
Cahaya tampak sangat kesal saat Ryan kembali dia melihat wajah yang tidak ingin dilihatnya ikut juga masuk bersama Ryan dan dokter.
Saat Ryan memanggil dokter, kedua orangtuanya, dan keluarga Renaldo yang masih menunggu Cahaya bangun terkejut melihat Ryan yang tampak gelisah. Mereka semua bertanya apa yang terjadi, Ryan hanya diam saja. Maka karena itu mereka memutuskan untuk mengikuti Ryan dari belakang.
"Nyonya bagaimana perasaan mu?" tanya dokter setelah memeriksa Cahaya.
"Baik-baik saja, dok"
"Baiklah, jika ada yang tidak enak nyonya rasakan pak Ryan bisa panggil saya" Ryan mengangguk kepalanya untuk menjawab dokter.
"Kalau begitu saya permisi dulu dan tolong jangan membuat nyonya Cahaya banyak pikiran"
"Terimakasih, dok" ucap Ryan
Setelah dokter pergi, Ryan kembali duduk di samping istrinya dan menggenggam tangannya.
"Maaf kan aku sayang, aku sudah tidak menepati janjiku..." ucap Ryan dengan sendu. Cahaya memilih diam saja menanggapi permintaan maaf Ryan padanya.
"Sayang...." Karena Cahaya hanya diam saja, Ryan memanggil istrinya.
"Apa..." ucap Cahaya dengan ketus. Mendengar ucapan istrinya yang ketus, Ryan tahu kalau saat ini Cahaya masih kesal padanya.
Dia sangat bingung apa yang harus dilakukannya untuk mendapatkan maaf dari istrinya. Padahal mereka baru saja baikan, dia takut kalau Cahaya akan pergi darinya karena tadi membentak istrinya dihadapan semua orang.
"Sayang aku tahu kalau aku salah, ku mohon tolong maafkan aku ya..." Melihat kesungguhan Ryan, Cahaya langsung mengangguk kepalanya.
Cup...
Ryan mengecup kening istrinya karena istrinya mau memaafkan dirinya. Kedua mertuanya Ryan, Renaldo dan Kiara merasa lega karena Cahaya mau memaafkan Ryan.
"Sayang apa kamu ingin sesuatu?" Cahaya mengangguk kepalanya untuk menjawab pertanyaan suaminya.
"Katakan! kamu mau apa?"
"Bisakah kita pulang? Rasanya aku ingin muntah setiap mencium aroma obat disini"
"Sayang aku tidak yakin kalau dokter akan mengijinkannya"
"Hanya itu yang ku inginkan..."
"Baiklah aku akan bertanya dengan dokter dulu" mendengar ucapan Ryan barulah Cahaya tersenyum.
"Terimakasih"
Kiara yang melihat keadaan putrinya sudah membaik, mengajak suaminya untuk kembali ke hotel dimana mereka menginap. Dia tidak ingin hal yang buruk terjadi lagi pada putrinya.
-
__ADS_1
-
Hari ini Cahaya diijinkan untuk pulang, setelah dua hari dirawat rumah sakit. Saat dia ingin masuk kedalam mobil Ryan, Cahaya melihat Kiara dan Renaldo sedang memperhatikannya.
Cahaya teringat dengan apa yang dikatakan dokter padanya untuk lebih memikirkan janin dalam kandungannya, jika dia banyak pikiran janinnya dalam bahaya. Bisa saja Cahaya akan mengalami keguguran. Cahaya tidak ingin itu terjadi lagi, cukup sekali dia kehilangan calon anaknya. Meskipun dulu dia tidak mengetahui kalau sedang hamil saat kecelakaan itu.
Sepanjang perjalanan pulang, Cahaya tampak sangat bingung arah jalan yang diambil Ryan sangat berbeda dari jalan menuju apartemennya.
"Sayang kita mau kemana?" tanya Cahaya pada Ryan yang masih tampak menikmati mengelus perutnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Cahaya.
"Tentu saja pulang sayang..."
"Tapi ini bukan ke arah apartemen ku sayang..."
"Kita tidak akan pulang ke sana sayang. Untuk dua bulan ke depan kita akan tinggal di rumah milik papa" ucap Ryan sambil menegakkan kepalanya untuk menatap istrinya yang sudah menatapnya dengan kebingungan.
"Rumah?"
"Ya, rumah papa. Sebenarnya papa punya rumah di negara ini. Kalau papa dan mama ada urusan bisnis, maka mereka akan tinggal di sana"
"Oh, dan apa maksud mu dua bulan ke depan?"
"Aku sudah bertanya dengan dokter apa aku bisa membawa mu pulang ke negara kita. Tapi dokter menyarankan dua bulan lagi untuk membawa mu perjalanan jauh"
"Pulang?"
"Kalau aku pulang, berarti aku jadi pengangguran dong!" Mendengar jawaban istrinya membuat Ryan langsung menarik hidung istrinya dengan gemas.
"AW... Sakit...."
"Kamu ini lucu sekali"
"Apanya yang lucu? Kalau aku tidak bekerja dari mana aku bisa belanja kebutuhan ku dan anak kita?"
"Astaga sayang, apa aku ini miskin?" Cahaya menggeleng kepalanya dengan bingung.
"Jadi kenapa kau memikirkan dari mana kamu bisa membeli kebutuhan mu dan anak kita? Aku bisa memenuhi kebutuhan mu dan anak kita nantinya sayang."
"Tapi..."
"Tidak ada bantahan sayang. Aku tahu kalau kamu pastinya akan bosan menunggu ku pulang, kalau kamu bosan kamu bisa mencari kesibukan yang lain. Yang penting jangan sampai membuat kamu kelelahan, atau kamu bisa ikut dengan ku ke kantor"
"Benarkah? Apa boleh aku ikut dengan mu ke kantor? Kamu tidak marah?"
Cup ( Ryan mengecup bibir istrinya yang dari tadi sangat dia nikmati)
"Aku malahan sangat bahagia karena kamu ada didepan ku terus. Apa kamu tahu kalau kamu ada disamping ku membuat ku semakin semangat untuk bekerja." Cahaya merasa sangat bahagia mendengar apa yang dikatakan Ryan. Sangking bahagianya Cahaya memeluk Ryan.
__ADS_1
Bisma yang dari tadi terus memperhatikan dari kaca spion mobil tampak sangat jengah melihat kemesraan Ryan dan Cahaya.
"Nasib jomblo ya begini! Apa tidak bisa mereka menghargai pria yang jomblo?". gumam Bisma dalam hatinya.
-
-
Sesampainya di kediaman mertuanya, Cahaya langsung disambut dengan kedua mertuanya dan para pekerja yang ada dirumah mertuanya.
"Ayo, sayang kita masuk." Andini mengajak Cahaya untuk ikut bersamanya masuk kedalam.
"Permisi...." Langkah kaki Cahaya dan yang lainnya langsung berhenti dan menoleh ke belakang.
Melihat kehadiran Kiara dan Renaldo, Ryan dan kedua orangtuanya menoleh kearah Cahaya. Mereka sangat cemas dengan Cahaya.
"Maaf, kalau kehadiran kami tidak diharapkan. Saya hanya ingin melihat keadaan Cahaya saja" ucap Kiara.
"Ryan, bawa istri kamu kedalam." perintah Andini.
Tanpa bantahan, Ryan membawa Cahaya masuk kedalam. Kiara hanya bisa pasrah melihat Cahaya pergi masuk kedalam tanpa mau menyapanya.
"Ki, tolong jangan mempersulit keadaan Cahaya. Berikan dia waktu untuk mau menerima mu untuk mempersilahkan mu bicara" ucap Andini.
"Kamu tenang saja, seperti yang ku katakan tadi aku hanya ingin melihat keadaan putri ku saja." Andini hanya mengangguk kepalanya saja tanda dia mengerti.
"Besok kami akan kembali ke Singapura. Maaf kan aku, saat aku datang kemarin membuat keadaan Cahaya jadi drop."
"Kalau begitu hati-hati dijalan..." Kiara hanya mengangguk kepalanya saja.
-
-
-
Didalam kamar Cahaya sangat kesal dengan Ryan, karena Ryan memaksanya untuk tidur. Padahal Cahaya ingin sekali menonton.
Cup....
"Ish... Kenapa main nyosor aja, sih!" ucap Cahaya sambil memukul lengan Ryan.
"Itu hukuman untuk mu sayang, mulai sekarang kalau kamu membuat muka cemberut aku akan selalu memakan bibir manis mu itu" ucap Ryan dengan tersenyum.
"Kamu ini..." ucap Cahaya dengan tersenyum geli.
"Sayang, besok aku akan ikut dengan papa ke perusahaan. Kamu disini dengan mama tidak apa-apa kan?" Cahaya mengangguk kepalanya.
__ADS_1
******