IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Nasehat Bunda


__ADS_3

Seperti yang sudah dijanjikan Cahaya, Cahaya datang kembali berkunjung ke panti asuhan lagi sebelum dia dan keluarganya pulang ke kota J. Bunda memberikan nasihat pada Cahaya sebelum Cahaya masuk kedalam mobil.


"Ingat sayang berdamailah dengan masa lalu mu, apalagi sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu." ucap Bunda.


"Ia, bunda. Bun, saat Aya melahirkan nanti Aya harap bunda datang ya..."


"Ia, sayang..."


Setelah melepas rindu, Cahaya masuk kedalam mobil bersama Ryan, seperti semalam Kevin lah yang menjadi supir mereka berdua.


-


-


-


Sejak pulang dari panti asuhan, Cahaya banyak memikirkan apa yang dikatakan bundanya. Apa yang dikatakan bundanya ada benarnya juga, sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu, jadi dia harus bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya kelak. Dia tidak ingin nantinya anak-anaknya menjadi anak yang pendendam.


"Sayang, apa kamu bisa membantu ku?" tanya Cahaya sambil memasang dasi Ryan.


"Tentu saja sayang, katakan apa yang harus ku bantu?"


"Emmmm... Bisakah kamu mengatur waktu mu untuk menemani ku bertemu dengan Tante Kiara..." Mendengar nama Kiara, Ryan mengernyitkan alisnya sampai menyatu.


"Aku ingin bertemu dengannya dan ada yang ingin harus ku katakan pada Tante Kiara" jelas Cahaya.


"Baiklah. Besok hari weekend, kita akan menemui mereka besok. Kamu ingin bertemu mereka dimana?"


"Terserah sayang..."


"Oke, aku akan menghubungi pak Renaldo untuk mengatakan hal ini" Cahaya mengangguk kepalanya.


Cup.


"Terimakasih..." Cahaya mengecup bibir suaminya sambil mengucapkan terimakasih.


Tentu saja hal itu membuat Ryan kembali bergairah, Ryan langsung menyambar bibir istrinya yang manis baginya.


-


-


-


Tok...tok...

__ADS_1


"Masuk..." ucap Ryan tanpa mengalihkan pandangannya ke laptopnya.


"Pak, ada Nona Syena dari perwakilan dari Eagle group yang di Singapura ingin bertemu dengan bapak" ucap Bisma.


"Suruh tunggu di ruangan rapat"


"Baik, pak..."


Ryan langsung bangkit berdiri dan menutup laptopnya dan berjalan menghampiri Bisma. Saat mereka masuk kedalam ruangan dimana biasanya Ryan bertemu dengan kolega bisnisnya, seorang gadis yang sangat cantik dan seorang pria muda langsung bangkit berdiri.


Gadis itu tampak terpesona dengan ketampanan Ryan, Ryan dan Bisma menyadari hal itu. Tapi Ryan lebih memilih untuk mengabaikannya.


"Nona Syena perkenalkan ini pak Ryan, pak Ryan adalah pemimpin perusahaan ini" ucap Bisma.


"Selamat siang pak Ryan, saya Syena Putri dari pemilik perusahaan Eagle group" ucap gadis yang bernama Syena itu sambil mengulurkan tangannya.


Melihat uluran tangan Syena, Ryan langsung menatap tajam Bisma. Bisma merutuki dirinya karena lupa mengingat Syena untuk tidak mengulurkan tangannya pada Ryan. Ryan memang dari dulu tidak suka ada wanita yang tidak dia kenal menyentuhnya.


"Maaf nona Syena, atasan saya tidak suka dengan sentuhan dari wanita yang tidak dia kenal" ucap Bisma.


"Oh, maaf..." Dengan perasaan kecewa Syena menarik uluran tangannya.


"Sungguh menarik. Biasanya setiap pria yang melihat ku pastinya terpesona dengan kecantikan ku" gumam Syena dalam hati.


"Silahkan duduk nona Syena" Bisma mempersilahkan Syena untuk duduk.


"Baiklah nona, kami akan menghubungi anda setelah memeriksa semuanya..." ucap Bisma.


"Terimakasih pak Ryan, pak Bisma. Saya harap Aditama group mau bekerjasama dengan perusahaan Eagle group" ucap Syena dengan tersenyum.


Ryan hanya mengangguk kepalanya, setelah itu dia bangkit berdiri. Bisma langsung mengikuti Ryan dari belakang, Chelsea asisten baru pengganti Cahaya lah yang mengurus Syena dan asistennya Syena. Syena hanya bisa menatap punggung Ryan yang pergi begitu saja tanpa bicara apapun padanya.


"Periksa semua data keuangan mereka, kamu tahu kan perusahaan kita tidak akan bekerjasama dengan perusahaan yang keuangannya sangat kacau" ucap Ryan setelah mereka keluar dari ruangan rapat.


"Baik."


"Sekarang lebih baik kita ke restoran yang biasanya, mereka pasti sudah menunggu ku" Ryan sudah berjanji makan siang bersama dengan istri dan kedua orangtuanya.


"Baik, pak!"


-


-


-

__ADS_1


Saat dalam perjalanan menuju restoran dimana dia dan istrinya makan, melihat toko bunga. Ryan yang merasa kalau dirinya tidak pernah membeli bunga untuk istrinya, meminta Bisma menepikan mobilnya. Ryan memilih bunga mawar merah kesukaan Cahaya.


"Tumben membeli bunga..." ucap Bisma saat Ryan masuk kedalam mobil sambil membawa bunga mawar.


"Tidak apa-apa, hanya saja aku ingin memberinya padanya. Apa kamu tahu sewaktu kami pacaran dulu, aku selalu memberinya bunga mawar merah. Karena lebih menyukai bunga dari pada barang-barang." ucap Ryan sambil mengingat masa lalunya dengan Cahaya.


"Jarang ada wanita yang seperti itu..."


"Ya, begitulah. Setiap aku pulang dan memberikan barang-barang branded dia selalu marah dan ngambek." ucap Ryan sambil ketawa mengingat bagaimana reaksi wajah Cahaya yang selalu memarahinya karena pulang membawa barang-barang branded. Tentu saja Bisma mengerutkan keningnya.


"Aku tahu kamu tidak percaya. Tapi itu Aya ku...Dia tetap menjadi wanita yang sederhana. Katanya barang-barang yang kuberikan tidak berguna baginya, yang ada hanya akan membuat lemari nya penuh"


"Hahahaha. Cahaya memang beda..." Ryan mengangguk kepalanya.


Saat mereka sampai di restoran yang, mereka disambut dengan ramah. Para pelayan yang mengenal siapa Ryan dan Bisma langsung menunduk kepalanya.


"Pak.." manager restoran itu langsung menyapa Ryan.


"Apa istri dan kedua orangtuaku sudah datang?"


"Sudah, pak..." ucap Manager itu sambil menuntun Ryan keruangan VIP.


"Ma..pa..." Ryan mencium kedua tangan orangtuanya. Setelah menyapa kedua orangtuanya Ryan mendekati istrinya yang sudah berdiri menyambut kedatangannya.


"Sayang maaf ya agak telat..." ucap Ryan sambil memberikan bunga mawar yang dibelinya tadi.


Cahaya yang mendapatkan bunga mawar dari Ryan tampak sangat bahagia, Cahaya menghirup aroma bunga mawar yang diberikan Ryan.


"Terimakasih..." ucap Cahaya dengan tersenyum bahagia.


"Begini lebih baik sayang, dari pada kamu membawa barang-barang yang tidak penting bagiku.." ucap Cahaya.


Andini dan Rudi hanya geleng-geleng kepala saja mendengar ucapan menantunya. Mereka tahu apa yang dimaksud Cahaya. Mereka sebenarnya sangat bersyukur karena mendapatkan menantu seperti Cahaya.


"Ia, sayang ku..." Ryan mencubit pipi Cahaya dengan gemas.


Acara makan siang mereka penuh dengan canda tawa. Sejak Cahaya hadir dalam keluarga Aditama, Ryan selalu makan siang bersama bersama kedua orangtuanya dan keluarga mereka dipenuhi dengan canda tawa.


-


-


-


Disaat Cahaya tampak bahagia keluarga Renaldo tampak sangat gusar karena sudah beberapa hari Nayla tidak juga mau makan. Kiara lah yang sangat cemas dengan keadaan putrinya. Sedangkan Renaldo hanya bisa saja, karena dia sangat kecewa dengan putrinya.

__ADS_1


"Papa tidak bohong, kalau Cahaya ingin bertemu dengan ku?" tanya Kiara dengan memastikan apa yang dikatakan Renaldo kalau Cahaya ingin bertemu dengan mereka besok.


****


__ADS_2