
Ryan memilih untuk menjaga Cahaya dari jarak jauh, karena dia sudah berjanji akan memberikan Cahaya waktu. Dia berpikir dengan tidak menunjukkan wajahnya dihadapan Cahaya, Cahaya pasti dengan cepat melupakan apa yang dilakukannya dulu. Melalui kedua orangtuanya dan Kevin lah dia mendapatkan informasi tentang keadaan Cahaya. Semenjak Cahaya keluar dari rumah sakit, kedua orangtuanya lah yang menggantikannya untuk menjaga Cahaya dan calon anaknya yang masih berada dalam kandungan Cahaya.
Ryan juga selalu memperhatikan makanan dan keperluan Cahaya pada kedua orangtuanya dan Kevin
"Kak, apa kamu akan terus begini? Lihat setiap malam dia selalu ada diluar untuk menjaga kalian dari luar" ucap Kevin sambil memberikan makanan yang dititipkan Ryan padanya.
"Apa aku salah melakukan hal ini padanya?" tanya Cahaya dengan menatap serius Kevin.
"Tentu saja, kak. Kamu tahu kalau dia sangat tulus meminta maaf pada mu dan apa yang dilakukannya karena dia tidak tahu siapa kak Aya sebenarnya" Mendengar penjelasan Kevin membuat Cahaya merenungkan apa yang dilakukan Ryan beberapa hari ini padanya.
"Sepertinya hujan akan turun!" gumam Kevin karena melihat kilatan petir.
"Oh, ya om Rudi dan Tante Andini agak terlambat pulang karena mereka masih ada urusan di perusahaan. Aku tidak menyangka selama ini kita bekerja di perusahaan milik kak Ryan" ucap Kevin.
"Kamu mau kemana?" tanya Cahaya saat melihat Kevin melangkah keluar dari kamarnya.
"Aku ingin kembali ke kamar ku!"
-
-
Sudah hampir satu jam diluar turun hujan deras. Cahaya mendapatkan pesan dari Bisma, kalau Ryan juga belum kembali ke hotel. Cahaya teringat dengan apa yang dikatakan Kevin kalau Ryan setiap malam selalu menjaganya dan anak dalam kandungannya di luar.
"Kemana dia? Apa jangan-jangan...." Cahaya langsung bangun dan pergi keluar.
Bugh...
"Ryan..." Cahaya sangat terkejut melihat Ryan menggigil dibalik pintunya.
"Astaga Ryan apa yang kamu lakukan? Kevin..."
Kevin yang mendengar suara teriakan Cahaya langsung keluar dari dalam kamarnya.
Dengan bantuan Kevin Ryan berhasil dibawa ke dalam kamarnya Cahaya. Setelah itu Cahaya meminta Kevin kembali ke kamarnya. Ryan sangat bahagia karena Cahaya tampak terlihat panik melihatnya yang menggigil.
__ADS_1
"Kamu sudah tahu diluar itu hujan, kenapa kamu tetap saja diluar. Lihat kamu jadi begini kan! Kamu itu sungguh membuat ku sangat cemas saja" Tanpa dia sadar kalau dia mengungkapkan perasaannya secara langsung pada Ryan.
Ryan yang mendengar pengakuan Cahaya membuat hatinya ingin copot sangking bahagianya. Ingin sekali dia memeluk Cahaya, tapi dia berusaha untuk tidak melakukannya. Dia ingin melihat apa saja yang akan dilakukan Cahaya padanya.
"Tunggu sebentar! Aku akan membuat teh hangat untuk mu!" ucap Cahaya setelah menyelimuti tubuh Ryan.
Lima menit kemudian Cahaya datang membawa teh hangat untuk Ryan. Saat Cahaya pergi mengambil teh untuk Ryan, Ryan memperhatikan kamar Cahaya. Ryan sangat terkejut melihat fotonya saat mereka pacaran bergantung dinding kamar Cahaya. Saat dia ingin bangun, dia mendengar langkah kaki Cahaya, akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk bangun.
"Minumlah!" Cahaya membantu Ryan untuk bangun dan memberikan teh hangat untuk Ryan.
"Sekarang tidur lah..." ucap Cahaya setelah Ryan menghabiskan minumannya. Saat Cahaya ingin pergi, Ryan langsung menarik tangan Cahaya.
"Kamu mau kemana? Apa kamu akan membiarkan ku sendiri disini?" tanya Ryan dengan wajah yang masih tampak pucat.
"Siapa yang mau pergi? Aku juga mau tidur, dan ini adalah kamar ku! Kenapa aku harus keluar dari kamar ku?" Ryan langsung melepaskan tangannya dan mengukir wajahnya dengan senyuman.
Cahaya merebahkan tubuhnya di samping Ryan, tanpa bertanya Cahaya memeluk Ryan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Ryan. Tentu saja membuat Ryan bingung dengan sikap manis Cahaya yang tiba-tiba.
"Tidurlah..." meskipun pelan Ryan dapat mendengar ucapan Cahaya.
Ryan berharap kalau apa yang terjadi saat ini bukanlah mimpi. Ryan yang tidak ingin Cahaya menghilang, Ryan memeluk Cahaya dengan erat sambil memohon kepada Tuhan saat dia membuka matanya istrinya masih ada disampingnya dengan memeluknya.
-
-
Pelan-pelan dia melonggarkan pelukannya, karena dia ingin melihat wajah cantik wanitanya. Wajah yang selalu ada dalam mimpinya. Kini jarinya menyusuri wajah cantik Cahaya.
"Ehm..." Karena sentuhan Ryan diwajahnya membuat Cahaya terganggu dalam tidurnya.
Karena melihat gerak gerik Cahaya yang mulai membuka matanya Ryan langsung menarik tangannya dari wajah Cahaya. Ryan takut kalau Cahaya akan marah padanya karena menyentuh wajahnya tanpa permisi.
Saat membuka matanya Cahaya memberikan senyum manisnya pada Ryan.
"Pagi..." sapa Cahaya dengan lembut.
__ADS_1
"Pa..gi.." Karena mendengar suara Ryan yang gugup membuat Cahaya ingin tertawa.
"Apa kamu sudah mulai gagap kalau berbicara?" Ryan menggeleng kepalanya.
Cahaya melepaskan pelukannya dan mengarahkan tangannya ke pipi Ryan, dia tahu kalau saat ini Ryan pasti sangat bingung dengan sikapnya.
"Apa kamu berpikir ini adalah mimpi?" lagi-lagi Ryan mengangguk kepalanya. Mendapatkan jawaban dari Ryan, Cahaya langsung tersenyum.
"Maaf kan aku, selama ini aku selalu bersikap dingin dengan mu dan tidak memikirkan apa saja yang telah kamu lakukan pada ku dan calon anak kita. Padahal kamu sudah meminta maaf pada ku dengan tulus" Cahaya menundukkan kepalanya karena merasa malu.
Ryan merasakan kalau saat ini jantungnya berdegup kencang, dia tidak menyangka kalau usahanya selama ini tidak sia-sia. Karena sangking bahagianya Ryan memeluk Cahaya sambil mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Tidak Aya sayang, kamu tidak salah. Aku tahu kalau kamu belum melakukannya karena ada alasannya" ucap Ryan, tanpa sadar air matanya menetes keluar.
"Terimakasih sayang, telah memberikan ku kesempatan. Terimakasih... terimakasih..."
-
-
"Apa kamu sudah memastikannya?" tanya Renaldo dalam sambungan telepon.
"...."
"Baiklah...." Renaldo mematikan sambungan teleponnya setelah memastikan bahwa apa yang diinginkannya sesuai.
Setelah itu Renaldo memerintahkan asistennya untuk mempersiapkan keperluannya dan istrinya ke Taiwan.
Yang menghubungi Renaldo itu adalah orang, yang di tugaskannya untuk mencari keberadaan Ryan dan kedua orangtuanya Ryan. Dia mencari keberadaan Ryan karena dia merasa kalau Ryan tahu dimana keberadaan Cahaya. Setelah memberikan perintah pada asistennya, Renaldo kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang dia meminta Kiara untuk mempersiapkan keperluan mereka ke Taiwan.
"Pa, apa papa yakin dia ada disana?" tanya Kiara dengan semangat.
"Iya, ma. Makanya itu kita akan kesana sore ini. Dimana Nayla?"
"Dia ada dalam kamarnya. Dari kemarin dia tampak sangat kesal, dia akan keluar dari kamarnya kalau dia pergi ke klub saja!"
__ADS_1
"Baiklah. Katakan padanya untuk ikut bersama kita. Tidak ada bantahan, karena saat dia bertemu Cahaya dia harus meminta maaf pada Cahaya atas perbuatannya beberapa bulan yang lalu."
****