IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Pingsan


__ADS_3

"Astaga Kak Ryan apa yang kakak lakukan?" tiba-tiba saja Naina datang dan langsung menarik Cahaya untuk menjauh dari Ryan.


Karena Cahaya tidak memiliki tenaga, tubuhnya langsung terhuyung ke belakang dan kepalanya membentur mejanya.


"Aya..."


"Nona Cahaya..." teriak Bisma dan Ryan bersamaan. Tanpa berpikir panjang Ryan langsung mengangkat tubuh Cahaya yang sedang pingsan, dan diletakkan di atas tubuhnya.


Melihat Ryan mengendong Cahaya membuat Naina semakin membenci Cahaya. Ingin rasanya dia melenyapkan Cahaya dari samping Ryan.


"Naina apa yang kamu lakukan?" teriak Ryan tanpa sadar sambil menatap Naina dengan emosi.


Tentu saja membuat Naina dan Bisma terkejut, ini pertama kalinya Ryan memarahi Naina. Naina sangat gugup karena tatapan Ryan padanya, dengan cepat dia pura-pura menunjukkan wajah sedihnya dan menyesal. Naina menundukkan kepalanya dengan mengeluarkan Isak tangisnya.


"Maaf kan aku kak... Hiks hiks... A.. aku tidak sengaja..." ucap Naina dengan suara yang lirih.


Ryan yang mendengar suara tangisan Naina membuat dirinya langsung sadar. Ryan merasa bersalah karena telah membentak Naina sehingga membuat Naina bersedih. Ryan berjalan mendekati Naina dan langsung memeluk Naina,. sambil berharap Naina kembali tenang.


"Maafkan kak Ryan, Nai..." ucap Ryan dengan merasa bersalah.


Ryan seperti itu karena dia ingat betapa sayangnya Mesya terhadap Naina. Maka karena itu dia juga sangat menyayangi Naina seperti adiknya sendiri. Tanpa disadari Ryan maupun Bisma kalau saat ini Naina tengah tersenyum kemenangan karena membuat Ryan merasa bersalah dan tidak marah lagi padanya.


"Yan, apa yang harus kita lakukan pada Cahaya?" ucap Bisma sambil menatap tubuh lemah Cahaya.


Ryan yang mendengar ucapan Bisma, langsung melepaskan pelukannya. Ryan berjalan mendekati Cahaya, betapa terkejutnya dia melihat wajah Cahaya yang sangat pucat. Ryan merasa ada perasaan yang aneh dalam dirinya saat ini, melihat keadaan Cahaya seperti itu membuat hatinya seperti ditusuk-tusuk jarum.


Melihat Ryan mematung, membuat Bisma kesal. Bisma langsung menghubungi seseorang untuk menyuruhnya datang ke ruangan Ryan.


Ryan berjalan mendekati Cahaya dan mensejajarkan tubuhnya. Tanpa sadar kini tangannya berada di keningnya Cahaya. Betapa terkejutnya Ryan, suhu tubuhnya Cahaya sangat tinggi. Pergerakan Ryan terus diperhatikan Bisma dan Naina saat ini.


Cklek...


Ryan langsung menoleh kearah pintu dan langsung bangkit berdiri.

__ADS_1


"Periksa dia dengan benar! Sepertinya dia sedang demam tinggi" ucap Ryan pada seorang pria berbaju putih yang baru saja datang.


Pria itu langsung melakukan tugasnya, dia memeriksa keadaan Cahaya. Setelah mendapatkan hasilnya, dia mengeluarkan jarum dan mengambil obat cairan yang akan dimasukkan ke tubuh Cahaya.


Entah kenapa Ryan merasa kalau dirinya lah yang kena suntikan itu. Melihat wajah sendu Cahaya membuat dia terbayang dengan sosok wanita yang sedang menangis di tepi danau.


"Aw..." Karena tiba-tiba saja dia terbayang dengan masa lalunya membuat kepalanya sakit.


"Kak, apa kau baik-baik saja?" tanya Naina dengan cemas.


"Tidak apa-apa. Hanya sedikit sakit kepala saja..." ucap Ryan.


"Pak, saya sudah memberikan obat pada nona Cahaya, dia hanya kena demam tinggi saja. Mungkin karena tubuhnya yang sangat lemah membuatnya jadi pingsan, dan sebentar lagi nona Cahaya akan bangun..." ucap pria itu setelah menyuntikkan cairan pada tubuh Cahaya.


"Baiklah, kau bisa pergi.." ucap Ryan dengan dingin.


Setelah beberapa menit pria itu pergi, semuanya duduk di kursi yang kosong. Mereka menunggu Cahaya sadar dari tidurnya. Mereka tampak sangat bingung melihat keringat bercucuran dari keningnya Cahaya. Padahal AC dalam ruangan Ryan sangat tinggi.


"Tidak...." Tiba-tiba saja Cahaya bangun sambil menjerit.


Seperti biasa setiap dia mimpi dia akan selalu menjerit dan menangis sambil memeluk kedua lututnya. Dengan gemetar Cahaya mengingat bagaimana Ryan yang sudah bersimbah darah dan tidak sadarkan diri dihadapannya.


"Nona apa yang terjadi?" Bisma dan yang lainnya langsung bangkit berdiri, karena mereka sangat terkejut mendengar suara teriakan Cahaya.


Mendengar suara Bisma, membuat Cahaya langsung mengehentikan tangisannya dan mengedarkan pandangannya. Cahaya baru menyadari kalau dirinya saat ini berada di dalam ruangan Ryan, dan dengan cepat dia menghapus air matanya. Ryan, Bisma dan Naina tengah menatapnya dengan tatapan bingung.


Setelah menghapus air matanya Cahaya berusaha untuk bangkit berdiri dan dia merasa seluruh tubuhnya memiliki sedikit tenaga sangat berbeda dengan tadi pagi. Saat menundukkan kepalanya dia melihat ada beberapa bungkusan obat di atas meja yang di hadapannya.


"Maafkan saya, pak..." ucap Cahaya dengan tenaga yang masih lemah.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ryan dengan penasaran.


Ryan bertanya keadaan Cahaya karena dia sangat penasaran kenapa Cahaya bisa menjerit seperti itu sambil menangis. Apalagi dia teringat dengan yang pernah dilihatnya saat Cahaya tinggal dirumahnya.

__ADS_1


Cahaya hanya mengangguk kepalanya saja dan sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda minta maaf pada Ryan.


"Maafkan saya, pak. Saya telah mengganggu ketenangan pak Ryan..." ucap Cahaya.


"Sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Setelah kamu sehat, kamu bisa kembali bekerja" ucap Ryan sambil menatap Cahaya dengan lembut.


"Terimakasih, pak. Tapi saya sudah mendingan..." ucap Cahaya.


"Permisi pak, saya akan kembali ke meja saya dulu" sambung Cahaya lagi.


Belum ada jawaban dari Ryan, Cahaya langsung pergi ke luar. Dengan tatapan kekecewaan, Ryan menatap punggung Cahaya yang pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban darinya.


"Kak..." Naina menggoyangkan tubuh Ryan yang terpaku menatap kepergian Cahaya. Sungguh Naina tidak menyukai hal itu.


"Ya, Nai..." Ryan langsung tersadar.


"Apa kita bisa memulai rapat kita? Aku baru dapat pesan dari papa, kalau papa sudah sampai..." ucap Naina menahan rasa kesalnya.


"Oh, iya. Maafkan kak Ryan, Nai. Tunggu sebentar..." Ryan langsung berjalan kearah mejanya. Dia mengambil berkas yang diberikan Cahaya padanya. Ryan langsung memberikan berkas itu pada Bisma.


Ryan dan Naina langsung keluar dari ruangan Ryan. Bisma mengikuti Ryan dari belakang sambil membawa berkas yang diberikan Ryan.


Saat mereka keluar, Cahaya sudah bangkit berdiri dan langsung menghampiri mereka. Tentu saja membuat mereka langsung memandang Cahaya.


"Kamu tidak perlu ikut kalau kesehatan mu belum pulih" ucap Ryan, tentu saja membuat Naina sangat senang karena Cahaya tidak ikut bersama mereka untuk rapat.


"Saya sudah tampak sehat pak.." ucap Cahaya.


"Terserah mu saja" ucap Ryan kesal karena Cahaya tidak mau mendengar apa yang dikatakannya.


Cahaya memilih ikut bersama, karena dia tidak menyukai yang namanya santai. Kalau dia tidak memiliki pekerjaan, masa lalunya akan selalu datang. Sungguh membuat pikirannya akan terkuras lagi. Saat mereka rapat, Cahaya lah yang mencatatnya.


Tiba-tiba saja suasana rapat kembali hening, karena Ryan tampak sedang membaca beberapa berkas yang diberikan oleh pihak kliennya Ryan. Cahaya sebenarnya sangat terkejut, saat dia masuk dia melihat papanya Mesya dan satu pria muda ada dalam ruangan rapat. Cahaya baru menyadari bahwa papanya Mesya lah yang menjadi kliennya Ryan saat ini.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Papanya Mesya, yang bernama Ronaldo Maurer. Pengusaha besar yang bergerak dalam bidang perhotelan.


****


__ADS_2