
"Kalau saja aku tidak memandang pertemanan kita aku pasti akan membuat yang lebih dari ini" ucap Andini dengan dingin.
Nayla yang tidak terima langsung menatap Andini dengan tajam sambil memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan keras dari Andini.
"Kenapa Tante menampar ku? Apa salah ku?" ucap Nayla dengan menaikkan sedikit suaranya.
"Kenapa kamu bilang? Saya tidak menyangka kamu tidak punya hati Nayla. Coba kamu diposisi Cahaya, kamu sebagai istrinya apa kamu akan terima suami mu menikah lagi? Apalagi madunya itu saudaranya sendiri?" ucap Andini dengan emosi.
Renaldo yang mendengar ucapan Andini langsung terkejut dan bangkit berdiri dari tempat duduknya.
Plak...
Kali ini Renaldo lah yang menampar putrinya, sehingga membuat Kiara menangis histeris.
"Kiara kamu berpikir kalau kami akan sangat senang putra kami menikahi putri mu ini? Kamu salah besar! Kami malah sangat bersyukur kalau putra kami menolak menikahi putri mu ini. Aku tahu kalau kamu sangat menyayangi putri mu, tapi ingat Cahaya juga putri mu. Semua usaha mu untuk dekat dengannya, semuanya sia-sia karena kasih sayang mu dengannya!" ucap Andini.
"Ki, kami sebagai sahabat mu benar-benar kecewa. Kamu hanya memikirkan putri mu yang ini, sedangkan putri mu yang lain kamu abaikan. Aku sudah pernah memperingatkan untuk tidak menyakiti menantu kami, tapi kalian mengabaikannya. Jadi jangan salahkan apa yang akan dilakukan Ryan pada kalian." sambung Rudi.
Setelah mengatakan hal itu, Rudi bangkit berdiri dan berjalan mendekati istrinya.
"Renaldo kami berharap kamu bisa menjaga istri dan putri mu ini untuk tidak lagi ada disekitar putra dan menantuku" ucap Rudi.
"Kami permisi dulu!" ucap Rudi.
Setelah Rudi dan Andini keluar, Renaldo langsung menatap tajam ke istri dan putrinya.
"Papa tidak menyangka kalau mama akan melakukannya. Mama benar-benar tidak sudah keterlaluan. Aku tahu kalau mama sangat menyayangi putri kita, tapi cara mama sudah sangat salah. Tidak semuanya apa yang diinginkannya bisa didapatkannya" ucap Renaldo dengan penuh tekanan.
"Nayla, apa kamu sudah puas?" Nayla langsung mendongakkan kepalanya menatap papanya dengan sendu.
Mendengar kalau Ryan menolak untuk menikahinya, membuat hatinya hancur berkeping-keping. Ingin sekali dia menangis, tapi dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan kedua orangtuanya Ryan.
"Apa salah ku pa? Apa? A... aku hanya ingin menikah dengan pria yang ku cintai. Kenapa nasib Cinta ku begini, pa? Kalau saja cinta ini tidak ada, pastinya aku tidak akan menyakiti orang lain." ucap Nayla dengan menangis. Mendengar hal itu Renaldo langsung menatap putrinya dengan sendu.
"Kamu bertanya apa kesalahan mu? Nayla, kamu itu hampir saja membuat pernikahan orang lain hancur. Bukan Cinta yang salah, karena kita tidak tahu kapan cinta itu datang. Tapi kita harus bisa menahan diri kita, jangan sampai kita menghancurkan hidup orang lain karena kita mencintai seseorang yang tidak semestinya kita cintai. Nak, tolong ikhlaskan semuanya, cinta tidak harus saling memiliki sayang ..." ucap Renaldo dengan lembut.
Hiks hiks hiks...
"Tidak, pa...Nay, tidak bisa ..." teriak Nayla. Nayla langsung bangkit berdiri dan berlari ke luar.
Renaldo dan Kiara tampak sangat panik karena Nayla keluar dari rumah dalam keadaan kacau. Renaldo langsung menyuruh asistennya yang masih diluar untuk mengikuti kemana saja putrinya pergi.
Setelah menghubungi seseorang untuk mengikuti putrinya dari belakang, Renaldo pergi meninggalkan Kiara yang masih saja menangis.
__ADS_1
-
-
-
Waktu menunjukkan pukul lima sore, Cahaya mulai membuka merasakan tangan suaminya melingkar di perutnya. Dengan pelan-pelan Cahaya mengangkat tangan suaminya.
"Sayang..." Cahaya membangunkan Ryan dengan menggoyangkan tubuhnya Ryan.
"ehmmm....." Perlahan-lahan Ryan membuka matanya karena dia merasakan tubuhnya goyang.
"Sayang kamu sudah bangun?" tanya Ryan saat melihat Cahaya sedang menatapnya.
"Sudah. Sayang..."
"Kenapa sayang? Apa kamu perlu sesuatu?" Cahaya mengangguk kepalanya.
"Lapar...." ucap Cahaya dengan manja.
"Baiklah... Kamu mau makan apa?" Ryan tampak semangat untuk melayani istrinya, karena istrinya sangat jarang bersikap manja padanya.
"Aku mau bubur ayam...."
"Tidak, aku mau kita makan ditempatnya..."
"Tapi sayang aku takut terjadi sesuatu pada mu..."
"Tidak akan. Kamu kan ada bersama ku. Mau ya..."
"Ya, deh... Sekarang kamu mandi dulu ayok...." Cahaya mengangguk kepalanya dengan bahagia.
Cahaya langsung mengikuti apa yang dikatakan Ryan. Saat dia ingin masuk kedalam kamar mandi, Ryan juga ikut bersamanya. Akhirnya bukan hanya mandi saja yang terjadi, tapi sekalian olahraga ala suami istri.
-
-
-
"Sayang kalian mau kemana?" tanya Andini saat melihat menantunya dan putranya tampak sangat rapi.
"Mau makan bubur ayam diluar ma..." ucap Cahaya.
__ADS_1
"Mama dan papa boleh ikut?" tanya Andini.
"Tentu saja ma..."
"Tidak boleh..." Secara bersamaan Cahaya dan Ryan menjawab yang berbeda.
Ryan tidak ingin kedua orangtuanya ikut bersama mereka makan malam diluar, sedangkan Cahaya tampak sangat bahagia karena kedua mertuanya ikut. Semuanya langsung menatap kearah Ryan karena mendengar penolakan Ryan.
"Ayolah ma untuk kali ini saja biarkan aku makan malam bersama istri ku saat ini..." ucap Ryan.
"Ish... Sayang kamu ini apa-apaan sih! Kalau kita rame-rame makan bersama-sama lebih baik" ucap Cahaya.
Andini dan Rudi hanya ketawa saja melihat bagaimana cemberutnya putra mereka karena menantu mereka membela mereka.
"Ya, sudah mama dan papa makan dirumah saja. Kalian makan malam diluar saja. Tapi ingat jangan terlalu malam pulangnya, tidak baik angin malam untuk wanita hamil" ucap Andini.
"Mama dan papa the best..." ucap Ryan sambil memeluk pinggang istrinya dengan tersenyum bahagia.
Cup....
Cahaya tampak sangat malu karena Ryan mengecup pipinya di hadapan kedua mertuanya.
-
-
-
Kini Nayla berada di taman yang tidak jauh dari rumahnya. Dia melihat banyak orang-orang bersama pasangannya.
"CK...Kenapa nasib cintaku tidak mulus? Aku selalu bersaing dengan kakak ku sendiri!" gumam Nayla sambil meneteskan air matanya.
Nayla menaikkan kedua kakinya ke atas tempat duduknya lalu dia menekuk lututnya sambil menundukkan kepalanya supaya saat dia menangis orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya tidak melihat wajahnya.
Seorang pria yang duduk di belakangnya hanya diam saja mendengar suara tangisnya Nayla yang sangat memilukan. Saat mendengar tangisan Nayla yang tidak lagi terdengar, Pria itu langsung bangkit berdiri dan berdiri dihadapan Nayla.
"Hei, nona tidak baik untuk seorang wanita menangis didepan umum." Nayla langsung mendongakkan kepalanya karena mendengar suara seorang pria yang ketus bicara padanya.
"Bukan urusanmu! Pergilah dari hadapan ku!" ucap Nayla yang tidak kalah ketus juga.
"CK... Terserah mu saja, tapi lebih baik anda harus membersihkan wajah anda yang sudah sangat berantakan itu" ucap Pria itu sambil menyerahkan sapu tangannya karena melihat Eyeliner dan maskara Nayla sudah berantakan.
*****
__ADS_1