah dua bulan lebih berlalu sejak saat itu, sekarang usia kandungan Cahaya sudah sembilan bulan. Perkiraan dokter kalau Cahaya akan melahirkan satu Minggu lagi. Ryan dan kedua orangtuanya tampak sangat antusias untuk menyambut kelahiran penerus Aditama.
Mereka akan berencana membuat acara syukuran setelah Cahaya melahirkan.
"Sayang apa kamu susah lagi tidurnya?" tanya Ryan yang baru saja pulang dari kantor dan melihat istrinya belum juga tidur.
"Kamu baru pulang? Sudah makan?" tanya Cahaya tanpa menjawab pertanyaan Ryan.
"Ya, begitulah. Belakangan ini banyak sekali pekerjaan yang harus ku selesaikan, sebelum jagoan kita ini lahir. Cup" Ryan mengecup perut besar istrinya yang tampak lebih nyaman duduk bersandar di sudut tempat tidur mereka.
"Aku ingin saat dia lahir, aku ingin menghabiskan waktu ku untuknya selama dua Minggu tanpa ada gangguan" ucap Ryan sambil menatap istrinya.
"Sayang bagaimana kalau terjadi sesuatu pada ku saat aku melahirkan? Apa kamu akan menjaga putra kita?" ucap Cahaya dengan sendu.
Cup.....
Ryan langsung mengecup bibir istrinya, Ryan tidak ingin istrinya mengatakan hal-hal yang buruk, yang belum tentu terjadi.
Semakin dekat hari Cahaya memiliki rasa takut, yang ditakutkannya kalau dia tidak bisa bertahan karena belakangan ini dia merasa sangat gampang lelah.
"Jangan mengatakan hal yang belum tentu terjadi. Kita akan membesarkannya bersama!" ucap Ryan.
"Sekarang tidurlah! Aku mau mandi dulu..." Cahaya mengangguk kepalanya.
__ADS_1
-
-
-
Kiara tidak mempermasalahkan apa yang telah dilakukan menantunya, hanya saja dia merasa bersalah pada kedua orangtuanya karena telah gagal menjalankan amanah orang tuanya.
"Ma, apa benar, pabrik milik kakek yang ada di kota B dan Kota PB sudah dijual?" tiba-tiba saja Nayla datang marah-marah pada Kiara.
"Em..." jawab Kiara singkat.
"Kenapa bisa?"
"Pabrik itu sudah lama tidak memberikan keuntungan, yang ada hanya rugi. Kamu tahu dari mana?" Kiara sangat kaget karena putrinya mengetahui apa yang terjadi pada perusahaan keluarganya. Padahal mereka sejak hari itu Renaldo membawa istri dan putrinya pulang ke Singapura.
"Aku tahu dari teman ku yang ada di kota B. Mereka bertanya kepada ku, kenapa perusahaan milik kita dirubah namanya" jawab Nayla.
"Sudahlah, sekarang kamu fokus untuk membantu papa mu menjalankan hotel-hotel milik papa mu!" ucap Kiara yang lebih memilih untuk melanjutkan kegiatannya merangkai bunga.
"Apa mama tahu siapa yang membelinya?"
"Tidak, Nay...."
"Sudah berapa lama mama menjual semuanya?"
"Nay, apa dia akan baik-baik saja? Ini sudah semakin dekat waktunya.." ucap Kiara dengan sendu.
Walaupun Kiara tidak menjelaskan siapa yang dimaksudnya, Nayla sangat mengerti. Nayla yang melihat wajah sedih mamanya, langsung duduk di hadapan mamanya.
"Maaf kan Nay, ma... Kalau saja Nay tidak memaksa mama untuk melakukannya, mungkin saat ini mama ada disampingnya" ucap Nayla.
"Sudahlah lupakan, bukan sepenuhnya salah mu. Kalau saja mama tidak egois, ini tidak akan terjadi..."
"Apa mama tidak ingin mencobanya lagi?"
"Mama takut semuanya akan sia-sia. Kamu tahu kan, Ryan sangat menjaganya..." dulu pernah Kiara untuk mencobanya mendekati Cahaya sebelum mereka berangkat ke Singapura. Tapi, Ryan langsung mencegahnya dan menyuruh bodyguardnya untuk tidak membiarkannya mendekati Cahaya.
Mendengar itu, Nayla langsung memeluk mamanya. Dia merasa sangat bersalah pada mamanya. Sejak saat itu mamanya selalu terlihat sedih dan kadangkala dia selalu mendengar mamanya menangis dan mimpi buruk sambil berteriak minta maaf.
-
-
-
"Kenapa rasanya sakit sekali?" gumam Cahaya sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
"Sayang... Sayang..." Cahaya berteriak memanggil Ryan yang masih berada dalam kamar mandi.
Ryan yang mendengar suara teriakan istrinya, langsung keluar dengan memakai jubah mandinya.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Ryan panik karena melihat istrinya seperti kesakitan.
"Aku tidak tahu, Tapi sepertinya aku akan melahirkan..."
"Melahirkan? Bukannya waktunya seminggu lagi?"
"Jangan banyak tanya sayang, cepat bawa aku ke kamar mandi!"
"Ah, iya. Maaf kan aku!"
Ryan langsung mengendong Cahaya dengan style bridal. Ryan juga berteriak memanggil kedua orangtuanya. Untung saja kedua orangtuanya tidak terlalu nyenyak tidur, jadi masih mendengar suara teriakan putra mereka.
"Pa, ayo keluar. Jangan-jangan Cahaya akan melahirkan" ucap Andini sambil bangun dari tidurnya.
"Pa, tolong bantu aku." ucap Ryan saat melihat papa dan mamanya keluar dari kamar.
"Apa menantu kami akan melahirkan?" tanya Rudi.
"Sepertinya Iya, pa."
"Tunggu sebentar papa ambil kunci mobilnya. Ma, tolong bantu Ryan untuk membawa barang-barang Cahaya"
"Tunggu sebentar!" ucap Andini.
-
-
-
Ryan duduk di belakang untuk menemani Cahaya. Cahaya tampak sangat tenang karena mertuanya mengatakan kalau Cahaya harus tenang dan berpikir positif. Sedangkan Ryan tampak sangat gelisah, karena melihat wajah pucat istrinya dan Cahaya sudah pecah ketuban.
Sesampainya di rumah sakit Cahaya langsung dibawa kedalam ruangan persalinan. Hanya Ryan lah yang bisa masuk untuk menemani istrinya bersalin. Sedangkan kedua orangtuanya menunggu di luar.
"Baiklah, Bu... Pembukaannya sudah sempurna, sekarang kita akan memulainya. Ingat ya Bu harus ngenden dan ikuti arahan saya..." ucap dokter yang menangani Cahaya.
Cup..
"Kamu pasti bisa sayang..." ucap Ryan sambil menggenggam tangan istrinya. Cahaya merasa terharu karena saat ini Ryan berada di sisinya.
Selama proses persalinan Ryan terus menyemangati istrinya yang tengah berjuang untuk melahirkan anaknya. Ryan tidak menyangka kalau seorang istri perjuangannya seperti ini.
Ryan berjanji dia tidak akan menyia-nyiakan istrinya nanti dan akan selalu berada di samping istrinya sampai maut memisahkan mereka.
__ADS_1
****