IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Kisah Kiara.


__ADS_3

Kevin terlihat tampak sangat gelisah melihat wajah Cahaya yang sangat pucat. Kevin tampak sangat bingung apa yang harus dilakukannya, karena dokter mendesaknya untuk menyuruh suaminya Cahaya untuk datang. Karena ada yang harus di sampaikan dokter tentang Cahaya.


"Maaf kak, ini semua untuk kebaikan kak Aya dan calon keponakan ku..." gumam Kevin.


-


-


Di Indonesia, Kevin yang merasa seluruh tubuhnya tidak bisa memiliki tenaga. Entah kenapa dia merasa kalau perutnya sangat sakit.


Tok...tok...


Mendengar suara ketukan pintu kamarnya, dengan sekuat tenaga Ryan bangkit dari tempat tidurnya.


"Ada apa? Cepat katakan, aku mau istirahat!" ucap Ryan dengan suara parau saat melihat Bisma dihadapannya.


"Sebaiknya kita ke Taiwan sekarang juga!"


"Untuk apa? Kalau kita kesana untuk mengurus perusahaan yang di sana, kamu saja yang pergi. Aku butuh istirahat" ucap Ryan.


"Tunggu dulu! Cahaya membutuhkan mu saat ini" tentu saja membuat matanya membulat mendengar nama wanitanya yang sudah lama dia cari.


"Apa yang kamu katakan?" tanya Ryan dengan gugup, dia takut salah mendengar.


"Cahaya saat ini membutuhkan mu..." ucap Bisma dengan tegas.


Rasa sakitnya terasa tiba-tiba menghilang begitu saja, dengan cepat dia mengganti pakaiannya dan membawa segala keperluannya.


-


-


"Ma, apa kamu sudah siap?" Renaldo kini menatap wajah sendu istrinya menatap sebuah panti asuhan yang ada di kota B. Panti asuhan yang tampak sangat kecil.


"Emmm" jawab Kiara dengan singkat.

__ADS_1


Saat mereka memasuki gerbang panti asuhan, mereka langsung dikerumuni anak-anak yang sedang bermain di halaman. Mereka hanya tersenyum bahagia karena menurut mereka anak-anak yang menyambut mereka tampak sangat lucu.


"Maaf pak, ibu apa ada yang bisa saya bantu?" seorang gadis muda menyapa mereka dari pintu.


"Maaf apa ibu Kamala nya ada? Saya ingin mencari beliau..." ucap Renaldo.


"Ada, pak. Silahkan masuk"


Mereka berdua mengikuti wanita muda itu dari belakang. Kiara menggenggam tangan Renaldo dengan erat, entah kenapa dia memiliki rasa takut.


"Bunda, ada yang mencari bunda..." ucap wanita itu saat masuk kedalam ruangan yang tampak sangat kecil.


"Silahkan masuk pak, Bu..."


"Terimakasih...."


Kiara dan Renaldo masuk kedalam setelah diijinkan masuk. Wanita yang bernama Kamala itu tampak sangat terkejut melihat wajah wanita yang tidak pernah dia lupakan sampai sekarang. Wajah yang mirip didalam foto yang ditunjukkan oleh seorang pria yang pernah datang ke panti asuhannya yang dulu puluhan tahun yang lalu. Menurutnya wajah Kiara masih tetap sama dengan yang difoto, tidak ada perubahan sama sekali.


"Silahkan duduk" ucap Kamala dengan lembut.


Setelah mendapatkan apa yang yang ingin dia ambil, Kamala duduk di hadapan Kiara dan Renaldo.


"Saya tahu tujuan kalian datang ke panti ini. Silahkan anda lihat dulu apa ini yang anda cari!" ucap Kamala sambil menyerahkan kotak kayu yang masih tampak bagus pada Kiara.


Dengan gugup Kiara mengambil kotak kayu itu dan betapa terkejutnya dia melihat wajah seorang pria yang tampak sangat kurus mengendong anak kecil yang diperkirakan umurnya dua tahun. Tanpa sadar air matanya menetes keluar dan membasahi foto hitam putih yang ada ditangannya.


"Mas, ini.... Hiks hiks hiks..." ucap Kiara dengan bergetar. Renaldo yang sangat mengerti langsung memeluk pinggang istrinya dengan erat.


"Maaf, Bu. Apa kami bisa bertemu dengan anak kecil yang ada dalam foto ini?" Renaldo mengambil ahli untuk bertanya.


"Maaf, dia sudah tidak lagi tinggal di panti asuhan ini. Dia gadis yang sangat cantik dan pintar. Karena itu dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya di kota B. Setelah lulus, dia mendapat tawaran pekerjaan di perusahaan yang ada di kota J. Sudah enam tahun lebih dia tidak pernah pulang lagi ke kota sini" ucap Kamala dengan raut wajah yang sedih.


"Kalau begitu apa saya bisa tahu dimana dia tinggal dan nomor teleponnya?" tanya Kiara dengan cepat.


Kamala langsung menuliskan nomor telepon yang diingatnya, lalu memberikannya pada Kiara.

__ADS_1


"Cahaya?" Cicit Kiara saat melihat nama yang tertera di kertas yang diberikan Kamala padanya. Ada rasa takut dalam dirinya saat mendengar nama Cahaya disebut Kamala. Begitu juga dengan Renaldo, mereka berdua tampak gugup mendengar nama Cahaya.


"Ya, pak Jaya memberikan nama Cahaya. Saat mereka berlindung dari hujan didepan panti saya dulu, wajah pak Jaya sangat pucat begitu juga dengan putrinya. Karena pak Jaya tidak memiliki tempat tinggal dan tujuan akhirnya pak Jaya tinggal di panti. Ternyata pak Jamal kena kanker hati, sehingga membuat tubuhnya semakin lemah. Sebelum pak Jaya meninggal pak Jaya ingin berfoto dengan putrinya supaya putrinya ingat sosoknya. Maka karena itu foto itu ada." jelas Kamala.


"Maaf Bu, ibu kenapa bisa tahu tujuan kami kemari?" Kamala langsung bangkit berdiri dan berjalan kearah mejanya kembali.


Dia mengambil sebuah amplop yang tampak sangat usang dan diberikan pada Kamala. Kiara langsung membuka amplop yang diberikan Kamala padanya.


"Saya tahu karena foto itu, dan surat itu anda nyonya..." ucap Kamala.


*Dear Kiara.


Kalau kamu membaca surat ini, itu berarti aku sudah meninggal...


Maafkan aku yang datang tiba-tiba ke rumah mu. Aku tidak tahu kalau kamu sudah menikah lagi dan memiliki seorang putri. Sebenarnya aku datang untuk memberikan hak asuh putri kita pada mu. Aku sangat yakin kamu akan bersedia, ternyata aku salah. Kamu malah menyuruh ku untuk membawanya pergi tinggal bersama ku yang penyakitan ini.


Kamu menolak membesar putrimu dengan alasan karena kamu belum menceritakan tentang putrimu pada suami mu. Maaf kan aku, aku tidak berpikir sampai sejauh itu. Aku hanya berpikir kalau dia dibesarkan ibu kandungnya sendiri, dia akan baik-baik saja dan mendapatkan kasih sayang seorang ibu.


Kiara aku tahu kamu pasti sangat kecewa karena aku tidak memberikan nama yang kamu berikan pada putri kita. Aku memberinya nama Cahaya, karena aku ingin dimana pun nanti dia berada dia akan menjadi Cahaya untuk semua orang.


Terimakasih kamu memberikan seorang putri yang cantik untuk ku. Aku berharap saat kamu bertemu dengan putri kita, tolong jaga dia untukku.


Jaya*.


Membaca surat dari mantan suaminya Kiara langsung menangis. Renaldo yang ikut membacanya, juga ikut merasakan kesedihan istrinya. Renaldo berharap kalau dia memeluk istrinya, istrinya bisa tenang. Setelah tenang, Kiara menatap Kamala.


"Apa saya bisa melihat foto Cahaya?"


Kamala mengambil album foto yang ada selalu diletakkannya di atas mejanya.


"Cahaya sudah seperti putri saya sendiri, setiap momen istimewanya selalu saya abadikan." ucap Kamala sambil memberikan album foto pada Kiara.


******


Apakah Cahaya yang dimaksud Kamala adalah Cahaya yang dikenal mereka?

__ADS_1


__ADS_2