IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Memeriksa kandungan


__ADS_3

Ryan tampak enggan melepaskan Cahaya dari pelukannya. Padahal Cahaya sudah berungkali meminta untuk dilepaskan karena dia ingin mandi.


"Yan, pagi ini aku ada janji dengan dokter untuk memeriksa kandungan ku..." ucap Cahaya dengan lembut. Mendengar itu membuat Ryan melonggarkan pelukannya.


"Benarkah? Apa aku boleh ikut?" Cahaya mengangguk kepalanya, ada perasaan bahagia dalam hatinya Cahaya. Dia tidak menyangka kalau Ryan akan semangat begitu saat dia ingin pergi untuk memeriksakan kandungannya.


Cup...cup..


Ryan mengecup kedua pipinya Cahaya dengan gemas. Setelah itu barulah Ryan melepaskan pelukannya.


"Mandilah, aku hubungi Bisma dulu untuk antar baju ku.." Cahaya menjawab Ryan dengan anggukkan kepala saja.


-


-


Saat Cahaya mandi, Ryan keluar dari dalam kamar. Dia melihat kedua orangtuanya dan Kevin ada di ruang makan.


"Pagi ma, pa..." sapa Ryan dengan tersenyum.


"Tidak perlu kamu menunjukkan senyum mu itu pada kami. Kami tahu kalau kamu sedang bahagia karena menantu kami memanfaatkan putra kami yang bodoh!" ucap Andini dengan ledekan.


"Ryan dimana Cahaya?" tanya Rudi.


"Lagi, mandi. Kami akan memeriksa kandungan Aya, pa pagi ini"


"Ryan kamu harus tahu kalau saat ini keluarga Mesya sedang menuju ke sini!" ucap Rudi.


"Untuk apa? Papa tahu dari mana?"


"Sejak di negara N yang menimpa Cahaya, papa menyuruh orang untuk mengawasi keluarga mereka terutama Nayla. Yang papa tahu mereka kesini untuk bertemu dengan Cahaya" mendengar nama Nayla membuat Ryan menghela nafasnya.


"Aya? Untuk apa?"


"Papa tidak tahu yang jelas. Tapi dari penyelidikan orang yang papa suruh mereka mencari keberadaan Cahaya setelah mereka pulang dari panti asuhan yang ada di kota B." ucap Rudi.


"Aku tidak ingin bertemu dengan mereka" ternyata Cahaya mendengar tujuan kedatangan keluarga Mesya ke Taiwan. Dengan tatapan sendu Cahaya berjalan mendekati suaminya.


"Kak apa kakak yakin?" Tanya Kevin memastikan.

__ADS_1


"Aku tahu tujuan mereka datang untuk apa. Pa, ma, Ryan tolong bantu aku. Aku tidak ingin bertemu dengan mereka" Rudi, Andini dan Ryan tampak bingung dengan apa yang terjadi pada Cahaya.


"Sayang tenanglah, aku tidak akan membiarkan mereka menemui mu..." Ryan menarik Cahaya kedalam pelukannya.


-


-


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Ryan terus memeluk pinggang istrinya. Sesekali Ryan mengecup punggung tangan Cahaya. Cahaya yang tahu kalau mereka terus diperhatikan Bisma membuat dirinya sangat malu. Ingin sekali dia memprotes pada Ryan, tapi entah kenapa dia tidak ingin Ryan melepaskan pelukannya dan memperlakukan dirinya seperti itu. Bisma yang melihat hal itu dari kaca membuat dia sangat kesal.


"Hei, apakah kalian tidak kalau ada orang lain selain kalian berdua!" ucap Bisma.


"Berisik. Fokus saja ke depan supaya tidak melihat kami" ucap Ryan tanpa bersalah.


"Ya, Tuhan kenapa aku bisa ada diantara mereka...." Cahaya menahan dirinya untuk tidak tertawa mendengar gumaman Bisma. Sedangkan Ryan malah asik terus melakukan apa yang disukainya mulai saat ini, bermanja-manja dengan istrinya.


-


-


Rudi dan Andini sangat terkejut mendengar dari Kevin kalau Kiara adalah ibu kandung dari Cahaya. Rudi memaksa Kevin untuk jujur pada mereka kenapa Cahaya tidak ingin bertemu dengan keluarga Renaldo.


"Apa om dan Tante kenal dengan papa kandungannya kak Aya?" tanya Kevin karena Andini menyebutkan nama papanya Cahaya.


"Tidak. Kami hanya tahu namanya saja. Kami juga tahu cerita mereka karena Kiara sendiri yang cerita dengan kami setelah dia bertunangan dengan Renaldo papanya Mesya. Kiara menikah dengan pria yang bernama Jaya, seorang pria dari desa yang ada di kota S. Mereka saling mengenal saat Kiara sedang penelitian di desa itu. Karena mereka saling bertemu membuat mereka jatuh cinta dan memutuskan menikah. Tapi orangtuanya Kiara tidak merestui pernikahan mereka karena Jaya hanya seorang petani dan anak yatim-piatu. Awalnya Kiara dapat bertahan menjalani hidup sebagai istri seorang petani. Tapi lama kelamaan, dia mulai jenuh dengan semuanya. Akhirnya setelah beberapa bulan melahirkan, Kiara yang sudah tidak tahan lagi hidup dengan yang namanya kesusahan membuat dia memutuskan untuk bercerai."


"Apa Pak Renaldo tahu?"


"Tahu, kami berempat dulu sahabat. Renaldo sangat mencintai Kiara dari dulu, tapi setelah mengetahui kalau Kiara menikah membuat dia para hati. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk meneruskan bisnis orangtuanya disana. Tapi, saat dia mengetahui kalau Kiara bercerai dengan Jaya, Renaldo kembali dan mendekati Kiara. Akhirnya usaha Renaldo tidak sia-sia, Kiara jatuh cinta padanya. Setelah itu Renaldo langsung meminang Kiara." Jelas Rudi panjang lebar.


"Pa, apa yang harus kita lakukan? Kamu tahu sendiri kan kalau selama ini Kiara selalu mencari keberadaan putri pertamanya" ucap Andini.


"Aku tahu, tapi kita tidak bisa memaksakan Cahaya untuk menemui mereka. Kamu tahu sendiri bagaimana dengan kandungan Cahaya yang sangat lemah. Kalau dia banyak pikiran akan membuat janinnya dalam bahaya" ucap Rudi.


"Papa benar." Andini tampak bingung dengan apa yang harus dilakukannya nantinya.


"Kalau mereka datang, lebih baik kita yang menemui mereka"


"Kalau itu keputusan papa, mama ikut saja!"

__ADS_1


-


-


-


Ryan yang mendengar suara detak jantung anak mereka, tampak sangat bahagia. Air matanya menetes keluar, dia tidak menyangka akan dapat mendengar suara detak jantung calon anaknya.


"Dok, apa kami sudah bisa mengetahui jenis kelaminnya?" tanya Ryan dengan semangat, Cahaya hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan Ryan pada dokter kandungannya.


"Belum pak! Kalau mau lebih jelas, kita bisa mengeceknya lagi saat usia kandungan ibu Cahaya enam bulan."


"Dok, apa saya sudah bisa bekerja?" tanya Cahaya dengan lembut.


"Bekerja? Siapa yang mengijinkan kamu bekerja? Tidak sayang, meskipun kandungan kamu sudah kuat aku sebagai suami mu tidak mengijinkan kamu bekerja" ucap Ryan dengan lembut. Dokter yang masih berada di samping mereka hanya geleng-geleng kepala saja.


"Benar bu apa yang dikatakan pak Ryan, saat ini kandungan ibu memang sudah mulai tampak kuat dan pertumbuhan janinnya sangat baik. Tapi sampai ibu melahirkan jangan melakukan pekerjaan apapun itu. Ini semua untuk kebaikan ibu dan janin dalam kandungan ibu Cahaya." jelas dokter.


"Dokter tenang saja saya tidak akan membiarkan istri saya melakukan pekerjaan yang membuat dia lelah" ucap Ryan sambil menggenggam tangan Cahaya.


Cahaya tidak memprotes keputusan Ryan tentangnya, malah dia merasa sangat bahagia. Dia dapat melihat jelas kalau saat ini Ryan yang ada dihadapannya adalah Ryan yang dulu sangat dia cintai.


-


-


-


"Sayang apa tidak suka dengan susu rasa vanilla" rengek Cahaya dengan menutup hidungnya. Sesampainya mereka di apartemen, Ryan membuat susu hamil untuk Cahaya.


"Sayang hanya ada susu vanilla ini saja yang ada. Kalau kamu tidak suka kenapa bisa ada didalam kulkas?"


"Itu karena Kevin yang membuatnya...."


"Ya, sudah kamu suka rasa apa?"


"Strawberry..." ucap Cahaya dengan menunjukkan gigi putihnya.


"Ya, sudah aku akan meminta Bisma untuk mencarinya" Cahaya langsung memeluk Ryan dengan erat sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


****


__ADS_2