
Selama dua jam Ryan pingsan, dan selama itu juga Cahaya duduk di samping Ryan. Cahaya memutuskan untuk membawa Ryan ke rumah sakit, dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Ryan. Setelah diperiksa dokter, Cahaya terasa lega, karena Ryan hanya pingsan saja.
Pelan-pelan matanya Ryan mulai terbuka dan melihat Cahaya ada disampingnya. Dengan tatapan dingin Ryan berusaha untuk duduk.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Cahaya dengan lembut, masih ada kecemasan dalam dirinya Cahaya.
"Bukan urusan mu!" ucap Ryan.
"Kau mau kemana?" Cahaya langsung bangkit berdiri dan menahan Ryan untuk tidak bangkit berdiri.
"Lepaskan tanganmu! Aku mau pulang" ucap Ryan sambil menghempaskan tangan Cahaya yang menyentuh tangannya.
"Baiklah kalau kau tidak ingin dibantu. Maaf kan aku telah menggangu mu, aku pulang dulu" ucap Cahaya menahan rasa sakit di hatinya.
"Tunggu dulu, mama dan papa ingin makan malam bersama dengan kita" ucap Ryan pada Cahaya yang sebelum pergi keluar.
"Maaf, aku akan usaha untuk datang. Karena hari ini aku ada urusan penting" ucap Cahaya dengan raut wajah sedih.
"Aku tidak peduli, kau harus datang. Aku akan menunggu mu dirumah" ucap Ryan.
Cahaya hanya diam saja, dia lebih memilih untuk pergi keluar dari ruangan rawat Ryan. Cahaya selalu merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa menghilangkan cintanya pada Ryan, padahal Ryan selalu saja menyakiti hatinya dan tidak pernah menganggapnya. Bahkan Ryan telah membohonginya selama mereka menjadi sepasang kekasih.
Saat Cahaya melangkah keluar, Ryan merasa punggung Cahaya tampak tidak asing baginya. Punggung wanita yang ada dalam bayangannya tadi.
"Tapi, siapa wanita itu dan apa pria itu aku?" gumam Ryan, saat dia mengingat apa yang terjadi padanya di taman.
-
-
Kini Cahaya berada di salah satu jalan yang tidak jauh dari taman tadi, dia membawa bunga kristal putih dan berhenti di halte busway. Cahaya meletakkan bunga yang dibawanya tadi di depan tiang listrik yang ada didepan halte busway.
Sesudah itu, Cahaya duduk di halte busway itu sambil menatap bunga itu dengan raut wajah yang sendu.
Di tiang listrik itu juga ada tulisan Boy dan ada bentuk tanda love di samping tulisan itu. Tidak hanya itu saja disana juga ada tanggal 03-10-2016. Sungguh membuat hatinya terasa sangat sakit.
"Maaf..." gumam Cahaya dengan sedih.
Hampir empat jam dia duduk di halte itu dengan tersenyum menatap tiang listrik dengan raut wajah sedih. Setiap orang yang menatapnya dan bertanya kepadanya, Cahaya tetap diam. Dia tidak memperdulikan apa yang dipikirkan orang tentangnya.
Cahaya sebenarnya mendengar gumaman setiap orang tentangnya, apalagi para pria yang lewat berusaha untuk menggodanya. Cahaya tetap saja diam.
"Kak, Aya apa yang kau lakukan disini?" Cahaya yang mendengar namanya disebut langsung mendongakkan kepalanya menatap pria muda yang duduk di atas sepeda motor.
__ADS_1
"Kevin..." gumam Cahaya dengan raut wajah sedih.
"Iya kak, aku Kevin. Apa terjadi sesuatu?" tanya Kevin dengan cemas, Kevin pria muda yang bertemu dengan Ryan tadi siang di tempat kostnya Cahaya.
"Tidak apa-apa... Kenapa kau disini?"
"Tadi aku ada urusan dengan teman ku, kak. Ya, sudah ayo kita pulang kak..." ajak Kevin.
"Sekarang jam berapa?" tanya Cahaya sambil mencari hp dari dalam tasnya.
"Jam enam sore kak..." Cahaya langsung menatap Kevin.
"Apa aku bisa minta tolong?"
"Tentu saja. Apa kak Aya mau pergi ke suatu tempat?"
"Ya, aku ke rumah atasan ku. Ada urusan penting yang harus aku antar padanya"
"Baiklah."
Kevin lah yang mengantarkan Cahaya ke rumah mertuanya. Cahaya sebenarnya tidak ingin datang, tapi dia tidak ingin membuat kedua mertuanya berpikir yang tidak-tidak.
Mereka sampai di rumah orangtuanya Ryan setelah satu jam. Kevin tampak sangat terkejut melihat rumah yang ada dihadapannya.
"Baiklah kalau begitu, apa kak Aya akan pulang?"
"Aku belum tahu, kemungkinan aku akan pergi ke luar kota..." Kevin hanya mengangguk kepalanya saja, selama Cahaya menikah dengan Ryan, Cahaya mengatakan pada Ryan kalau dia tidak akan pulang dengan waktu yang belum ditentukan karena urusan pekerjaan ke luar kota.
"Oke, kak. Ingat selalu hubungi aku....." Cahaya mengangguk kepalanya. Setelah itu Kevin langsung melajukan sepeda motornya.
-
-
Saat Cahaya masuk kedalam, mobil Ryan masuk kedalam pekarangan rumah orangtuanya Ryan. Ryan keluar dari dalam mobilnya sambil menatap Cahaya dengan kesal.
"Bukannya aku sudah mengatakan akan menunggu mu dirumah?" ucap Ryan dengan dingin.
"Rumah? Apa kau tidak lihat aku menunggu mu disini? Lagian kau tidak memberitahu rumah yang mana!" " ucap Cahaya yang tidak mau kalah.
"Sudahlah. Sekarang kita akan membahasnya nanti." ucap Ryan dengan kesal.
"Astaga sayang, kenapa kalian disini saja? Ayo masuk!" ucap Andini, mamanya Ryan saat membuka pintu.
__ADS_1
Dengan sopan Cahaya mencium tangan mama Andini dan menghampiri bapak Mertuanya. Andini dan Rudi sangat bahagia karena mendapat menantu yang sangat sopan, meskipun Cahaya tidak memiliki orang tua.
"Nak, sepertinya kau semakin kurus? Apa selama ini Ryan menyiksa mu?" tanya mama Andini sambil menggenggam tangan Cahaya.
Mendengar pertanyaan mamanya membuat Ryan langsung menatap Cahaya. Ryan berharap kalau Cahaya tidak memberi tahu bagaimana sikapnya selama ini.
"Tidak, ma... Hanya saja Aya sedang tidak enak badan saja" ucap Cahaya dengan sopan.
"Kamu sakit? Apa yang sakit?"
"Tidak apa-apa, ma. Aya hanya lagi masuk angin..."
"Owh... Ya, sudah bantu mama mempersiapkan makan malam kita, yuk..." ucap mama Andini, Cahaya langsung mengikuti mama Andini dari belakang.
Rudi yang dari tadi membaca koran langsung menghentikannya dan menatap kearah putranya. Rudi melihat kalau putranya terus memperhatikan menantunya yang pergi mengikuti istrinya.
"Dia tidak akan hilang..." Ryan langsung menatap papanya karena mendengar ucapan papanya.
"Pa, apa aku pernah ke pergi ke taman x?" tanya Ryan pada papa Rudi dengan tatapan serius.
"Setahu papa tidak. Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Ya, sudah aku ke kamar ku dulu..." papa Rudi menggeleng kepalanya karena Ryan langsung pergi begitu saja.
-
-
Didalam perjalanan pulang, Cahaya terus memikirkan apa yang dikatakan oleh kedua mertuanya. Sungguh membuat hatinya sangat gusar.
"Tidak perlu pikirkan apa yang mereka katakan." ucap Ryan tiba-tiba.
"Turun kan aku di sana saja..." ucap Cahaya sambil menatap ke depan.
"Kau mau kemana?"
"Aku mau pulang ke kost ku saja" Tanpa banyak bicara, Ryan langsung berhenti di depan halte.
"Terimakasih..." Ryan langsung pergi begitu saja setelah Cahaya turun dari mobilnya.
Ryan terus memperhatikan Cahaya dari kaca spionnya, ada perasaan kekecewaan dalam hatinya karena Cahaya memilih pulang ke kost nya dari pada ikut bersamanya pulang.
****
__ADS_1