IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Pertama kalinya


__ADS_3

Saat Cahaya ingin memejamkan matanya, pintu kamarnya terbuka. Dengan cepat Cahaya bangun dari tidurnya dan melihat Ryan dengan pakaian kantornya masuk.


Dengan cueknya Ryan berjalan mengambil baju gantinya, lalu dia masuk kedalam kamar mandi. Saat Ryan masuk kedalam kamar mandi, Cahaya mengambil bantal dan selimut yang akan dia pakai. Dia lebih memilih untuk tidur di sofa, dari pada tidur satu ranjang dengan Ryan.


Setelah lima belas menit Cahaya mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, dia langsung memejamkan matanya supaya Ryan berpikir kalau dia sudah tidur.


Ryan yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, terkejut melihat Cahaya tidur di sofa dari pada bersamanya. Dengan kesal, Ryan merebahkan tubuhnya di atas kasurnya. Entah kenapa dia bisa sangat kesal karena Cahaya tidak ingin satu kasur dengannya, dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


Hampir satu jam dia mencari jawaban tentang dirinya sendiri. Apalagi Melihat kedekatan Cahaya dengan Gery beberapa bulan ini, membuat dirinya sangat kesal.


"Hiks hiks hiks..." Ryan yang mendengar suara tangisan Cahaya bangun dari tidurnya. Dia melihat Cahaya tampak sangat gelisah sambil menangis dalam tidurnya. Mendengar suara tangisan Cahaya entah kenapa hatinya sangat sakit.


Tanpa sadar kini dia berada di depan Cahaya dan mensejajarkan tubuhnya. Ryan berusaha untuk membangunkan Cahaya dari tidurnya.


"Hei nona apa bangunlah..." ucap Ryan sambil menggoyangkan tubuhnya Cahaya.


"Tidak...." Ryan sangat terkejut karena tiba-tiba Cahaya menjerit sambil bangkit duduk.


"Apa kamu bermimpi buruk?" tanya Ryan penasaran sambil menatap Cahaya yang tampak sangat ketakutan. Mendengar suara Ryan, Cahaya mengalihkan pandangannya ke arah Ryan yang sedang menatapnya dengan dingin.


"Maaf kan saya, pak. Saya mengganggu tidur bapak" ucap Cahaya dengan gugup.


"Kamu ini...Lain kali aku tidak ingin ini terjadi lagi" ucap Ryan sebelum Kembali ke tempat tidurnya.


Cahaya menghela nafasnya sambil meremas dadanya karena melihat tatapan dingin Ryan padanya dan ketidak pedulian Ryan padanya. Saat melihat Ryan sudah merebahkan tubuhnya, Cahaya mengambil tasnya yang ada di meja dekat tempat tidur. Seperti biasa dia lakukan sebelum tidur, Cahaya meminum obat yang dapat membuat dia bisa tenang.


-


-


Pagi-pagi Cahaya lebih dulu bangun dan langsung turun kebawah untuk menyiapkan sarapan pagi untuk semuanya. Dengan dibantu para pembantu, sarapan yang dibuatnya cepat selesai. Awalnya para pembantu tidak setuju Cahaya ikut membantu mereka masak, tapi karena Cahaya memaksanya akhirnya Cahaya diijinkan untuk ikut membantu masak.


Setelah masak, Cahaya kembali ke kamar dan melihat Ryan masih tampak terlelap. Cahaya sangat bingung apa dia harus menyiapkan segala keperluan kantor Ryan atau tidak, kalau dia menyentuh barang Ryan, pastinya Ryan akan marah. Tapi, dia merasa tidak enak juga kalau tidak menyiapkan segala keperluan suaminya, apalagi saat ini mereka satu kamar. Cahaya mengambil keputusan kalau dia akan menyiapkan segala keperluan suaminya, dia tidak memperdulikan kemarahan Ryan nantinya.


Setelah menyiapkan keperluan Ryan, Cahaya mengambil bajunya yang akan dia pakai untuk bekerja. Untung saja masih ada baju nya yang tertinggal di rumah mertuanya. Setelah mengambil baju yang akan dipakainya untuk ke kantor, Cahaya langsung masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


Hanya dalam waktu lima belas menit Cahaya sudah tampak segar dan rapi. Saat dia keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat Ryan lagi sibuk dengan laptopnya. Dengan gugup Cahaya berjalan mendekati Ryan.


"Apa bapak mau mandi? Biar saya siapkan..." ucap Cahaya dengan gugup.


"Emm..." Entah angin apa Ryan langsung menerima tawaran dari Cahaya.


"Tunggu sebentar..." Dengan cepat Cahaya kembali ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Ryan. Diam-diam Ryan melirik Cahaya yang tengah berlari ke kamar mandi.


"Maaf air hangatnya sudah selesai..." ucap Cahaya setelah beberapa menit keluar dari kamar mandi.


"Terimakasih..." Ryan langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah Ryan masuk ke dalam kamar mandi, Cahaya merapikan rambutnya dan memoles wajah dengan bedaknya yang tipis. Setelah itu dia turun kebawah, dia tidak ingin membuat kedua mertuanya menunggu.


"Pagi pa, ma...." sapa Cahaya dengan sopan saat dia melihat kedua mertuanya yang juga baru saja ingin duduk.


"Pagi, nak..." Jawab Andini dan Rudi bersama.


"Kemana Ryan? Bukannya dia semalam datang?" tanya Rudi karena tidak melihat putranya.


"Ya, apa semalam tidur mu nyenyak?" tanya Andini sambil menatap mata Cahaya yang tampak bengkak.


"Iya, ma..." jawab Cahaya berbohong.


Semalam setelah minum obat yang biasa dia minum, Cahaya tidak juga bisa memejamkan matanya. Ucapan Kiara selalu terngiang di telinganya dan kecelakaan yang menimpanya dulu juga selalu terbayang.


"Tapi kenapa mata kamu bengkak nak? Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak, ma. Tadi saat bantu bibi buat sarapan, ada sesuatu masuk ke mata ku"


"Astaga sayang, apa kamu sudah membersihkannya?"


"Sudah kok Ma..."


"Begini saja, kamu berobat saja dulu sebelum kamu pergi kerja. Kamu bisa minta Ryan untuk mengantarkan kamu" ucap Rudi.

__ADS_1


"Tidak perlu, pa. Mata ku baik-baik saja" Cahaya tidak ingin membuat Ryan tambah kesal padanya.


"Kamu yakin?" tanya Rudi.


"Ia, pa..."


"Pagi pa, ma..." tiba-tiba Ryan sudah datang.


"Pagi, nak..." Jawab Kedua orangtuanya bersamaan.


Ryan duduk di samping Cahaya karena dia tidak ingin membuat orang tuanya mengetahui hubungan mereka yang belum ada perubahan.


Cahaya tampak tertegun karena melihat Ryan memakai baju yang dipilihnya, padahal tadi Cahaya berpikir kalau Ryan tidak akan memakai baju yang sudah disiapkannya.


Tanpa bicara, Cahaya menyiapkan segala sesuatu untuk sarapannya Ryan. Karena itu sudah seperti kebiasaan mereka, kalau di depan kedua orangtuanya Ryan mereka harus berpura-pura menjadi suami istri yang sudah saling menerima.


"Oh, ya empat hari lagi kalian akan ikut bersama papa dan mama ke negara N...." ucap Rudi yang sambil menikmati sarapan yang sangat lezat. Sarapan yang paling dia sukai kalau menantunya yang masak.


"Maksud papa apa? Banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan" ucap Ryan dengan terkejut.


"Papa akan minta Doni untuk menghandle pekerjaan mu disini" ucap Rudi dengan tegas.


"Perusahaan kita yang disana membutuhkan mu saat ini, lagian sebentar lagi perusahaan kita disana ulang tahun..." Alasan Rudi.


"Baiklah, aku akan ikut yang papa katakan" ucap Ryan.


-


-


-


Bisma yang duduk di depan mobil, terus melirik ke bangku belakang. Dimana Cahaya dan Ryan duduk dengan jarak. Keduanya tampak diam, memilih ambil kesibukan sendiri. Ryan yang sibuk dengan hp nya, sedangkan Cahaya sibuk menatap kearah luar jendela.


"Pak Bisma, apa bisa berhenti di depan sana?" tiba-tiba saja Cahaya meminta Bisma menepikan mobilnya.

__ADS_1


****


__ADS_2