
Kiara dan Andini terus menangis, mereka sangat kuatir dengan keselamatan Cahaya, Cucunya dan Jeje.
Saat Ryan, Bisma dan Kevin lagi memikirkan siapa dalam semuanya, Ryan mendapatkan foto dimana istrinya dan Jeje tidak sadarkan diri.
✉️ Bagaimana apa kamu suka dengan fotonya? Aku ingin tahu apa kamu bisa menyelamatkan wanita mu dan putra mu ini? Ini pembalasan yang sangat setimpal dengan apa yang telah kamu lakukan padaku. Aku akan membuat mu tersiksa dengan cara menyiksa mereka semua
"Ah....." Ryan langsung menjerit sambil memukul-mukul dingin ruangan kerjanya.
"Beraninya dia, menyentuh istri dan putra ku" teriak Ryan.
"Apa maksud mu? Ryan katakan, apa kamu sudah mengetahui siapa dia?" tanya Bisma dengan cepat.
"Bisma bawa tuan Richard ke hadapan ku sekarang!" ucap Ryan dengan emosi, Kevin dan Bisma mengerutkan keningnya karena mendengar nama pemimpin perusahaan PT Rajawali, papa dari Nancy.
"Jangan katakan kalau ini ulah Nancy" tebak Bisma sambil menekan suaranya.
"Aku sangat yakin wanita itu lah dalang di balik semua ini." ucap Ryan dengan emosi. Mendengar itu Bisma langsung pergi, Bisma juga membawa beberapa anak buahnya Ryan.
Ryan berjalan mendekati fotonya bersama Cahaya. Melihat foto Cahaya membuat Ryan teringat dengan sesuatu.
"Kevin hubungi polisi sekarang juga. Katakan pada mereka kalau saya ingin mengatakan sesuatu" ucap Ryan sambil mengotak-atik laptopnya.
-
-
Cahaya yang mendengar suara tangisan putranya membuat hatinya terasa sakit. Cahaya selalu memohon pada pria yang menculiknya itu untuk melepaskannya.
"Ku mohon tolong lepaskan aku. Putra ku saat ini sangat membutuhkan ku...." ucap Cahaya sambil meneteskan air matanya.
Prak...Prak...
Cahaya langsung mengehentikan ucapannya saat mendengar suara tepukan tangan.
"Buka penutup mata mereka" Cahaya dan Jeje sangat terkejut mendengar suara wanita ada dalam ruangan itu.
"Nancy..." gumam Cahaya saat ikatan matanya terbuka.
"Kakak, mengenal wanita itu?" tanya Jeje dengan ketakutan.
"Emm... Dia wanita yang selama ini selalu menggoda Ryan" ucap Cahaya dengan tatapan tajam pada Nancy.
__ADS_1
"Lama kita tidak bertemu...." ucap Nancy dengan tersenyum bahagia karena melihat yang paling dibencinya saat ini.
"CK... Ternyata kamu lah dalang semuanya ini. Kenapa kamu melakukannya?"
"Kenapa? Kamu terkejut? Dengar kan aku, semuanya ini ku lakukan karena aku ingin melihat suami mu tersiksa. Ini pembalasan yang harus dia terima dari ku!" ucap Nancy sambil berjalan mendekati Cahaya.
"Aku ingin tahu seberapa besar cinta Ryan padamu. Apakah dia bisa menyelamatkan mu, atau tidak" ucap Nancy sambil mengelus pipi Cahaya dengan pisau kecil.
Cahaya tidak memiliki rasa takut sekalipun, dia tetep memandang Nancy dengan tatapan dingin.
"Sebenarnya aku hanya ingin mengambil putra mu, tapi anak buah ku sangat pintar. Mereka dapat membawa mu juga ketempat ini" sambung Nancy.
"Jangan sentuh putra ku! Kalau terjadi sesuatu pada putra ku, kamu akan menerima akibatnya" ucap Cahaya.
"Hahaha." Nancy sedikit memberikan jarak antara dirinya dan Cahaya. Nancy tertawa mendengar ancaman dari Cahaya.
"Kamu ini... Aku ingin lihat hal itu. Bawa bayi itu kesini"
"Baik, bos!"
"Nancy sekali lagi jangan sentuh putra ku!" teriak Cahaya.
Nancy malah tertawa mendengar ancaman Cahaya. Saat baby Ezra dalam gendongan Nancy, Baby Ezra menangis keras dan terus memberontak untuk dilepaskan.
"Lihat, lah apa yang akan kau lakukan kalau jarum ini menembus ke kulit putra mu" ucap Nancy sambil menunjukkan jarum kecil yang ada ditangannya.
"Tidak.... Ku mohon tolong jangan sakiti putra ku..."
Dengan teganya Nancy menusuk jarum kecil kebagian tangan Baby Ezra, Sehingga membuat baby Ezra menangis keras.
"Hiks hiks hiks hiks Ku mohon tolong jangan sakiti putra ku. Dia masih bayi, dia belum mengerti apa-apa....." Begitu lah seorang ibu, seorang ibu tidak akan pernah sanggup melihat anaknya disakiti apalagi di depan matanya.
Cahaya terus memohon pada Nancy untuk menghentikannya. Tapi Nancy yang belum merasa puas terus melakukannya. Sehingga membuat tangan baby Ezra mengeluarkan darah segar. Melihat itu membuat Cahaya langsung memberontak untuk dilepaskan, tapi ikatannya terlalu kuat sehingga membuat dia tidak bisa melepaskannya. Jeje juga ikut menangis dan memohon pada Nancy untuk melepaskan baby Ezra.
"Baiklah.... Baiklah... Aku akan lepaskan putra mu" ucap Nancy sambil menurunkan baby Ezra ke bawah. Baby Ezra yang sudah bebas langsung merangkak berlari ke arah Cahaya, sambil menangis.
"Sayang maaf kan mama..... Mama tidak bisa menolong mu... Hiks hiks hiks.... Tolong jangan menangis sayang...." ucap Cahaya pada putranya yang terus ingin meminta pelukannya. Karena tangan nya diikat membuat dia tidak bisa memeluk putranya.
"Bos, apa kita menjauhkannya dengan putranya" tanya salah satu dari anak buahnya Nancy.
"Tidak perlu, Biarkan saja. Sekarang tutup pintu ruangan itu."
__ADS_1
"Baik, bos...."
-
-
"Itu rumah yang saya berikan kepada putri saya untuk ulangtahunnya" ucap pak Richard saat melihat titik lokasi yang diberikan Ryan pada polisi.
"Tunggu dulu tuan Ryan, saya mohon tolong maafkan putri saya"
"Jika saya melihat ada lecet sedikitpun, saya tidak akan membuat putri anda menerima akibatnya" ucap Ryan sambil bangkit berdiri.
Ryan langsung pergi ke tempat di mana istri dan putranya disekap. Richard tampak sangat frustasi dengan nasib putrinya nanti. Sedangkan Istrinya hanya menangis mendengar ancaman dari Ryan.
"Apa hanya ini kemampuan mu membawa mobil?" sindir Ryan pada Bisma, Ryan merasa kalau Bisma terlalu lambat mengemudikan mobilnya.
"Apa kamu tidak bisa tenang? Ini sudah cepat" ucap Bisma kesal.
Hampir dua jam mereka sampai di daerah Cahaya disekap. Ryan yang tidak ingin gegabah memilih mengikuti rencana polisi.
-
-
-
"Brengsek! Lepaskan dia! Jangan sentuh adik ku" ucap Cahaya dengan emosi karena dua anak buahnya Nancy berniat untuk menodai Jeje, semuanya itu atas perintah dari Nancy.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka? Baiklah kalau kamu tidak setuju, aku akan mengikuti kemauan mu. Tapi kamu lah yang harus menjadi penggantinya" ucap Nancy dengan tersenyum bahagia.
"Cuih.... Dasar wanita gila! Sadarlah kalau apa yang kamu lakukan ini tidak benar"
"Hahaha. Aku tidak peduli. Kalau saja Ryan mau bersama ku, mungkin ini semua tidak akan terjadi."
"Kenapa harus Ryan? Dia sudah menikah!"
"Karena aku sangat tertarik dengan pria yang sangat setia"
Saat Cahaya ingin membalas ucapan Nancy, Cahaya langsung diam saat mendengar suara tangisan putranya dari tempat tidurnya. Baby Ezra sempat tertidur setelah capek karena menangis.
"Ku mohon tolong berikan putra ku padaku! Dia butuh minum" ucap Cahaya dengan sendu.
__ADS_1
"Ah... Kenapa putra mu itu sangat bising sekali. Sepertinya hanya satu cara untuk membuat putramu diam selamanya." ucap Nancy dengan tersenyum licik.
******